Pacarku Suami Temanku

Pacarku Suami Temanku
BAB~100


__ADS_3

Keputusan yang Andita ambil adalah langkah satu-satunya yang ia miliki, tiada kekuatan baginya untuk mempertahankan rumah tangga nya lagi. Bukan tidak mungkin, jika di maafkan suaminya akan terus mengulang kembali kesalahan yang sama. Ia bukan wanita yang kuat untuk bertahan dalam kesakitan perasaan. Andita tidak sekuat itu ! Gagal bukan berarti kalah, namun jadikan sebagai guru untuk kehidupan selanjutnya.


Sebagai manusia kita seringkali tertipu ketika di hadapkan dengan seseorang yang terlihat Bak Malaikat. Namun kita melupakan satu hal, tidak mempelajari secara dalam pribadi seseorang tersebut.


Bahkan seringkali kita terlena akan manisnya cinta dan rayu seseorang. kita hanya fokus pada apa yang kita rasakan "Nyaman ! Nyaman seringkali di jadikan alasan untuk menepis ganjalan yang tiba-tiba muncul di benak kita terhadap seseorang, mengingat dia baik bahkan terlihat sangat tulus.


Adakalanya sakit dulu baru kita menyadari, hancur dulu baru kita belajar, terhina dulu baru kita bangkit.


Dalam segala aspek kehidupan, tidak serta-merta kita bebas leluasa memvonis seseorang tanpa mengetahui latar belakangnya, tanpa mau mendengarkan alasan-alasan nya. Semuanya harus berjalan beriringan, agar mendapatkan keseimbangan. Begitulah sedikit gambaran kehidupan.


Seperti halnya Andita selama ini menyadari bahwa dirinya pernah menjadi korban pemerkosaan Yoga sebelum mereka menikah.Apa sebelumnya Andita pernah membuka tentang hal itu ? Tidak.


Tapi, setelah kedok Yoga muncul kepermukaan Andita baru mengakui di hadapan semua orang bahwa dirinya juga pernah di perkosa Yoga. .


Semula Andita juga pernah memvonis Bagas sebagai pengkhianat saat mengetahui kenyataan bahwa Bagas telah menikah, tanpa mau mendengar penjelasan Bagas terlebih dahulu. Andita pergi meninggalkan kisah cinta mereka, pergi menjauh hingga jatuh kepelukan seorang Dokter tampan Febry Lie Prayoga. Setelah masuk ke kandang singa berwajah malaikat, Andita baru mengerti siapa Yoga sebenarnya.


Umpan yang Yoga berikan sangat manis dan memabukkan, hingga menjerat cinta Andita.


...----------------...


Pagi ini hujan mengguyur kota Jakarta. Andita menatap deraian hujan dengan pandangan kosong dari jendela menghadap taman, hujan seakan turut bersedih dan menangis atas apa yang telah terjadi dalam hidup Andita. Andita menghela nafas berat dan menghembuskan nya perlahan saat mendengar suara ketukan di luar kamarnya.


Andita berbalik ke arah pintu dan membukanya.


"Ya bi." Ucap Andita saat melihat pelayan dirumahnya berdiri di depan kamarnya.


"Maaf mengganggu non. Tuan dan nyonya menunggu untuk sarapan." Ucap perempuan setengah baya itu membungkuk.


"Ya bi, terima kasih." Sahut Andita


"Permisi non." Andita mengangguk. Pelayan itu membungkuk dan berlalu dari hadapan Andita.


Andita bergabung di meja makan, tidak menyapa, tidak tersenyum juga tidak sedang berwajah cemberut. Datar saja tanpa ekspresi apapun, Andita tak menghiraukan pandangan mata sekeliling nya. Ia fokus pada makanan di hadapannya, dan mulai memakannya dengan santai.


Andita menatap Lauren dan Alga secara bergantian, lalu kembali melanjutkan makannya.


"Lauren, kak Robert, dan kak Bagas aku harap tinggal lah beberapa hari lagi di sini, sampai sidang perceraian ku selesai." Ucap Andita dingin, memecah keheningan yang terjadi sejak kedatangan nya di meja makan beberapa menit yang lalu.


Bagas menatap lekat wajah Andita, ia bahkan menghentikan kegiatan makannya. Tapi orang yang di perhatikan justru sebaliknya, tidak melihatnya sama sekali.


"Lauren aku membutuhkan mu. Kalau bisa kak Robert bantu Dita bertemu perawat itu Untuk penguat alasan gugatan ku di persidangan nanti." Tatap Andita memancarkan permohonan pada Lauren dan Robert.


Bagas mengeras kan rahangnya, ketika mendengar Andita meminta Robert membantu nya tampa mengikut sertakan dirinya. Apakah dirinya tidak berguna di sini ? Pikir Bagas.


"Nanti kakak sama Bagas bantu, soal perawat itu mah gampang." Sahut Robert sambul tersenyum simpul. ia sengaja menyebut nama Bagas. Melihat ekspresi wajah Bagas yang berubah, sebagai sahabat Robert sangat hafal soal itu. Cemburu ! Tentu saja.


"Kakak ? Kak Bagas ?" Tanya Bagas, mengulang kata-kata Andita tadi.


Andita menatap Bagas, dahinya sedikit mengeryit.


"Kenapa ? Apa ada yang salah dengan panggilan kakak ?". Andita bukan menjawab pertanyaan Bagas justru sebaliknya.


Bagas terdiam. Ada desir aneh menelusup relung hatinya saat Andita memanggilnya dengan sebutan 'Kakak', kalau boleh jujur Bagas tidak sama sekali sudi menjadikan Andita adik dalam hidupnya, bukan itu yang ia inginkan. Tentu saja, karena hingga detik ini perasaannya masih sama seperti dulu terhadap wanita itu. Hanya Andita dan tetap Andita yang bertahta di hatinya, hanya Andita seorang cintanya.


Sebesar itukah cinta Bagas untuk Andita ?


Bahkan dalam keadaan Andita telah menikah harapan Bagas tidak pernah pupus sekalipun, seringkali Bagas menepis bayang-bayang Andita, menepis untuk tidak memikirkan wanita itu, namun pada kenyataannya hasilnya bukan melupakan atau menemukan sosok wanita lain, tapi tetap Andita dan Andita lagi.


Apakah harapan Bagas akan menjadi nyata ?! Kita lihat saja.


"Ya! mas tidak suka kamu merubah panggilan mu untukku !." Ketus Bagas, lalu meninggalkan meja makan dengan di iringi tatapan aneh oleh Andita.


Andita melirik Brata dan Ayuningtyas yang diam saja sejak tadi.


"Teruskan makanmu, tidak usah di pikir soal perkataan Bagas tadi." Ujar Brata


"Apa yang salah dengan sebutan Kakak." Cicit Andita


"Mungkin Bagas belum terbiasa dengan panggilan kakak, biarkan saja." Brata kembali menimpali. Sedangkan Andita masih menatap kepergian Bagas.


Bagas kembali ke kamarnya dan berdiri di balkon, Bagas menyalakan rokoknya dan mulai menghisap nya perlahan. Kepulan asap perlahan ia hembuskan.


"Apakah sikapku barusan berlebihan." batinnya


"Aku tidak akan pernah benar-benar menjadi kakakmu, Andita !". Lirih Bagas

__ADS_1


"Kenapa ?!" Tiba-tiba Andita sudah berdiri di belakang Bagas.


Deg...deg... jantung Bagas berdetak kencang, saat mendengar suara Andita berada tepat di belakangnya.


"Sejak kapan kamu di sana ?". tanya Bagas


"Sejak kakak bicara barusan." jawab nya jujur.


Bagas menoleh dan menatap Andita sendu, sejak semalam ia menahan diri untuk tidak memeluk wanita itu. Pelukan untuk memberikan kekuatan bagi wanitanya itu, pelukan sebagai pelindung untuknya. Acuh di hadapan semua orang adalah cara Bagas menyimpan rasanya, adalah cara Bagas menyimpan cintanya. Bagas membuang puntung rokok nya, dan menghampiri Andita hingga hembusan hangat nafas Andita dapat ia rasakan. Setelah cukup lama terdiam dalam lautan manik mata Andita, Bagas berbalik menjauh dari Andita menghadap taman kembali. kedua tangannya ia tumpukan di atas pembatas balkon, tubuhnya sedikit membungkuk karena pembatas terlalu rendah untuk ukuran orang dewasa setinggi dirinya.


Bagas tidak ingin di anggap mengambil kesempatan dalam keadaan Andita saat ini dengan memeluk wanita itu, ia tidak mau berlaku Egois, meskipun hal demikian bisa ia lakukan. Bisa saja Bagas bebas memeluk Andita kapanpun yang dia mau, toh dirinya di gadang-gadang kan kakaknya Andita. Dan Andita juga tidak akan curiga akan hal itu, kakak memeluk adik bukan sesuatu yang tabu.


"Maaf. Mas tidak terbiasa dengan sebutan Kakak, terlalu asing Andita." Ucap Bagas dengan menekankan nama Andita


"Kalau begitu, mulai hari ini kakak harus terbiasa mendengar Dita memanggil mu kakak." Sahut Andita


"Tidak. Tidak sayang, tidak ada kakak di..." Bagas terdiam tanpa melanjutkan kata-katanya. Bagas mengusap wajah nya kasar, hampir saja Bagas keceplosan mengatakan hubungan mereka yang sebenarnya.


Andita menatap punggung laki-laki itu, lelaki yang pernah menjadi kekasih hatinya.


"Tidak ada kakak di...apa ?" Tuntut Andita.


Bagas berbalik menatap Andita yang sudah berdiri di sampingnya,lalu meraih tangan Andita dan menggenggam nya erat.


"Tidak ada panggilan kakak di antara kita, tidak akan pernah berubah. Tetap panggilan yang dulu, 'Mas. Jangan membuat mas seperti orang yang baru di kenal bagimu sayang, meskipun kita bukan pasangan tapi tolong jangan rubah panggilan mu itu, ya." Mohon Bagas


"Jangan ada yang berubah Andita, itulah harapan ku. Meskipun keadaan mu telah berubah, namun cintaku tidak pernah berubah." Batin Bagas.


"Baiklah.maafkan Dita soal itu, mas." Lirih Andita, ada rasa bersalah dalam dirinya saat menatap mata yang penuh permohonan itu.


Perlahan Andita menarik tangan nya dari genggaman tangan Bagas, ia tersenyum kikuk. "Dita ke bawah dulu mas." Andita pergi tanpa menoleh Bagas.


"Mas tetap Bagas yang mencintai mu, Andita!". Seru Bagas dalam hati, Bagas menatap kepergian sang bidadari hatinya. Tatapan penuh cinta, tatapan penuh harapan.


Saat Andita turun, Chang Lie dan Indira telah duduk bersama kedua orang tuanya. Andita berjalan menghampiri mereka, dan tetap mengangsurkan tangannya menyambut kedua mertuanya yang sebentar lagi akan menjadi MANTAN MERTUA.


Andita duduk di antara Brata dan Ayuningtyas, seakan mengharapkan perlindungan dan kekuatan dari kedua orang tuanya itu.


"Nak, papa dan mama sudah sepakat. Alga akan kami rawat sebagimana cucu kami sendiri, kami akan menerima nya di dalam keluarga besar Prayogo. Tapi kami minta tolong pertimbangkan keputusan mu untuk bercerai." Ucap Chang Lie langsung ke inti masalah.


"Gugatan sudah Dita layang kan, besok adalah sidang perdana. Dan maaf, Dita tidak akan mundur lagi. Soal Alga, sama sekali tidak ada kaitannya dengan gugatanku.!" Tegas Andita


"Bagaimana dengan perawat itu!, apa kalian menjamin dia tidak akan datang dan kembali menghancurkan rumah tangga ku ? jika kami kembali bersatu, dan aku yakin kalian tidak bisa menjaminnya. akan ada lagi perawat-perawat berikutnya, yang akan datang menghancurkan perasaan ku. jadi Mohon maaf, cukup sekali aku di sakiti. Cukup !, tidak akan terjadi kedua kali ataupun lebih. Jadi, keputusan ku tetap sama. Cerai !".


"Bertanggung jawab atas Alga,adalah kewajiban Yoga dan kalian. Akan tetapi kalian tidak bisa menanggung rasa sakit hatiku, hancurnya perasaan ku, karena pengkhianatan nya. Dan kalian tahu, semua itu terjadi di depan mataku !". Lanjut Andita membara penuh kebencian.


Chang Lie diam, Indira diam, begitupun dengan Brata dan Ayuningtyas. Semuanya bungkam.


...----------------...


Bagas dan Robert duduk di Sofa ruang TV, bersama Lauren dan Alga. Mereka juga hanya diam, mendengarkan keputusan Andita.


"Lu senang gak Andita cerai ? Tapi ya percuma aja, lu kan kakaknya." Kekeh Robert menggoda Bagas, menutupi rasa dendamnya yang juga tengah berkobar membara terhadap Yoga.


Untuk dendamnya pada Yoga, Robert sudah bertekad untuk tidak melibatkan siapapun.


"Lu ngomong apaan si." Bagas mendelik tajam pada Robert


"Hehehe...maaf bro." Robert tersenyum menggoda.


Alga sejak kejadian semalam banyak diam, tidak seperti biasanya cerewet dan banyak maunya. Tapi sekarang ia seperti pria dewasa, duduk diam seolah sedang berpikir.


Bagas menggeser posisi duduknya lalu membopong Al untuk duduk di pangkuan nya.


"Ini sang pangeran kenapa diam aja sih ? Apakah sedang sariawan ya, duh kasian sekali ya. Pangeran tampan harus bersedih karena sariawan rupanya." Goda Bagas, sambil mentoel-toel pipi Al yang sedikit cubby.


"Al tidak sakit uncle. Tapi..." Al menatap Lauren dan Robert sejenak.


"Tapi apa sayang ?" Tanya Bagas dan Lauren bersamaan, mereka penasaran.


"Apa benar uncle yang kemarin ngobatin Al, papanya Al. Terus kenapa dia di pukulin ? Uncle itu janji sama Al mau beliin Ice cream." Ujarnya lirih di dada Bagas.


Deg...deg...duar.... ketiga mahluk dewasa itu saling menatap. Robert menatap Bagas beberapa kali, lalu mengusap wajahnya kasar. Ia bingung caranya menjawab dan menjelaskan semuanya pada anak kecil itu.


"Hm...yakin mau Ice cream. Kalau mau, cium uncle Bagas dulu dong. Uncle juga bisa beliin Al Ice cream, sampe tukang Ice cream juga uncle bisa kasih sama Al." Ujar Bagas sambil tersenyum.

__ADS_1


Al mencium kedua pipi Bagas dengan tersenyum pula tentunya.


"Uncle beneran mau kasih Ice cream sama tukangnya ?." Alga meneliti wajah Bagas.


"Yakin dong. Ni mamang Ice cream nya, ada di samping kita." Bagas dan Al tertawa sambil melirik Robert.


"Sialan lu. Hitam-hitam gini gue pengusaha sukses , tapi jomblo." Tukas Robert lalu tertawa.....


"Hahaha...." Mereka tertawa menghiraukan kemelut yang sedang terjadi, lelucon mereka sebagai pengalihan pertanyaan Alga tadi juga. Karena mereka bingung bagaimana cara menjelaskan nya sama anak kecil itu.


Kalo di bilang Yoga itu benar papa nya, pasti Al akan merasa sedih melihat kondisi Yoga yang memprihatinkan semalam. Mau bilang alasan kenapa Yoga sampai babak belur pada Alga pasti akan bikin takut anak itu atau bahkan membenci Yoga, setelah tahu Yoga ingin membunuh ibunya. Sebelum mendapatkan jawaban yang tepat kedua lelaki itu, bercanda ria aja dulu.


...----------------...


Sementara itu di ruang tamu....


"Apa tidak ada sedikitpun kesempatan maaf untuk Yoga." Tanya Indira dingin, yang sudah pasti pertanyaan tersebut di tujukan pada Andita.


"Apa karena kamu ingin kembali pada Bagas, Andita. sehingga kamu menutup rapat pintu maaf untuk Yoga."


"Apa maksud mama ?". Tanya Andita


"Halaaaa, wanita mana yang tidak tergila-gila sama Bagas. Seluruh dunia tau pamornya, pencapaiannya. Wanita mana yang menolak, termasuk kamu. Apa lagi sebelum nya memang pacaran, atau jangan-jangan kalian memang sudah menjalin hubungan gelap di belakang Yoga selama ini. makanya kamu ingin bercerai, dengan alasan Yoga melakukan perbuatan tercela itu." Sinis Indira


"Cukup ! Cukup ma ! Jangan memfitnah ku yang tidak-tidak. perceraian ku murni atas dasar kelakuan Yoga sendiri, bukan karena siapapun.!" Teriak Andita, ia menangis saat di tuduh melakukan hubungan gelap di belakang Yoga selama ini.


Ayu menatap geram Indira, ia memeluk Andita. Selama ini Indira merupakan sosok perempuan yang anggun, santun dan berkelas. Lalu kenapa hari ini kelakuannya berubah 180 derajat.


"Kalian sudah mendengar keputusan Andita, jadi sebaiknya kalian segera pergi dari sini." Usir Brata


Bagas dan Robert juga Alen dan Alga hadir di antara mereka, Bagas melihat kedua orang tua Yoga jengah. Anak dan orang tua sama saja, manis kalau lagi keadaan baik aja. Kalau sudah kebentur taringnya keluar semua.


Chang Lie hanya diam tidak mampu lagi berkata-kata, atau berusaha mencegah Indira.


"Waw...sang dewa telah datang. Kamu masih mengharapkan dia kan, Andita." Tunjuk Indira menuding Bagas "Makanya kamu ngotot mau bercerai, dulu aja kamu mau di bawah pergi sama Yoga, Sekarang melihat kesuksesan nya dalam sekejap mata kamu berpaling. Dasar wanita murahan !!". Ketus Indira


"Dia kakak ku !". Histeris Andita "Tidak akan aku melakuan hal yang mama tuduhkan itu.!" Raung Andita


"Kakak ! Hahaha, kamu Bodoh Andita ! Kamu sudah di permainkan oleh ibu mu sendiri ! Orang-orang di sekitar mu telah mempermainkan mu". Hasut Indira, walau sebenarnya ada kebenaran dalam kata-kata Indira.


Ia merasa puas saat melihat Andita seakan termakan oleh ucapannya. Setidaknya, ucapannya barusan mampu merusak hubungan keluarga itu. Lalu Andita tiada tempat bersandar lagi dan kembali menerima Yoga.


"Jaga bicara anda nyonya Chang, sebelum kalian menyesal !". Bentak Bagas menggelar, meruntuhkan mental Indira.


Andita menatap Ayuningtyas, matanya menyorot kan berbagai tanya. Sedangkan Ayuningtyas hanya menggeleng, ia turut menangis. Kasihan, bersalah menjadi satu di dalam diri Ayuningtyas.


"Pergilah ! sebelum kalian menyesal seumur hidup." Kali ini Robert ikut mengaum bak hariamau lapar.


Chang Lie menghampiri Alga mengelus lembut rambut bocah laki-laki itu.


" Ini Opamu yang Asli sayang." Bisiknya, namun dapat di dengar oleh Robert


"Jangan berusaha meracuni otaknya. kami tidak menanamkan benih-benih pikiran licik seorang penjahat dan bibit manusia bermuka dua di dalam otak nya. Yang kami tanamkan semuanya murni ketulusan, bukan kepura-puraan di dalam ketulusan." Sinis Robert menyindir Chang Lie


Deg....


Chang Lie menatap Robert dengan wajah merah padam, ia mengepalkan kedua tangannya.


"Aku akan membuat perhitungan denganmu !". Desis Chang Lie


"Silakan ! Silakan gali kuburmu dengan tanganmu sendiri. Tuan HangLie, mafia penjualan organ tubuh manusia secara elegal." Tukas Robert santai, namun mampu melemaskan seluruh persendian Chang Lie.


"Semoga kau berhasil. tuan Hanglie yang terhormat di bidang kedokteran mu itu." Robert menepuk-nepuk lembut pundak Chang Lie, lalu mengulurkan sebelah tangannya ke arah pintu. mempersilakan untuk segera keluar.


Chang Lie bergegas meninggalkan kediaman Brata, sedangkan Indira sudah lebih dulu keluar dan menunggu di dalam mobil.


Hanglie nama keren Chang Lie di dunia gelap.


...----------------...


TBC


jangan lupa vote dan like ya 🙂🖤


untuk kalimat yang tidak tepat atau Typo mohon maaf 🙏

__ADS_1


__ADS_2