
***
Leon mengejar vampir yang baru saja memangsa Rena, sahabat Amira. Namun, keberadaannya sulit dideteksi. Dia teringat Casandra yang sudah memangsa tikus di dekat kampus Amira. Leon mulai mencurigainya.
Dua ratus tahun yang lalu. Ayah Leon membawa pulang seorang pemangsa manusia. Dia bernama Casandra. Seperti juga Leon, dia terjangkit virus vampir ketika berada di kapal pedagang dari eropa.
Darah panas Casandra sulit sekali dikendalikan. Dia harus dikurung dalam kerangkeng besi agar tidak mencari mangsa manusia. Setiap hari, Ayah Leon memberikan darah segar dari sapi. Hingga akhirnya, mata merah Casandra mulai memudar.
"Aku tidak bisa merasakan keberadaan Casandra, Ayah! Ada korban lagi yang mati kehabisan darah. Aku ingin bertanya langsung padanya!"
"Aku sudah memperingatkanmu, Leon! Kamu terlalu sering keluar bersama manusia. Pasti akan ada korban yang ada di dekatmu. Lagi pula, apa kamu tidak mempercayai Casandra? Darahnya memang masih panas tapi dia tidak akan memangsa manusia lagi!"
"Aku memang tidak percaya padanya, Ayah. Waktu sudah lama berlalu tapi aku masih merasakan darah panasnya!"
"Kita harus percaya padanya! Itu yang membuatnya bertahan. Untuk sementara, jangan temui teman manusiamu itu!"
Leon terdiam. Sudah waktunya menceritakan hubungannya dengan Amira.
"Kami sudah terkait satu dengan yang lain, Ayah. Amira adalah pacarku dan aku tidak akan meninggalkannya!" ucap Leon tegas. Baginya Amira adalah jalan terbaiknya untuk menjadi manusia.
"Kamu sudah lupa manusia itu seperti apa. Suatu saat dia bisa menusukmu dari belakang. Kapanpun dia mau!"
"Tapi Amira tidak begitu, Ayah. Aku sangat mempercayainya!"
Leon sudah menetapkan hatinya untuk Amira. Sekarang hubungan mereka sedang teruji. Kematian Rena pasti membuat Amira sangat sedih. Leon ingin berada di dekatnya.
***
Malam mulai beranjak pekat. Amira tak mampu memejamkan mata. Gadis itu tidak bisa membendung airmata setiap kali teringat Rena. Mereka selalu bersama sejak masuk kuliah di jurusan yang sama.
"Aku curiga kalau Leon itu benar-benar vampir, Ra!" ujar Rena ketika mereka masih di kampus.
"Benarkah, Ren?"
"Banyak hal aneh darinya. Dia suka datang dan menghilang tiba-tiba. Dia juga selalu muncul di malam hari. Kulitnya sangat pucat seperti gak ada darahnya!" jelas Rena lagi.
Saat itu Amira tidak mempercayai ucapan Rena. Tapi Leon sendiri selalu menyebut dirinya vampir. Sampai Amira terbiasa mendengarnya.
"Vampir sudah membunuh Ibu dan sahabatmu, Amira!"
Bayangan ayahnya mampir di benak Amira.
"Tidak! Kalaupun Leon benar-benar vampir, dia tidak akan membunuh manusia!"
Amira benar-benar bingung. Sebagian hatinya sangat mempercayai Leon, sebagian lagi meragukannya.
Leon hanya berdiri di kegelapan dekat rumah Amira. Dia tak berani mendekat. Apalagi setelah tahu isi hati Amira yang meragukannya.
Kecemasan mulai hadir. Kata-kata Ayahnya masih teringat jelas. Amira tidak akan mau bersamanya setelah tahu kalau Leon adalah vampir.
__ADS_1
Sebaiknya Leon menceritakan yang sebenarnya kepada Amira. Namun saatnya belum tepat. Dia hanya ingin menguji hati Amira sekali lagi.
***
Hampir seminggu Amira tidak bekerja lagi di kafe. Selama itu juga, Amira tidak bertemu dengan Leon. Banyak pertanyaan menghampiri benaknya.
"Di mana kamu, Leon?" desahnya di malam pekat.
Amira hanya mampu melihat kegelapan dari balik jendela kamarnya. Apapun yang terjadi, hatinya masih sama. Dia yakin kalau Leon bukanlah pelaku pembunuhan itu. Lagipula, malam itu Amira bersama Leon.
Suasana di kantor polisi waktu itu, sedikit mengganggu Amira. Sikap polisi muda bagian penyidikan sangat aneh. Entah apakah wajar atau berlebihan. Amira merasakan sesuatu dari tatapannya.
"Maaf, saya bagian penyidikan. Ada beberapa pertanyaan yang akan saya ajukan. Saat kejadian, Nona ada di mana?" tanya seorang laki-laki tanpa seragam polisi.
Kali ini, dia lebih ramah. Berbeda dengan dua orang polisi yang menjemput Amira dari tempat kerjanya.
"Saya sedang di kampus bersama dengan seorang kawan, Pak!" jawab amira lugas.
Amira melirik tanda pengenal di dada laki-laki itu. "Sertu Wijaya Kusuma". Namanya mirip dengan nama bunga yang hanya mekar di malam hari.
"Namaku Wijaya Kusuma. Boleh saya tahu nama kawan anda?"
Amira agak kaget mendengar ucapan laki-laki itu. Seakan dia mengetahui jalan pikiran Amira. Mengingatkannya pada Leon.
"Namanya Leonardo, Pak Wijaya!"
"Maaf, anda seorang polisi. Saya gak bisa bersikap kurang sopan!"
"Baik! Sampai jam berapa Nona bersama dengannya?"
Wijaya mendongak. Amira buru-buru membuat pandangannya ke tempat lain.
"Sekitar jam 10. 30, Pak!"
"Apa yang Nona lakukan bersamanya?"
"A-apa maksud Bapak?"
Amira sedikit gugup. Wijaya tersenyum tipis.
"Hhmmm, jadi Nona sudah lulus kuliah? Kenapa bekerja di kafe?"
"Bukan lulus, Pak. Hanya mengambil cuti. Yang ada kesempatan bekerja di kafe, Pak!"
Pertanyaan Wijaya sepertinya sudah melenceng ke arah urusan pribadi.
"Seharusnya Nona bisa mencari pekerjaan di siang hari saja. Kondisi malam mulai rawan apalagi gadis muda sepertimu!"
Amira kurang suka dengan kata-kata Wijaya yang terlalu mendikte padahal dia bukan siapa-siapa.
__ADS_1
"Maaf jika Nona kurang berkenan. Semua yang saya tanyakan untuk menyelidikan!"
Wijaya menatap Amira lekat. Amira tertunduk. Lagi-lagi, dia bisa membaca apa yang sedang dipikirkan Amira.
"Apa nona tahu kalau di sekitar kampus ada peristiwa aneh?"
"Aneh apanya, Pak?"
"Malam itu, peristiwa aneh terjadi juga. Banyak tikus pohon yang mati kehabisan darah. Sama seperti jasad Nona Rena. Tikus-tikus itu juga kehabisan darah!"
Amira tertegun. Bahkan bangkai tikus pun diselidiki Wijaya. Sepertinya, dia mengincar sesuatu.
Angin cukup kencang masuk dari jendela dan menerbangkan tirai. Sebuah bayangan berkelebat masuk ke dalam kamar Amira.
Amira sangat terkejut ketika menyadari siapa bayangan itu.
"Le-leon?"
"Iya, aku Leon!"
"Bagaimana kamu ke sini? Tidak ada tangga di jendela," tanya Amira yang masih bingung.
"Aku bisa melakukannya dengan mudah, kok! Aku kan atlit panjat tebing," jawab Leon sedikit bercanda.
"Apa benar kamu manjat?"
Leon tertawa kecil. Suasana tegang jadi mencair. Begitulah setiap bertemu Amira. Hati Leon pun ikut mencair.
"Beneran, kok. Kamu gak percaya?"
"Hhmmm, percaya ga ya ....
"Bagaimana kalau aku benar seorang vampir? Apa kamu akan menjauhiku?"
"Le-leon ...."
Wajah Amira berubah serius. Dia hanya menatap Leon seakan mencari kebenaran kata-katanya. Dulu dia pernah melihat kebenaran itu lewat mata Leon. Namun, Amira tidak mempercayainya. Mengira hanya halusinasinya saja.
Leon meraih tangan Amira dan menggengamnya erat.
"Aku memang seorang vampir, Amira. Tapi, aku tidak akan menyakiti manusia. Percayalah padaku!"
Amira tak mampu berkata-kata. Dia hanyalah manusia biasa yang punya rasa takut. Tubuhnya gemetar. Perlahan melepaskan tangan Leon dan menjauh.
"Maafkan aku, Leon. Aku hanya manusia biasa!"
***
Hai gengs, makasih ya sudah mampir. Ikuti terus jalan ceritanya ya ...
__ADS_1