
***
Kali ini, Casandra harus merelakan Leon pergi bersama kekasihnya. Mereka akan selalu terikat bagaimana pun keadaannya. Percaya kalau Amira akan menjaga Leon dengan segenap jiwa dan raganya.
Tuan Alex juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kondisinya semakin lemah. Andrian masih berada di tempat yang sangat jauh. Berharap masih ada kesempatan untuk bertemu lagi dengan puteranya yang hilang itu.
Sementara Leon harus menemukan jalannya sendiri untuk bisa kembali ke wujudnya semula. Meski perlu waktu yang cukup lama dan energi yang banyak. Sekarang, sang kekasih ada di sampingnya. Jalan itu kelihatan lebih mudah.
Amira membawa Leon ke kandang sapi peternakan milik Tuan Alex. Dia sangat tahu bagaimana Leon menahan rasa hausnya sekian lama. Sekarang saatnya menikmati selagi masih ada waktu.
"Pergilah, Leon. Sapi-sapi itu sudah menunggumu!" ujar Amira kepada Leon yang belum bisa mengeluarkan kata-kata.
Leon sedikit ragu. Dia hanya tidak ingin Amira melihatnya melakukan sesuatu yang sangat mengerikan.
"Tidak apa-apa, Leon. Pilihkan sapi yang paling besar. Darahnya akan cukup untuk memenuhi rasa hausmu!" ujar Amira lagi setelah melihat Leon ragu-ragu.
__ADS_1
Leon yang masih berwujud manusia kelelawar berjalan pelan menuju ke salah satu sapi yang ada di depannya. Sapi-sapi itu menjadi ketakutan dan berusaha melepaskan diri dari ikatan tali yang cukup kencang.
Seekor sapi yang paling besar menjadi pilihan Leon. Dengar cepat, dia menggores leher sapi itu dengan kuku tajamnya. Sapi itu tersungkur tak berdaya dan darah segar pun muncrat seperti air mancur.
Leon mengerang penuh kesenangan dan menikmati setiap tetes darah sapi yang masuk ke tenggorokannya. Tak lama, dia pun menancapkan taringnya dan menghisap darah sapi itu sampai habis.
Tak puas dengan satu sapi, Leon beralih kepada sapi di sebelahnya. Sapi itu pun mengalami nasib yang sama. Tergeletak tak berdaya setelah tak ada darah lagi di badannya.
Amira hanya diam saja menyaksikan kejadian menakutkan itu. Darah segar membasahi wajah dan tubuh Leon. Tapi, dia malah khawatir, matahari akan semakin meninggi dan berhasil melewati rimbunnya pepohonan. Sinarnya pasti akan menyakiti Leon.
Benar apa yang dikira Amira. Leon mengerang kesakitan ketika cahaya matahari menyentuh kulitnya. Membuat kulitnya terbakar dan pandangannya menjadi buram.
Leon kembali mengerang dan menarik tangannya.
"Ada apa? Tidak apa-apa. Tidak ada yang akan mengurungmu lagi. Besok kita kembali ke sini dan kamu bisa menikmati darah segar semaumu!" jelas Amira.
__ADS_1
Leon tidak bergerak sama sekali. Kemudian dengan cepat Leon membalikkan badan dan menunjuk ke arah hutan.
"Apa kamu mau ke sana? Aku takut nanti ada orang yang melihatmu!"
Leon mendengus seakan tidak mau mengikuti kata-kata Amira. Dia pun melangkahkan kakinya menuju hutan.
"Leoon! Tunggu aku."
Amira terpaksa mengikuti Leon. Dia tidak bisa melepaskan Leon sendirian. Dia bukan hanya bisa menyakiti dirinya sendiri tapi juga orang lain. Yang harus dilakukan Amira adalah tetap menggenggam tangan Leon. Menularkan debar yang membuatnya menjadi manusia.
Pilihan Leon memang tepat. Hutan terlarang itu sangat gelap karena cahaya matahari sama sekali tidak bisa masuk. Entah bagaimana, dulu Amira bisa melewatinya sampai bisa menemukan rumah Leon. Mungkin karena Leon yang sudah menuntunnya.
Sosok Leon memang masih berwujud berbeda namun perlahan perasaannya kembali. Dia menunggu Amira untuk berjalan di sampingnya. Menggenggam tangan kekasihnya agar tidak terjatuh ketika melewati bebatuan penuh lumut licin. Tidak akan membiarkan mereka menjauh sedikit pun dan melewati setiap detik hanya berdua.
Entah bagaimana kalau wujud Leon tidak bisa kembali. Akankah Amira tetap ada di sampingnya?
__ADS_1
***
Hai gengs makasih ya sudah mampir, ikuti petualangan Amira dan Leon terus ya ❤❤❤❤❤