
Pingit...
Seminggu menjelang pernikahan Yoga dan Andita, Ayuningtyas dan Brata menghubungi kedua besannya.
"Halo... Assalamualaikum lie. Tak perlu banyak basa-basi sebaiknya kalian datang lah beberapa hari lagi.untuk tempat tinggal kami sudah menyiapkan rumah khusus untuk keluarga besar Yogo." Ujar Brata sambil terkekeh setelah terhubung dengan Chang lie di seberang sana.
"Kita malah mau berangkat hari ini." Sahut Chang lie diseberang sana dengan tawa terbahak-bahak.
"Hahaha... kalau begitu kabarin biar kami jemput di Bandara." Sahut Brata
"Baik calon Besan, Assalamualaikum." Chang lie mengakhiri percakapan mereka.
"Walaikumsalam." Jawab Brata dan Ayuningtyas.
Ayuningtias dan Brata memanggil Yoga serta Andita membicarakan soal pernikahan mereka, sekaligus rencana untuk mengasingkan Yoga ke rumah yang sudah di sediakan oleh Brata.
"Ada apa pa,ma ?" Tanya Andita saat mereka sudah duduk bersama.
"Jadi begini nak Yoga,kami sudah menghubungi kedua orang tuamu mungkin besok mereka tiba disini. sementara waktu kamu dan Andita kami pisahkan terlebih dahulu, sampai hari Akad nikah kalian. Untuk tempat papa dan Mama sudah menyediakan rumah pribadi, khusus untuk keluarga besar Prayogo." Ungkap Brata pada mereka berdua
"Ingat ! Selama di pingit kalian tidak boleh bertemu,atau kemanapun !" Tegas Ayuningtyas.
Andita dan Yoga saling pandang satu sama lainnya.
"Telpon atau video call boleh ma ?" Tanya Yoga dengan raut wajah memohon.
"Tidak boleh !!" Ucap Ayu tanpa penawaran.
Brata terkekeh melihat tingkah laku Yoga.
"Seminggu tidak lama, setelah resmi menikah tidak akan ada yang melarang kalian untuk berduaan.bahkan kami akan melempar kalian ke pulau yang jauh agar tak ada yang mengganggu." Pungkas Brata sambil tertawa menggoda.
"Kemas pakaian mu,besok papa dan mama akan mengantarmu kerumah pengasingan." Ucap Ayuningtias tersenyum menatap kedua calon mempelai itu.
Yoga mengangguk pasrah,lalu kedua calon pengantin itu berlalu meninggalkan ruang keluarga sambil bergandengan tangan.
Andita membantu Yoga mengemasi barang-barang nya, sementara Yoga memperhatikan kegiatan calon istrinya itu. Tak bisa ia pungkiri bahwa didalam benaknya tersimpan ketakutan mengingat Bagas sering berkeliaran bebas di antara mereka, di tambah lagi sekarang mereka harus berpisah tempat tinggal.
Andita yang merasa di perhatikan menoleh dan menatap Yoga, tatapan Andita terlihat bingung kala melihat wajah calon suaminya bermuram durja.
"Mas,ada apa ?" Tanya Andita seraya memeluk Yoga erat.
Yoga membalas pelukan Andita tak kalah eratnya, mendaratkan kecupan-kecupan sayang di kening dan rambut calon istrinya itu.
"Mas pasti akan sangat merindukan mu." Desis Yoga, padahal yang sesungguhnya mengganjal hatinya bukan soal itu.
__ADS_1
"Bersabarlah, kita hanya di pisahkan sementara." Ucap Andita seraya tersenyum menatap wajah Yoga.
Yoga mengelus surai halus gadis yang sebentar lagi akan menjadi miliknya itu, lalu memberikan hadiah berupa kecupan lembut di pipinya.
"Selama kita tidak bisa bertemu, mas mohon jangan terlalu dekat sama Bagas sekalipun dia kakakmu, ingat di Antara kalian pernah ada Cinta.cinta Pria dewasa dan wanita dewasa." Amanat Yoga pada Andita.
Andita mengangguk dan tersenyum lembut, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya membantu mengemas barang-barang Yoga.
"Mas tenang aja,jika perlu aku tidak keluar kamar selain makan." Ujar Andita seraya terkekeh.
"Begitu lebih baik." Sahut Yoga serius.
Andita tertawa kecil menanggapi ucapan Yoga sambil menyusun pakaian prianya itu ke dalam koper.
"Shinee biarkan tetap tinggal bersama ku, aku gak ada teman mas.teman-temanku belum bisa datang, paling juga mereka datang setelah resepsi nanti." Andita melirik kesamping nya dimana Yoga sedang melihat pesan teman-teman nya.
"Hm...mas setuju." Sahut Yoga masih sibuk menatap layar pipih dalam genggaman nya. Itu.
Barang Yoga sudah siap di dalam koper, acara beres-beres mereka selesai. Yoga dan Andita kembali ke ruang tamu, mereka sepakat untuk mengundang teman-teman yang jauh-jauh hanya melalui sambungan telepon.
Ya, setidaknya mereka sudah berbagi kebahagiaannya dengan teman-teman nya,meski hanya melalui sambungan telepon dan WhatsApp.
...----------------...
Malam Minggu
"Kak...,ini malam Minggu apa kita tidak jalan-jalan. Kencan berduaan gitu ?" Tanya Shinee.
Bagas geleng-geleng kepala,bahkan dirinya sudah melupakan prihal malam mingguan.karena bagi Bagas malam apapun ya sama saja, sejak dekat Shinee dirinya harus mengikuti alur gadis itu.
Ya tentu saja bagi gadis berusia 19 tahun seperti Shinee, malam minggu adalah waktu yang di tunggu-tunggu.
"Apa kamu sudah baikan ?" Tanya Bagas.
"Tentu, aku Baik-baik aja kak.yang terluka hanya bibirku,mataku masih bisa melihat dengan baik keindahan malam kota ini." Balas Shinee
"Bukankah kakimu sakit ?" Tanya Bagas lagi
Shinee terkekeh sendiri, saat membaca pesan berisi pertanyaan dari Bagas.
"Lupakan soal itu.aku tunggu kakak menjemput ku,kalau tidak aku akan pergi sendiri !!" Balas Shinee.
Bagas mendesah seraya bangkit dan bersiap tanpa membalas WhatsApp Shinee,mau gimana lagi gadis seusia shinee memang masih bermain dengan egonya.yang dewasa harus pinter momong dan membujuk, kalau tidak incarannya akan lepas begitu saja.
Shinee menatap ponselnya tak ada tanda-tanda notifikasi pesan masuk untuknya, gadis itu uring-uringan sendirian.
__ADS_1
Ia menatap beberapa Paperbag yang belum di sentuhnya sejak pulang kerumah, tangannya meraih blouse crop top dan miniskirt berbahan jeans dan sneaker yang baru di belinya tadi siang.
Shinee memoles wajah nya dengan make-up tipis dan tak lupa memulas bibirnya dengan lipstick pink beraroma stroberi, Shinee menatap pantulan dirinya di Kaca setelah dirasanya cukup gadis itu kembali melihat ponselnya. Wajahnya kian muram, Bagas tak membalas pesan WhatsApp nya.
Kehidupan Shinee di luar negeri selama ini banyak mengajarkan gadis itu tentang dunia hiburan malam, jenuh dan suntuk tentu saja menjerat gadis itu selama berada di rumah Andita.
Shinee turun lalu menyelinap di bawah Tangga mengambil kunci mobil Brata, lalu seperti maling gadis itu melewati pintu belakang.
Brum...brum...tit...tit...
Andita, yoga, Brata dan Ayuningtyas saling pandang sejenak lalu berlarian keluar, saat mendengar suara mobil di gas dan di klakson.
Shinee membuka kaca mobilnya,gadis itu memamerkan gigi putih nya lalu melambaikan tangan.
"Papa Brata Shinee pinjem mobilnya dulu ya,kakak ipar, kakak ku sayang, dan Mama Ayu yang cantik Shinee pergi dulu ya. Daaa..." Shinee menginjak pedal gas mobilnya,lalu melaju meninggalkan seluruh penghuni rumah yang ternganga menatap kepergiannya.
"Shinee !!" Seru Yoga.
"Gadis nakal, awas kamu nanti !!" Seru Yoga.
Brata tersenyum lalu mengusap punggung Yoga lembut.
"Biarkan saja,ini malam Minggu.jadi wajar kalau dia ingin jalan-jalan, hanya sekali-kali juga." Ucap Brata
Yoga mengangguk dan mereka semua kembali masuk kedalam rumah, tapi saat baru mau duduk suara mobil datang dan mengurung kan mereka untuk duduk.
Semuanya keluar secara bersamaan, dan kembali saling menatap satu sama lain.
"Bagas ?" Panggil Brata.
"Assalamualaikum pa,ma." Bagas menyalami tangan kedua orang tuanya, lalu mengacak rambut Andita sekilas.
"Shinee mana ?" Tanya Bagas,karena tak melihat kehadiran Shinee di antara mereka ber-empat.
"Loh ! Bukannya janjian sama kamu nak ?" Tanya Ayu
"Iya tadi dia mau minta jalan-jalan, makanya Bagas kesini." Sahut Bagas
"Shinee baru aja pergi,mas." Andita menimpali
"Hah !! Pasti merajuk lagi." Gumam Bagas.
"Sana cari !" Seru Brata.
Bagas pergi menyusul Shinee tapi ia bingung kemana mencarinya, Bagas memijit pangkal hidungnya. Ia menghubungi Shinee tapi tidak di jawab sama sekali, Bagas melajukan mobilnya pelan sambil melihat keberadaan mobil Brata yang di bawa Shinee.
__ADS_1
...----------------...
TBC