PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 27. DARAH PENGGANTI


__ADS_3

***


Leon masih menyusuri kegelapan untuk mencari Casandra. Dia akui kekuatan Casandra jauh lebih besar karena pernah merasakan darah manusia. Bahkan, ayahnya juga tidak bisa melacak keberadaannya.


Malam ini, Leon mulai merasakan keberadaannya. Lewat penglihatannya, Leon bisa melihat di mana Casandra berada.


Casandra tengah berada di diskotik, tempat manusia berkumpul dan menikmati dunia kegelapan. Casandra juga tenggelam di sana.


Dengan mudah Leon bisa menemukannya.


"Leon?"


Casandra terkejut melihat Leon muncul di hadapannya.


"Kita harus bicara!"


"Tidak! Mereka ada di sini dan mengawasiku. Pergilah!"


"Mereka?"


Leon menatap ke sekeliling, yang ada hanya orang-orang yang berdansa menikmati lagu. Sebagian lagi mengobrol dengan deretan minuman di atas meja. Ada beberapa orang yang berdiri di pojokan. Mereka membawa obat-obatan terlarang dan menunggu dengan sabar karena pasti ada saja yang mencarinya.


"Apa Cristian ada di sini?"


"Dia selalu ada di dekatku! Tapi tidak denganmu. Kau sudah tergila-gila dengan manusia itu dan melupakanku!"


"Casandra! Apa karena itu kamu membunuh sahabat kekasihku? Apa hanya untuk menyakitiku?"


Casandra tertawa kecil. Dia mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakan korek.


Rokok itu bukan rokok biasa tapi ada daun ganja di dalamnya. Baru saja Casandra mau menghisapnya, Leon merebut rokok itu dan menginjaknya sampai hancur.


"Tidak! Ayah sudah mengajarkan tentang keindahan. Jangan kau hancurkan usahanya!"


Kali ini, Casandra tertawa lebih keras.


"Kau kira, akulah yang membunuh sahabat kekasihmu itu? Keindahan manusia? Persetan semuanya. Aku lebih nyaman tetap menjadi vampir!"


Leon semakin emosi mendengar perkataan Casandra.


"Ayo kita pulang!"


Leon menarik tangan Casandra tapi gadis itu mengelak.


"Pulang? Kita sudah lama tidak punya rumah! Alex hanya mengajarkan kebohongan!"


Leon tidak bisa menahan diri lagi. Dengan sekuat tenaga, menyeret Casandra keluar dari tempat itu.


Sampai di luar, sebuah bayangan berkelebat dan berdiri di depan Leon.


"Sayangku Cristian!" ujar Casandra setelah menyadari siapa bayangan itu dan langsung memeluknya.

__ADS_1


Leon tertegun melihat Cristian. Wajahnya masih tetap muda seperti manusia remaja padahal sepantaran dengan ayahnya. Mungkin karena dia meminum darah manusia sementara ayahnya hanya minum darah binatang.


"Jadi kau Cristian?"


"Ya! Aku Cristian. Dan kau adalah Leon! Aku senang kita bisa bertemu. Casandra sering menceritakan tentang dirimu, dan kekasih manusiamu!"


Leon tertegun mendengar ucapan Cristian. Berarti dia tahu soal Amira.


"Jangan ganggu kekasihku!" ucap Leon lewat telepati.


Cristian tertawa.


"Aku bisa mendapatkan kekasihmu dengan mudah! Benar apa yang dikatakan Casandra. Kau akan menderita jika kekasihmu terluka!"


Leon melemah. Dia bisa saja menyerang Cristian saat itu juga. Tapi, sosok Amira menghampiri benaknya. Dia tidak ingin Amira terluka.


"Jadi? Apa yang kamu lakukan sekarang?" tanya Cristian sinis.


"Aku akan membawa Casandra pulang!"


Lagi-lagi, Cristian terbahak.


"Oke! Pergilah, Casandra!"


Casandra terkejut dengan perkataan Cristian barusan.


"Tapi, Sayangku! Mengapa kamu melepaskan aku? Kau sudah berjanji akan membawaku pulang ke rumah kita yang sebenarnya!"


"Sayangku! Jangan lakukan itu. Aku mencintaimu!"


Casandra memeluk Cristian erat. Namun, vampir itu malah nelepaskan tangan Casandra dalam satu kibasan.


"Kau-kau sudah memperalatku!"


Casandra tersadar, Cristian tidak benar-benar menginginkannya.


"Bawalah dia pergi, Leon. Tapi aku ingin darah pengganti dari kekasihmu!"


Leon tertegun. Cristian menginginkan sesuatu yang tidak akan diberikannya.


"Tidak! Tak akan ada darah pengganti dari siapapun!"


"Leoon ..., tolong aku," ucap Casandra lirih. Dia sudah putus asa. Apa yang dibayangkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.


"Berikan saja kekasihmu itu pada Cristian! Aku berjanji tidak akan pergi lagi."


"Kau! Kekasihku adalah hidupku. Tak sebanding dengan dirimu. Maaf, aku tidak bisa melakukannya!"


Jelas, Leon akan memilih melepaskan Casandra. Dia tidak akan menukar dengan kekasihnya sampai kapanpun.


Leon memilih pergi. Casandra terduduk lemas menyadari jalan yang diambilnya salah.

__ADS_1


"Cristian, aku adalah budak setiamu. Mengapa kau tega melepasku seperti ini?"


"Dulu kau pernah meninggalkanku saat akan kembali ke negeri kita. Kapal sudah menunggu dan kau tidak muncul juga. Saat itu aku berjanji akan kembali untuk bersamamu. Tapi, ketika melihat Leon dengan kekasihnya. Aku menginginkan lebih lagi. Aku menginginkan kekasihnya!"


"Seharusnya dulu kau mencariku. Aku dikurung Alex dan kau tidak menolongku. Seharusnya aku tahu, kau tidak pernah mencintaiku!"


"Waktu memang sudah merubah banyak hal, Casandra. Aku sudah tidak punya hati untuk siapapun. Tapi, aku menginginkan darah manusia lebih banyak lagi. Aku adalah seorang vampir!"


Cristian menghilang di dalam kegelapan. Sementara Casandra benar-benar hancur. Saat ini dia bisa kembali menemui Ayahnya dan meminta ampunan. Tapi, dari dalam kegelapan muncul beberapa bayangan.


Mereka adalah para vampir yang datang bersama Cristian. Kekuatan mereka jauh lebih besar. Casandra tak mampu melawan mereka semua.


Diam atau melawan sama saja. Casandra menyadari dirinya tak berarti lagi. Ada atau tiada, pilihan itu tak ada gunanya.


Dengan segenap kekuatan, Casandra melawan vampir anak buah Cristian. Kekuatan mereka tidak seimbang. Dalam sekejap, Casandra tak berdaya.


Di saat terakhir, sebuah bayangan muncul. Dia membawa Casandra yang hampir mati untuk kedua kalinya.


"Ayah ...," bisik Casandra.


Alex muncul di saat yang tepat. Dia menggendong Casandra dan membawanya pergi. Para vampir terus mengejar. Tapi, Alex bisa melarikan diri dengan mudah.


***


Amira berniat memberi kejutan kepada Leon. Dia sudah yakin untuk melanjutkan kuliah. Seminggu terakhir sudah menyiapkan semuanya. Yang pertama dilakukannya adalah meminta izin Ibu Melati, Bosnya. Tapi Amira belum memberitahukan Wijaya. Dia pasti sedang sibuk.


Kini, Amira sudah berada di kampusnya lagi. Sosok almarhum Rena menghampiri benaknya. Biasanya mereka menghabiskan waktu di taman sambil bersenda gurau. Kini, Amira hanya sendirian. Ditemani sepoi angin yang tak lagi membawa kesegaran.


"Apa yang kamu lamunkan?"


Amira terkejut. Wijaya sudah berdiri di sampingnya.


"Pak Wijaya? Maaf, saya sedang melamunkan Rena. Saya sangat merindukannya. Kami sudah bersahabat lama. Mengapa Rena harus meninggal mengenaskan seperti itu?"


"Tidak ada yang bisa diperbuat. Kematian adalah urusan Sang Pencipta!"


"Tapi sampai sekarang pembunuh Rena belum ditemukan. Bila ingat itu, rasanya menyesakkan!"


Wijaya terdiam. Ada sesuatu yang sedang dia pikirkan.


"Sebenarnya ada sesuatu yang bisa membuat pembunuhnya ditemukan!"


"Benarkah? Apa itu?"


Wijaya kembali terdiam.


"Maaf, Leon. Aku terpaksa membawa Amira ke dalam kasus ini!" ucapnya di dalam hati.


***


Hai gengs makasih ya sudah mampir, ikuti terus kisah selanjutnya ya .... ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2