
***
"Selamat ya atas pernikahanmu, Amira!" ujar Wijaya yang langsung memberikan ucapan selamat ketika sudah berada di rumah Amira.
Belum sempat Amira menjawab perkataan Wijaya, Ayah Amira muncul.
"Sebenarnya, aku lebih suka Nak Wijaya yang menjadi menantu kami. Ternyata Amira menjatuhkan pilihannya dengan Leon. Lagipula, sudah lama Nak Wijaya tidak ke sini. Kami kira, Nak Wijaya sudah melupakan tempat ini!" ungkap Ayah Amira.
"Ayah ...," bisik Amira yang tidak enak dengan ucapan ayahnya. Namun ayahnya tidak menghiraukan.
"Iya, Om. Kemarin saya pulang kampung. Bagaimana keadaan semuanya?"
"Alhamdulillah baik-baik semuanya. Sering-seringlah mampir. Nak Wijaya sudah kami anggap sebagai anak sendiri," jawab Ayah Amira jujur.
"Tentu saja saya akan sering mampir, Om. Saya sudah putuskan untuk aktif bekerja lagi di sini!"
Wijaya sangat senang dengan perhatian Ayah Amira. Dia teringat perkataan Annastasia kalau dia akan menjadi anggota keluarga Amira. Harapannya kembali tumbuh.
"Maafkan perkataan ayah yang sedikit kebablasan ya, Bang. Ayah memang begitu. Bagaimana kabar Abang? Kata Kak Melati, Abang sedang sibuk mengejar para pemburu liar dan pencuri kayu di hutan!" ujar Amira ketika ayahnya sudah pergi.
"Mereka tidak pernah habis. Yang satu tertangkap dan yang lain datang lagi. Untuk sementara sekarang sudah aman. Makanya aku memutuskan kembali bertugas!" jelas Wijaya.
"Lalu ..., bagaimana luka Abang? Apa sudah sembuh total?"
"Akh! Luka itu sudah lama sembuh. Hanya di sini yang masih sedikit sakit! Karena gadis yang aku cintai akan menikah dengan orang lain," ungkap Wijaya tanpa menyebutkan nama gadis yang dimaksudnya.
"Maafkan aku, Bang. Kak Melati cerita kalau Abang menyukaiku. Abang kan tahu, kita ini sudah menjadi kakak adik!"
__ADS_1
"A-apa? Kak Melati mengatakan itu? Bukan, bukan kamu. Adalah gadis lain ...." jawab Wijaya sedikit berbohong.
"Apa gadis di desa, Bang? Mereka pasti cantik-cantik!"
"Ya, ada sih yang cantik. Tapi, aku gak ada debar sama sekali. Sudahlah! Bagaimana kalau kita makan di luar? Sudah lama aku gak makan normal. Di hutan hanya ada buah-buahan dan sayuran!"
"Hhmmm, aku tanya ayah dulu ya, Bang!"
Wijaya mengangguk. Dia hanya bisa menarik napas panjang. Mungkin sudah takdir dia hanya menjadi kakak bagi Amira. Yang dikatakan Nona Annastasia ternyata benar. Dia akan menjadi anggota keluarga Amira meski hanya sebagai saudara.
Amira sendiri merasa tidak enak hati. Sebentar lagi dia akan menikah dengan Leon. Tapi, Wijaya tiba-tiba muncul. Amira sangat tahu kalau ayahnya lebih menyukai Wijaya daripada Leon. Namun, Leon pasti mengerti. Hubungannya dengan Wijaya hanya sebatas kakak dan adik saja
***
"Apa yang kamu katakan benar, Nona? Soal Wijaya yang akan menjadi anggota keluarga Amira!"
Andrian tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. Dia langsung menanyakannya langsung kepada Annastasia.
Andrian sedikit gugup karena Annastasia bisa menebak pikirannya. Tentu saja dia bisa melakukannya sebagai seorang vampir. Sementara Andrian hanyalah manusia setengah vampir.
Namun perasaannya terhadap Amira kini berbeda. Andrian sudah melihat perjuangan cinta Amira dan Leon yang penuh halangan dan rintangan. Mereka pantas bahagia.
"Bukan begitu, aku hanya takut terjadi sesuatu jika pernikahan Leon tidak bisa dilaksanakan!"
"Tidak usah berbohong, Andrian!" ucap Annastasia yang sedikit cemburu.
"Aku tidak berbohong, Tuan Puteri. Aku memang ingin juga menikah. Tapi, aku ragu kalau ada yang mau menjadi pendampingku!"
__ADS_1
"Aah! Alasan saja," ucap Annastasia sedikit merajuk sambil ngeluyur pergi.
"Tunggu! Aku serius, kok."
Andrian menangkap tangan Annastasia untuk menahannya. Sementara itu, Annastasia jadi salah tingkah.
"Aku serius, Nona. Aku sudah bosan hidup sendiri. Pasti lebih baik kalau menikah dan punya pasangan hidup! Apa Nona mau menemaniku menjalani kehidupan ini?"
Annastasia membalikkan badan dan menatap Andrian lekat. Dia ingin tahu apakah ucapan Andrian benar dari matanya.
Tiba-tiba, pandangannya memudar. Kabut putih itu datang lagi. Kemudian perlahan menjadi jelas kembali. Annastasia melihat sepasang pengantin yang sedang berbahagia. Ya, pengantin itu adalah dirinya dan Andrian. Alangkah senangnya Annnastasia mengetahui pernikahan itu akan menjadi nyata.
Namun, beberapa detik kemudian wajahnya berubah. Pandangannya menjadi merah. Andrian tergeletak penuh darah. Kematian akan membayangi masa depannya.
"Maafkan aku, Andrian! Tugasku masih banyak. Kamu tidak akan bisa menungguku!" jawab Annastasia mencari alasan seraya menarik tangannya.
"Aku pasti akan menunggumu meski seratus tahun lagi," ucap Andrian sambil menarik tangan Annastasia kembali dan menggenggamnya erat.
Andrian sudah memantapkan hati memilih Annastasia untuk menjadi pendampingnya. Kelembutan Annastasia yang penuh kasih membuat hati Andrian luluh. Dia sangat yakin, mereka akan hidup bahagia dalam kedamaian.
Annastasia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Dia tidak tahu apakah hatinya merasa bahagia atau sedih. Penglihatan masa depannya bersama Andrian dipenuhi dengan darah.
"Aku takut hidupmu selalu dibayangi kematian jika bersamaku, Andrian," ucap Annastasia lirih.
"Tidak, Annastasia! Apa kau lupa kalau aku adalah Sang Penyembuh. Kita akan lalui semua rintangan bersama-sama!"
Andrian memberikan keyakinan kepada Annastasia. Sementara Annastasia sendiri masih ragu. Penglihatan masa depan yang membuatnya tidak bisa menahan rasa takut kehilangan orang yang dicintainya.
__ADS_1
***
Hai gengs makasih ya sudah mampir, ikuti terus kisah Amira dan Leon selanjutnya ya ❤❤❤❤❤