
***
Rena masih menunggu Amira di depan halte kampus. Katanya, Amira akan datang karena hari ini libur. Hampir jam 09.00, Amira belum juga kelihatan. Handphonenya juga tidak aktif.
"Dasar, Amira. Handphonenya mati, paling dia ketiduran. Aku naik kereta saja lah!" gerutu Rena.
Kenyataannya Handphone Amira baterainya habis sehingga tidak bisa dihubungi. Lagi pula, saat ini Amira sedang bersama pujaan hatinya.
Bus terakhir sudah lama pergi. Rena memutuskan naik kereta. Tapi dia harus berjalan kaki sekitar sepuluh menit dan melewati gang sempit.
Entah kenapa malam itu sangat menyeramkan. Beberapa kali Rena merinding setiap melewati sudut yang gelap. Seperti ada seseorang yang sedang memerhatikannya.
"Siapa di situ?"
Rena memberanikan diri menegur bayangan itu. Mengira hanya perasaannya saja. Namun, ketika bayangan hitam keluar dari kegelapan, wajahnya menjadi pucat.
"Apa maumu? Ambillah handphone dan dompetku, tapi jangan sakiti aku!" teriak Rena sambil melemparkan tasnya.
"Aku menginginkan darahmu!"
Rena mundur beberapa langkah bersiap kabur. Namun bayangan itu menariknya ke dalam kegelapan. Sesaat kemudian, bayangan itu menggigit leher dan menghisap darahnya. Semenit kemudian, Rena tergeletak di atas aspal. Tak ada tanda kehidupan lagi.
Dari jauh terdengar lolongan srigala. Leon tersentak. Dia merasakan ada mahkluk vampir yang sudah memangsa manusia.
"Ada apa, Leon!"
Amira merasa aneh dengan sikap Leon.
"Sebaiknya aku mengantarmu pulang!"
"Katakan dulu ada apa?"
Amira sangat khawatir.
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku tak ingin kamu kemalaman. Nanti managermu bisa ngamuk. Iya, kan?"
Leon berusaha tenang. Tak ingin Amira semakin khawatir.
"Tapi janji dulu, kita akan ke pantai kalau aku libur lagi!"
"Iya, Sayang. Aku janji!"
Amira merasa tenang setelah mendengar Leon berjanji. Malam ini dia akan tidur nyenyak. Semua kerinduan tidak lagi menyesakkan.
***
Keesokan harinya, Amira sudah kembali beraktifitas seperti biasa di tempatnya bekerja. Hanya saja, dia lebih bersemangat lebih dari biasanya.
__ADS_1
"Asyik yang abis libur, senyum-senyum sendiri. Pasti abis ketemu pacar, ya?" goda May yang melihat Amira kelihatan lebih ceria.
"Hhmmm, kasih tahu gak, yaaa," jawab Amira balik menggoda.
"Kasih tahu, dooong!"
Tiba-tiba Ara muncul dan langsung mendekap Amira.
"Eeh! Kamu juga kemarin libur. Pasti ketemu pacar juga, yaa!"
Kali ini, Ara yang jadi korban keponya May. Gadis itu langsung bersembunyi di belakang Amira.
"Eeh! Ada tamu. Ayo, bubar!"
Dua orang laki-laki muncul dari balik pintu. Mereka saling berbisik dan melihat ke sekeliling ruangan. Pandangan mereka terhenti ketika melihat ke arah Amira.
"Maaf, apa nona bernama Amira?"
Amira kelihatan kebingungan. Sementara, dia tidak mengenali dua laki-laki itu.
"Iya benar, saya Amira! Ada apa, ya?"
Kedua laki-laki itu saling pandang.
"Kami dari kepolisian. Maaf, Nona harus ikut kami ke kantor polisi!"
Amira semakin penasaran.
"Ada apa ini?"
Handoko muncul. Dia melihat kedatangan kedua orang itu dari jauh.
"Kami dari kepolisian, Pak. Minta ijin untuk membawa Nona Amira ke kantor polisi!"
"Bisa jelaskan apa alasan Nona Amira dibawa ke sana, Pak?"
Keduanya saling pandang dan melihat ke arah Amira beberapa kali.
"Baiklah! Nona Amira adalah saksi pembunuhan terhadap Nona Rena yang terjadi semalam!"
"A-apaa maksud bapak? Pembunuhan Rena? Apa yang terjadi padanya?" tanya Amira meminta penjelasan.
"Iya, Nona. Semalam telah terjadi pembunuhan terhadap Nona Rena. Dia beberapa kali menghubungi Nona dari handphonenya!"
"Astaga! Rena ...."
Amira mundur beberapa langkah dan bersandar di tembok agar tidak jatuh. Kakinya terasa sangat lemas tak mampu menahan tubuhnya. Air mata tak tertahan dan mengalir deras. Merasa bersalah karena tidak menghidupkan handphonenya dari semalam.
__ADS_1
"Bolehkah saya melayat dulu ke rumah Rena, Pak?"
"Baik, Nona. Kami akan antarkan ke sana!"
***
Rumah Rena sudah ramai dengan pelayat. Amira masih gemetaran ketika melangkah masuk. Dilihat Amira terbujur kaku di atas kasur. Orang tua dan saudaranya duduk di samping jasad Rena.
"Amira! Ayah baru akan menjemputmu. Kenapa handphonemu tidak aktif!"
Iskandar juga sangat khawatir karena tidak bisa menghubungi Amira.
"Handphone Amira mati, Ayah. Kenapa dengan Rena?"
Amira mendekap Rena yang tidak bisa bergerak lagi. Wajahnya pucat tanpa tanda kehidupan lagi.
"Bangun, Rena. Maafkan aku ...."
Amira menangis sesungukan. Rasa penyesalan itu semakin besar.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Rena, Om?" tanya Amira kepada Hadi, Ayah Rena.
"Semalam Rena ditemukan sudah meninggal di pinggir jalan sebelum stasiun kereta dekat kampus. Katanya Rena kehabisan darah tapi tak ada luka sedikit pun!" jelas Hadi.
Iskandar yang mendengar penyebab kematian Rena teringat dengan peristiwa kematian Ibu Amira. Dia juga meninggal dengan cara yang sama seperti Rena.
"Maaf, Nona Amira harus ikut kami ke kantor polisi untuk penyelidikan lebih lanjut!" ujar salah satu polisi yang membawa Amira.
"Saya ikut, Pak. Saya adalah Bapak Amira. Ada sesuatu yang ingin saya ceritakan!"
Saat ini, Iskandar tidak akan meninggalkan puterinya sendirian. Apalagi, Amira masih sedih karena sudah kehilangan sahabatnya.
Amira dan Ayahnya langsung ke kantor polisi. Amira menjadi saksi atas kematian Rena.
"Apa benar Rena meninggal karena kehabisan darah, Pak?" tanya Amira begitu sampai di kantor polisi. Amira ingin tahu kejadian sebenarnya.
"Maaf, Pak. Sebenarnya istri saya meninggal dengan cara yang sama tiga tahun yang lalu. Tapi sampai sekarang penyelidikannya tidak pernah selesai!"
"Ayah! A-pa Ibu meninggalnya sama seperti Rena?"
"Iya. Ayah sudah menutupinya karena gak mau kamu semakin sedih! Dulu polisi mencurigai ada makhluk penghisap darah atau vampir. Tapi, tidak ada jejak dari makhluk itu hingga penyelidikan dihentikan!"
"A-apa! Vampir?"
Amira tak percaya kematian ibu dan sahabatnya karena Vampir. Lalu bagaimana dengan Leon? Apa dia yang sudah melakukan pembunuhan itu?"
***
__ADS_1
Hai gengs, makasih ya sudah mampir, ikuti jalan ceritanya terus ya ...