PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 43. PANGGILAN MISTERIUS


__ADS_3

***


Amira masih tertegun melihat Andrian berjalan menuju hutan saat gelap. Rasa ingin tahunya datang. Dia harus harus tahu apa yang sedang dilakukan Andrian.


"Kalian istirahat duluan aja, ya. Aku mau keluar sebentar!" ujar Amira yang langsung keluar dari kamarnya.


Lusi dan Nania saling pandang.


"Aku tahu Amira mau ke mana!"


"Aku juga tahu! Makanya aku gak mau tahu lagi!"


"Ya sudahlah! Kita bobo cantik aja. Siapa tahu bisa bertemu pangeran ganteng di alam mimpi!"


"Kuy lah!"


Keduanya segera memeluk guling. Mereka sangat tahu kalau Amira pasti akan menemui Andrian.


"Andai saja, aku menjadi Amira. Aku pasti akan nembak duluan!" celetuk Lusi padahal matanya sudah terpejam.


"Emang kamu mau jadi pembunuh. Asal nembak aja!" sahut Nania sedikit bercanda.


"Gak apa-apalah! Masuk penjara juga aku mau asalkan berdua dengan dosen tampan!"


Lusi tertawa cekikikan.


"Lah! Kamunya mau tapi dosen tampannya belum tentu mau! Mending ke laut aja daripada ke penjara!"


"Itukan istilah aja, sis. Kalau memang bersama dosen tampan, ke mana pun aku pasti mau!"


"Iya-iya ... sudahlah! Aku ngantuk berat, nich," sergap Nania yang sudah tidak bisa menahan kantuknya. Tak lama terdengar suara dengkurnya yang cukup keras.


"Iich, dia ngorok lagi!"

__ADS_1


Lusi menutup telinganya dengan bantal. Tak lama, dia pun terlelap.


Sementara itu, Amira sudah sampai di lobby. Gadis itu melihat sebagian staff kampus masih mengobrol. Mereka tidak menyadari kehadiran Amira. Kesempatan bagus! Dengan mudah Amira bisa keluar tanpa ketahuan.


Setelah melewati area parkir, Amira sampai juga di tempat ketika Andrian terlihat terakhir kali. Di depannya adalah hutan yang sangat gelap dan menyeramkan. Bagaimana bisa melewati hutan segelap itu? Bahkan ketika siang pun, sinar mentari hanya sampai ke pucuk pohon.


Amira mengurungkan niatnya untuk mengikuti Andrian masuk ke dalam hutan. Besok, jika ada waktu luang, Amira akan melakukannya.


Baru saja, Amira membalikkan badan, desir angin kembali menampar wajahnya.


"Amiraaa ...."


Suara itu kembali terdengar. Amira kembali menatap lekat ke dalam gelapnya hutan. Dia sangat yakin ada suara yang memanggilnya. Namun, Amira terpaksa harus kembali ke kamarnya.


Percakapan mahasiswa tadi membuat Amira penasaran. Mitos ada vampir di hutan membuatnya semakin ingin tahu. Begitu juga bayangan yang dilihatnya di dekat rumah besar di tengah hutan. Mungkin mitos itu memang benar. Belum lagi suara misterius yang memanggil namanya. semua rasa penasaran itu hanya bisa disimpan dalam hati. Malam ini akan berjalan sangat lama. Amira tidak akan bisa memejamkan matanya.


***


Pagi-pagi sekali mereka sudah berada di sawah. Setelah makan siang, mereka nyebur ke empang. Tak ada waktu luang sedikit pun. Amira semakin gelisah. Andrian tidak juga terlihat. Mungkinkah dia masih berada di dalam hutan?


Kenyataannya, Andrian memang masih di dalam hutan. Dia menyusuri jalan yang gelap menuju ke suatu tempat. Hampir seharian Andrian mencari rumah besar yang dilihatnya sewaktu di tengah hutan. Sangat aneh! Rumah seperti kastil itu seperti berpindah tempat.


Andrian masih merasakan dadanya terbakar. Dia harus menemukan vampir yang sudah membunuh ayahnya. Vampir itu bisa saja penghuni rumah misterius di tengah hutan.


Amira masih menunggu Andrian. Sampai sore, dia tidak kelihatan juga. Amira yakin, Andrian melakukan sesuatu. Tatapan matanya sangat tajam seakan menyimpan bara api yang berkobar.


"Maaf, Pak. Apakah bisa saya bertemu dengan Dosen Andrian?"


Amira berinisiatif untuk menanyakan langsung kepada staff kampus.


"Oh, Dosen Andrian sedang keluar untuk mengurus makalah yang akan dibawakan esok!"


"Apa handphonenya sedang tidak aktif?"

__ADS_1


"Aku kurang tahu! Mungkin kendala signal!"


Amira merasa tidak puas dan masih saja penasaran. Hari masih terang. Dia berniat mencari Andrian langsung ke dalam hutan.


Setelah ada kesempatan, Amira melaksanakan niatnya. Ada sesuatu di dalam hutan yang membuat Amira tertarik. Bukan hanya karena Andrian. Tapi, desir angin seperti suara yang memanggil namanya.


"Amiraaa ...."


Suara itu terdengar lagi. Kali ini, Amira sangat jelas mendengarnya. Membuatnya yakin untuk masuk ke dalam hutan.


Suara itu terus menuntun Amira melewati sungai kecil yang ada di belakang gedung tempatnya menginap. Dari sana, Amira lebih mudah mengikuti jalan masuk ke dalam hutan.


Hari hampir gelap, Amira masih berjalan menyusuri sungai kecil yang bermuara di sebuah danau. Sejenak, gadis itu terpaku dengan keindahan di sekitar tempat itu. Langit jingga membuatnya semakin eksotik. Memantulkan warna indah di atas air.


Wajah Amira berubah begitu melihat sebuah bangunan seperti istana memantul juga di atas air. Amira melihat lebih saksama. Di antara pepohonan, atap bangunan itu terlihat. Tidak lama lagi, Amira akan sampai di sana.


Sebelum kegelapan benar-benar datang, Amira bergegas harus pergi. Namun, bila mengambil jalan memutari danau akan memerlukan waktu yang lebih lama.


Beruntung, Amira menemukan perahu kecil di pinggir sungai.


"Ada perahu kecil! Pasti lebih cepat sampai ke seberang dari pada berjalan memutari danau. Tapi, aku gak pernah naik perahu sendirian ...," gumam Amira.


Tapi panggilan itu begitu kuat. Amira tak akan menyia-nyiakan kesempatan dan menaiki perahu kecil itu. Rembulan menuntunnya menuju ke seberang. Amira sangat yakin, ada seseorang yang sedang menunggunya di sana.


Di tempat lain, di dalam kerangkeng seperti penjara. Sebuah bayangan tak bergerak menatap rembulan yang baru saja muncul dari jendela kecil. Wajahnya begitu risau. Seharusnya dia senang karena kegelapan telah datang.


"Amiraaa ...."


Bayangan itu memanggil sebuah nama. Dia adalah kekasih yang sangat dirindukannya.


***


Hai gengs, makasih ya sudah mampir. Met weekend ya dan jangan lupa ikuti terus jalan cerita Amira dan Leon .... ❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2