
***
Malam itu juga Andrian ke bandara menuju ke negerinya para vampir. Dia teringat pertemuan terakhir dengan ayahnya.
"Aku tidak bisa menghubungi para vampir putih lagi. Kekuatanku sudah tidak sebesar dulu. Jalan satu-satunya adalah langsung menemui mereka. Tapi, tidak ada yang tahu di mana kastil ketua vampir putih!" jelas Tuan Alex. Kekuatannya memang semakin lemah. Meski Andrian sudah membangkitkannya kembali tapi kekuatannya tidak sama lagi.
"Aku akan mencoba mencari tahu, Ayah. Aku tidak tahu sampai kapan Leon bisa bertahan!"
"Semuanya salahku! Aku ingin mengakhiri semua perbuatan Christian tanpa memikirkan nasib anak-anakku! Itu karena aku tidak ingin dia melakukan kesalahan yang sama!"
"Iya, Ayah. Aku akan melakukan hal yang sama jika tahu dia sudah menyakiti ibuku. Ada sesuatu yang aneh dengan kekasih Leon, Ayah. Dia bisa menembus segel, tapi aku khawatir kalau dia masuk ke dalam kerangkeng. Leon, akan mencium bau darah darinya. Dia bisa menyakiti Amira!"
Tuan Alex terdiam. Dia teringat ketika Mawar terluka. Bau darahnya hampir membuat Tuan Alex menjadi pembunuh. Saat itu, dia benar-benar berusaha agar tetap sadar.
"Tidak! Jangan lakukan itu. Saat ini, Leon bukan lagi dirinya melainkan makhluk kegelapan yang sedang kelaparan. Dia pasti akan menyakiti Amira. Pergilah! Temui para vampir putih. Aku akan membantumu sebisaku dari jauh!"
Kini, Andrian sudah di dalam pesawat. Melewati samudera dan pegunungan dengan pepohonan yang tinggi. Tuan Alex sudah mencari tahu keberadaan kastil para vampir putih. Tapi, kekuatannya tidak bisa terlalu jauh. Andrian harus berusaha dengan kemampuannya sendiri.
***
Di negeri para vampir putih yang tak ada di dalam peta apalagi GPS. Tentu saja ojol gak bisa sampai ke sana yak guys ....
Seorang vampir laki-laki bergegas memasuki halaman sebuah kastil yang ditumbuhi bunga-bunga. Tapi, dia tidak memasuki kastil, malah berbelok ke sebuah bangunan seperti kubah yang cukup besar. Di dalamnya banyak kantong yang berisi tunas bunga berbagai jenis.
Seorang gadis muda sibuk dengan kantong-kantong itu. Perhatiannya sedikit buyar begitu seseorang mendekatinya. Seharusnya mereka berbicara dalam bahasa asing. Untung saja ada google translate jadi bisa bahasa indonesia. Mantap!
"Ada apa? Kamu sudah menggangguku!" tanya gadis muda berambut pirang itu tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Ada berita, Nyonya! Ada seorang laki-laki separuh vampir separuh manusia sedang menuju ke sini," jawab laki-laki bertubuh tinggi besar itu.
__ADS_1
"Hhmmm, siapa dia? Untuk apa mencariku? Dari mana dia tahu kalau aku ada di sini?"
"Waktu itu kami mengunjungi vampir putih di negeri bernama Indonesia. Namanya Alexander, dia sudah membunuh vampir hitam. Kami memberikan hukuman dengan mengurungnya di kerangkeng yang sudah kami segel selama sepuluh purnama!"
"Lalu, bagaimana dia bisa mengetahui tempat ini. Bukankah segel tidak bisa dijebol oleh makhluk mana pun?"
"Putranya sudah menggantikannya dan menjalani hukuman itu!"
Gadis muda itu berdiri dan menatap laki-laki itu lekat.
"Anaknya sudah menggantikan menerima hukuman. Lalu siapa yang sedang menuju ke sini?"
"Dia adalah anak kandung Alexander, Nyonya. Selama ini, Christian sudah menyembunyikan keberadaannya dari ayahnya sendiri. Ada hal penting yang Nyonya harus tahu. Jika di sini ada Manusia Serigala, di sana juga ada Manusia Harimau. Dialah yang membantu menyatukan ayah dan anak itu!"
"Manusia Harimau? Aku jadi tertarik dengannya. Baiklah! Bawa anak vampir separuh manusia itu!"
***
Kembali lagi ke negeri seribu pulau. Amira benar-benar tidak bisa menahan dirinya lagi. Sudah seminggu tak ada kabar dari Andrian. Kecemasannya kepada Leon semakin besar. Membuatnya tidak bisa berkonsentrasi belajar. Pikirannya selalu tertuju kepada kekasihnya.
Malam itu, Amira sengaja mampir ke pinggir danau tempat biasa bertemu dengan Leon. Tempat itu bertambah sunyi seperti hatinya yang terasa kosong.
Kenangan demi kenangan menghampiri benaknya. Pelukan dan ciuman Leon membuat Amira merasakan kerinduan semakin memuncak.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Amira?"
Amira sesikit terkejut dan lamunannya pun buyar. Di hadapannya sudah ada Wijaya yang menatapnya penuh makna.
"Oh, gak apa-apa, Bang! Aku hanya beristirahat sebentar sebelum pulang! Tempat ini sangat indah jika malam hari. Lampu warna warni membuatnya seperti taman yang ada di negeri dongeng!"
__ADS_1
"Iya, kamu benar. Aku jarang sekali menikmati pemandangan. Tapi, di sini aku merasakan ketenangan!"
"Lalu, ada apa Abang ke sini?"
Wijaya diam sejenak seakan sedang memikirkan sesuatu.
"Sebenarnya, aku agak kesulitan melacak gembong narkoba yang menyamar menjadi mahasiswa di sini. Dia sangat lihai sehingga kami gak bisa menemukannya!"
"Apa ada yang bisa aku bantu?"
Wijaya menatap Amira lekat. Dia tidak ingin menempatkan Amira di situasi membahayakan untuk kedua kali. Apalagi tidak ada Leon di sampingnya.
"Aku gak mau membahayakan dirimu lagi, Amira. Berhadapan dengan penjahat lebih menakutkan!" jawab Wijaya.
Amira tak berhenti sampai di situ.
"Aku bisa mencari informasi yang dibutuhkan. Apa Abang sudah mendapatkan orang yang dicurigai?"
"Yang kami tahu adalah kekasihnya. Namanya Anna, dia mahasiswi jurusan ekonomi. Dia juga seorang balerina dan sering berlatih di aula kampus!"
"Baiklah! Besok aku akan menemuinya. Aku akan belajar menjadi balerina juga. Tapi, aku benar-benar gak tau seperti apa balerina itu!"
Wijaya tersenyum membayangkan Amira menari balet. Mungkin tidak ada salahnya mengajak Amira melakukan penyelidikan itu asalkan tidak membahayakan dirinya.
Amira merasa dirinya harus bisa bangkit, meski hatinya masih merintih. Menunggu adalah jalan terbaik.
***
Hai gengs, makasihnya masih setia nemenin mimin yang imut ini. Ikuti terus kisah Amira dan Leon, ya ... ❤❤❤❤❤
__ADS_1