
***
Sebelum gelap, Amira sudah sampai di rumahnya. Besok hari libur, jadi bisa menunggu Leon sampai tengah malam. Amira yakin malam ini Leon akan menemuinya.
"Amira ke kamar dulu ya, Mah!" ujar Amira setelah membersihkan meja makan.
"Lihatlah dulu adik-adikmu di kamar, Amira. Katanya, malam ini mereka mau tidur bersamamu," ujar Mamah Amira. Hubungan mereka sudah mulai akrab. Mungkin karena Amira mulai beranjak dewasa.
Amira terdiam, rencananya bertemu Leon bisa gagal. Tapi, Amira menuruti perkataan mamanya dan melihat kedua adik kecilnya.
"Kak Amira bobo di sini aja, Ya. Syila kangen ...."
Syila langsung menghambur ke pelukan Amira. Sementara, adiknya yang paling kecil sudah terlelap.
"Iya, Sayang. Ayo, kita tidur!"
Amira memeluk adiknya itu erat. Tak lama kemudian, dia ikut terlelap. Di dalam mimpi, Amira bertemu Leon. Mereka berdiri saling berhadapan. Hanya saja, Amira berada di tempat yang terang sementara Leon di bagian yang gelap.
"Aku kangen, Leon. Kamu ke mana aja?"
Leon diam saja. Wajahnya yang pucat semakin pucat.
"Kemarilah! Aku ingin memelukmu," ujar Amira lagi.
Leon masih saja diam. Menatapnya penuh kecemasan.
"Katakan padaku, Leon? Apa aku bersalah padamu hingga kamu tak mau mendekatiku?"
Leon menggeleng. Amira merasa hatinya bergemuruh. Dia pun segera berlari ke arah Leon. Namun, selangkah kemudian sesuatu menghantamnya. Tirai kabut putih muncul di depan Amira hingga membuatnya terlempar.
"Leon ...."
Amira bangkit dan mencobanya sekali lagi. Tirai itu kembali menghantamnya. Amira terus mencoba tapi usahanya sia-sia.
Di saat terakhir, Leon membalikkan badannya dan melangkah pergi.
"Tidak, Leon! Jangan pergi. Aku mencintaimu, Leon ...."
__ADS_1
Leon tidak mendengarkan ucapan Amira. Dia tetap pergi sampai bayangannya menghilang.
"Tidak, Leon!"
Amira terjaga dengan keringat membasahi tubuhnya. Mimpi itu sangat jelas. Apakah tirai kabut putih itu memang ada? Membuat Leon tidak bisa mendekatinya. Lalu, siapa yang sudah menciptakannya?
Amira kembali ke kamarnya, hampir tengah malam. Dibukanya jendela kamar, angin langsung menyambut bersama dingin. Amira menatap jauh ke dalam pekatnya malam. Biasanya, dia bisa merasakan keberadaan Leon. Tapi, sekarang tak ada tanda-tanda kehadirannya.
"Leon, di mana kamu? Aku kangen ...."
Dadanya terasa sesak. Kerinduan berkali-kali hampir membunuhnya. Tidak kali ini! Amira tidak akan mengalah.
Dengan perlahan, Amira keluar rumah. Dia sangat yakin kalau di dalam kegelapan pasti ada Leon. Dia sudah berjanji tidak akan melepaskan Leon apapun yang akan terjadi.
"Tidak! Jangan mendekat, Amira."
Yang diperkirakan Amira ternyata benar. Leon sangat terkejut melihat Amira keluar dari rumahnya meski dalam gelap.
Leon jadi gamang. Seharusnya, dia pergi. Tapi tak tega melihat Amira sendirian.
"Aku tahu kamu di sini, Leon. Keluarlah!" ujar Amira dengan nada suara pelan. Dia sangat yakin, Leon pasti mendengarnya.
Sebutir air mata menetes, kemudian mengalir deras. Amira pasrah. Dia hanya menginginkan Leon.
Leon tak tega juga melihat Amira menangis sesungukan. Dia pun keluar dari dalam kegelapan.
"Jangan menangis, Amira. Aku di sini!"
Amira jelas melihat Leon di hadapannya. Namun, airmatanya semakin deras mengalir.
Leon terus berjalan mendekati Amira. Namun, tirai kabut putih menahannya. Sekuat tenaga Leon mendorongnya namun sia-sia.
"Ada apa, Leon? Kenapa aku tidak bisa mendekatimu atau kamu mendekatiku? Siapa yang sudah membuat tirainya?"
Sebenarnya, Leon tahu siapa yang membuat tirai itu. Tapi, dia tidak ingin membuat Amira semakin khawatir.
"Tenanglah, Sayang. Malam ini aku akan menyelesaikan semuanya!"
__ADS_1
Leon sudah memberikan janjinya. Begitu Amira masuk ke dalam rumah, dia langsung pergi. Leon akan menemui seseorang yang sudah membuat tirai itu.
***
Wijaya merapikan berkas yang akan dibawanya pulang. Penyelidikan kematian Rena sudah hampir selesai. Kecurigaannya kepada Leon sudah pasti. Entah apa yang terjadi pada Amira. Wijaya sudah menandainya dan tak akan melepaskan Amira sampai kapanpun.
Hampir jam satu malam, Wijaya sudah bisa bekerja sampai larut malam. Sepeda motornya melaju tidak terlalu kencang. Dia merasa ada bayangan hitam yang sedang mengikutinya. Melayang dari satu pohon ke pohon yang lain seperti kelelawar
Di jalan yang tidak begitu ramai, Wijaya menghentikan sepeda motornya. Dia tahu bayangan yang mengikutinya bukanlah manusia biasa.
"Keluarlah! Tampakkan siapa dirimu!"
Wijaya menebarkan pandangan ke sekeliling tempat itu. Pepohonan membisu bahkan angin enggan berembus.
Di saat paling hening, sebuah bayangan keluar dari kegelapan.
"Aku tahu kamu bukanlah manusia biasa!" ujar Wijaya setelah melihat bayangan hitam itu adalah Leon.
"Kita tidak pernah bertemu, tapi kau tahu siapa aku?!"
Leon pura-pura tidak tahu siapa Wijaya sebenarnya.
"Aku tahu siapa kamu! Makhluk menakutkan penghisap darah manusia!"
Wijaya menghadapi Leon dengan penuh waspada.
"Benarkah? Lalu, apakah aku akan memangsamu juga?"
Mata Wijaya memerah. Insting hewan buasnya terjaga dan tak bisa tertahan lagi.
Leon tersenyum tipis. Dia ingin tahu makhluk seperti apa yang akan di hadapinya.
Malam semakin larut. Kegelapan semakin merajai. Di alam mimpi, Amira melihat sebuah pertarungan dua makhluk kegelapan.
"Tidaaak!"
Amira melihat Leon tergeletak di atas tanah dengan darah hitam di sekujur tubuhnya. Apakah Leon akan mati?
__ADS_1
***
Hai gengs, makasih ya sudah mampir. Ikuti terus jalan cerita selanjutnya ya ....