
***
Setengah jam kemudian, akhirnya bus keluar juga dari areal hutan yang remang-remang. Semua bisa bernapas lega ketika kembali merasakan hangatnya mentari.
"Akhirnya kita keluar juga dari hutan itu. Gue sangat khawatir, katanya hutan itu angker!"
Amira tertegun mendengar bisik-bisik mahasiswa yang duduk di depan bangkunya.
"Angker kenapa? Tadi gak ada apa-apa, kok!"
"Aakh, elo gak tau aja, Bro! Katanya ada vampir yang tinggal di sana. Elo liat gak rumah yang kaya istana itu. Nah! Vampir itu tinggal di sana," cerita salah satu mahasiswa itu dengan berapi-api.
Wajah Amira berubah cemas mendengar pembicaraan mereka. Gadis itu melirik Andrian. Pasti dia mendengar pembicaraan mereka juga. Tapi, Amira melihatnya tengah terpejam.
Apakah bayangan yang tadi dilihatnya adalah vampir? Apakah Leon ada di tempat itu juga? Amira tidak bisa berhenti memikirkan tentang pembicaraan mahasiswa itu.
Pasti ada alasan kuat, mengapa gosip tentang vampir itu bisa beredar luas. Mungkin juga ada yang melihat langsung penghuni rumah itu.
"Ayo, turun semuanya! Tapi jangan berebutan!"
Terdengar suara dari arah pintu bus. Amira juga sudah berdiri tapi Andrian masih tertidur.
"Ayo, Amira. Kita harus turun!" ajak lusi.
"Mas Andrian masih tertidur. Kalian jalan duluan saja. Aku akan membangunkannya dahulu!"
"Haduh! Saat tidur aja ganteng begitu. Amira, jangan buat dia kaget, ya," ujar Nania yang gemes melihat Andrian yang masih terpejam.
Amira mengangguk dan memberi kode agar Lusi dan Nania pergi duluan.
"Mas, kita sudah sampai!" ujar Amira pelan.
Andrian tidak bergerak sama sekali. Amira mulai cemas.
"Mas, kita harus keluar dari bus. Bangunlah!"
__ADS_1
Amira menggoyang-goyangkan lengan Andrian. Dia juga memeriksa napasnya dengan ujung jari di depan hidung.
"Apa kamu kira aku sudah mati?"
Amira kaget bukan main ketika Andrian tiba-tiba membuka matanya.
"Mas! Kenapa sih selalu membuatku kaget?"
Amira mulai sewot. Andrian hanya tertawa kecil.
"Aku sengaja turun paling akhir karena gak mau berdesakan. Ayolah, kita turun!"
Amira hanya bengong melihat Andrian beranjak dari tempat duduknya. Seharusnya Amira merasa kesal dengan sikapnya, tapi amarah itu sirna begitu melihat senyuman di sudut bibirnya.
"Benar kan kataku, kita tak perlu berdesakan dengan yang lain!"
"Tapi, kita sudah tertinggal!"
"Tak perlu khawatir, kita gak akan tersesat, kok!"
Amira melihat ke sekeliling tempat itu. Alam menyajikan pemandangan yang sangat luar biasa. Pepohonan rindang dan sejuk menghiasi setiap sudut. Bunga warna warni juga menambah keindahan. Sangat berbeda ketika berada di perkotaan, yang disajikan hanya tembok beton dan jalanan beraspal.
"Ayolah, Amira! Kenapa diam saja!"
Andrian memberi isyarat agar Amira segera menyusulnya. Baru saja gadis itu mau melangkah, angin yang cukup keras menampar wajahnya.
"Amiraaa ...."
Amira tertegun. Terdengar suara yang memanggil namanya seiring embusan angin.
"Amiraaa ... Amiraaa ...."
Terdengar suara itu lagi. Amira menoleh ke sekeliling tempat itu. Tidak ada siapa pun di sana. Jantungnya berdegup kencang. Dia mengenali suara itu.
"Leooon ...," bisiknya.
__ADS_1
Amira merasa Leon ada di dekatnya dan tidak jauh dari tempat itu.
Andrian masih berdiri di ujung jalan. Menatap Amira lekat seakan sedang memikirkan sesuatu. Hanya dia yang tahu apa yang ada di kepalanya.
***
Acara makan malam dan sedikit orientasi untuk acara besok sudah selesai. Hampir jam delapan malam, tapi suasana sudah seperti tengah malam.
Ketika acara berlangsung, Amira tidak melihat Andrian. Mungkin dia punya acara sendiri bersama dengan para dosen dan staff kampus.
"Aakh! Aku ngantuk sekali. Aku mau langsung bobo!"
Lusi langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Amira satu kamar dengannya dan Nania juga.
"Badanku juga sakit semuanya. Perjalanan yang melelahkan!"
Nania juga merebahkan tubuhnya di samping Lusi.
"Kamu gak lelah, Amira?" tanya Lusi ketika melihat Amira masih berdiri di sisi jendela.
"Aku belum mengantuk! Kalian tidur duluan aja."
"Aku tahu, kamu mikirin dosen tampan itu, kan? Soalnya tadi aku gak ngelihat dia!" tebak Nania.
"Aakh! Enggak, kok. Aku cuma belum mengantuk, aja!" sanggah Amira.
"Hhmmm, masa kamu gak mikirin dia sih? Kalau dipikir-pikir ..., dosen tampan itu wajahnya lebih muda dari umurnya. Dia masih kelihatan sebaya kita tapi sudah menjadi dosen. Seharusnya, umur sekitar tiga puluhan wajahnya lebih tua!"
"Ho oh, apa dosen tampan itu sudah oplas, ya?"
"Gila kamu, Lus. Mana ada oplas seperfect itu!"
Amira tidak memerdulikan pembicaraan kawan-kawannya. Gadis itu hanya membuang pandangannya keluar jendela. Kegelapan sudah menjadi penguasa, bahkan binatang malam pun terlelap.
Perhatian Amira tertuju kepada sebuah bayangan yang berjalan menuju hutan. Amira melihatnya lebih tegas. Dia adalah Andrian! Apa yang dilakukannya malam-malam seperti ini!
__ADS_1
***
Hai gengs, makasih ya sudah mampir, salam jum'at barokah ya, jangan lupa ikuti terus kisah Amira dan Leon ❤❤❤