PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 35. AKU TAHU RAHASIAMU


__ADS_3

***


Wijaya hanya diam saja setibanya di dalam mobil. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kayaknya, aku harus mengganti pakaian di rumahku. Aku gak ingin keluargamu khawatir karena melihatku seperti ini!"


Amira terdiam. Sebenarnya dia sungkan bila harus ke rumah Wijaya hanya berdua saja.


"Baiklah! Aku akan menunggu di luar rumahmu aja!"


"Oke!"


Wijaya langsung menyetujui syarat yang diajukan Amira. Setidaknya, sikap Amira sudah lebih akrab dengannya.


Tak lama mereka sampai ke rumah Wijaya yang sangat besar dan mewah dengan halaman yang tak kalah luasnya.


"Oh iya, aku minta tolong kalau bertemu dengan kakakku, jangan ceritakan tentang peristiwa yang sebenarnya. Apalagi tentang pertempuran dengan para vampir. Aku tidak ingin membuatnya cemas," pinta Wijaya sebelum keluar dari mobil.


Amira mengernyitkan keningnya. Ada sedikit masalah dari ucapan Wijaya.


"Ibu Melati pasti melihat luka-lukamu!"


"Dia sudah biasa dengan luka-luka di tubuhku. Sedari kecil aku memang tidak bisa diam dan selalu bermain di hutan," jelas Wijaya.


"Baiklah! Makanya lebih baik aku tidak masuk ke dalam rumahmu!"


"Masuk sajalah, kita bisa minum teh atau es cream! Aku banyak menyimpan es cream," goda Wijaya.


Amira melotot. Setelah banyak kejadian yang baru saja mereka lewati, masih saja Wijaya bercanda.


Wijaya melangkah pergi dengan senyum mengembang. Entah mengapa dia seperti itu. Hatinya tenang karena keadaan Amira baik-baik saja.


Baru sampai di ruang tengah, Melati sudah menunggunya.


"Astaga, Wijaya! Apa yang terjadi padamu?" teriak Melati cukup kencang.


Wijaya hanya cengengesan.


"Habis latihan, Kak. Aku mau mandi dulu!"


"Tunggu! Warna merah itu darahmu beneran, kan? Aku mencium bau anyir!" ujar Melati seraya mendekati wijaya sambil menutup hidungnya.


"Darah ayam kok, Kak. Sudah aah, aku mau mandi. Amira sedang menunggu di luar."


"Kenapa tidak kamu ajak masuk?"


Wijaya tidak mendengar pertanyaan kakaknya lagi. Dia sudah menghilang di balik pintu karena ingin secepatnya pulih dan mengobati luka-lukanya.

__ADS_1


Sudah hampir setengah jam, Wijaya belum muncul juga. Amira mulai bosan dan keluar dari mobil untuk menghirup udara segar.


"Mengapa kamu tidak masuk ke dalam?"


Amira sedikit terkejut mendengar suara Melati yang tiba-tiba sudah ada di depannya.


"Ooh-maaf, Bu. Saya menunggu di luar saja!"


Melati tersenyum. Amira masih saja lugu.


"Sekarang aku bukan atasanmu di kantor. Panggil aku kakak saja!"


"Oh, baik, Kak!"


"Hhmmm, kalian darimana? Mengapa Wijaya penuh luka seperti itu?"


Amira teringat pesan Wijaya agar tidak memberitahukan peristiwa yang mereka alami kepada kakaknya.


"Mungkin habis latihan, Kak. Tadi saya bertemu sudah seperti itu," jawab Amira sedikit berbohong.


"Apa Wijaya berkelahi lagi dengan vampir?"


Amira terperangah. Ternyata Kak Melati mengetahui kejadian sebenarnya.


"Va-vampir? Apa ada vampir di sini, Kak?"


"Ya, aku hanya bercanda saja. Apa kamu tidak mencemaskannya? Banyak luka di tubuh Wijaya. Mengapa kamu tidak menyuruhnya ke rumah sakit?"


Amira terdiam. Tak tahu harus berkata apa. Wijaya memang terluka tapi dia tidak lemah jadi Amira tidak terlalu mencemaskannya.


"Apa kamu tahu rahasia Wijaya?" tanya Melati lagi.


Kali ini, Amira menjadi sangat gugup.


"Ra-rahasia apa, Kak?"


Melati menatap Amira tajam. Sepertinya Amira tidak selugu yang disangkanya.


"Hallooo! Ada suasana apa di sini? Apa kakakku mengintrogasimu, Amira?"


Beruntung Wijaya muncul. Membuat Amira bisa bernapas lega.


"Ayolah, kita pergi. Maaf ya, Kak. Adikmu ini mau pergi lagi. Jadi, jangan berpikiran yang tidak-tidak, ya!"


Wijaya kelihatan lebih segar dan luka di tubuhnya tinggal sedikit. Dia langsung menarik tangan Amira tanpa meminta persetujuannya lagi.


Melati hanya diam saja melihat kelakuan adiknya. Dia tahu telah terjadi sesuatu. Apalagi sikap Amira biasa saja dengan perubahan Wijaya yang tidak merasa sakit sama sekali.

__ADS_1


Tak lama, mereka sudah kembali ke dalam mobil. Penampilan Wijaya sudah rapih dan tidak tercium lagi bau darah.


"Ta-tadi aku melihatmu dalam wujud berbeda. Tubuhmu bersinar dan bayangan lima ekor harimau merasukimu. Apa yang terjadi padamu? Leon sepertinya tidak terkejut melihatmu seperti itu. Apa dia juga tahu siapa kamu sebenarnya?" tanya Amira yang tidak bisa membendung rasa ingin tahunya.


Wijaya baru sadar, Amira sudah melihat wujudnya yang bukan manusia biasa.


"Aku adalah keturunan dari manusia harimau. Hanya aku yang menuruni kekuatan itu setelah kakekku," ungkap Wijaya sambil melirik Amira. Mengira gadis itu menjadi ketakutan setelah mendengar ucapannya. Tapi, Amira malah memandanginya. Wijaya jadi salah tingkah.


"Aku pernah mendengar cerita manusia harimau tapi tak pernah percaya kalau benar ada!"


"Hhmmm, aku juga pernah mendengar cerita tentang vampir dari kakekku. Ternyata aku bertemu dengan Leon yang juga seorang vampir," jawab Wijaya ringan.


"Kapan kamu tahu tentang Leon?"


Wijaya tersenyum.


"Kapan, ya? Aku memang sudah mencurigainya sebelum mengenalmu. Ada arsip di kepolisian tentang pembunuhan tanpa sebab. Aku menyelidiki semuanya termasuk kematian ibumu!"


Amira terdiam. Selama bertahun-tahun Amira tak pernah tahu penyebab kematian ibunya. Bahkan sampai sekarang pelaku pembunuhannya tidak terungkap. Ternyata ayahnya sudah menutupinya sejak awal.


"Lalu, bagaimana kasus kematian ibuku. Apakah sudah ada pelakunya?"


Wijaya melirik Amira. Mata gadis itu berkaca-kaca.


"Semua terarah kepada Pak Gunawan, sekuriti di kampusmu. Tapi, sekarang juga tidak bisa diproses karena dia sudah tewas!"


"Setidaknya, arwah ibuku sudah tenang karena penyebab kematiannya sudah diketahui. Terima kasih, Pak!"


"Bukan karena aku saja yang berhasil mengungkapnya. Ada dirimu yang berani mengorbankan diri agar kasus ini bisa terbongkar. Terima kasih, Amira!"


Wijaya malah balik berterima kasih.


"Dan tolong, jangan panggil aku bapak lagi. Aku merasa jadi bapak-bapak!"


Amira melotot.


"Apa harus aku panggil ibu?"


Wijaya tertawa kecil.


"Janganlah! Nanti aku bisa melambai. Panggil abang juga boleh."


"Oke, Bro!"


Tawa Wijaya pecah dan tak tertahan lagi mendengar celetukan Amira. Gadis itu pun ikut tertawa. Sejenak menghibur diri dan melupakan kejadian mengerikan yang mereka alami.


***

__ADS_1


Hai gengs makasih ya sudah mampir, ikuti terus jalan cerita selanjutnya ya, jangan lupa makan dan minum, tidak lupa mandi dan gosok gigi hehe ❤❤❤


__ADS_2