
***
Amira baru saja akan keluar ruang belajar, ketika Lusi muncul.
"Hai, Mir! Maaf, ya. Semalam aku lupa janji kita. Aku baru ingat setelah sampai di rumah. Apa sekarang kamu ada waktu? Soalnya besok sudah acaranya!" ungkap Lusi dengan ekspresi masih sama cerianya.
Amira teringat kata-kata Nania soal rencana Lusi. Tapi sikap Lusi tidak mencurigakan sama sekali.
"Aku gak ada acara lagi, Lus. Tapi, aku belum izin sama orangtuaku," jawab Amira mencari alasan.
"Aakh! Gampang itu. Nanti aku yang ngomong sendiri sama orangtuamu. Ayolah! Kita naik mobilku saja," ajak Lusi.
"Kamu punya mobil, Lus?"
Seingat Amira, Lusi hanya orang kampung biasa.
"Iyalah! Sekarang ini harus mengikuti trendi!"
Amira terpaksa mengikuti Lusi pergi ke rumahnya. Ternyata rumah Lusi cukup besar dengan halaman yang luas
"Di mana orantuamu, Lus? Kenapa sepi sekali," tanya Amira begitu melihat rumah Lusi yang kosong.
"Mereka sedang liburan dengan adikku! Ada Bibiku, kok. Aku panggilkan dulu, ya!"
Lusi langsung ngeluyur pergi. Sementara Amira hanya diam terpaku. Bulu kuduknya merinding lagi. Suasana rumah Lusi terlalu sunyi senyap. Malah membuat suasana menjadi menakutkan.
Ternyata, Lusi sudah merencanakan hal buruk kepada Amira. Tidak ada jalan lain. Amira harus ada di rumahnya agar rencananya bisa berhasil. Dia harus membayar semua sakit hatinya saat itu juga.
"Apa dia akan mati, Bik?"
"Dalam sepuluh hari, peliharaanku akan menempel padanya. Dia akan mati dengan cara bunuh diri karena tidak tahan dengan teror yang dilakukan peliharaanku itu!"
"Apakah sama seperti Nania? Ini sudah hari kelima, Bik!"
__ADS_1
"Ya! Sudah waktunya dia akan mengalami trauma hebat. Lihat aja nanti!"
Pembicaraan mereka terhenti. Sosok mengerikan penuh bulu itu muncul sambil menyeringai.
"Pergilah! Buat gadis itu menderita!" ujar Bibi Lusi seraya melemparkan kemenyam ke dalam perapian.
"Ingatlah, Lus. Besok carilah ayam cemani berwarna hitam legam. Ayam itu akan menjadi tumbal pertama yang harus kamu serahkan!"
Lusi mengangguk. Hatinya sudah mantap untuk melakukan hal buruk pada Amira dan Nania. Mereka sudah menyakiti hatinya. Sudah waktunya untuk membalas dendam.
Sementara itu, Amira merasakan tengkuknya semakin merinding. Hawa dingin muncul dan membuat tubuhnya juga menggigil.
Lusi tidak kelihatan juga. Amira mulai merasa keanehan. Kata-kata Nania kembali terngiang. Amira sangat menyesal karena sudah mengikuti kemauan Lusi untuk datang ke rumahnya.
Amira menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara erangan. Tiba-tiba, asap putih memenuhi ruangan. Bau kemenyan menyeruak dan membuat dada Amira sesak.
Sesosok bayangan muncul. Sosok mengerikan penuh bulu yang pernah dilihat Amira di halte bus.
"Si-siapa kau? Apa yang kamu lakukan?" tanya Amira dengan suara gemetar.
Sosok itu kian mendekat. Kuku-kuku tajam di tangannya siap mencabik tubuh Amira dengan membabi buta. Amira merasakan kakinya sangat lemas. Apakah saat ini adalah saat kematiannya?
Tiba-tiba, pintu ada yang membuka dengan cukup keras dan sedetik kemudian sebuah bayangan muncul. Sebelum tak sadarkan diri, Amira sempat melihat wajah bayangan itu. Dia adalah Leon.
Sosok penuh bulu itu kelihatan sangat marah dengan munculnya Leon. Dia beralih kepadanya dan menyerang Leon dengan cakarnya. Kekuatan leon sudah kembali sehingga dengan mudah menangis serangan makhluk itu.
Sebenarnya Leon bisa saja menghancurkan sosok itu, tapi dia teringat Amira. Rasa khawatir memenuhi ruang hatinya. Dia memilih menggendong Amira keluar dari rumah itu.
Makhluk itu masih terus mengejar Leon. Dia harus menyelesaikan tugasnya. Tapi kekuatan Leon jauh lebih besar. Dengan cepat Leon terbang melintasi pepohonan. Dia memilih menghindari pertempuran untuk sementara waktu.
"Dia muncul lagi! Kurang ajar, siapa sebenarnya makhluk itu!" ujar Bibik Lusi geram.
"Ada apa, Bik?"
__ADS_1
"Makhluk kegelapan itu, dia membawa gadis itu kabur! Peliharaanku tidak bisa mengejarnya!"
"Sebentar, Bik. Aku akan melihat kamera CCTV!"
Lusi juga ingin tahu siapa yang sudah menolong Amira. Pasti kelihatan di video CCTV di rumahnya. Amira menyalakan layar laptop yang bisa terhubung dengan CCTV.
"Aku tidak melihat apa-apa, Bik! Kejadiannya sangat cepat. Ada satu orang yang siap menyelamatkan Amira. Yaitu pacarnya, Leon! Apa Leon yang sudah membawa Amira pergi. Siapa Leon sebenarnya?"
"Leon adalah pacar Amira?"
"Iya, Bik. Leon kuliah satu kampus denganku. Aku juga pernah menyukainya. Tapi, dia malah mendekati gadis cupu seperti Amira. Tapi, Leon hanyalah manusia biasa!"
Bibik lusi kembali melemparkan kemenyan lebih banyak lagi. Dia akan memanggil peliharaannya kembali. Tak lama, sosok mengerikan itu muncul.
"Siapakan makhluk yang sudah membawa gadis itu pergi?" tanya Bibik Lusi kepada makhluk mengerikan peliharaannya.
Makhluk itu tidak mengeluarkan kata-kata tapi bisa berkomunikasi dengan majikannya. Bibik Lusi menganggukkan kepalanya setelah mendengar jawaban peliharaannya.
"Jadi begitu ..., ternyata dia bukan manusia biasa. Dia adalah vampir!"
Lusi terperangah mendengar ucapan bibiknya.
"Apa benar Leon itu vampir, Bik? Aku tidak pernah tahu kalau ada vampir!"
"Sebenarnya di sini sudah banyak vampir. Bahkan salah satunya membunuh kawanmu sendiri, Gisella!"
"Apa? Jadi Gisella dibunuh vampir! Bukannya karena penculiknya?"
"Seperti itulah yang dikatakan peliharaanku. Dia meminta tumbal yang lebih banyak. Besok carilah lima ekor ayam cemani. Jangan lupa! Atau peliharaanku akan marah!"
Lusi tertegun. Bukan karena permintaan tumbal makhluk peliharaan bibinya. Tapi karena tahu siapa Leon sebenarnya. Apakah Amira juga tahu siapa Leon?
***
__ADS_1
Hai gengs makasih ya sudah mampir. Ikuti terus kisah Amira dan Leon ya ❤❤❤❤❤