PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 55. PENYAMARAN YANG TIDAK SEMPURNA


__ADS_3

***


Amira mengikuti instruksi Wijaya untuk masuk ke dalam klub balet. Tugasnya adalah mencari tahu keberadaan Anna, kekasih gembong narkoba yang dicari polisi. Kini, dia sudah berada di depan ruangan khusus klub balet dan senam.


Dadanya berdegup kencang. Sudah lama dia tidak melakukan penyamaran. Berharap kali ini semua berjalan lancar. Dia teringat pembicaraannya dengan Wijaya tadi pagi.


"Nama gembong Narkoba itu adalah Gerry. Dia memang masih muda sekitar 20 tahunan!" ujar Wijaya seraya menyerahkan sebuah file. Di sana juga ada foto Gerry.


"Dia kelihatan masih sangat muda. Sayang, mengapa harus terlibat dengan narkoba. Barang itu hanya akan menghancurkan hidupnya saja!" celetuk Amira sedikit emosi.


"Ya, begitulah. Jika dia pemakai mungkin kami bisa mengerti. Tapi jika dia adalah penyalur narkoba, hukumannya adalah mati!" ucap Wijaya tegas.


"Gadis ini adalah kekasihnya. Namanya Anna. Dia keturunan asing dan sangat pandai menari balet. Tugasmu adalah mendekatinya dan menggali informasi tentang keberadaan Garry!"


Amira melihat foto seorang gadis cantik yang disodorkan Wijaya. parasnya kelihatan sekali kalau dia orang asing. Matanya biru dan kulitnya seputih susu. Rambutnya juga pirang dan panjang.


"Ma-maaf, di mana tempat pendaftaran klub balet, ya?" tanya Amira kepada beberapa orang gadis yang baru saja sampai.


Mereka memerhatikan Amira dengan sangat detail, dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tak lama, mereka pun tertawa terbahak-bahak.


"Apa kamu mau menjadi balerina dengan tampang seperti itu?" tanya seorang dari mereka dengan sinis. Teman-temannya masih tertawa.


Amira kelihatan kebingungan. Apa yang salah dengan dirinya. Aakh! Dia lupa kalau sudah kembali menjadi gadis cupu.


"I-iya! Aku mau belajar menari balet agar bisa menjadi cantik seperti kalian!" jawab Amira merendah.


"Baiklah! Kalau mau belajar balet sih aku maklum. Tapi menjadi cantik seperti kami? Seratus tahun pun belum tentu bisa!"


Mereka pun kembali tertawa.


"Sudahlah! Jangan menggodanya seperti itu!"


Seorang gadis cantik muncul. Amira sangat terkejut, wajahnya sama dengan foto yang ditunjukkan Wijaya.


"Maaf, Kak Anna. Kami hanya bercanda saja!"


"Oke. Sebaiknya kamu ikut denganku saja. Nanti aku antarkan ke tempat pendaftaran!" ajak Anna.


Amira masih terdiam. Dia mendadak menjadi gugup.


"Ba-baik, Kak!"

__ADS_1


"Tidak usah memanggilku Kakak seperti mereka. Panggil namaku saja, kita kan sepantaran," ungkap Anna dengan senyum manisnya.


Amira langsung mengangguk. Ternyata Anna adalah gadis yang baik dan ramah.


Setelah mendaftar, Amira bisa mulai mengikuti latihan. Dia segera mengganti pakaiannya dengan baju khusus balerina. Namun, dia malah tertegun melihat dirinya sendiri di cermin.


"Kenapa aku jadi aneh begini, ya?" celetuknya.


"Gak ada yang aneh, kok. Kamu cantik meski ada satu yang kurang!"


Anna muncul sudah siap dengan baju balerinanya. Dia sangat cantik sekali.


"Menurutku banyak kurangnya dan kamu sangat sempurna!" jawab Amira agak sedikit sedih.


Anna tersenyum dan mendekati Amira.


"Seharusnya rambutmu diikat seperti ini, Amira!"


Amira hanya diam saja ketika Anna mulai mengikat rambutnya.


"Bagaimana kamu tahu namaku Amira?"


"Owh! Tadi aku sedikit mendengar percakapanmu ketika mendaftar! Apa kamu sudah punya pacar?"


"Si-siapa yang mau dengan gadis cupu seperti aku?"


"Akh, kamu hanya merendah! Kamu ini sangat cantik bahkan bisa mendapatkan hati seorang pangeran vampir!"


"Pa-pangeran vampir?"


Amira sangat terkejut dengan perkataan Anna.


"Bagaimana kamu tahu soal pangeran vampir?"


Amira mengira kalau Anna mengetahui soal Leon.


"Sewaktu acara ulang tahun Gisella, aku ada di sana. Kau menjadi vampir dan seorang pangeran vampir datang menyelamatkanmu. Iya, kan?"


Amira teringat peristiwa memalukan itu.


"Apa benar kamu ada di sana?"

__ADS_1


"Iya, aku ada di sana. Siapa yang tidak kenal dengan Gisella. Sayang, kematiannya sangat tragis!"


Saat terakhir kematian Gisella kembali terbayang. Amira menggelengkan kepalanya agar bayangan peristiwa mengerikan itu menghilang.


"Saat itu, kamu sangat terkenal. Hanya saja, setelah itu aku tidak menemukanmu di kampus!"


"Aku cuti kuliah dan bekerja selama setahun. Belum lama aku kembali lagi ke kampus. Oh iya, kamu pasti sudah punya pacar, kan. Apa aku bisa bertemu dengannya?"


Anna mengerutkan keningnya. Tapi kemudian dia tersenyum.


"Kamu bisa menebak dengan benar. Aku memang sudah punya pacar. Nanti aku akan mengenalkanmu padanya. Sekarang, ayo kita latihan!"


Amira segera mengikuti Anna. Entah bagaimana dia mulai menjadi seorang penari. Pasti akan sangat menakutkan. Setidaknya, dia akan segera menemukan orang yang dicari Wijaya.


Wijaya tertegun begitu melihat Amira dari kejauhan. Dia hampir tidak mengenalinya. Wijaya memegang dadanya yang berdebar kencang. Ternyata, Amira masih bersemayam di hatinya.


***


Sementara itu, Casandra yang sedang berkeliling dunia, baru tahu kejadian yang menimpa ayah dan Leon. Dia pun segera pulang dan langsung menemui ayahnya.


"Apa yang telah terjadi, Ayah? Mengapa aku tidak bisa berkomunikasi telepati dengan ayah dan Leon?" tanya Casandra langsung kepada Tuan Alex.


Tuan Alex menatap putrinya itu lekat.


"Ada peristiwa yang terjadi setelah kamu pergi. Kekuatanku hampir hilang. Keadaan Leon juga semakin parah. Dia tidak sadarkan diri dan berubah menjadi makhluk kelelawar!" jelas Tuan Alex.


"Kenapa bisa seperti itu, Ayah? Apa yang mereka lakukan kepada ayah dan juga Leon? Mereka adalah vampir putih tapi kelakuan mereka tidak kalah menakutkan dengan vampir hitam!"


Casandra sangat emosi.


"Semua adalah salahku. Seharusnya aku berpikir lebih panjang sehingga semua ini tidak sampai terjadi! Tapi selain masalah itu, aku menemukan anak kandungku sendiri. Namanya Andrian, dia separuh manusia dan separuh vampir!"


"Benarkah, Ayah? Lalu di mana Andrian? Aku sangat ingin bertemu dengannya!"


"Andrian sedang mencari ketua vampir putih. Dia meminta untuk mencabut hukuman Leon. Keadaan Leon sangat menyedihkan. Aku tidak bisa mendekatinya karena segel yang dibuat vampir putih!"


"Vampir putih! Seharusnya mereka membawa kedamaian bukan menyiksa vampir lainnya! Aku akan menemui Leon, Ayah!"


"Jangan, Casandra!"


Casandra tidak pernah berubah. Sifatnya keras dan tidak mau mendengarkan orang lain. Dia pasti lebih emosi begitu melihat keadaan Leon. Apa yang akan dilakukan Casandra? Apakah dia mampu melepaskan segel vampir putih?

__ADS_1


***


Hai gengs, makasih ya sudah mampir, ikuti terus kisah Amira dan Leon, ya .... ❤❤❤❤❤


__ADS_2