
***
Setelah seharian di atas mobil yang dikendarai Casandra, akhirnya Amira kembali ke rumah Leon di tengah hutan. Dengan mudah, Casandra bisa melewati hutan yang penuh misteri itu.
"Leoon," bisik Amira di dalam hati yang memanggil nama kekasihnya. Dia ingin Leon mendengar suaranya. Sebentar lagi kerinduan itu akan membuncah.
Namun Amira tidak merasakan keberadaan Leon. Hanya angin dingin yang menyambut dan membuat tubuhnya sedikit menggigil. Sangat berbeda ketika Amira terakhir menemui Leon.
"Ada apa? Ayo kita langsung menemui Leon!" ajak Casandra. Dia juga tidak bisa membaca pikiran Amira karena segel kabut putih Wijaya.
Tuan Alex tiba-tiba muncul. Wajahnya bertambah pucat seakan mencemaskan sesuatu.
"Ayah?!" ucap Casandra setelah melihat ayahnya.
"Apa kalian yakin akan menemui Leon? Apalagi denganmu, Amira. Hal buruk bisa saja terjadi!"
"S-saya sangat yakin, Tuan. Andrian belum datang juga. Kondisi Leon pasti lebih parah. Hanya saja, saya tidak lagi merasakan keberadaannya," terang Amira mengungkap perasaannya.
"Itu karena Leon sudah menjadi makhluk kelelawar. Dia bukanlah Leon yang kamu kenal!"
"Makanya, sebaiknya kita langsung menemui Leon saja, Ayah!" ujar Casandra yang sudah tidak sabar.
Tuan Alex tidak bisa menghalangi mereka lagi. Rasa bersalah selalu menyelimuti hatinya. Berharap rasa bersalah itu tidak semakin besar bila terjadi hal buruk kepada Amira.
Perlahan Amira menuruni anak tangga. Ruangan bawah tanah itu terasa semakin dingin dari terakhir dia datang. Setelah melewati lorong yang cukup panjang, mereka akhirnya sampai di kerangkeng yang mengurung Leon.
Casandra menghentikan langkahnya.
"Pergilah! Aku akan menunggumu di sini agar Leon lebih fokus kepadamu!"
__ADS_1
Amira mengangguk dan lebih mendekat.
"Leooon, ini aku Amira!" ucap Amira setelah sampai di depan kerangkeng. Ruangan yang hanya diterangi lilin membuat pandangannya kurang jelas.
Terdengar dengusan dari dalam kerangkeng. Tapi, tidak terlihat apa pun. Amira meraih lilin agar bisa melihat lebih jelas.
Bayangan hitam tiba-tiba berdiri dan menggeram kencang seakan tidak suka dengan cahaya. Pandangan Amira lebih jelas melihat bayangan itu. Tubuhnya menjadi lemas melihat kondisi Leon yang lebih menyedihkan.
"Leoon! Ini aku Amira, kekasihmu," ucap Amira lagi dengan suara gemetar.
Bayangan itu kembali menggeram. Dia hampir tidak mengenali Amira. Sesaat bayangan itu terdiam, kemudian berjalan mendekati jeruji. Tapi, dia mundur lagi, setelah teringat jeruji itu pernah membuatnya tak sadarkan diri.
"Leoon, aku sangat merindukanmu. Aku akan masuk ke dalam agar bisa memelukmu!"
Amira kembali meletakkan lilin di tempatnya semula. Perlahan menyentuh jeruji sedikit demi sedikit. Terakhir kali dia bisa memegangnya namun Leon malah terpental seperti tersengat listrik.
Yang dikatakan Tuan Alex benar. Dengan mudah Amira bisa menyentuh kerangkeng itu. Entah kekuatan apa yang dimilikinya. Casandra hanya bisa berharap Leon bisa kembali seperti semula.
Amira sudah menetapkan hatinya. Mengorbankan seluruh jiwa dan raga untuk kekasih hatinya. Rasa takut tidak akan merubah perasaannya sama sekali.
Perlahan, Amira membuka kunci jeruji. Dengan mudah, dia bisa melakukannya. Leon yang sudah menjadi makhluk kelelawar terus saja menggeram. Darah panas di dalam dirinya bergolak begitu mencium darah segar di hadapannya. Sesaat lagi, darah segar itu akan mengalir kembali di dalam tubuhnya. Meski harus memangsa kekasihnya sendiri.
Amira sudah sangat siap. Dia berdiri tegak tanpa memejamkan mata sama sekali.
"Ambillah darahku, Leon. Aku sudah menyerahkan hidupku untukmu!
Casandra menahan napas. Dia hampir saja mengurungkan niatnya untuk mengorbankan Amira. Tubuhnya gemetar. Berharap apa yang dilakukannya bukanlah sebuah kesalahan.
Tuan Alex pun merasakan ketegangan itu dari luar rumahnya. Dia masih bisa melihat dan mendengarkan kejadian di ruang bawah tanah karena tidak begitu jauh. Dia siap menerima hukuman sekali lagi, asalkan Leon kembali seperti semula.
__ADS_1
Sementara itu, darah panas Leon yang sudah sangat kehausan dan kelaparan semakin bergolak. Dia siap memangsa kekasih yang tidak dikenalinya lagi.
Dia pun melompat dan mendekati Amira. Mendengus dan merasakan darah segar begitu menggoda. Siap menancapkan taringnya di leher kekasihnya itu dan menikmati setiap tetes darah mengalir di dalam tubuhnya.
"Aku mencintaimu, Leon. Sebentar lagi, kita akan hidup di dalam keabadian bersama selamanya!"
Leon tertegun mendengar bisikan Amira. Tiba-tiba matanya yang semerah darah berubah menjadi biru. Dia bisa melihat lebih jelas. Sang kekasih sudah siap menyerahkan hidupnya. Namun keraguan malah hadir di dalam dirinya.
Sesaat, Leon bisa melihat kejadian selanjutnya. Amira menjadi vampir seperti dirinya. Mereka sangat bahagia dan bisa berburu binatang di hutan bersama-sama.
Namun, bukan itu yang diinginkan Leon. Dia tidak ingin kekasihnya itu menjadi vampir juga. Selama ratusan tahun berada di dunia gelap. Leon merasakan menderitanya tidak mati dan juga tidak hidup.
Makhluk kelelawar itu menggeram kencang seraya mendorong Amira. Dia memilih keluar dari kerangkeng yang sudah mengurungnya. Tubuh Amira terpental dan membentur dinding sehingga membuatnya tak sadarkan diri.
Casandra sangat terkejut melihat Leon keluar kerangkeng tanpa memangsa Amira. Bukan itu yang diharapkan Casandra. Kini, mereka saling berhadapan.
"Jangan biarkan Leon keluar dari kerangkengnya. Dia bisa melarikan diri dan susah menemukannya!" ucap Tuan Alex lewat telepati.
Casandra mendengarnya dan berusaha menghalangi Leon.
"J-jangan pergi, Leon. Kau bisa meminum darah Amira dan kembali seperti semula!" ucap Casandra dengan suara gemetar.
Makhluk itu menggeram seakan ada kemarahan di dalam dirinya. Namun, tak bisa mengingkapkan dengan kata-kata.
Casandra berdiri tegak, terpaksa menghalangi jalan laki-laki yang sudah berada di dalam hatinya. Dia siap melakukan hal terburuk apa pun. Meski pun harus bertempur dan saling menyakiti!
***
Hai gengs makasih ya sudah mampir, suasana mulai tegang nih! Bagaimana ya kisah Amira dan Leon selanjutnya? Ikuti terus ya kelanjutan kisahnya .... ❤❤❤
__ADS_1