Pacarku Suami Temanku

Pacarku Suami Temanku
BAB~41 *Selamat membaca*


__ADS_3

"Bagaimana ?" Tanya Bagas pada Erwin saat ia sudah duduk di kursi Club sahabat nya itu.


Erwin menuangkan Wine kedalam gelas Bagas juga gelasnya dan menenggak minumannya secara perlahan, sedangkan Bagas menatap nya tajam menanti jawaban atas pertanyaan nya tadi.


"Sejauh ini belum ada perkembangan.tante Ayu tidak melakukan hal-hal yang mencurigakan, maksudku yang berkaitan dengan Andita" jawab Erwin.


Bagas terlihat mendesah pasrah,ia meraih gelasnya dan menghabiskan isinya dalam sekali tegukan.


Hampir satu tahun Andita menghilang tanpa jejak, sangat mustahil jika orang tuanya tidak mengetahui keberadaannya.


Dokter itupun masih bekerja di Desa itu,lalu Andita kemana ? Sama siapa ? Batin Bagas.


"Gue rasa tante Ayu memang belum tau Andita dimana,kalau tau Gue yakin dia pasti nyamperin anaknya.secara,udah hampir satu tahun Bro." Ujar Erwin lagi.


Bagas hanya diam membisu dan menggaruk-garuk alisnya dengan jari telunjuknya.


"Lo dengar gue gak si !" Seru Erwin sewot, karena tak satupun Bagas merespon ucapannya.


"Iya dengar." jawab Bagas mendelik ke arah Erwin.


Bagas berdiri meninggalkan mejanya "Hei mau kemana lo ?" Tanya Erwin.


"Mau nyari cewek,bosan gue." Sahut Bagas cuek.


Erwin mengikuti langkah Bagas ke arah bartender dan duduk di sana, mata Bagas menatap Night Girl yang tengah meliuk-liukan tubuh mereka menikmati dentuman musik yang memekakkan telinga.


"Sejak kapan lo suka liat cewek menari ?" Tanya Erwin sambil tertawa mengejek sahabatnya itu.


Bagas hanya melengos dan meminta gelasnya di isi kembali.


"Sejak malam ini !!" Seru Bagas.


Erwin tertawa terbahak-bahak, mendengar ucapan Bagas yang terdengar seperti lelucon.


Bagas menenggak perlahan isi gelasnya tanpa memperdulikan tawa sahabat nya itu, matanya menangkap sosok perempuan Cantik yang berjalan kearahnya dan perempuan itu duduk tidak jauh dari kursinya.


Mata Bagas tak melepaskan tatapannya pada sosok cantik bak model itu, Style nya sungguh berkelas bahkan wangi perempuan itu menyeruak menusuk hidungnya.


Dewasa dan berkelas bodynya aduhai meliuk indah bagai gitar spanyol, kira-kira seperti itulah kata yang tepat untuk menggambar kan sosok perempuan cantik itu.


Erwin yang memperhatikan sahabat nya sedari tadi mengikuti arah pandangannya,


Erwin tersenyum dan kembali menatap Bagas.


"Dia Clara,sepupu Gue." Ucap Erwin


Erwin bangkit dan menghampiri Clara,lalu dengan santainya ia merangkul perempuan itu.


"Minumnya jangan kebanyakan,ntar pingsan lo disini." Ujar Erwin pada perempuan yang katanya Sepupunya itu.


"Ada lo kalo gue pingsan" sahut perempuan itu.


Sedangkan Bagas tidak berusaha mendekat untuk sekedar berkenalan pada perempuan yang di pandangi nya sejak tadi,ia kembali menenggak minuman nya hingga tandas.


Hatiku belum siap, meskipun hanya sekedar bermain-main pada perempuan.salah-salah kena jebak lagi,batin Bagas.


Ia mengabaikan kehadiran perempuan yang sempat di kagumi nya tadi, Bagas berdiri dari duduknya dan meninggalkan tempat tersebut tanpa pamit terlebih dulu pada Erwin yang sedang asik tertawa bersama Sepupunya itu.


Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang kearah kediaman orang tuanya, sejujurnya ia masih penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya di antara Papa dan Mama nya.


Aku ingin tau apa yang sudah Mama lakukan sama Papa dan perempuan masa lalunya,kenapa papa sampai sekarang tidak bisa mencintai Mama ? Bagaimana pernikahan mereka terjadi ? Batinnya.


lalu Bagas menginjak dalam gas mobilnya,agar cepat tiba dirumah orang tuanya.


Rasa penasaran menggelayuti benaknya bagaimana pun juga ia tidak terima jika perempuan yang sudah melahirkan nya tersiksa batin, Karena tidak di cintai suami hingga kini.

__ADS_1


...----------------...


"Bagaimana ?" Tanya Bagas pada Erwin saat ia sudah duduk di kursi Club sahabat nya itu.


Erwin menuangkan Wine kedalam gelas Bagas juga gelasnya dan menenggak minumannya secara perlahan, sedangkan Bagas menatap nya tajam menanti jawaban atas pertanyaan nya tadi.


"Sejauh ini belum ada perkembangan.tante Ayu tidak melakukan hal-hal yang mencurigakan, maksudku yang berkaitan dengan Andita" jawab Erwin.


Bagas terlihat mendesah pasrah,ia meraih gelasnya dan menghabiskan isinya dalam sekali tegukan.


Hampir satu tahun Andita menghilang tanpa jejak, sangat mustahil jika orang tuanya tidak mengetahui keberadaannya.


Dan Dokter itupun masih bekerja di Desa itu,lalu Andita kemana ? Sama siapa ? Batin Bagas.


"Gue rasa tante Ayu memang belum tau Andita dimana,kalau tau Gue yakin dia pasti nyamperin anaknya.secara,udah hampir satu tahun Bro." Ujar Erwin lagi.


Bagas hanya diam membisu, jarinya hanya menggaruk-garuk alisnya.


"Lo dengar gue gak si !" Seru Erwin sewot, karena tak satupun Bagas merespon ucapannya.


"Iya dengar." jawab Bagas mendelik ke arah Erwin.


Bagas berdiri meninggalkan mejanya "Hei mau kemana lo ?" Tanya Erwin.


"Mau nyari cewek,bosan gue." Sahut Bagas cuek.


Erwin mengikuti langkah Bagas ke arah bartender dan duduk di sana, mata Bagas menatap Night Girl yang tengah meliuk-liukan tubuh mereka menikmati dentuman musik yang memekakkan telinga.


"Sejak kapan lo suka liat cewek menari ?" Tanya Erwin sambil tertawa mengejek sahabatnya itu.


Bagas hanya melengos dan meminta gelasnya di isi kembali.


"Sejak malam ini !!" Seru Bagas.


Mata Bagas tak melepaskan tatapannya pada sosok cantik bak model itu, Style nya sungguh berkelas bahkan wangi perempuan itu menyeruak menusuk hidungnya.


Dewasa dan berkelas, bodynya aduhai meliuk indah bagai gitar spanyol.


Erwin yang memperhatikan sahabat nya sedari tadi mengikuti arah pandangannya,


Erwin tersenyum dan kembali menatap Bagas.


"Dia Clara,sepupu Gue." Ucap Erwin


Erwin bangkit dan menghampiri Clara,lalu dengan santainya ia merangkul perempuan itu.


"Minumnya jangan kebanyakan,ntar pingsan lo disini." Ujar Erwin pada perempuan yang katanya Sepupunya itu.


"Ada lo kalo gue pingsan" sahut perempuan itu.


Sedangkan Bagas tidak berusaha mendekat untuk sekedar berkenalan pada perempuan yang di pandangi nya sejak tadi,ia kembali menenggak minuman nya hingga tandas.


Hatiku belum siap, meskipun hanya sekedar bermain-main pada perempuan.salah-salah kena jebak lagi,batin Bagas.


Ia mengabaikan kehadiran perempuan yang sempat di kagumi nya tadi, Bagas berdiri dari duduknya dan meninggalkan tempat tersebut tanpa pamit terlebih dulu pada Erwin yang sedang asik tertawa bersama Sepupunya itu.


Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang kearah kediaman orang tuanya, sejujurnya ia masih penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya di antara Papa dan Mama nya.


Aku ingin tau apa yang sudah Mama lakukan sama Papa dan perempuan masa lalunya,kenapa papa sampai sekarang tidak bisa mencintai Mama ? Bagaimana pernikahan mereka terjadi ? Batinnya.lalu Bagas menginjak dalam gas mobilnya,agar cepat tiba dirumah orang tuanya.


Rasa penasaran menggelayuti benaknya bagaimana pun juga ia tidak terima jika perempuan yang sudah melahirkan nya tersiksa batin, Karena tidak di cintai suami hingga kini.


...----------------...


Prayoga mansion in the morning...

__ADS_1


Febry Prayoga sudah Resmi mengundurkan diri sebagai Dokter Puskesmas di Desa kabupaten K, hampir satu tahun ia bermain licik agar Bagas tidak bisa menemukan keberadaan Andita melalui gerakan beserta data-data pribadinya.


Licik yang ia mainkan bukan untuk kepentingan pribadinya saja,tapi atas permintaan Andita sendiri. Toh bukan hanya Bagas yang tidak tau keberadaan Andita,bahkan Ibunya saja sampai hari ini tidak tau di mana Andita berada.


"Setelah ini mas akan kerja dimana ?" Tanya Andita.


"Mas bisa kerja dimana saja." Jawab Yoga seraya menyeruput kopi hitamnya.


"Maksudnya ?" Tanya Andita.


"Tak perlu di bahas,soal itu kita bahas nanti." Sahut Yoga lembut .


"Persiapkan saja hatimu, weekend kita ketemu Papa dan Mama dulu.soal pekerjaan mas kamu gak usah khawatir, sekalipun mas bukan Dokter lagi takkan mas biarkan perutmu kelaparan." Ucap Yoga seraya mengelus rambut Andita.


Andita mengangguk dan tersenyum lembut menatap wajah kekasihnya itu,lalu ia berdiri memandang jauh lautan yang membentang luas disana.


Tangannya bertengger di atas pagar balkon,matanya terpejam menikmati hembusan lembut angin laut pagi hari.


"Sayang,nanti kamu mau bulan madu kemana ?" Bisik Yoga seraya memeluk Andita.


"Berdoa saja semoga rencana pernikahan kita berjalan sesuai dengan yang kita inginkan,setelah itu baru kita pikirkan soal bulan madu." Ucap Andita.


Jujur saja Andita merasa khawatir rencana pernikahan mereka banyak halangan,mengingat masalahnya di belakang belum terselesaikan.


"Mas, bagaimana kalau Bagas tidak menerima keputusan ku nanti ?" Tanya Andita tiba-tiba mencemaskan hal itu.


Deg...dada Yoga bergetar hebat mendengar pertanyaan Andita.


"Kembali pada kekuatan cintamu terhadap mas" jawab Yoga lirih.


Yoga mengurai pelukannya,lalu ikut menatap lautan yang membentang luas.tak dapat ia pungkiri ada rasa takut dan khawatir dalam benaknya, takut kehilangan perempuan yang sudah mengisi hati dan hari-hari nya selama hampir satu tahun ini.


"Mas?" Panggil Andita sembari menyelusup masuk kedalam pelukan Yoga.


"Kenapa sayang ?" Ujar Yoga sambil mengecup puncak kepala Andita.


Andita mendongak menatap wajah sang kekasih,ada sedih dan takut terlihat di sorot matanya.


"Sehebat apapun rintangan nya,aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan mu mas." Jawab Andita kemudian.


Yoga memeluk erat-erat tubuh Andita, seakan begitu takut gadis itu terlepas darinya.


"Sayang...,mas sangat mencintaimu.tapi mas juga tidak akan memaksa,jika nanti pilihan terakhirmu bukan mas.posisi mas tak lebih dari sekedar orang ketiga,dan itu fakta." Ucap Yoga serak dengan Menangkup kedua tangannya di pipi Andita.


Andita meraih kedua tangan Prayoga lalu mengecup nya lembut secara bergantian,air matanya meleleh begitu saja.hatinya terasa nyeri mendengar kata-kata Yoga, lalu ia tersenyum pahit memandangi wajah sedih Malaikat pelindung nya itu.


Prayoga menghapus air mata Andita,lalu mengecup kening gadis itu lama sekali. kenapa hatinya lemah sekali pagi ini,ia pun tak kuasa menahan tangis akhirnya seorang Prayoga ikut menangis sedih.


Andita menatap wajah Pria tampan di hadapannya itu. "Percayalah ! Apapun yang terjadi kita akan bersama, dan selalu bersama mas." Andita melingkari tubuh lelaki itu dengan kedua tangannya.


"Andita Rosmanilla Sakapraja,akan menjadi ibu dari anak-anakmu nanti." Ujar Andita memberikan semangat pada Pria gagah namun rapuh itu.


Prayoga mengeratkan pelukannya,setela itu kembali menatap wajah Andita dengan


tersenyum lembut. "Selamat pagi calon ibu anak-anak ku" canda Yoga membuang kesedihan di hatinya.


Wajah Andita bersemu malu-malu, "Selamat pagi cintaku,berdiri kuatlah untukku dan untuk cinta kita." Sahut Andita tulus dan Sungguh-sungguh.


"Terima kasih sayang,jika kamu percaya sama mas untuk selalu menjagamu." Ucap Yoga sambil menata rambut-rambut nakal di wajah Andita.


Pagi yang sempat mendung tertutup awan kelabu kini terkikis oleh sinar sang Surya, langit biru tersenyum menyapa bumi seraya melukis syair cinta penuh harapan.


...----------------...


"To Be Continued"

__ADS_1


__ADS_2