PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 7. AKU SUKA PADAMU APA ADANYA!


__ADS_3

***


"Aku suka kamu apa adanya, Amira. Make-up hanya akan membuatmu menjadi orang lain, bukan dirimu sendiri!"


Leon masih menatap Amira lekat setelah menghapus riasannya. Amira menjadi salah tingkah.


"Benarkah? Biasanya orang-orang akan memalingkan muka bila melihatku. Apa kamu berbohong untuk menghiburku, Leon?"


Leon tersenyum. Tatapannya masih sama.


"Mereka yang kurang beruntung dan tak menyadari berlian seindah dirimu," ujar Leon.


Amira tertawa.


"Sudahlah! Berapa gadis yang sudah jadi korban gombalmu?"


Leon terdiam. Amira sudah berpikiran buruk kepadanya.


"Kau tidak mengenalku, tapi aku sangat mengenalmu. Kau, gadis berjubah merah yang menangis ketika pertama kali menjejakkan kaki di kampus," ungkap Leon.


Amira mendongak. Gadis berjubah merah adalah dirinya tiga tahun yang lalu. Saat itu, ibunya baru saja meninggal. Hampir setahun Amira baru bisa bangkit.


"Bagaimana kamu tahu soal jubah merah itu? Apakah kita pernah bertemu?"


"Aku melihatmu tapi kamu tidak melihatku," jawab Leon.


"Bagaimana bisa?"


"Itu karena ...."


Leon berhenti bicara. Ada sesuatu bergemuruh. Sebentar lagi akan membuncah.


Kriuuuk ...


Lagi-lagi, cacing di perut Amira berdemo.


"Uups, maaf! Aku belum makan sore. Aku mengira akan makan besar di acara ultah Gisella," ungkap Amira dengan menahan malu.


"Di ujung jalan, ada penjual ramen. Apa kamu mau ke sana?"


"Aku mau! Tapi dompetku tertinggal di rumah Gisella."


"Hhmmm, aku juga gak bawa uang! Apa kita harus jadi pengamen agar bisa makan?" ledek Leon. Dia ingin melihat ekspresi Amira.

__ADS_1


"Oke! Aku bisa menyanyi sedikit. Bisa balonku atau pelangi-pelangi!"


Leon tertawa. Ada saja, celoteh Amira yang mengocok perutnya.


Mereka mulai berjalan menuju ke kedai ramen yang ditunjuk Leon. Namun baru beberapa langkah, Amira hampir saja terjatuh. Untung saja Leon sigap dan menangkap tubuhnya.


Sudah beberapa kali momen itu terjadi. Kali ini, Amira masih merasakan dadanya bergemuruh. Debar itu hadir tiba-tiba.


Leon juga mendengar debar itu. Menyadarkannya akan perbedaan dirinya dan Amira. Hatinya terlalu hitam sementara hati Amira diselimuti kehangatan.


"Aah, makasih ya. Aku lupa masih memakai high heel!"


Amira buru-buru sadar dan melepas pelukan Leon.


"Hati-hatilah! Jalanan di sini tidak rata," ujar Leon mengingatkan.


Mereka pun kembali berjalan dan lagi-lagi Amira hampir terjatuh karena hak high heelnya terlalu lancip hingga terjepit di sela-sela batu.


"Tunggu sebentar ...."


Amira sangat terkejut ketika Leon berjongkok di depannya. Leon pun meraih kaki Amira dan melepaskan sepatunya.


Dengan sekali gerakan, dia mematahkan hak lancip sepatu Amira hingga menjadi rata. Kemudian, dia mengulanginya sekali lagi.


"Cobalah berjalan, apa sudah nyaman?"


Amira mulai melangkahkan kakinya dan berputar-putar seperti anak kecil. Wajahnya semringah.


Leon tersenyum melihat tingkah Amira.


"Enak kok, makasih ya, Leon!"


"Bagaimana? Apa sudah siap menjadi penyanyi jalanan?"


"Aku siap, lalalala ...."


Untuk ke sekian kalinya, Leon tersenyum. Amira sudah kembali seperti semula. Ceria dan apa adanya.


Mereka berpapasan dengan beberapa orang yang melihat dengan pandangan aneh. Ada juga yang ketakutan melihat mereka berpakaian seperti vampir.


Begitu juga ketika sampai di kedai ramen. Saat itu pengunjung lumayan banyak. Mereka pun saling berbisik dan menatap penuh tanda tanya.


"Tunggulah di sini. Aku akan bicara dengan pemilik kedai. Semoga saja dia mengijinkan kita mengamen di sini!"

__ADS_1


Setelah sampai di kedai ramen, Leon langsung berbicara dengan pemiliknya. Amira hanya memerhatikannya dari jauh. Tak memedulikan para pengunjung yang masih melihatnya penuh curiga.


Pandangan Amira hanya tertuju kepada Leon. Penilaiannya terhadap Leon selama ini tidak benar. Dulu, Amira menganggap Leon cowok sok keren yang sombong. Setelah mengenalnya lebih dekat, ternyata Leon sangat ramah kepada semua orang.


"Katanya kita boleh menyanyi di sini sebanyak sepuluh lagu, baru mendapat dua mangkuk ramen. Lumayan, kan?" kata Leon setelah kembali.


"Benarkah? Oke, aku siap menyanyi dengan merdu!"


Amira sangat bersemangat. Dia pun mulai menyanyi meski dengan suara seadanya. Anehnya dari sekian lagu, yang diingat adalah lagu anak-anak.


Bukan salah Amira bila kenangannya kembali ke masa kecil. Saat itulah ibunya mengajarkan bernyanyi. Kerinduan itu membuncah. Kini, ada sosok lain yang bisa mengobati kerinduan itu.


"Asyiiik! Mari kita makan ...."


Amira tak bisa menahan rasa senangnya ketika melihat semangkuk ramen. Leon hanya diam dan mengulum senyum.


Sebenarnya, Leon sudah bicara kepada pemilik kedai. Membiarkan Amira bernyanyi dan memberikan dua mangkuk ramen gratis. Padahal Leon sudah membayar ramen itu.


Melihat Amira makan dengan lahap, Leon tidak tega untuk memakan ramen itu. Lagipula, dia kurang berselera dengan makanan manusia.


"Makanlah! Aku masih kenyang. Tadi sore aku sudah makan.


Amira mendongak dan menatap Leon lekat.


"Apa menurutmu, aku gadis rakus?"


Leon bingung harus menjawab apa. Dia sangat tahu apa yang diinginkan Amira namun tak sanggup untuk mengatakannya.


"Baiklah, kalau kamu gak mau!" seru Leon sambil mengambil mangkuknya kembali. Tapi Amara malah menahannya.


"Kata orang tua, kalau sudah memberikan sesuatu kepada orang lain, pamali untuk mengambilnya kembali!" ucapnya dengan wajah serius.


"Apa benar seperti itu? Oke, kamu habiskan saja! Aku gak mau kena tulah!"


"Nah, itu baru benar!"


Amira kembali melahap ramen yang diberikan Leon. Perutnya terasa sangat kosong setelah perlakuan buruk Gisella.


Leon hanya terdiam tanpa mengalihkan pandangan dari Amira. Hatinya menjadi hangat berada di dekat gadis itu. Apapun yang dilakukan Amira, dia selalu menyukainya.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2