
***
Leon sampai juga di tempat Amira bekerja. Jika malam, tempat itu sangat ramai sehingga Leon tidak bisa masuk ke dalam. Dia tidak suka jika terlalu banyak orang. Alasannya adalah akan banyak suara yang bisa dia dengar. Membuat Leon sakit kepala.
Dari jauh, Leon mencari sosok Amira. Gadis berambut keriting dan berkacamata tebal. Namun, hingga tengah malam dan tempat itu akan tutup Amira tidak kelihatan juga.
Pengunjung sudah mulai sepi. Leon memutuskan untuk mencari Amira ke dalam. Namun begitu akan masuk, seorang gadis muncul sambil menggotong sekarung sampah.
"Biar aku saja yang buang sampahnya!" teriak gadis itu keras.
Leon mengenali suara itu tapi tidak dengan penampilannya. Gadis itu tidak memakai kacamata dan behel. Rambutnya tertata rapi tidak seperti Amira dengan rambutnya yang tergerai panjang. Ada satu yang bisa meyakinkan hatinya.
"Tunggu!" ujar Leon ketika gadis itu mau masuk ke dalam kafe kembali.
Gadis itu berhenti dan menatap Leon. Sedetik kemudian dadanya berdegup kencang. Akhirnya Leon mengenali debarnya.
"Amira ...," panggil Leon setelah yakin.
"Leon? Bagaimana kamu tahu aku di sini? Apa Rena yang sudah mengatakannya?"
Amira keheranan karena Leon berhasil menemukannya.
"Kenapa kamu tidak cerita padaku?"
"Soal apa?"
"Soal cuti kuliahmu, soal kamu kerja di tempat ini. Apakah sangat berat menceritakannya padaku?"
Tubuh Amira terasa lemas. Tak mampu membalas tatapan Leon. Matanya mulai panas dan sebutir airmata jatuh di pipinya. Merasakan kerinduan hampir membuatnya lupa ingatan. Kenyataannya, jalan ceritanya sudah berubah.
"Kita harus bicara tapi tidak di sini!"
Amira menarik napas panjang dan berusaha menguatkan hatinya.
"Aku tidak bisa ke mana-mana. Sekarang aku harus bekerja. Maafkan aku, Leon ...."
Mata Amira benar-benar basah. Dadanya terasa sesak.
__ADS_1
"Ikutlah denganku! Ceritakan semua masalahmu. Sebisa mungkin aku akan membantu," ujar Leon berusaha meyakinkan Amira.
"Aku gak mau nyusahin kamu, Leon. Biarkan aku jalani jalan hidupku sendiri!"
Air mata Amira semakin deras. Leon ingin sekali menghapusnya, kemudian memeluk Amira erat. Baru saja, Leon akan mendekati Amira. Sebuah bayangan muncul dari balik pintu.
"Amiràa! Pintu mau dikunci. Pengunjung terakhir sudah pergi!" teriak Handoko, manager kafe.
"Baik, Pak!"
Amira cepat menghapus airmatanya.
"Maaf Leon, aku harus pergi!"
Amira membalikkan badan dan melangkah pergi.
"Amiraaa!"
Panggilan Leon hanya sia-sia. Amira tidak akan menoleh lagi.
Ada yang hilang dari hati Leon. Ratusan tahun tak pernah merasakan kehilangan. Kini, rasa itu hampir membuatnya mati.
***
Ada empat orang di dalam kamar itu, salah satunya Amira. Ada May, Lusi dan Ara.
Lusi dan Ara sepertinya sudah tertidur nyenyak. May terjaga ketika sayup sayup mendengar suara sesungukan.
"Amira, kamu menangis?" tanya May setelah yakin suara itu dari Amira.
Amira menahan napas dan menghapus airmatanya.
"Gak kok, May. Cuma keselek aja!"
"Makanya minum dulu sebelum tidur!"
"Baik, May. Nanti aku minum," jawab Amira masih di bawah bantal.
__ADS_1
Tidak ada gunanya terus menangis. Keadaan akan tetap sama. Amira mulai memikirkan untuk melepaskan cintanya kepada Leon, meskipun sangat berat.
Dari kegelapan malam, Leon berdiri di antara pepohonan.
"Jangan ragukan cintaku, Amira. Aku akan selalu ada untukmu!"
Suara lolongan srigala terdengar, entah dari mana asalnya. Leon mendengar suara memanggilnya. Dia adalah Casandra. Tapi, Leon tak akan beranjak dan tetap di sana sampai terang akan datang.
***
"Ayah mencarimu, Leon. Seharusnya kamu segera menemuinya!"
Casandra menyambutnya dengan wajah cemberut ketika Leon sampai di rumah.
"Aku akan menemui ayah. Mungkin dua hari ke depan!"
"Kenapa selama itu? Kau bisa melakukannya dalam hitungan menit. Peternakan ayah tidak jauh. Hanya menyeberangi pulau bukan samudera!" ungkap Casandra lagi.
"Nanti aku pikirkan lagi. Sekarang aku mau istirahat."
Leon tidak berniat berdebat dengan Casandra. Selama ini dia memang selalu mengalah.
"Tunggu, Leon. Aku belum selesai bicara. Sikapmu sangat berubah setelah bertemu manusia itu. Aku gak suka!" ujar Casandra dengan nada suara meninggi. Dia hampir kehilangan kesabaran karena Leon sudah tidak menganggapnya lagi.
"Ingat, Casandra! Aku juga gak suka kamu mencampuri hidupku!" Leon melangkah pergi menuju kamarnya.
Casandra benar-benar tak mampu menahan diri. Sikap Leon sudah kelewatan.
Ketika Casandra pertama kali mengenal Leon, sikapnya sangat lembut. Ayah membawanya ketika Casandra masih mengikuti Klan Cristian. Dia memangsa manusia, dua ratus tahun yang lalu. Sedangkan Ayah mengajarkan hanya memangsa hewan. Itulah sebabnya hawa panas di hati Casandra mulai memudar.
Tapi tidak dengan rasa memiliki terhadap Leon. Rasa itu tumbuh semakin besar. Casandra merasa Leon hanya untuknya. Mereka akan selalu bersama selamanya.
Ajaran ayah yang penuh kasih sayang membuat Casandra luluh dan mengikutinya. Begitu juga kehadiran Leon yang membuatnya nyaman.
Ketika Leon dekat dengan Amira, Casandra takut kehilangan. Itu karena sudah terbiasa bersama selama ratusan tahun. Entah bagaimana kalau Leon benar-benar pergi.
Leon hanya bisa mengintip lewat jendela. Perlahan matahari keluar bersama sinarnya. Keinginan untuk menjadi manusia semakin kuat. Suatu saat, dia ingin berjalan berdua Amira di bawah sinar matahari.
__ADS_1
***
Hai gengs, makasih ya sudah mampir, Ikuti kisah selanjutnya ya ...