
***
Amira penasaran dengan laki-laki yang sudah menolongnya. Juga keberadaannya yang seperti berada di negeri dongeng.
Setelah merasa lebih baik, Amira mencoba melihat-lihat dari jendela kamar terlebih dahulu. Dia berada di lantai dua sehingga bisa melihat keadaan sekeliling tempat itu.
Di sana hanya ada pepohonan yang tinggi menjulang dengan sedikit sinar mentari yang sampai ke permukaan tanah. Membuat tempat itu terasa lembab dan dingin.
Amira berjalan ke jendela satunya yang berhadapan berlawanan arah. Pemandangan lain menarik perhatiannya. Di sana terlihat sebuah pendopo yang berisi sapi dan kambing yang lumayan banyak. Terlihat seorang laki-laki setengah tua tengah memberi makan ternak. Nampaknya dia hanya manusia biasa.
Amira harus menemui laki-laki di kandang ternak itu dan menanyakan beberapa hal. Apalagi, Amira merasakan kehadiran Leon di tempat itu.
Baru saja Amira akan keluar, seseorang membuka pintu. Gadis itu sangat terkejut dan segera kembali ke tempat tidur.
"Selamat pagi, Nona!" ujar perempuan setengah tua dengan nampan berisi sarapan di tangannya.
"Se-selamat pagi, Bu!" jawab Amira sedikit gugup.
"Panggil saya, bibi Darmi aja. Saya yang mengurus rumah dan dapur di sini. Silakan Nona sarapan, maaf jika kurang berkenan," jelas Bibi Darmi seraya meletakkan nampan yang dibawanya di meja.
"Terima kasih, Bi Darmi. Kalau boleh saya tanya, apakah semalam Bibi yang sudah mengganti pakaian saya?"
Perempuan setengah tua itu langsung mengangguk.
"Iya, Nona. Saya sangat kanget Nona datang dalam keadaan basah dan pingsan. Apa Nona tenggelam di danau?"
__ADS_1
"Iya, Bi. Saya baru sadar tadi pagi dan pakaian saya sudah berbeda. Semalam saya naik perahu kecil di danau tapi terjatuh dan tenggelam. Untung ada seseorang yang menolong saya. Dia adalah seorang laki-laki muda berparas asing. Apakah dia anak pemilik tempat ini?"
Bi Darmi mengerutkan keningnya seperti sedang berpikir. Tak lama kemudian wajahnya berubah.
"Oh, dia itu bukan anak pemilik tempat ini, Nona. Tapi, memang pemiliknya. Namanya Tuan Alex!"
Amira tertegun. Tuan Alex? Amira teringat Leon pernah menyebut namanya beberapa kali.
"A-apakah, Bibi mengenal seorang laki-laki yang parasnya tidak terlalu berbeda dengan Tuan Alex, namanya Leon?"
Wajah Bi Darmi berubah. Dia kelihatan cemas.
"Sa-saya tidak tahu, Nona. Maaf, saya harus kembali ke dapur!"
Bi Darmi bergegas keluar dari ruangan itu. Amira merasa dia menutupi sesuatu. Dia harus mencari tahu, siapa saja yang tinggal di rumah itu. Hatinya berkata, Leon ada di sana. Kerinduan itu sudah tak tertahan. Sebentar lagi, kerinduan Amira akan membuncah.
***
Dia sangat tahu kalau bayangan itu bukanlah manusia biasa. Seperti juga ayahnya yang seorang vampir. Dia bisa datang dan pergi dalam sekejap mata. Andrian tidak bisa menuruni kekuatan itu karena ibunya hanya manusia biasa. Namun, bentuk fisiknya tidak berubah sejak berusia dua puluh tahun. Itu sudah seratus tahun yang lalu.
Banyak peristiwa yang sudah dia lalui. Sedari kecil, ayahnya membawa Andrian ke luar negeri. Dia tinggal di tempat terpencil di dalam hutan. Setelah waktunya sekolah, Andrian dibawa ke kota hingga pertumbuhannya terhenti di usia dua puluh tahun.
Sejak saat itu, Andrian hidup berpindah tempat agar tidak ada yang tahu wajahnya yang tidak berubah. Tahun demi tahun berlalu. Kematian kawan-kawan dan orang yang dikenalnya silih berganti. Membuat rasa kehilangan dan kesepian membuatnya hidup seperti tanpa nyawa. Lama-lama hatinya pun ikut mati.
Yang mengagetkan adalah ketika melihat Ayahnya menghisap darah seorang laki-laki di pinggir kota.
__ADS_1
Malam itu, dia melihat bayangan ayahnya keluar dari rumah. Andrian yang mulai punya rasa ingin tahu mengikutinya. Dia tak menyangka ayahnya ternyata pemburu darah manusia.
"Aku adalah vampir sejati. Aku tidak bisa hidup tanpa darah manusia!"
"Lalu, bagaimana denganku? Apakah aku juga akan seperti ayah?"
"Aku mengenalmu dari baru lahir. Kau adalah keturunan vampir. Setengah manusia dan setengah vampir. Kau bisa hidup sebagai manusia biasa. Keistimewaanmu adalah hidup abadi!" jelas ayahnya.
Hidup abadi! Andrian membenci keistimewaan itu. Terlalu banyak peristiwa menyedihkan yang terjadi. Kematian adalah sesuatu yang sangat diharapkannya.
"Maaf, Dos! Apa semalam Dosen bertemu Amira? Dia pergi mencari dosen dan sampai sekarang belum kembali!"
Lusi dan Nania memberanikan diri menanyakan soal Amira. Mereka sangat khawatir karena Amira belum kembali juga.
"Mencariku? Jadi Amira belum pulang juga?" tanya Andrian pura-pura tidak tahu.
"Iya, Dos. Tolong cari Amira, kami takut dia tersesat di dalam hutan," pinta Nania penuh harap.
Andrian diam sebentar.
"Baiklah! Aku akan menyusulnya. Tapi, jangan beritahukan siapa pun agar tidak gempar. Aku janji akan membawanya pulang!"
Lusi dan Nania cepat mengangguk. Mereka sedikit tenang karena Andrian akan mencari Amira sendiri.
Andrian akan kembali masuk ke dalam hutan. Kali ini dia harus menemukan rumah vampir. Dia sangat yakin kalau Amira ada di sana.
__ADS_1
***
Hai gengs, makasih ya sudah mampir. Jangan lupa ikuti terus kisah Amira dan Leon. Bisa gak ya mereka bertemu lagi? Hhmmm pasti pada kepo ya hihi ❤❤❤☂️☂️