PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 67. RASA YANG TAK MUDAH DILUPAKAN


__ADS_3

***


Wijaya terluka parah ketika pertempurannya dengan Gerry. Dia tidak bisa memanggil arwah leluruhnya lagi. Kemampuan itu hanya bisa dilakukan sebanyak dua kali.


Sebenarnya, Wijaya bisa melumpuhkan Gerry dan Anna. Tapi, sebuah bayangan muncul dan menyerangnya dari belakang. Wijaya tidak bisa melihat wajah bayangan itu sehingga tidak bisa menangkis serangannya.


"Kondisimu semakin parah. Sebaiknya pulanglah dan temui kakek. Beliau akan menyembuhkan luka-lukamu!" ujar Melati ketika melihat adiknya itu tergeletak tak berdaya di atas tempat tidur.


"Aku masih penasaran dengan bayangan yang sudah menyerangku. Aku tidak bisa merasakan kehadirannya. Dia bukanlah vampir!"


Bayangan misterius itu masih melekat di dalam ingatan Wijaya.


"Kau bisa mencarinya setelah sembuh. Kemampuanmu sudah lemah sehingga luka-lukamu tidak langsung hilang. Besok kita akan pulang! Aku sudah bicara dengan dokter."


"Aku belum bertemu dengan Amira. Aku masih merindukannya." bisik Wijaya ketika bayangan Amira mampit di benaknya.


"Kau ini! Masih banyak perempuan lain. Kenapa sih masih memikirkan Amira!" cetus Melati sambil menepuk pundak adiknya dengan cukup keras.


"Aku mencintainya, Kak. Gak mudah melupakan perasaan itu!" jawab Wijaya sambil meringis menahan sakit.


"Sudahlah! Jangan ganggu Amira. Dia sudah memiliki kekasih. Lagi pula, emangnya gampang kalau pacaran dengan kamu. Apa kamu lupa kalau kamu itu Manusia Harimau!"


"Kekasih Amira juga bukan manusia biasa. Dia itu vampir!"


"Apa? Vampir? Amira pacaran sama vampir? Kamu gak bohong, kan?"


Melati melotot begitu mendengar ucapan Wijaya.


"Sudah, aah! Aku ngantuk," jawab Wijaya tanpa memberikan jawaban.

__ADS_1


"Eeh! Tunggu dulu. Jelaskan ucapanmu tadi. Benar pacar Amira itu vampir?"


"Aku ngantuk, Kak!" jawab Wijaya sambil memeluk guling dan memejamkan matanya.


Melati menjadi gusar melihat sikap adiknya. Rasa penasarannya belum bisa hilang.


Wijaya terpaksa kembali ke kampung halamannya dengan luka-luka yang tidak akan sembuh dalam waktu singkat. Kekuatannya sebagai manusia harimau juga hilang. Kini, Wijaya hanyalah manusia biasa. Berusaha menahan kerinduan kepada seorang gadis yang entah kapan bisa bertemu lagi dengannya.


***


Amira dan Leon menghabiskan malam di dalam hutan. Leon sudah memberi kabar kepada ayahnya dan Casandra lewat telepati kalau keadaannya sudah pulih seperti sedia kala.


Leon membuat perapian dengan mudah karena kekuatan vampirnya sudah kembali. Seekor kelinci sudah siap dipanggang setelah darahnya habis dihisapnya.


"Kamu jahat, Leon!"


"Kenapa? Apa seekor kelinci bisa melunturkan rasa cintamu padaku?" tanyanya sedikit menggoda.


"Aakh! Kasihan kelinci itu, Leon," ujar Amira lagi.


Leon hanya tertawa kecil.


"Aku lebih kasihan kepada seorang gadis yang dari tadi perutnya keroncongan. Sepertinya cacing di perutnya itu sedang demo karena tidak dikasih makan!" sindir Leon.


"Tapi, kasihan kelinci itu. Dia sangat lucu dan menggemaskan. Sekarang lihatlah! Dia sudah telanjang tanpa baju!"


Leon terbahak mendengar celotehan Amira.


"Kan lebih enak, kalau kelinci itu telanjang. Dagingnya akan cepat matang!"

__ADS_1


"Leoon!" teriak Amira seraya memukul bahu Leon.


"Aduh!" teriak Leon cukup kencang. Padahal dia sedang berpura-pura saja.


"Maaf! Apa kamu kesakitan?"


Amira segera mendekati Leon dan mengusap bahunya dengan penuh rasa bersalah.


"Apa aku seperti penjahat sehingga kamu tega memukulku?" tanya Leon sambil meringis.


"Tenanglah, Leon. Abang Wijaya tidak ada di sini jadi tidak akan ada yang menangkapmu!"


"Abang Wijaya? Kenapa harus dia yang menangkapku?"


Amira menjadi gagap begitu Leon menatapnya.


"Seharusnya aku tidak mengatakan nama itu. Apa karena aku mencemaskan keadaan Abang Wijaya, ya? Bagaimana pertempurannya dengan vampir hitam gembong narkoba? Apa keadaannya baik-baik saja?" pikir Amira.


Leon masih menatapnya tajam.


"Apa kamu memikirkan orang lain di saat ada di dekatku? Aku jadi cemburu, tahu!" celetuk Leon.


"Apa? Aku gak mikirin siapa-siapa, kok! Bener, sumpah!" sungut Amira.


Amira gelagapan seperti pencuri yang ketahuan. Leon hanya pura-pura marah. Dia juga tidak bisa merasakan keberadaan Wijaya. Sepertinya dia mengalami kejadian buruk. Tapi, Leon tidak mengatakan apapun kepada Amira karena hanya akan membuatnya semakin cemburu.


***


Hai gengs, makasih ya sudah mampir. Ikuti terus kisah Amira dan Leon, ya. Sepertinya ada yang cemburu nih! hihi .... ❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2