
Brata tersenyum melihat kedatangan Bagas di ruang rawat Andita,dan dirinya sadar betul bahwa senyumnya itu hanya untuk menutupi rasa perih di hatinya. Brata ikut merasakan gimana gejolak perasaan putranya saat ini, dari sorot matanya terpancar jelas kerinduan dan cinta untuk perempuan yang tengah terbaring di tengah ruangan VVIP tersebut.
“Pa,ma...bagaimana keadannya ?” tanya Bagas seraya menghenyakkan bokongnya di sofa yang di duduki kedua orang tuanya.
“Alhamdulillah semuanya baik-baik aja nak, terima kasih semua berkat kamu” sahut Ayu.
“Ma jangan lupakan satu hal, bahwa Andita adik Bagas.sudah seharusnya sebagai kakak Bagas melakukan apapun untuk kesembuhannya.bahkan jika bisa di gantikan, Bagas rela menggantikan posisinya saat ini.”sahut Bagas yang tanpa sengaja menyindir Ayuningtyas.
Ayuningtyas meremas jemarinya yang saling bertautan karena merasa tertohok atas ucapan Bagas barusan. “Maafkan aku nak” batin Ayu.
Yoga melirik kehadiran Bagas dari ekor matanya,lelaki itu semakin mengeratkan menggegam tangannya di jemari Andita. Yoga merasa kalah satu langkah,ah...tidak tidak tapi lebih tepatnya beberapa langkah di depannya.
Sebagai keluarga Dokter dan bahkan dirinya sendiri adalah seorang Dokter tapi tidak mampu melakukan apa yang seharusnya suami lakukan untuk istrinya,di saat Andita nyaris meregang nyawa. Yoga merasa di remehkan oleh Bagas, meskipun kenyataannya Bagas tidak sedang memanfaatkan kondisi Andita untuk merebut hati perempuan itu saat ini.
Yoga semakin geram,orang-orang yang sempat ia temui pun tak mampu membantunya, Yoga mengepalkan tangannya menahan emosinya karena merasa terkalahlan oleh rivalnya.
Bagas melirik Ayuningtyas “Ma...apa Bagas bisa lihat keadaan Andita ?” izin Bagas.
Izin melalui Ayu rasanya lebih tepat saat ini, ketimbang Bagas izin langsung sama Yoga yang tampak membeku di samping ranjang Andita.
Ayuningtyas mengangguk dan berdiri menghampiri Yoga,dan mengelus lembut pundak menantunya itu. Terlihat Ayu menyampaikan sesuatu pada Yoga,terbukti lelaki itu seketika berdiri dari tempat duduknya semula dan bersamaan dengan itu juga ia melayangkan tatapan membunuh ke arah Bagas.
Bagas berdiri menghampiri Andita dan menghiraukan tatapan tajam sang rivalnya,dan menggantikan posisi duduk Yoga sebelumnya. Di tatapnya lekat-lekat wajah pucat tanpa ekspresi di hadapannya saat ini,di raihnya jemari lentik Andita yg terbebas dari berbagai peralatan rumah sakit yang melekat di tubuhnya.
Bagas melupakan status di antara mereka, melupakan bahwa Andita sudah menjadi milik orang lain di kecupnya jari-jari Andita yang berada dalam genggaman tangannya.
Matanya berembun menyaksikan kesakitan yang menderah wanita yang masih setia menghuni hatinya itu. “Maafin mas sayang, terlambat mendapatkan darah untukmu,jika saja mas cepat... “Lepaskan tangannya !! kamu tidak berhak melakukan hal itu kepada istriku, dia istriku !!!!. geram Yoga seraya melepas paksa genggaman tangan Bagas di tangan Andita.
Bagas tersentak dan segera melepaskan genggaman tangannya. Namun genggaman tangannya justru semakin erat, Bagas kaget dan berbalik menatap Andita yang sepertinya menyadari kehadirannya.
__ADS_1
“Brengsek...!! bisa-bisanya kau manfaatkan kondisinya yang belum pulih dengan menyentuhnya !! Yoga melayangkan bogemnya ke wajah Bagas, Bagas yang mendapat serangan secara tiba-tiba tak dapat menghindar.
Bagas mengusap wajah nya yang terasa nyeri, dan Bagas yakin bagian dalam mulutnya terluka akibat serangan Yoga.
“Lepaskan tanganmu dari tangan istriku !! sentak Yoga, tapi seketika itu tubuhnya menegang kala menyadari Andita lah yang menggenggam erat tangan Bagas.
Bagas hanya tersenyum miring, melupakan rasa sakit di wajah nya. “Kau lihat adik ipar,dalam keadaan belum sadarpun dia tau siapa yang harus dia genggam. Dan sepertinya kau melupakan satu hal adik ipar, dia dan aku bukanlah.... “cukup Bagas !! teriak Brata menyela ucapan Bagas yang hampir saja melontarkan kenyataan hubungan darah antara dirinya dan Andita.
Sedangkan Ayu hanya mampu menangis dalam penyesalan, Ayu sadar betul betapa kuat cinta di antara mereka. Di saat belum sadar pun putrinya bisa menyalurkan ikatan hati mereka. Ayu bingung bagaimana menghadapi Bagas, mengenai kebohongannya yang sudah di ketahui nya.
“Kenapa pa ? itulah kenyataannya. Mama megetahui hal ini dari awal sebelum kalian menikah, tapi mama sengaja menutupinya dari aku dan papa. Apa mama sebegitu bencinya denganku ? karena terkait masalalu kalian ?? masalalu kalian bukan karena aku ma, bahkan akupun adalah korbannya(Anjani), perempuan yang sudah melahirkanku tidak pernah menginginkanku ma !! dan mama mendukung Andita ku menikah dengan bajingan ini !!! mata Bagas memerah dan menatap nyalang disana,ia berbalik menatap Andita, ketika menyadari Andita masih menggengam sebelah tangannya.
"Untung aku tidak langsung keceplosan mengatakan bahwa kami bukan adik kakak yang sebenarnya, kalau tidak bisa-bisa Andita mengalami shock.' batin Bagas
Dilihatnya wajah pucat itu mengalirkan air mata,hati Bagas terasa sakit melihat buliran bening itu. “Sayang...lepaskan tanganmu.
jangan menangis,mas tau kamu mendengar semua ini.maafin mas sayang,apapun hubungan kita mas tetap menyayangimu. Percayalah cinta dan hati mas masih untukmu,dan entah sampai kapan perasaan ini akan hilang atau justru tidak akan pernah hilang. Mas harus pergi, semoga kamu cepat pulih.” Bisik Bagas lembut di telinga Andita ,ibu jarinya terulur menghapus bulir air mata di pipi pucat Andita.
Perlahan Andita melepaskan genggaman tangannya, seakan-akan benar mendengar dan melihat apa yang terjadi.
Bagas berdiri dan berlalu dari sana tanpa bicara apapun lagi.
"Bagas...maafin mama nak." Lirih Ayuningtyas menangis di pelukan Brata, sementara Yoga segera menghampiri Andita.
“Sayang,ini suamimu.kenapa kamu tidak merespon sentuhan tangan suamimu, mas suami mu.ayo sayang,balas genggam tangan mas.ayo Andita, balas genggam tangan mas,bukan tangan si brengsek itu” Ujar Yoga rendah namun penuh penekanan.
Yoga berharap dengan tidak sabar, menunggu respon dari istrinya. "Sayang, ayolah genggam tangan mas." Paksa Yoga
Hingga beberapa menit kemudian tak ada respon sama sekali dari tubuh Andita, Yoga semakin geram dan tanpa sadar meremas kasar tangan istrinya.
__ADS_1
Tiba-tiba.... tit...tit...tit...tiiiiiit suara monitor menampilkan detak jantung Andita tidak stabil. Yoga panik,segera ia menekan tombol Emergency.
“Sayang...sayang,tenanglah.” Panik Yoga seraya bangkit dan memberikan pertolongan pada istrinya itu.
Ayuningtias ikut panik menyadari kondisi putrinya tidak baik-baik saja.
“Dita,tenangkan dirimu nak. Mama disini sayang, ya Allah ada apa dengan anakku.” Tangis Ayu kembali pecah memenuhi ruangan rawat Andita.
Dokter yang menangani Andita berlari memasuki ruangan, mendapati kondisi Andita seperti ikan tanpa air. Mereka menyiapkan alat pacu jantung, di bantu Yoga dan beberapa perawat lainnya mengelilingi pasien.
Dokter mulai memacu jantung Andita.
Dan akhirnya kondisi Andita kembali stabil, Dokter spesialis yang merawat Andita menatap Yoga dan Brata.
Dokter itu berjalan menjauh dari Andita,di ikuti Yoga juga Brata.
“ Pasien baru menjalani operasi,keadaannya blm stabil. Sebagai keluarga, kalian jangan membuatnya tertekan dan membuat keadaannya memburuk. Pak Yoga,anda seorang Dokter seharusnya bapak tau,apa yang boleh dan tidak boleh terjadi saat ini. Kondisi seperti itu akan terulang lagi,jika kalian tidak bisa menjaga emosi kalian. Apa kalian mau keadaan pasien semakin memburuk karena ulah kalian ? jika tidak menginginkan hal itu terjadi, tolong jangan membuat pasien tertekan. Dia hanya belum siuman,bukan koma. Jadi tolong jaga sikap kalian, saya permisi”. Ucap sang dokter lalu meninggalkan yoga yang terpaku karena kesalahannya yang tidak bisa menahan emosinya tadi.
“Semua ini karena Bagas”. Geram Yoga
Brata menatap tajam Yoga. “Kalian sama-sama salah, tidak ada yang bisa menahan diri.” Dengus Brata,lalu berjalan menghampiri Ayuningtyas yang terduduk menangis di samping Andita.
"Sudah jangan menangis lagi, jangan buat Andita tertekan.kata Dokter dia tidak koma, itu artinya dia tau apapun yang terjadi di sini." Terang Brata pada istrinya.
"Mas, aku mau bicara sama Bagas. Iya nanti kita bicara dirumah, setelah Chang lie dan Indira datang. Mas tidak yakin meninggalkan Andita disini bersamanya, meskipun dia suaminya." Bisik Brata pada Ayuningtias.
Ayu mengangguk sambil menghapus air matanya yang menganak sungai.
...----------------...
__ADS_1
To Be Continued
jangan lupa dukung terus karya Mentari Impian.