
***
Amira membawa nampan kosong bekas makanan keluar dari kamar. Sebenarnya, dia tidak tahu di mana letak dapur. Amira membuat alasan agar bisa berkeliling di rumah besar itu.
Selain kamar yang ditempati Amira, masih ada ruangan lain yang sama besarnya. Sayang, semuanya terkunci sehingga Amira tidak bisa melihat ke dalamnya.
Kemudian, Amira turun ke lantai bawah. Di sana ada ruang besar berisi buku-buku yang berjajar rapi di dalam rak. Amira teringat suasana perpustakaan di kampusnya.
Kenangan bersama Leon kembali terbayang. Amira masih merasakan sesak di dadanya setiap kali teringat Leon. Betapa kerinduan membuatnya hampir kehilangan harapan.
Akhirnya, Amira menemukan dapur juga yang terletak di bagian bawah rumah besar itu. Tidak ada siapapun di sana. Bi Darmi juga tidak kelihatan.
Pandangan Amira tertuju ke sebuah pintu di sudut ruangan. Sepertinya, ada ruang bawah tanah seperti gudang. Entah kenapa, Amira penasaran dengan ruangan itu. Dia merasakan kehadiran Leon semakin dekat.
"Nona mau ke mana?"
Baru saja Amira akan membuka pintu itu, terdengar suara yang membuatnya sangat kaget. Dia pun segera membalikkan badan dan melihat seorang laki-laki setengah tua berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam. Dia membawa sebuah termos besi, mungkin berisi susu sapi.
"Ooh, maaf. Saya kira ini pintu keluar. Bapak siapa?" jawab Amira memberi alasan.
"Saya Mang Karta, suami Bi Darmi. Kami yang mengurus semua keperluan di rumah ini," jelas Mang Karta memperkenalkan diri.
"Oh, jadi Mang Karta ini, suaminya Bi Darmi? Saya mencarinya, tapi tidak ada di sini."
__ADS_1
"Kalau siang kami ada di kandang ternak. Ada banyak sapi dan kambing yang harus kami urus!"
"Begitu ya, Mang. Jadi botol besar yang Mang Karta bawa itu berisi susu sapi atau susu kambing?"
Mang Karta mengerutkan keningnya. Seperti sedang berpikir keras.
"Ooh-iya, Nona. I-ini isinya susu."
"Boleh saya bantu membawanya, Mang?"
"Tidak! Tidak usah, Nona. Sebaiknya Nona kembali ke kamar. Saya takut Tuan Alex marah kalau Nona berkeliaran di rumah ini!"
Sikap Mang Karta berubah agak kasar. Sepertinya tidak senang dengan niat baik Amira.
"Tuan Alex sedang tidak ada di sini. Mungkin nanti malam baru akan pulang!"
"Nanti malam? Sekarang masih siang dan masih banyak waktu sampai malam tiba. Apa boleh saya menunggunya di ruang perpustakaan?"
"Silakan, Nona. Asal Nona jangan ke mana-mana. Kondisi Nona masih lemah. Saya takut terjadi hal buruk kepada Nona," jawab Mang Karta dengan nada suara yang sudah kembali seperti semula.
Amira mengangguk dan melangkah pergi. Sebenarnya dia masih penasaran dengan pintu yang menuju ke ruang bawah tanah. Namun, keinginan itu terpaksa dikuburnya dalam-dalam.
***
__ADS_1
Sementara itu, di tempat yang gelap. Hanya ada sebuah lilin yang membuat tempat itu sedikit terang. Seorang laki-laki terduduk lemas di ruang kecil dengan banyak jeruji. Dia tertunduk di antara kedua kaki. Tak lama, dia mendongak. Remang-remang wajah laki-laki itu kelihatan. Dia adalah Leon.
Kondisinya sangat memprihatinkan. Hampir sebulan dia menghuni ruangan gelap dan pengap itu. Para vampir putih memutuskan kalau Leon menggantikan hukuman ayahnya selama satu purnama.
Sekarang baru berjalan satu bulan tetapi terasa sangat lama. Sementara kerinduan kepada kekasihnya semakin memuncak. Leon tidak tahu sampai kapan bisa bertahan.
Hari itu, setelah pertempuran dengan Christian dan vampir hitam. Ayahnya disidang karena sudah melakukan pembunuhan.
"Aku mengaku bersalah dan menerima segala hukuman yang kalian berikan!" ucap Alex tegas. Dia sudah siap menerima hukuman dari para vampir putih.
"Tidak! Ayah tidak bersalah. Saat itu, Ayah ingin menolongku! Makanya aku siap menerima hukuman juga!" sergap Leon.
Para vampir putih mendengarkan perkataan Leon. Alex tetap bersalah karena sudah membunuh Christian. Tetapi, Leonlah yang menjalankan hukuman itu.
"Tolong jaga Amira, Ayah. Aku sangat mencemaskannya!" pesannya sebelum menjalankan hukuman.
"Seharusnya kamu tidak usah menggantikan aku, Leon. Hidupku sudah tidak berarti lagi. Sementara kamu baru saja menemukan pasangan hatimu!"
"Tidak, Ayah. Aku tidak menyesali keputusanku menggantikan ayah. Satu purnama hanya sebentar. Sementara kita sudah hidup bersama selama ratusan purnama," ungkap Leon.
Kini, Leon harus mendekam di dalam ruang sempit dan tidak boleh berkeliaran di luar selama satu purnama. Awalnya, dia sangat siap menerima hukuman itu. Namun ketika merasakan keberadaan Amira, hatinya mulai goyah. Kerinduannya yang teramat besar yang sudah menuntun Amira mendekat padanya!
***
__ADS_1
Hai gengs, makasih ya sudah mampir, ikuti terus kelajutan kisah Amira dan Leon yang sedang merasakan kerinduan. Aah, bisa-bisa jadi ikutan rindu hihi ❤❤❤❤❤