
***
Sebulan kemudian
Amira sudah aktif lagi belajar di kampus. Seperti dulu, Amira adalah gadis cupu yang kurang pergaulan. Beberapa mahasiswa terkadang masih mengerjainya. Ada saja yang mereka lakukan. Tapi, Amira tidak marah dan selalu tersenyum.
Amira tidak peduli dengan siapapun. Dia percaya, Leon akan kembali. Jika belum di dunia nyata, ya di dunia mimpi.
"Amiraaa! Hari sudah siang, kamu kan harus ke kampus!" teriakan Ibu Amira membuka matanya.
Hadeuh! Tidak dulu atau pun sekarang. Amira selalu saja terlambat bangun. Apalagi semalam, Leon hadir di dalam mimpinya.
"Gawat! Aku kesiangan lagi! Iya, Buu. Aku sudah bangun, kok!"
Bergegas, Amira berlari ke kamar mandi di sebelah kamarnya. Tak lama, dia sudah rapi dan berlari ke luar rumah.
"Ibuuu! Aku berangkat, ya!" teriak Amira sambil berlari menuju halte bus. Berharap masih ada bus yang akan membawanya menuju ke kampus dengan cepat.
Tinggal setengah jam lagi, bus belum kelihatan juga. Amira mulai gelisah. Tiba-tiba, sebuah sepeda motor berhenti tepat di depannya. Amira mencoba mengenali siapa yang mengendarai motor itu.
"Abang Wijaya?" tebak Amira. Biasanya, Wijayalah yang selalu memakai sepeda motor. Sosok itu menggeleng.
"Leooon!" teriak Amira kencang. Padahal dia tahu Leon tidak akan bisa berada di dunia terang.
__ADS_1
Sosok itu membuka helm dan seraut wajah cantik muncul dengan sebuah senyuman.
"I-ibu Melati?" tanya Amira keheranan setelah mengenali siapa pengendara motor itu.
Ternyata pengendara motor itu adalah Melati.
"Aah! Kamu itu, Amira. Kamu kan bukan pegawaiku lagi. Panggil saja aku Kakak!" komplain Melati.
"Baik, Kak. Tumben Kak Melati bawa motor. Biasanya Bang Wijaya yang memakainya," ujar Amira ketika teringat pertama bertemu Wijaya dengan sepeda motornya.
"Iya, aku habis mengantarkan Wijaya pulang ke kampung halaman!"
"Kenapa pulang, Kak? Bagaimana pertempurannya tempo hari. Aku terpaksa meninggalkannya sendirian dengan gembong narkoba! Apakah Abang Wijaya terluka?"
"Nanti aku ceritakan! Naiklah, aku akan mengantarmu ke kampus. Oh iya, tadi kamu menyebut seseorang selain Wijaya. Apa dia pacarmu?"
"Telepon aku kalau kuliahmu sudah selesai, ya. Kita akan mengobrol banyak!" pesan Melati setelah sampai di kampus Amira.
"Baik, Kak! Terima kasih sudah mengantarku."
Melati mengangguk sebelum pergi. Amira pun segera berlari menuju ke ruangan tempatnya kuliah. Berharap dosennya belum datang.
Lusi dan Nania sudah menyambutnya di dalam ruangan. Mereka sangat senang Amira sudah kembali kuliah lagi.
__ADS_1
"Akhir bulan ini ada acara hallowen di kampus. Kita diwajibkan memakai kostum yang menakutkan. Kamu mau pakai baju apa, Amira?"
"Eemm, aku belum tahu. Entahlah aku akan ikut atau gak!"
"Aakh! Ayolah ikut. Pakai kostum puteri vampir saja. Aku masih menyimpan kostum yang pernah kamu pakai dulu!" cetus Lusi.
"Aku jadi ingat Gisella ..., meski kostum itu menyimpan kenangan buruk, tetap saja aku merindukan Gissel!" ujar Nania dengan suara pelan. Bagaimana pun juga, Gisella sudah lama menjadi teman mereka.
"Iya, aku kangen dengan Rena juga," sambung Amira lirih.
"Oke! Fix! Aku dan Nania akan memakai kostum anime horor dan kamu pakai kostum puteri vampir. Siapa tahu, Leon akan datang dan menolongmu lagi. Ngomong-ngomong dia ke mana, ya? Sudah lama aku gak ngeliat dia di kampus!" ungkap Lusi.
"Iya! Kamu tahu gak, ke mana Leon, Mir? Kalian sempet dekat, kan? Apa jangan-jangan sudah pacaran?" Nania mulai kepo.
"Aku kira kamu pacaran sama dosen ganteng. Oh iya, kenapa dia sekarang menghilang juga, ya?"
Amira hanya diam saja. Entah bagaimana menjelaskannya dengan kata-kata. Dia sangat tahu di mana Leon.
"Mungkin nanti Leon muncul kalau kamu memakai kostum puteri vampir, Mir. Aku jadi penasaran, nih!" ujar Nania tak berhenti kepo.
Ya, mungkin saja Leon akan datang. Tapi acaranya bukan malam tapi siang hari. Mana mungkin Leon muncul?
"Leoon, bagaimana kabarmu?" teriak suara hati Amira.
__ADS_1
***
Hai gengs, makasih ya sudah mampir. Apakah Leon akan kembali? Jangan kangen ya, biar aku aja hehe ❤❤❤❤❤