PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 93. KEDEKATAN DUA SAUDARA


__ADS_3

***


"Aku bisa membuatmu berjalan di dunia terang, Saudariku! Tapi, kau harus meninggalkan dunia narkoba yang sudah kau jalani selama ini!" ungkap Annastasia sekaligus memberi alasan kuat kepada saudarinya.


"Eemm, apa aku harus mengikutinya agar bisa berjalan di dunia terang? Selama ini aku bisa melakukannya dengan narkoba!" jawab Annabela yang mencari alasan.


"Tapi, Narkoba tidak akan memberikanmu ketenangan, Annabela. Percayalah padaku! Kita bisa melaluinya dan bahagia selamanya!"


Annabela tertawa sinis.


"Bahagia? Kau tahu hidupku seperti apa ketika masih menjadi manusia? Mereka menyiksaku tubuh dan jiwaku. Aku sudah mati bahkan sebelum menjadi vampir!"


Annabela teringat sisi kelamnya ketika masih menjadi manusia. Sebuah keluarga mengadobsinya setelah peristiwa kebakaran yang merenggut nyawa kedua orangtuanya.


Namun, bukan bahagia yang didapat. Yang ada, orang tua angkat dan anak-anaknya malah menyiksa Annabela. Peristiwa yang paling menyakitkan adalah ketika mereka menjualnya ke rumah pelacuran.


"Kau beruntung mendapatkan keluarga yang benar-benar menyayangimu, Annastasia. Meski kita sama-sama menjadi vampir tapi hidupmu jauh lebih baik!" sambung Annabela lagi.


"Aku tidak bisa memintamu melupakan masa lalu, Saudariku. Setidaknya, di depan kita masih ada harapan dan masa depan. Kita bisa bahagia jika kembali bersama. Ikutlah denganku ke negeri vampir putih!" pinta Annastasia penuh harapan.


Annabella tak menjawab permintaan saudara kembarnya. Bukan karena dia tidak ingin bersamanya. Tapi, kehadiran Leonlah yang membuatnya bertahan. Dia akan meyakinkan Leon kalau benar-benar mencintainya.


Annastasia sedikit khawatir dengan saudarinya. Dia sangat tahu kehidupan kelamnya di dunia manusia sudah membuat hatinya ikut menjadi hitam. Annastasia hanya berharap bisa meyakinkan Annabella sampai di titik terakhir.


***


Andrian ingin sekali bertemu dengan Amira. Banyak yang ingin dia ceritakan. Tentang perjalanannya dan rahasia para vampir putih.


"Mas Andrian?"


Amira sangat terkejut ketika melihat Andrian muncul di depan rumahnya.

__ADS_1


"Iya, ini aku Andrian! Apa kabarmu, Amira?"


Andrian tersenyum. Merasakan debar menahan kerinduan yang lama tersimpan di dalam hatinya.


"Ibuu! Aku keluar sebentar, ya!" teriak Amira yang mengajak Andrian ke taman agar bisa bicara lebih bebas.


"Kenapa keluar? Aku ingin bertemu dengan keluargamu, Amira," ujar Andrian sedikit komplain.


"Ayah lagi gak ada di rumah, Mas. Nanti aja kalau ayah ada, ya. Lagipula lebih bebas bicara di luar, kan?"


"Iya juga, sih. Banyak yang ingin aku bicarakan kepadamu. Terutama perjalananku ke negeri vampir putih!"


"Iya, aku sangat ingin tahu. Perjalanan itu pasti sangat melelahkan!"


"Hhmmm, tapi aku ingin mengajakmu makan dulu. Aku lapar, nih!"


"Tapi aku masih kenyang, Mas. Barusan aku makan siang!"


"Temani aku juga boleh. Kamu bisa makan es cream atau apapun yang ringan saja!"


"Amira!"


Baru saja, mereka akan beranjak pergi, tiba-tiba Leon muncul.


"Leon? Kamu ke sini juga? Ada apa?" tanya Amira yang keheranan Leon datang tanpa bilang padanya.


"Eem, kamu kan janji akan mengantarku memotong rambut!" jawab Leon mencari alasan.


"Bukankah kamu gak mau motong rambut?"


"Aku mau, kok. Ayo kita pergi sekarang! Maaf ya, Andrian. Kami pergi dulu," ujar Leon seraya menarik tangan Amira.

__ADS_1


"Tunggu! Aku bisa mengantarmu juga. Lagi pula, rambutku juga sudah mulai panjang! Ayo, kita pergi," ucap Andrian yang tidak mau ketinggalan.


Leon hanya berdiri mematung. Sepertinya hari itu bukan saat yang tepat untuk berduaan dengan Amira. Kehadiran Andrian membuatnya tidak nyaman, apalagi tahu kalau dia menyukai Amira juga.


Amira hanya tersenyum menyaksikan dua laki-laki yang seperti anak kecil. Sudah saatnya mendekatkan keduanya layaknya seperti saudara.


Tak lama kemudian mereka sudah sampai di barbershop. Benar-benar perjalanan yang sangat panjang. Di dalam mobil, Leon dan Andrian selalu saja bertengkar. Amira merasakan telinganya sampai berdengung.


"Bagaimana model yang bagus buatku, Sayang?" tanya Leon yang tidak mau didahului Andrian.


"Seperti biasanya saja, Leon. Yang penting pendek dan rapi!"


"Bagaimana denganku? Apa perlu memangkas semua rambutku jadi botak?" tanya Andrian yang tidak mau ketinggalan dari Leon.


Amira tak bisa menahan tawanya. Dia tak bisa membayangkan bagaimana penampilan Andrian jika kepalanya botak.


"Ya, ya. Seperti itu aja, Mas. Pasti jadi lebih ganteng!" canda Amira sambil tertawa.


Andrian juga ikut tertawa. Dia sangat senang melihat Amira yang masih bisa tertawa.


"Aku juga mau botak aja!"


Amira tertegun mendengar celetukan Leon. Dia dan Andrian saling pandang kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa kalian malah tertawa? Apa ada yang lucu?"


"Kamu gak pantas botak, Leon. Wajahmu itu malah jadi aneh!" cetus Andrian.


"Aneh kenapa? Aku pasti lebih tampan kalau botak!" ujar Leon penuh keyakinan.


Amira mulai merasa kesulitan mengatasi sikap Leon yang seperti anak kecil. Leon dan Andrian seperti dua anak kecil yang selalu memperebutkan apapun. Apakah mereka bisa menjadi lebih dekat seperti dua saudara? Sepertinya Amira harus mengeluarkan segenap tenaga dalamnya agar bisa menyatukan mereka.

__ADS_1


***


Hai gengs makasih ya sudah mampir. Bagaimana misi Amira yang ingin mendekatkan Leon dan Andrian ya? Apakah Annastasia juga bisa menyakinkan Annabella untuk ikut bersamanya ke negeri vampir? Ikuti terus kisah selanjutnya ya gengs ❤❤❤❤❤


__ADS_2