PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 82. JEBAKAN DI DUNIA TERANG


__ADS_3

***


"Hai, Amira. Penampilanmu sangat cantik hari ini. Kau persis seperti puteri kerajaan!" puji Andrew seperti sedang meledek.


"Terima kasih!" jawab Amira tanpa menoleh. Dia tahu Andrew hanya menggodanya saja.


"Bagaimana menurutmu? Apa Leon akan datang?" tanya Andrew lagi.


"Entahlah! Setahuku Leon masih di kampungnya!" jawab Amira sedikit berbohong.


"Tapi, aku lihat tadi kamu datang bersama Leon!"


Amira terdiam dan menatap Andrew lekat. Tadi Leon sempat mengatakan kalau tidak ada yang mengetahui kedatangannya. Berarti Andrew sengaja menjebaknya.


"Aku datang sendiri! Terserah kalau kamu gak percaya," jawab Amira yakin.


Sementara Nania, yang tahu maksud Andrew segera mengalihkan pembicaraan.


"Iya lah, Amira adalah kawanku yang paling cantik!"


sambung Nania.


Andrew tertawa kecil sementara teman-temannya tertawa lepas. Mereka memakai kostum zombie, namun tidak menakutkan sama sekali. Malahan mirip badut.


"Cantik dari planet antah berantah!" celetuk salah satunya disambut tertawaan teman-temannya yang lain.


"Heh! Kalau kalian mau mengganggu lebih baik pergi saja sana! Kalian kan sudah senior harus memberi contoh yang baik sama junior. Bukannya malah mengacau. Bikin nama baik kampus jadi tercemar aja, tahu!" ungkap Nania sedikit tinggi. Hatinya memang panas melihat kelakuan Andrew dan kawan-kawannya.


"Maaf! Mereka hanya bercanda aja, kok. Kalau kalian mencari panitia, mereka ada di gedung B!" jelas Andrew.


Sebenarnya, Andrew tidak begitu jahat. Dia hanya sedikit sombong karena merasa cowok ganteng di kampusnya. Sayang, kegantengannya itu selalu dikalahkan Leon. Mungkin itulah yang membuatnya menjadi seorang yang berbeda.


Satu jam sebelum festival hallowen.



"Ada apa? Kenapa kamu mau bicara denganku?" tanya Andrew ketika Lusi ingin bertemu dengannya.


__ADS_1


"Aku tahu kamu penasaran siapa Leon sebenarnya? Aku akan memberitamu asal kamu mau membantuku!" ujar Lusi yang terpaksa meminta bantuan Andrew.



"Membantu apa?" tanya Andrew penasaran.



Lusi tersenyum tipis. Dia sangat tahu apa yang diinginkan Andrew.



"Jika Amira datang, bawa dia ke gedung B. Terserah apa yang akan kamu katakan padanya. Pokoknya suruh dia ke sana!" jelas Lusi yang menyesal karena jebakannya semalam tidak mendapatkan hasil.



"Baik! Aku akan menuruti kemauanmu. Tapi, aku gak ada hubungannya dengan apa yang akan kamu lakukan kepada Amira!"



"Tenanglah! Aku yakin Leon tidak akan muncul jadi tidak ada yang akan menolong Amira. Kamu lihat saja apa yang akan terjadi di sana," jelas Lusi pasti. Dia sangat yakin Leon tidak akan datang.



"Kenapa gedung ini sepi sekali ya, Mir? Kata Andrew, di sini kan tempat panitia acaranya?" tanya Nania yang mulai curiga.


"Iya, Na. Tadi Andrew ngomong kayak gitu. Tapi gedung ini kelihatan aneh. Seperti sudah lama tidak terpakai!" ucap Amira yang merasa curiga juga.


"Jangan-jangan .... Andrew sudah mempermainkan kita, Mir!"


"Bisa juga seperti itu, Na. Kenapa aku percaya padanya, ya? Ayo, kita keluar dari tempat ini, Na!"


"Ayo, Mir. Aku harap tidak terjadi hal buruk lagi!"


Baru saja Amira dan Nania akan melangkah pergi. Pintu gedung ditutup seseorang. Tak lama muncul beberapa laki-laki berbadan kekar.


Amira dan Nania sangat terkejut dan mundur beberapa langkah.


"Siapa mereka, Mir? Aku jadi takut!"

__ADS_1


"Tenanglah, Na. Sebaiknya kita cari sesuatu untuk membela diri!"


Amira meraih sebuah kayu bekas kursi dan Nania mendapatkan kayu pegangan bola kasti.


"Siapa kalian?" tanya Amira seraya mengacungkan kayu kuat-kuat.


Empat orang laki-laki itu tidak menjawab dan hanya tertawa keras.


"Akhirnya kalian masuk juga ke dalam perangkapku!"


Seorang gadis berkostum suster dengan penuh darah muncul.


"Lusi?!" ucap Amira dan Nania hampir berbarengan.


"Iya, kawan. Ini aku, Lusi!"


"Apa yang akan kamu lakukan, Lus. Semalam kamu hampir menjebakku di rumahmu. Makhluk kera itu peliharaanmu, kan?"


Nania sangat terkejut dengan ucapan Amira.


"Apa yang Lusi lakukan padamu, Mir. Apa benar makhluk kera itu peliharaannya?"


"Lusi sudah menjebakku di rumahnya, Na. Di sana aku bertemu dengan makhluk kera yang hampir mengambil nyawaku. Untung Leon datang menolongku!"


"Leon? Dia menolongmu?"


Lusi tertawa lebar.


"Aku sudah tahu siapa Leon sebenarnya. Dia adalah makhluk kegelapan yaitu vampir. Pantas saja dia gak pernah kelihatan saat siang hari. Aku yakin, sekarang Leon juga gak akan menolongmu!"


"Apa? Leon adalah vampir? Benar begitu, Mir?" tanya Nania yang sangat terkejut mendengar perkataan Lusi.


Di balik tumpukan kardus, Andrew mendengarkan dengan saksama. Dia tak kalah terkejutnya dengan Nania. Tidak percaya kalau Leon bukanlah manusia biasa.


Amira tertegun. Yang dikatakan Lusi ada benarnya. Leon adalah makhluk kegelapan. Dia tidak akan berjalan di dunia terang.


***


Hai gengs makasih ya sudah mampir, gimana kisah Amira selanjutnya ya? Apakah Leon akan menolongnya meski di dunia terang? Kepoin terus ya ... ❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2