
***
Leon mencoba untuk menahan semua kerinduan. Bersabar menunggu seperti yang dilakukan semua manusia.
"Leon, kemarilah ...!"
Leon tertegun. Dia mendengar suara memanggilnya. Suara Sang Ayah.
"Ada apa, Ayah?" jawabnya lewat telepati.
"Aku ingin bicara!"
"Besok saja, Ayah. Aku ada janji dengan seseorang."
"Apa dia manusia?" tanya Sang Ayah lagi dari kejauhan.
Leon terdiam. Sudah waktunya Sang Ayah mengetahui soal Amira.
"Iya, Ayah. Dia manusia biasa!"
"Menjauhlah darinya!"
Leon kembali terdiam.
"Maaf, Ayah. Kali ini, aku tidak bisa menurutimu!"
Leon menutup pembicaraan. Dia merasakan Amira semakin mendekat. Ucapan Sang Ayah masih terngiang. Sudah saatnya Amira tahu siapa dirinya.
Amira sangat antusias bertemu leon. Kerinduan yang selama ini tertahan sebentar lagi akan membuncah.
Suasana di Kampus sudah mulai sepi. Hampir jam 08.00, Amira baru sampai di sana. Entah kenapa jalan sangat macet. Padahal tidak ada kejadian apapun.
Dengan langkah pasti, Amira berjalan menyusuri lorong sunyi. Sebagian mahasiswa sudah pulang. Sebagian ada kelas malam tapi tidak begitu banyak.
Sebuah bayangan berkelebat dari kegelapan. Dari sudut ruang ke ruangan lain. Kemudian bayangan itu berhenti tak jauh dari Amira.
Amira menghentikan langkahnya. Merasa ada sesuatu yang mengikutinya. Amira tersenyum. Dia pasti Leon.
"Leoon! Itu kamu, kan? Keluarlah!"
Suasana masih sama. Sunyi dan sepi. Tidak ada siapapun di dekat Amira. Tapi gadis itu yakin ada yang mengikutinya.
"Leoon! Jangan bikin aku takut, aakh!"
Amira mulai gusar. Tetap tak ada jawaban.
"Oke! Kalau kamu gak mau keluar, aku pulang aja!"
__ADS_1
Amira membalikkan badannya. Tiba-tiba sebuah bayangan muncul di depannya.
"Hallo, Sayang!" sapa Leon dengan senyum mengembang. Usahanya mengagetkan Amira berakhir gagal.
"Leoon!"
Amira tak mampu menahan kesal. Tangannya melayang ke dada Leon tapi langsung disergap dengan pelukan.
Untuk sesaat Amira melupakan kekesalannya dan menikmati pelukan Leon.
"Tubuhmu dingin sekali, Leon. Apa kamu sakit?"
Amira baru tersadar, setiap kali berpelukan, tubuh Leon selalu saja dingin.
"Tubuhmu hangat, aku suka!"
Leon malah merapatkan pelukannya.
"Lepaskan, Leon. Nanti ada yang lihat!"
"Gak ada siapapun di dekat sini. Tenang aja!"
Amira membiarkan Leon melepaskan kerinduannya. Begitu juga dirinya, menyadari kerinduan itu hampir membuatnya berpikiran buruk terhadap Leon.
"Apapun yang terjadi, tetaplah bersamaku. Jangan tinggalkan aku, Sayang!" bisik Leon.
Seperti biasa, Leon mengajaknya ke danau dekat kampus. Suasana temaram membuat tempat itu semakin romantis.
"Aku ingin bersamamu kalau libur lagi. Bagaimana kalau ke taman bermain atau pantai? Aku suka bermain pasir!"
Leon terdiam. Dia juga mempunyai keinginan yang sama dengan Amira. Tapi, matahari selalu menyiksanya.
"Hhmmm, boleh juga. Tapi, apa kamu gak takut panas?"
"Aku suka matahari meski kulitku menjadi hitam. Terakhir aku ke pantai ketika ibuku masih hidup. Aku ingin ke sana lagi dengan orang yang aku cintai!" ungkap Amira semangat.
Mata Amira berbinar membayangkan apa yang akan dilakukannya bersama Leon. Mereka akan bergandengan tangan menyusuri pantai. Kemudian, berpelukan sambil menunggu senja tiba. Lalu, sebuah ciuman hangat tercipta dengan penuh gairah.
"Hhmmm, sepertinya ada yang berpikiran jorok, ya," ledek Leon.
Amira melotot.
"Apaan, sih!"
"Kamu sedang membayangkan sebuah ciuman. Iya, kan?"
Amira berusaha menutupi perasaannya.
__ADS_1
"Gak, kok! cuma pelukan aja."
"Apa kamu menginginkannya sekarang?"
"Apaan sih, Leon. Nanti ada yang lihat!"
"Gak apa-apa, kok!"
Leon mengalungkan tangannya ke leher Amira dan wajahnya semakin mendekat. Bulu kuduk Amira merinding. Membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Nah, aku suka rambutmu tergerai seperti ini!"
Ternyata, Leon hanya melepaskan ikatan rambut Amira. Gadis itu jadi malu sendiri.
"Oh, iya. Aku terbiasa di tempat kerja. Sepertinya aku akan memotong rambutku saja karena sudah terlalu panjang!"
"Tidak! Jangan lakukan itu. Aku suka rambut panjangmu!"
Leon merapikan rambut Amira dan membelainya lembut. Gadis itu menjadi malu karena Leon tak berhenti menatapnya.
"Jangan tatap aku seperti itu, Leon."
"Kenapa?"
"Sudah, aakh!"
Amira membalikkan badan namun Leon menahannya.
"Kamu cantik, Amira."
"Leoon, aku ...."
Amira menghentikan ucapannya. Ketika tersadar, Leon sudah mencium bibirnya. Perlahan ********** lembut. Amira merasa sudah kehilangan ingatan.
Di dalam kegelapan, sepasang mata memerhatikan Leon dan Amira yang sedang dimabuk cinta.
Casandra merasakan darah panasnya bergolak. Setelah sekian lama, amarah bangkit kembali. Dia selalu menginginkan apa yang dilakukan Leon kepada Amira, terjadi padanya. Mengira suatu saat, dia menjadi ratu di hati Leon. Kenyataannya, Casandra tetap sendirian.
Dengan sekali kibasan, seekor tikus pohon berada di dalam genggaman Casandra. Tak lama, tikus itu sudah di mulutnya dan memangsanya ganas. Kemudian melemparnya ke atas tanah tanpa darah setetes pun.
Matanya berubah semerah darah. Namun, tenggorokannya masih terasa kering. Darah tikus itu tak cukup mengatasi rasa hausnya. Hanya darah manusia yang akan
membuat rasa hausnya hilang.
***
Hai gengs, makasih ya sudah mampir, ikuti terus jalan ceritanya ya ...
__ADS_1