
***
Amira tidak bisa diam saja setelah tahu ada hal yang besar telah terjadi. Walaupun Andrian tidak mengatakan langsung tapi Amira yakin dia menyembunyikan sesuatu.
Setelah semua terlelap, Amira memutuskan untuk keluar dari rumahnya. Entah apa yang dicari. Dia terus saja berjalan tanpa tujuan.
Sampai akhirnya, Amira berhenti di depan sebuah gedung tua dan tak berpenghuni. Dari jauh, dia melihat kilatan cahaya yang saling beradu seperti ada yang sedang bertempur.
Amira memberanikan diri untuk lebih dekat dengan cahaya itu.
"Casandra?! Annabella?!" teriak Amira begitu melihat Casandra dan Annabella sedang bertempur.
Casandra sepertinya sudah tak berdaya, Annabella kondisinya juga tidak jauh berbeda.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Amira?" tanya Casandra dengan napas terengah-engah.
"Eemm, kebetulan sekali kamu muncul, Amira!"
"Se-seharusnya kalian tidak bertempur! Semuanya bisa dibicarakan baik-baik," ucap Amira dengan suara gemetar.
"Semua harus segera diselesaikan. Aku tidak suka denganmu, Amira. Kau tidak pantas menjadi pendamping Leon. Aku yang seharusnya ada di sisinya!"
Amira tertegun. Jadi itulah tujuan Annabella kenapa menghabisi kekasihnya sendiri.
"Kami sudah terikat dan saling mencintai! Tidak seorang pun yang bisa memisahkan kami!"
Annabella mengerang penuh amarah. Pikirannya sekarang bukan lagi Casandra tapi Amira. Dia pun berkelebat dan dalam beberapa detik sudah sampai di depan Amira.
"Kalau kau mati akan lebih mudah. Apa aku perlu membunuhmu juga?"
"Annabella! Jangan sakiti Amira. Urusan kita belum selesai!"
__ADS_1
Casandra tidak akan diam saja melihat Amira dalam keadaan bahaya. Dia pun bergerak secepat kilat dan menarik Annabella menjauh dari Amira.
"Pergilah, Amira. Biar aku yang menyelesaikan soal dia! Biar aku yang akan membunuhnya," ucap Casandra sambil siaga.
"Tidak! Casandra. Tidak akan ada pembunuhan. Sadarlah, Annabela. Saudarimu pasti sedang mencemaskanmu!"
"Aku tidak perduli dengan siapapun. Selama ini aku sudah hidup sendiri. Kehidupan paling kelam pun sudah aku jalani. Aku tidak takut kepada siapa pun. Saatnya aku menentukan hidupku sendiri dengan mencabut nyawamu!"
Annabella melompat dengan cepat. Tangannya yang dipenuhi kuku yang tajam siap mencabik tubuh Amira.
Amira hanya tertegun. Dia tidak sempat melarikan diri. Sebentar lagi, kematiannya akan datang.
"Leoon!" ucap Amira yang sempat memanggil Leon. Setelahnya yang ada hanya kegelapan.
***
"Tidak, Amira!"
Leon mendengar suara Amira yang memanggilnya saat sedang menyetir mobil bersama ayahnya. Dia juga melihat kejadian yang menimpa kekasihnya itu.
Leon segera menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Amira sedang dalam bahaya, Ayah. Aku terpaksa mengemudikan mobil lebih cepat agar cepat sampai!"
"Ya, Sudah! Cepatlah. Asal hati-hati saja!"
Tuan Alex mengerti apa yang dirasakan Leon. Dia sudah tidak bisa mendengar atau bicara lewat telepati terlalu jauh. Tapi,Tuan Alex tahu kalau Leon sangat cemas.
Leon kembali menghidupkan mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi. Saat malam jalanan sangat sepi tapi perlu waspada juga agar tidak kecelakaan.
Bayangan Amira yang berlumuran darah selalu terbayang. Leon berharap tidak terjadi hal buruk kepada kekasihnya itu.
__ADS_1
***
"Aku tahu di mana Annabella! Dia sedang bersama Casandra. Tapi, aku mencium keberadaan Amira juga. Apa yang dilakukannya di sini?"
Wijaya bisa mencium jejak Annabella dan Casandra. Namun, dia juga mencium aroma Amira.
"Amira? Apa dia keluar dari rumahnya?"
"Cepatlah! Kita harus segera sampai sebelum hal buruk terjadi pada Amira!"
"Aku tidak bisa bergerak seperti vampir!"
"Baiklah! Kau bisa naik ke punggungku!"
Wijaya segera merubah wujudnya menjadi harimau. Andrian terpaksa naik ke punggung harimau itu. Dalam sekejap, harimau itu berlari kencang secepat kilat tanpa bisa dilihat mata manusia biasa.
Semua berpacu dengan waktu. Amira sudah berada di depan kematiannya. Annabella siap menumpahkan segala amarahnya kepada Amira.
Tiba-tiba, seperti ada yang mendorong tubuh Amira. Annabella terlanjur menyerang dengan kekuatan penuh. Namun, bukan Amira yang menerima serangannya. Melainkan Annastasia, saudari kembarnya.
Seketika tubuh Annastasia tergeletak tak berdaya di atas lantai. Darah hitam mengalir di seluruh tubuhnya.
"Tidaaak! Annastasia?!" teriak Annabella yang tidak menyangka kalau saudarinyalah yang menjadi target serangannya.
"Saudariku ..., mungkin inilah saat terakhirku. Aku tak mampu membawamu dalam kedamaian. Aku harap kau akan menjadi lebih baik setelah aku tiada," ujar Annastasia lirih. Kemampuan vampirnya untuk menyembuhkan diri sendiri sudah lenyap.
"Tidak! Annastasia, jangan tinggalkan aku. Maafkan aku, bangunlah ...," ucap Annabella sambil memeluk saudarinya itu.
Annastasia hanya tersenyum kemudian menutup matanya. Annabella terus menangis dan memanggil nama saudarinya. Namun, Annastasia tidak bisa bangun lagi.
Amira dan Casandra hanya tertegun menyaksikan peristiwa itu. Mereka tidak menyangka kedatangan Annastasia malah membuatnya berada di ujung kematian.
__ADS_1
***
Hai gengs makasih ya sudah mampir. Apa yang terjadi pada Amira? Apa dia akan mati di tangan Annabela? Kepoin terus ya .... ❤❤❤❤❤