
***
Leon sudah siap kalau makhluk kera itu menyerangnya. Tidak ada jalan lain kecuali mengikuti apa yang dilakukan mahkluk kegelapan yaitu pertempuran.
Mereka saling berhadapan. Pertempuran itu akan mengetahui siapa yang lebih kuat. Vampir atau makhluk kera. Yang menyatukan mereka adalah sama-sama makhluk kegelapan.
Di bagian lain, Bibi Lusi kelihatan gusar ketika tahu ada penolakan dari peliharaannya.
"Ada apa, Bik?"
"Vampir itu! Dia menghalangi tugas peliharaanku lagi!" jawab Bibi Lusi geram.
"Apa Amira masih bersama Leon, Bik?"
"Sepertinya begitu! Dia gak akan membiarkan peliharaanku mendekati kekasihnya meski dalam mimpi!"
"Trus gimana, Bik? Aku gak bisa muncul di hadapan Amira lagi!"
"Siapkan saja tumbal ayam cemani esok. Ingat! kau sudah memulainya. Ada konsekwensinya jika tidak kau teruskan!"
"Bibik! Aku jadi takut," ujar Lusi lirih.
"Kan sudah sering aku ingatkan! Periharaanku bukan makhluk gaib biasa. Dia akan terus meminta tumbal!"
Lusi termenung. Hatinya memang sudah siap menerima apapun yang terjadi. Kebencian itu sudah ditahannya sejak lama. Apalagi setelah tahu kematian Gisella ada hubungannya dengan vampir.
__ADS_1
Sementara itu, Leon menunggu serangan dari makhluk kera. Tapi, makhluk itu sepertinya mengurungkan niatnya untuk bertempur. Dia memilih menghilang setelah mentari mulai muncul di ufuk timur.
Leon masih berdiri di tempatnya yang sama meski cahaya mentari menyentuh wajahnya. Ada sesuatu yang belum diceritakannya kepada Amira. Tentang kedatangan Andrian dan ketua vampir yang membawa rahasia hidup di dunia terang.
Pagi pun datang. Amira terjaga dan melihat gaun puteri vampir tergantung di depan lemari. Gaun berwarna hitam dan merah yang sangat cantik.
"Apa kamu akan memakainya meski belum mandi?"
Leon muncul sambil membawa nampan berisi dua porsi roti bakar dan telur ceplok juga dua gelas susu.
"Gaunnya sangat indah. Apa ini punya Casandra? Terus sekarang dia ada di mana?"
"Iya, gaun itu milik Casandra. Nanti juga dia akan ke sini. Sudahlah, sarapan dulu. Nanti kita bisa bicara lagi!"
"Aku mau ke kamar mandi dulu! Pasti tampangku berantakan. Iya, kan?"
"Iikh, gombal!" ujar Amira seraya berjalan menuju ke kamar mandi.
Leon hanya tersenyum melihatnya. Dia selalu membayangkan saat berdua dengan Amira. Tidak ingin terpisahkan lagi untuk selamanya.
Mungkin, ada baiknya bertemu dengan orang tua Amira secepatnya. Selama ini, Leon belum pernah bertemu dengan keluarga Amira.
"Ada apa, Leon? Kok melamun begitu?"
Leon tersadar dari lamunannya begitu Amira muncul.
__ADS_1
"Nanti aku akan mengantarmu pulang sekaligus bertemu dengan orang tuamu!"
"Apa? Ketemu orang tuaku? Untuk apa?"
"Mulai pdkt lah! Aku kan harus mendekati calon mertua agar mudah meminang puterinya!"
"Leoon! Itukan masih jauh. Dua tahun lagi, aku baru lulus kuliah!"
"Gak apa-apa kan, kuliah meski sudah menikah?"
"Leooon! Bagaimana kalau aku hamil dan punya anak. Pasti kuliahku berantakan!"
"Gak kok! Kamu tetap kuliah dan aku yang akan menjaga anak-anak kita!"
"Tapi, kamu kan harus bekerja!"
"Tenanglah! Tabunganku banyak, kok. Kan aku sudah mengumpulkannya selama ratusan tahun!"
"Leoon! Pernikahan itu bukan hanya karena uang. Banyak yang harus dibicarakan. Bagaimana kalau aku nanti menjadi tua dan tambah jelek! Kamu sendiri pasti tetap muda dan ganteng. Kamu pasti akan bosan."
Leon tertawa. Dia malah ingin melihat perubahan Amira sedikit demi sedikit hingga mnjadi tua.
Suasana seperti itu yang sangat disukai Leon. Saat menggoda Amira dan membuatnya kesal. Leon merasa sudah saatnya menjadi manusia.
***
__ADS_1
Hai gengs, makasih ya sudah mampir, apakah Leon akan segera meminang Amira? Kepoin terus ya ....❤❤❤❤❤