
***
"Banyak yang menjaga anak gadis itu. Makhluk kera peliharaanku tidak bisa mendekatinya!" ujar Bibi Lusi setelah mengetahui makhluk gaib peliharaannya kembali kepadanya.
"Siapa yang menjaganya, Bi? Aku lihat tadi dia sendirian aja!"
"Dia makhluk kegelapan yang bisa melihat peliharaanku! Sebaiknya urungkan niatmu, Lusi. Perlu banyak sesajen agar peliharaanku itu mau menuruti perintahku!" jelas Bibi Lusi.
"Aku bisa memberikan apapun yang Bibi inginkan. Uangku banyak. Bibi kan tahu bapak baru saja menjual tanahnya," ungkap Lusi.
"Aku akan mencari jalan lain. Tapi kau harus bersabar, karena jika peliharaanku itu tidak suka. Kau sendiri yang akan menjadi tumbal!"
"Aakh, Bibi. Jangan menakutiku. Bibi pasti tidak akan membiarkan hal itu terjadi, kan?" ujar Lusi sambil tertawa.
Bibi Lusi hanya menarik napas panjang. Dia penasaran dengan makhluk kegelapan yang menjaga gadis yang dibenci keponakannya itu.
***
Amira teringat sosok mengerikan penuh bulu yang sempat dilihatnya. Dia ingin tahu makhluk apa dia sebenarnya. Kalaupun dia mahkluk astral, kenapa baru dilihatnya sekarang?
"Tuh, kan. Kamu selalu saja memikirkan orang lain padahal sedang bersamaku!" sergap Leon ketika melihat Amira termenung. Padahal dia sendiri sedang menyetir.
"Siapa? Iikh, aku bukannya mikirin manusia, kok!"
"Jadi, mikirin siapa?" goda Leon padahal dia tahu siapa yang ada di dalam pikiran Amira. Dia juga penasaran makhluk apa itu.
__ADS_1
"Coba ceritakan tentang diri kamu, Leon. Bagaimana keadaan ayahmu dan Casandra? Apa Mas Andrian juga sudah kembali?"
"Kenapa kamu tanyakan soal Andrian segala?" tanya Leon yang membelokkan arah pembicaraan. Dia tidak mau Amira cemas lagi dengan kerumitan masalah keluarganya.
"Mas Andrian kan saudaramu juga? Untuk apa sih cemburu sama dia? Aku juga menganggap Mas Andrian itu seperti seorang kakak!"
"Aku gak cemburu!" kilah leon.
"Aakh, masa? Jelas-jelas kamu itu cemburu! Aku suka melihatmu merajuk seperti itu. Berarti kamu sayang padaku. Iya, kan?"
"Iya-iya, aku memang cemburu kalau kamu terlalu dekat dengannya!"
Akhirnya Leon mengakui perasaannya. Amira kelihatan sangat senang.
"Asyiiik! Pacarku sedang cemburu. Kalau begini aku jadi mau ...."
"Memangnya kenapa? Aku cima mau melakukan hal ini, kok!"
Amira mendadak mencium pipi Leon. Membuat Leon tersentak kaget dan tidak bisa berkonsentrasi. Mobilnya sedikit oleng meski cepat kembali tenang lagi.
"Hei! Kenapa kamu begitu? Bahkan aku tidak sempat membaca pikiranmu!" keluh Leon. Padahal dia senang juga mendapatkan hadiah ciuman Amira.
Amira tak mampu menahan rasa bahagianya bisa bersama dengan pacarnya lagi. Berharap mereka tidak akan terpisah lagi untuk selamanya.
***
__ADS_1
"Kemarin kamu kemana, Na? Kata Lusi kamu gak masuk kuliah?" tanya Amira ketika bertemu Nania di taman.
"Aku gak enak badan, Mir. Setiap malam aku mimpi buruk!" jawab Nania dengan suara lemah. Wajahnya juga kelihatan pucat karena kurang tidur.
"Mimpi buruk? Apa sampai membuatmu sakit? Memangnya kamu mimpi apa?"
Nania terdiam. Dia enggan mengingat sosok mengerikan yang datang di setiap mimpinya.
"Makhluk mengerikan penuh bulu, Mir. Seperti kera tapi dia bisa berjalan seperti manusia!"
"Apa? Makhluk kera? Aku pernah melihatnya secara langsung tapi hanya sebentar!"
"Melihatnya secara langsung? Iikh, jangan sampai seperti itu. Aku benar-benar takut meski hanya di dalam mimpi!"
"Lalu bagaimana dengan Lusi? Apa dia juga mimpi buruk?"
"Entahlah! Terakhir ini kami jarang bicara. Sepertinya dia punya niat sesuatu padamu, Mir. Hati-hatilah!"
"Maksudmu apa? Apa Lusi masih menyimpan dendam padaku?"
"Sepertinya begitu, Mir. Aku harap tidak terjadi hal buruk padamu!"
"Kamu juga jaga diri, Na. Jangan sampai kamu sakit!"
Nania mengangguk. Dia hanya bisa memperingati Amira. Entah apa yang akan dilakukan Lusi. Apa mimpi buruknya juga berhubungan dengan Lusi?
__ADS_1
***
Hai gengs makasih ya sudah mampir. Bagaimana kisah Amira dan leon selanjutnya ya, apa makhluk kera itu akan melakukan hal buruk pada Amira, iih jadi ikut merinding nih!