
Saat malam di kediaman Brata...
Bagas dan Brata duduk di taman belakang rumahnya, bagai dua sahabat yang sudah lama tak bersua.memandang taburan bintang dan rembulan yang menghiasi malam,Langit tampak begitu indah namun tak seindah hati mereka berdua.
Hati dan pikirannya sungguh kacau,siapa yang harus ia salahkan dalam masalah kedua orang tuanya.
Anjani sudah jelas sekali bersalah,tapi jika membela Brata bagaimana perasaan Anjani.
Bagas sungguh di rudung dilema, hanya desah nafasnya yang terdengar sementara kata-katanya tak satupun dapat ia ucapkan setelah mendengar kisah Brata.
"Tidak perlu kamu pikirkan,biar papa yang menentukan semuanya." Ujar Brata akhirnya setelah mereka sama-sama terdiam.
Bagas menengok ke samping dimana Brata duduk,ia menatap iba pada papanya.ia benar-benar tak menyangka 28tahun lebih,pria yang terlihat kuat dan tegar itu ternyata memendam luka dan tersiksa batin.
"Maksud papa ?" Tanya Bagas.
Brata menghela nafas panjang berkali-kali. "Papa akan pergi mengurus apa yang seharusnya menjadi hak dan tanggung jawab papa.sesuai amanah dari Oma kamu,sebagian hartanya di serahkan ke pihak yang lebih membutuhkan."
"Kamu putra papa, lakukanlah yang terbaik untuk semua yang telah kami serahkan.kelolalah dengan baik perusahaan mu,dan jaga Mama kamu." Ujar Brata.
"Apa itu artinya Papa akan meninggalkan Bagas ?" Tanya Bagas pada Brata.
Brata menatap wajah putranya itu,lalu tersenyum.
"Kamu sudah dewasa dan mapan saat ini Nak,tak ada yang perlu papa khawatir kan lagi.
Sayap mu telah kuat,kau bisa terbang bebas kemanapun kau mau.
Hiduplah di atas prinsip mu sendiri,bukan karena prinsip orang lain.
Jika suatu hari kamu membutuhkan papa, datanglah.
"Karena kamu papa bertahan,dan sekarang anak papa sudah hebat.maafkan papa, jika ada hal yang tak kamu inginkan terjadi di antara papa dan mama." Ujar Brata seraya menepuk lembut pundak putranya itu.
Bagas mengangguk,ia juga tak bisa mencegah keinginan Brata. Andai Anjani bukan perempuan yang sudah melahirkan nya ke dunia ini,ia tentu tidak akan segan-segan menghabisi nyawa nya dengan kedua tangannya sendiri.
"Apa papa akan mencari perempuan itu ?" Tanya Bagas.
"Ya,setelah urusan papa selesai. Papa hanya ingin meminta maaf atas kesalahan di masa lalu." Ujar Brata.
Bagas memeluk Brata "Aku akan merindukan mu pa." Ucapnya.
"Datang lah pada papa,saat kau merindukan SuperHero mu ini." Tukas Brata sambil tertawa mengingat kan kata-kata masa kecil Bagas.
"Hahaha...kau masih mengingat nya." Tawa Bagas.
Brata mengangguk,dan mereka kembali berpelukan. "Pergilah, Bagas Ikhlas.lakukanlah yang terbaik menurut papa." Ucap Bagas lagi.
__ADS_1
Itulah percakapan antara Bagas dan Brata di malam sebelum kepergiannya, pergi mungkin tidak akan pernah kembali lagi pada Anjani.
Bertahun sudah ia lalui hidup dalam penyesalan,hidup dalam tekanan dan hidup di bawah kekuasaan Anjani.
Brata sudah muak,kini saatnya ia melepaskan semua beban yang selama ini bergelayut di hidupnya.
...----------------...
"Hati-hati pa,jaga dirimu.kalau ada apa-apa telpon, jangan sembunyi dari Bagas." Ujar Bagas saat mengantar Brata ke bandara.
"Papa tidak akan bersembunyi,dan tidak akan pernah terjadi." Sahut Brata
Mereka kembali berpelukan sebelum Brata memasuki pintu keberangkatan,ada sedih di sorot mata Brata kala menatap wajah putranya itu.
"Udah sana masuk,kita ini laki-laki Bro." Ucap Bagas pada Brata.
"Baiklah,papa masuk Nak." Setelah Bagas menyalami nya, Brata meninggalkan Bagas yang masih berdiri menatap nya.
Bagas pun kembali ke mobilnya dan meninggalkan area bandara, jujur saja hatinya sedih sekali jika terjadi perceraian di antara kedua orang tuanya nanti.
Tapi setidaknya, Brata melepaskan Anjani ketika Bagas sudah mampu berdiri sendiri dan sudah memiliki segalanya.
Bagas kembali ke kantor nya karena Erwin sudah menunggu nya sejak tadi, harapan nya kedatangan Erwin membawa informasi mengenai Andita. Kakinya menginjak pedal gas semakin dalam, rasanya ia tak sabar ingin segera tiba di kantornya.
...----------------...
Dengan langkah lebar Bagas masuk tanpa melihat kiri dan kanan lagi, dengan terburu-buru ia menekan nomor lantai tujuannya.
Bagas membuka ruangannya dengan wajah berbinar penuh harapan, tapi tiba-tiba binar di wajahnya meredup. Bagas menatap Erwin dengan dahi mengeryit tak mengerti, dengan langkah lesu ia duduk di hadapan sahabat nya itu.
"Ada apa lo datang tiba-tiba ?" Tanya Bagas pada Erwin.
"Maafin Gue Bro,tapi ini sepupu Gue maksa banget ngajakin ketemu lo." Jawab Erwin jujur.
"Ada urusan apa sepupu lo sama Gue ?" Tanya Bagas bingung.
"Katanya mau ngajak lo makan siang bareng,waktu di Club kenapa lo ngilang gitu aja ?" Tanya Erwin.
Bagas meneliti wajah sepupunya Erwin, memang tak bisa ia pungkiri cantik bahkan sangat cantik kalau di lihat lebih dekat.
"Emang lo kenal gue ?" Tanya Bagas ketus sama sepupu Erwin.
Dengan tersenyum perempuan itu bangkit dan tanpa canggung ia duduk memepet pada Bagas. " Kalau begitu kita kenalan dulu" ujar perempuan itu seraya mengulurkan tangannya.
Bagas mendelik ke arah Erwin, dengan terpaksa ia menerima uluran tangan perempuan itu.
"Clara" ucap perempuan disampingnya
__ADS_1
"Hm..." Jawab Bagas tanpa menyebutkan namanya.
"Bagaimana apa kita bisa makan siang bersama" ujar perempuan itu Manja.
"Maaf aku sibuk" jawab Bagas sambil berdiri.
"Jika tak ada keperluan lagi,silakan tinggalkan kantor saya,karena pekerjaan saya banyak !" Tukas Bagas dengan nada tinggi.
Erwin hanya menunduk malu atas ulah Sepupunya itu,padahal Erwin sudah memperingatkan pada Clara untuk menjaga sikapnya.
"Maafin Gue Bro.kalau begitu gue pergi sekarang." Ucap Erwin seraya menyeret Sepupunya keluar.
Clara berontak tidak ingin pergi dari kantor Bagas,namun tenaga nya kalah kuat sama cengkraman tangan besar Erwin.
"Amit-amit ! Sepupu begituan di ajakin kesini, cantik si tapi gatel !" Seru Bagas ngomel sendiri setelah kepergian Erwin dan sepupunya.
Bagas tidak sepenuhnya marah pada Erwin,karena ia yakin pasti perempuan yang bernama Clara itu memaksa nya.ia sangat mengenal sahabat nya itu, Bagas geleng-geleng kepala. "Dasar perempuan gatel,gue cangkul baru tau rasa lo !" Tukas Bagas sambil membuka dokumen yang menumpuk di atas meja kerja nya.
Harapannya kedatangan Erwin membawa berita baik, namun yang di dapatkan nya justru sebaliknya.
...----------------...
"Bang..., kok di anterin pulang si ?" Rengek Clara
"Gue suka sama temen lo,percuma gue udah dandan cantik begini kalo batal deketin temen lo bang." Rengek Clara lagi.
"Gue udah kasih tau lo sebelum datang kesana,tapi sikap liar lo itu gak bisa di ubah sama sekali. Jadi berhentilah merengek Seperti itu,sekarang lo pulang kerumah. Gue mau kerja !!" Tukas Erwin memarahi Clara setelah sampai di depan rumahnya.
Clara akhirnya menuruti perintah abang sepupunya itu dengan wajah cemberut.
"Awas lo kalo bikin ulah !" Seru Erwin sebelum meninggal kan Clara di halaman rumahnya.
Perempuan itu hanya mengangguk dan berbalik masuk kedalam rumah.
...----------------...
"Bersambung"
bagaimana sikap Anjani setelah tau Brata telah pergi meninggalkan nya ??
Dan siapa Clara ??
ikutin terus ceritanya, yang pastinya akan ada konflik-konflik lebih menegangkan.
ohya untuk yg berkomentar soal judul Karya saya silakan BACA DESKRIPSI nya sampai habis !!! agar Anda paham.
salam hangat dan salam bahagia selalu untuk pembaca "Pacarku Suami Temanku".
__ADS_1
Terima kasih 🙏