
***
"Beneran, Ren. Cowok itu cepat sekali hilangnya. Jangan-jangan ... dia bukan manusia!" cerita Amira ketika dosen sudah ke luar ruangan.
"Tuh kan, aku sudah bilang. Kalau malam, perpustakaan itu angker. Kamu saja yang sotoy kalau aku bilangin," sergap Rena.
Amira malah manyun.
"Gimana ya, Ren. Aku belum punya semua buku yang dibutuhkan. Eeh aku malah dapet buku ini!"
Amira mengeluarkan buku "Berburu Vampir" dari dalam tasnya.
"Buku apàan itu, Ra?"
"Tau nih! Aku menemukannya di perpustakaan semalam. Kayaknya buku lama. Kok ada sih buku macam ini di kampus!"
Amira membolak balik buku itu.
"Kamu udah baca belum, Ra?"
Amira menggeleng.
"Untuk apa aku membacanya? Kamu kan tahu aku gak suka hal mistis!"
"Iih, penting juga itu loh. Bagaimana kalau di kampus kita ini ada vampir? Bagaimana kalau cowok yang kamu lihat itu vampir? Katamu, gerakannya sangat cepat kan?"
Amira melotot.
"Jelas, dia itu manusia. Nyatanya mulutnya setajam silet. Mana mungkin makhluk astral bisa bicara menyakitkan seperti itu?"
Rena tertawa. Amira benar benar senewen karena cowok itu.
"Biasanya kamu gak bisa dekat dengan cowok, Ren. Kamu sudah kepincut dengannya ya?"
"Apaan sih, Ren. Aku cuma penasaran aja, kok!"
"Penasaran lama-lama jadi suka, Ra. Sini aku baca bukunya! Siapa tahu gebetan kamu itu benar-benar vampir!"
Rena merebut buku yang dipegang Amira kemudian membacanya perlahan.
__ADS_1
"Ciri-ciri umum seorang vampir. Pertama, tidak suka matahari. Nah, kamu bertemu dengannya kan malam hari. Kedua, gerakannya sangat cepat seperti kilat. Dia juga bisa hilang kan, Ra? Ketiga, dia bisa membaca pikiranmu!"
Amira tertegun. Yang dikatakan Rena benar. Ketiganya dimiliki cowok sok keren itu.
"Masa sih dia beneran vampir, Ren? Jangan nakutin aku, aah!"
Rena masih memasang muka serius.
"Yang paling penting, vampir itu minum darah segar agar bisa hidup. Nah, apa kamu mau berkorban dan menyerahkan nyawamu untuknya? Amiraaa ... berikan aku darah segar. Aaaaakh ...!" ledek Rena sambil memerankan seperti vampir.
"Renaaa! Jahat kamu!"
Rena puas melihat Amira ketakutan. Padahal dia sendiri juga gak percaya vampir.
***
Sudah tiga hari berlalu. Amira terpaksa kembali ke perpustakaan pada malam hari. Jadwal kuliahnya mulai padat dan tidak ada waktu luang.
"Antar aku ke perpustakaan nanti malam yuk, Ren!" ajak Amira. Dia jadi parno setelah membaca buku "Berburu Vampir" tempo hari.
Rena juga tidak bisa menemani Amira karena sudah ada janji dengan dosen pembimbingnya.
"Terus, aku ke perpus sendirian gitu?"
"Ya iya lah! Siapa tahu kamu bertemu dengan vampir eeh gebetanmu itu," ledek Rena.
"Renaaa!"
Akhirnya, Amira sendirian lagi di tempat itu. Menyusuri lorong mencari buku-buku yang diperlukannya.
Tak ada tanda-tanda kehadiran cowok sok keren yang dilihatnya kemarin malam. Ada sedikit kecewa dirasakan gadis itu.
"Ada apa? Kenapa wajahmu murung seperti itu? Lagi ribut sama pacarmu, ya?" tanya Risa ketika melihat Amira jadi pendiam.
"Aakh! Aku belum punya pacar, Mbak. Lagipula siapa yang mau sama gadis cupu seperti aku?"
"Eeh, siapa bilang. Sudah tiga malam, ada yang mencarimu. Kenapa cowok seganteng dia kamu sembunyikan?"
"Si ... siapa dia, Mbak. Aku gak punya temen dekat cowok, kok!"
__ADS_1
"Bukankah tiga malam yang lalu kalian bersama? Aku lihat kalian akrab sekali," ungkap Risa lagi.
Amira terdiam. Tiga malam yang lalu, berarti ....
"Apa mbak kenal cowok itu?"
Risa mengangguk.
"Namanya Leon, dia mahasiswa tingkat akhir jurusan kedokteran!"
"Apa? Jadi namanya Leon?"
Tiba-tiba, Amira kliyengan. Cowok sok keren itu ternyata Leon, cowok paling ganteng di kampusnya.
***
"Tunggu! Yang ini cowok itu?" Rena mengutak atik handphonenya dan memperlihatkan foto seorang laki-laki yang sangat tampan.
Amira melihat foto itu lebih jelas. Kemudian, dia mengangguk.
"Iya, dia orangnya!"
"Astaga! Jadi kamu gak pernah bertemu Leon sama sekali, Ra?"
Sekali lagi, Amira mengangguk.
"Ya, Tuhan. Kamu memang bener-bener cupu, Ra. Kamu itu sudah berduaan sama cowok terkeren dan terganteng di kampus kita!"
"Menurutku, dia biasa aja. Malah dia itu bisa membunuh orang dengan mulutnya!"
"Amira! Kamu harus sadar. Iih, aku jadi geregetan sama kamu," ujar Rena sambil mengusel-usel pipi Amira.
"Kenapa dia mencariku, ya?"
"Nah! Apalagi Leon mencarimu. Pasti ada sesuatu yang penting. Jangan-jangan ... Leon naksir kamu!"
Amira kembali tertegun. Rasa penasarannya semakin memuncak.
***
__ADS_1
Hai gengs, makasih ya sudah mampir. Ikuti terus kisah selanjutnya ya ....