
***
"Maafkan aku, Leon ...," ucap Amira sekali lagi. Dia merasa bersalah karena meminta Leon merubah penampilannya. Padahal sewaktu Leon menjadi makhluk kelelawar, Amira tetap menerimanya.
"Seharusnya, kamu mau menerimaku apa adanya, Amira. Bukankah begitu kalau manusia hidup berpasangan? Aku terlanjur kecewa padamu. Aku harus pergi!"
Leon mulai melangkah pergi menjauhi Amira.
"Tidak! Jangan tinggalkan aku, Leoon. Maafkan aku ...," ucap Amira sebelum Leon benar-benar menghilang. Kini, yang ada di tempat itu hanya Amira sendirian. Air mata jatuh satu per satu sampai menjadi hujan. Amira merasa hidupnya telah berakhir.
"Heh! Berikan uangmu, atau aku akan menyakitimu!"
Amira tersentak kaget dan buru-buru menyeka air matanya. Seorang laki-laki memakai topi dan masker tengah berdiri di depannya sambil mengacungkan sebuah pisau.
"A-apa kamu mau merampok?"
Laki-laki itu tertawa.
"Dasar bodoh! Tentu saja aku mau merampok. Masa mau minta tanda tanganmu. Cepat berikan aku semua uangmu!"
Amira terdiam. Tubuhnya gemetar. Melati sudah mengajarinya bila terjadi peristiwa perampokan. Kini, Amira mengalaminya di kejadian nyata. Tapi, dia tak tahu harus berbuat apa.
Leon yang sedang berada di toko bunga mendengar suara seseorang di dekat Amira. Sepertinya orang itu mau berbuat jahat.
Sebenarnya, Leon tidak benar-benar marah. Dia hanya ingin memberi kejutan dengan membelikan Amira bunga mawar kesukaannya. Leon tidak menyangka, Amira malah mengalami kejadian buruk.
"Ini nota dan kembaliannya, Mas," ujar perempuan penjual bunga. Tapi, Leon sudah menghilang padahal belum semenit masih ada di sana.
Sementara itu, Amira berusaha mengumpulkan semua kekuatan di dalam hatinya. Kemudian mencari jalan agar bisa melumpuhkan perampok itu.
"Baiklah! Ambil saja sendiri di dalam tasku," ujar Amira sambil melemparkan tasnya ke arah perampok itu.
Spontan perampok itu melepaskan pisau yang dipegangnya dan menangkap tas yang dilemparkan Amira. Di saat yang tepat, Amira mengangat kakinya tinggi dan menendang laki-laki itu keras. Perampok itu langsung tersungkur di atas aspal.
__ADS_1
Leon yang baru tiba, sangat terkejut melihat apa yang dilakukan Amira. Dia tidak menyangka Amira bisa melumpuhkan perampok itu.
"Amira, kamu gak apa-apa?" tanya Leon dengan penuh kecemasan.
Amira menoleh dan menemukan Leon sudah berada di hadapannya.
"Leon? Kenapa kamu kembali?"
Leon tidak mengatakan apapun. Dia melihat perampok itu berusaha mengambil pisau yang ada di dekatnya.
Dengan kekuatan vampir, Leon melemparkan pisau itu hanya lewat tatapan matanya. Perampok itu sangat terkejut.
Leon sangat marah karena laki-laki itu mau menyakiti kekasihnya. Dia bisa melenyapkannya hanya dalam sekali kibasan tangan.
"Tunggulah di sini, Sayang!"
Leon mendekati perampok yang sangat ketakutan itu. Wajah Leon yang brewokan dan rambut gondrong sudah membuatnya takut setengah mati. Mengira kalau Leon akan membalas apa yang sudah dilakukannya.
"Ambillah! Hanya itu yang aku punya. Lain kali, janganlah menyakiti orang lain hanya karena uang. Aku tahu kamu sedang memerlukannya!"
Perampok itu terkejut mendengar ucapan Leon.
"Bagaimana kau bisa tahu kesulitanku?"
"Aku hanya menebak aja. Pergilah!"
Perampok itu segera bangkit dan mengambil uang yang disodorkan Leon.
"Te-terima kasih," ucapnya sebelum melangkah pergi. Hatinya tenang karena kesulitannya sudah mendapatkan jalan keluar. Anaknya yang kecil perlu uang untuk berobat. Uang itu cukup untuk membawanya ke dokter.
"Leoon," panggil Amira setelah tidak ada siapa-siapa lagi selain mereka berdua.
Leon segera membalikkan badannya dan menemukan Amira yang sudah banjir air mata. Leon trenyuh melihat kekasihnya seperti itu. Dia pun menghampiri Amira dan memeluknya erat.
__ADS_1
"Maafkan aku, Sayang. Tadi aku tidak benar-benar marah," bisiknya.
"Ja-jangan tinggalkan aku, Leoon. Aku janji gak akan memintamu berubah. Maafkan aku ...," ujar Amira di sela tangisnya.
Leon menarik napas panjang. Dia tahu pengorbanan Amira selama ini. Sampai di mana batas cinta yang dimilikinya. Tak mungkin hanya masalah sepele akan membuat cinta itu akan berakhir.
"Aku yang salah, Sayang. Aku hanya berniat mau memberimu kejutan," jelas Leon seraya mengusap air mata di pipi kekasihnya itu.
"Kejutan apa?" tanya Amira setelah bisa mengatur suaranya.
"Hhmmm, seharusnya kejutan itu sudah sampai. Di mana, ya? Nah itu, dia!"
Seorang wanita muncul sambil membawa seikat bunga mawar. Dia adalah penjual bunga yang tadi di pesan Leon.
"Maaf, Mas!. Saya agak telat. Ini bunga pesanan Mas. Pasti ini adalah pasangan Mas. Selamat ya, Mba. Semoga pernikahan Mas dan Mba nanti berjalan lancar," ungkap wanita itu.
Leon tersenyum mendengar ucapan penjual bunga itu. Sementara itu Amira masih keheranan.
"Pe-pernikahan? Leon?"
"Iya, Sayang. Aku akan melamarmu!"
Sudah beberapa kali, Leon mengatakan soal pernikahan. Amira selalu menolaknya. Kali ini, berbeda. Amira tidak ingin kehilangan Leon lagi.
"Bagaimana, Sayang. Apa kamu menerima lamaranku?"
"Tentu saja, Sayang. Aku mau menikah denganmu!" jawab Amira seraya mengambil bunga yang disodorkan Leon.
Leon sangat senang mendengar pengakuan Amira. Dia pun segera memeluk Amira dan mencium keningnya lembut. Kekuatan cinta mereka semakin besar. Takkan mudah luntur sampai kapanpun.
***
Hai gengs makasih ya sudah mampir, bagaimana kisah Amira dan Leon selanjutnya ya, apa mereka akan menikah? Kepoin terus yuks ❤❤❤❤❤
__ADS_1