PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 47. AIRMATA KERINDUAN


__ADS_3

***


Amira kembali ke ruang perpustakaan yang tadi dia lewati. Banyak buku terpajang di lemari. Bukunya tebal tebal, meski kelihatan lusuh tapi masih bagus dan bersih. Amira mengambil salah satu buku tapi dia tidak bisa membacanya karena tulisannya bahasa asing. Entah bahasa belanda atau bahasa negara lain.


Pandangannya mengarah pada salah satu buku di atas meja. Ternyata itu adalah album foto. Di dalamnya banyak foto-foto yang sudah buram. Amira berpikir sejak kapan ada kamera. Foto itu seperti diambil sejak lama.


Amira lebih tegas memerhatikan foto-foto itu. Tidak ada foto baru yang lebih jelas. Namun, ada wajah yang sangat dikenalnya. Dia adalah Leon!


"Leon ...," bisik Amira memanggil nama kekasihnya.


Perlahan, kegelapan mulai datang. Suasana di tempat itu sedikit menyeramkan. Amira melihat ada perapian di sudut ruangan. Gadis itu berniat menyalakan kayu kecil yg ada di dalam tungku.


"Jadi kau mengenal Leon?"


Amira sangat terkejut ketika perapian menyala sendiri. Kemudian, Amira mendengar suara seseorang. Dia segera meletakkan album foto itu di atas meja dan mencari asal suara itu.


Tuan Alex sudah berdiri di depan Amira. Entah, sejak kapan dia ada di sana.


"Tu-tuan, maaf saya lancang melihat album foto itu," sungut Amira.


Tuan Alex hanya tersenyum. Dia mulai mengerti mengapa Leon sangat menyukai gadis itu.


"Tidak apa-apa! Kau bisa melihatnya lagi. Tapi, semua foto itu sudah usang! Apa kamu mengenali Leon ada di dalam foto itu?"


Amira langsung mengangguk.


"I-iya, Tuan. Saya mengenalinya," jawab Amira singkat.


"Apa kamu tidak heran mengapa wajahnya tidak berubah? Begitu pun wajahku. Apa kamu tahu siapa kami?"


Amira sedikit ragu menjawab pertanyaan itu. Dia takut perkataannya menyinggung perasaan Tuan Alex.


"Tidak apa-apa. Aku bisa membaca pikiranmu!"

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Leon tidak banyak membicarakan perihal dirinya. Tapi, saya tahu kalau Leon bukanlah manusia biasa. Saya mencintainya apa adanya. Jadi ... saya tidak mempermasalahkan siapa dirinya," jelas Amira.


Tuan Alex tertegun. Dia teringat seseorang yang mengatakan hal yang sama. Dia adalah Mawar, kekasihnya sendiri.


"Saya mencintai Tuan apa adanya. Jadi jangan ragukan cinta saya lagi!"


Raut wajah Mawar masih teringat jelas. Sebuah senyuman mengembang di sudut bibir merahnya. Sejenak, Tuan Alex pun melupakan siapa dirinya. Saat itu, dia hanya laki-laki yang sedang jatuh cinta. Malam penuh kehangatan itu pun tidak akan pernah terlupakan.


"Apa kamu tahu, Leon memerlukan darah untuk hidup. Apa kamu bersedia memberikan darahmu untuknya?"


Amira tertegun. Dia tidak pernah memikirkan Leon akan meminta darahnya. Tapi, jika itu terjadi, Amira pasti akan memberikannya.


"Leon tidak pernah memintanya, Tuan. Dia hanya mengatakan kalau tidak pernah meminum darah manusia. Itu juga karena ajaran ayahnya. Yaitu Tuan Alex sendiri!"


Tuan Alex memang pernah mengajarkan hal itu kepada Leon. Dan Mawarlah yang mengajarkannya kepada Tuan Alex. Sejak bertemu Mawar, Tuan Alex mulai melupakan darah manusia meski sangat menyiksa. Mawar memberikan darah segar dari sapi. Sejak saat itu, Tuan Alex mulai meminum darah binatang.


"Maaf, Tuan. Di manakah Leon? Saya ingin menemuinya!"


Amira teringat tujuannya masuk ke dalam hutan yaitu untuk mencari Leon. Padahal dia tidak tahu pasti keberadaan kekasihnya itu.


"Tapi, Tuan. Saya berjanji ..., hanya menemuinya sebentar saja!"


Amira memohon dengan sangat. Matanya berkaca tak mampu menahan penderitaan kerinduan.


Tuan Leon tidak bisa melakukan apapun. Leon sedang menggantikannya menerima hukuman, menjauh dari dunia manusia selama sepuluh purnama.


"Aku akan memikirkannya nanti. Sekarang istirahatlah!"


Tiba-tiba, Tuan Alex menghilang. Amira tidak terkejut lagi dengan kejadian itu. Tapi, rasa kecewa terlanjur memenuhi ruang hatinya. Sebutir air mata mengalir di pipinya. Airmata kerinduan.


***


Sementara itu, Andrian sekali lagi tidak menemukan Amira di dalam hutan. Begitu juga rumah besar yang dicurigai sebagai rumah vampir. Ada kabut seperti perisai yang melindungi rumah itu sehingga tidak mudah dilihat orang apalagi masuk ke dalamnya.

__ADS_1


"Bagaimana, Pak Dosen? Apa mahasiswi bernama Amira sudah ditemukan? Kawannya bernama Lusi dan Nania memberitahu kami kalau kawan satu kamarnya menghilang dari kemarin!"


Dua orang panitia kegiatan karya wisata itu mendatangi Andrian di kamarnya.


"Oh, Amira. Dia menggantikan saya mencari makalah di desa terdekat. Jangan khawatir, besok saya akan menjemputnya!"


"Tapi, Pak Dosen. Besok sudah hari terakhir. Apa dia sudah kembali sebelum kita berangkat pulang?"


"Tenang saja, Pak. Kalau terlambat, kami bisa menyusul pulang," jawab Andrian berusaha meyakinkan keduanya.


"Baiklah, Pak Dosen. Semoga Bapak dan Amira kembali tepat waktu!"


Andrian cepat mengangguk. Keduanya pergi dengan perasaan tenang. Mereka bisa menjawab pertanyaan kawan-kawan Amira yang merasa khawatir.


Benar saja. Lusi dan Amira sudah menunggu di ruang panitia. Mereka masih kelihatan cemas.


"Bagaimana, Pak. Apa ada kabar kawan kami, Amira?" tanya Lusi tak mampu menahan rasa ingin tahunya.


"Tenanglah! Dosen Andrian tahu di mana kawan kalian. Katanya dia sedang di desa untuk membantunya mengerjakan makalah. Besok dia akan menjemput kawan kalian!" jelas salah satu dari panitia itu.


"Oh, Amira bersama Dosen Andrian. Terima kasih, Pak. Maaf sudah merepotkan!" ujar Nania yang merasakan hatinya sedikit tenang.


Lusi dan Nania segera kembali ke kamarnya. Mereka tidak begitu percaya dengan ucapan Dosen Andrian.


"Kenapa ya, aku masih gak tenang, Lus? Sikap Dosen Andrian kemarin kelihatan sangat cemas!"


"Iya, Na. Bahkan dia langsung mencari Amira ke hutan bukannya menuju ke desa!"


"Aakh! Mudah-mudahan tidak terjadi hal buruk dengan Amira!" ungkap Nania yang berusaha menenangkan Lusi dan dirinya sendiri.


Andrian kembali menatap keluar jendela. Kegelapan sudah benar-benar menjadi penguasa. Masih ada rasa cemas yang mengisi hatinya meski tahu kalau keadaan Amira baik-baik saja.


Sesaat, Andrian melupakan bara api di hatinya. Semua pertanyaan di benaknya terlupakan. Berganti rasa khawatir terhadap seorang gadis biasa bernama Amira. Apakah dia sudah jatuh cinta padanya?

__ADS_1


***


Hai gengs, makasih ya sudah mampir. Ikuti terus kisah Amira dan Leon ya, jadi ikutan pengen mewek nih huhuhu ❤❤❤


__ADS_2