PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 48. PERTEMUAN PENUH BARA API


__ADS_3

***


Amira tidak bisa diam saja. Walaupun Tuan Alex tidak mengatakan di mana Leon. Perasaannya mengatakan kalau Leon ada di rumah itu.


Lamunan Amira buyar ketika Bi Darmi muncul sambil membawa nampan berisi makan malam.


"Makan malam, Nona. Saya membuat sup yang bisa menghangatkan tubuh Nona," ujar perempuan setengah tua itu seraya meletakkan nampan yang dipegangnya di atas meja.


"Terima kasih, Bi. Maaf, saya sudah merepotkan. Sebenarnya, saya bisa ke dapur sendiri!"


Amira jadi merasa bersalah.


"Ndak apa-apa, Nona. Sudah tugas saya, kok!"


"Hhhmmm, memang Bi Darmi sudah lama di sini?"


Bi Darmi mengangguk pelan.


"Sudah, Nona. Dari saya kecil sering ikut ayah saya ke sini," jawabnya.


Amira terdiam seakan sedang memikirkan sesuatu.


"Jadi ayah Bi Darmi juga bekerja di sini? Lalu, bagaimana dengan Mang Karta?"


"Bapak Mang Karta juga sudah lama bekerja di sini, Nona. Kami bertemu di rumah ini dan menikah di sini juga!" jelas Bi Darmi.


"Maaf, Bi. Bagaimana dengan anak-anak Bi Darmi? Apa mereka tinggal di sini juga?"


"Anak saya cuma satu, Nona. Dulu tinggal sama neneknya di kampung. Sekarang sudah menikah dan punya keluarga sendiri. Dari kecil bahkan sampai sekarang, anak saya tidak pernah tahu kalau saya bekerja di sini," lanjut Bi Darmi menjawab pertanyaan Amira.


Sebenarnya banyak yang ingin Amira tanyakan tapi perasaannya tidak enak. Apalagi, dia belum menyentuh makanan yang dibawa Bi Darmi.


"Baiklah, Nona. Nanti saya kembali lagi untuk membawa piring Nona!"

__ADS_1


"Gak usah, Bi. Nanti saya yang akan membawanya ke dapur. Bibi istirahat, aja!" cegah Amira.


Bukan tak ada maksud mengapa Amira yang akan membawa piring bekas makanannya ke dapur. Pintu ruang bawah tanah itu masih membuatnya penasaran.


Amira tidak akan tenang bila diam saja. Kerinduan yang teramat besar membuat keberanian muncul di dalam dirinya.


Tidak ada Bi Darmi di dapur. Tuan Alex juga tidak kelihatan. Kesempatan bagus! Kini, pintu itu siap dibuka.


Di sebuah sudut yang gelap, seseorang menanti dengan senyuman mengembang. Dia adalah Leon. Sebentar lagi, kekasihnya akan datang.


***


Sementara itu, di dalam gelapnya hutan. Akhirnya, Andrian bisa melihat rumah besar di tengah kegelapan. Dia merasakan makhluk kegelapan juga keberadaan Amira di sana.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Sebuah bayangan muncul dari kegelapan. Andrian tidak terkejut. Dia pernah melihat ayahnya juga bisa datang dan pergi dengan sekejap mata.


Tuan Alex terdiam. Mencoba membaca pikiran anak muda di depannya. Wajahnya berubah karena tidak bisa melihat apapun.


"Siapa kamu? Kau manusia biasa atau salah satu makhluk kegelapan?" tanya Tuan Alex yang masih kebingungan.


"Aku putra dari Christian! Kau yang membunuh ayahku!"


Darah di sekujur tubuh Andrian mendidih. Amarah itu datang lagi.


"Putra Christian?"


Tuan Alex sangat tahu siapa Christian. Dia sudah menyembunyikan sebuah rahasia sampai saat terakhir.


"Kau sudah membunuh ayahku. Aku harus membalaskan kematiannya!"


Andrian mengeluarkan sesuatu dari dalam jaketnya. Sebuah pistol yang sudah lama disiapkan untuk membalas kematian ayahnya. Andrian pun mengarahkan pistol itu kepada Tuan Alex.

__ADS_1


Tuan Alex tidak memedulikan pistol itu. Kata-kata Andrian yang membuatnya ingin tahu.


"Christian tidak pernah punya anak! Selama ini kau sudah dibohongi," jelas Tuan Alex.


"Tidak! Kau yang sudah berbohong. Aku adalah anaknya. Hampir seratus tahun aku hidup sebagai anak dari Tuan Christian!" jelas Andrian dengan berapi-api.


"Seratus tahun?"


Tuan Alex merasakan keanehan dari ucapan Andrian.


"Kau hanya manusia biasa tapi bisa hidup selama seratus tahun. Lalu, siapa ibumu?"


"Jangan tanyakan soal ibuku! Kau harus mati seperti ayahku!"


Andrian menarik pelatuk pistol yang dipegangnya. Pelurunya meluncur dan tepat mengenai dada Tuan Alex.


"Aaaagh!"


Tuan Alex mengerang. Wajahnya semakin pucat.


"Peluru ini, bukan peluru biasa?" tanya Tuan Alex sambil meraba dadanya. Darah berwarna hitam membasahi telapak tangannya.


"Tentu saja bukan peluru biasa. Peluru itu terbuat dari emas yang bisa menembus tubuh vampir!"


Tuan Alex tercengang. Bagaimana bisa peluru emas bisa melukainya.


"Sekali lagi peluru itu melukaimu, kau pasti akan mati. Sekarang adalah saat yang tepat untuk mengakui kesalahanmu!"


Tuan Alex merasa tubuhnya sangat lemas. Matanya mulai berkunang-kunang. Apakah kematiannya sudah dekat?


***


Hai gengs, makasih ya sudah mampir, met weekend ya moga liburan kalian menyenangkan, jangan lupa ikuti terus kisah Amira dan Leon, ya ... ❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2