Pacarku Suami Temanku

Pacarku Suami Temanku
BAB~98


__ADS_3

Dengan perasaan cemas Yoga memasuki kamar tamu dan beberapa alat medis di tangannya, ia menghampiri Robert dan anak laki-laki yang berdarah di wajah dan sikutnya.


Robert menolehkan kepalanya mengikuti arah pandang Brata yang sedang memangku Alga, saat dirinya sedang membersihkan darah di wajah dan tangan Al. Tatapan tajam dan penuh amarah ia tusukkan tepat di jantung Yoga, Yoga memalingkan wajahnya.


"Mau apa kamu kesini ?!" Dengus Robert.


"Biarkan saya membantu nya." Jawab Yoga datar. Robert bergeser memberikan akses bagi Yoga, segera Yoga berjongkok di hadapan Al.


Hebat !. anak lelaki ini tidak sama sekali menangis dengan kondisinya seperti itu, bahkan untuk meringis pun tidak. Tangguh ! Ya, tangguh sekali. Kira-kira begitu batin Yoga, ketika melihat sosok lelaki kecil dalam pangkuan Brata.


"Apa ini perih ?" Tanya Yoga lembut pada Al.


"Hm..." Sahut Al.


Dengan cekatan Yoga membersihkan luka di dahi Al, begitupun dengan tangan dan sikutnya.


"Lukanya cukup dalam tahan ya, sakit sedikit. Tarik nafas dan tahan ya. Okay pintar sekali." Ujar Yoga saat bersiap menyuntikkan anestesi lokal di bagian dahi Al, karena dia akan menjahit lukanya.


"Bagaimana ? Apa sakit ?" Tanya Yoga


"Tidak uncle." Lirihnya


"Kamu hebat, siapa nama nya ?" Tanya Yoga


"Namaku Alga, biasa di panggil Al." Desisnya.


"Nama yang bagus. kamu tau gak, Kamu itu hebat." Puji Yoga


"Terima kasih, uncle." Balas Alga


Yoga menatap Brata sekilas. "Pa, Yoga akan menjahit lukanya. Sebaiknya Yoga bantu rebahkan dia." Yoga membopong tubuh kecil Al dan membaringkan di tempat tidur.


Setelah selesai menjahit luka Al, Yoga juga memberikan obat di tangan dan sikut Al. Lalu ia menyeka wajah bocah laki-laki itu dengan handuk basah. Mata Yoga membulat sempurna, saat bertatap muka dengan fotocopy dirinya. Begitupun dengan Al, ia juga tidak melepaskan tatapan matanya.


"Uncle..., apa uncle marah sama Al ?" Desis Al bergetar. Ah... rupanya si anak tersebut justru ketakutan, ketika menatap wajah terkejut Yoga.


"Tidak. Tidak sayang, maafin uncle ya. Lukanya sudah di beri obat, sebaiknya Al istirahat." Jawab Yoga kikuk. Yoga berdiri hendak meninggalkan kamar, tapi tangan mungil Al menyentuh tangan besar Yoga.


"Uncle, terima kasih." Ucap Al. Dan Yoga kembali berjongkok di samping Al, sementara Robert dan Brata hanya menjadi penonton kedua lelaki beda usia yang sedang berkomunikasi itu.


"Sudah kewajiban uncle sayang, maafin uncle sudah membuatmu terluka. Uncle tidak sengaja, baiklah anak tampan silakan istirahat dulu. Nanti uncle akan memberikan sebuah hadiah yang manis dan lezat, dengan satu syarat ! Harus bobok siang dulu. Oke." Yoga membelai rambut Alga lembut.


"Manis dan lezat. Apakah ada coklatnya ?" Tanya Al berbinar bahagia.


"Tentu saja. Kamu tau, dia adalah Ice cream." Ucap Yoga sambil mentoel hidung mancung Al. Tiba-tiba Lauren masuk dengan keadaan kacau. "Apa dia pelakunya !" Lauren menjambak rambut Yoga secara membabi buta, dan memukuli bahu dan lengan Yoga.


"Kau mau membunuh putraku, hah ! Kau mau membunuhnya. !" Amarah Lauren menggebu tanpa memastikan terlebih dulu siapa lelaki yang di jambak nya.


"Mommy, jangan seperti itu." Ucap Al, dengan mata berkaca-kaca. Matanya menyiratkan kantuk juga menyiratkan kesedihan. Tapi kantuk lebih berkuasa di mata bocah itu saat ini. Al telah terlelap dengan air mata yang masih meleleh di pipinya yang lembut dan halus itu. Ayu menyeka air mata bocah tampan yang kini sudah tertidur.


"Alen ! Tenanglah, tenangkan dirimu. Al tidak apa-apa.!" Robert menangkap tangan Lauren yang siap mencengkeram rambut Yoga lagi dan segera mendekap tubuh Lauren membawanya masuk kedalam pelukannya.


"Maaf, saya sama sekali tidak sengaja. Sekali lagi maafkan saya." Ujar Yoga sambil menyugar rambut nya yang acak-acakan, dan segera berlalu dari kamar Al. Sementara Lauren sama sekali tidak dapat melihat wajah pria itu, karena posisinya berdiri membelakangi mereka.


Saat di ambang pintu Yoga menatap sendu Andita yang tengah bersandar di samping pintu, Sementara Andita hanya acuh bagai tidak mengenal Yoga sama sekali.


Dengan hati sedih Yoga berlalu dari hadapan Andita, tanpa berbicara apapun.


Lauren menoleh kearah sumber suara tadi, ia baru menyadari suara bariton itu cukup familiar bagi nya. Lauren melayangkan tatapan matanya ke seluruh arah, namun sosok itu tiada lagi disana.


"Apa pria tadi salah satu penghuni rumah ini ?" Gumam Lauren, seakan bertanya pada dirinya sendiri, namun dapat di dengar oleh Robert.


"Dia, suami Andita. Menantu di rumah ini." Robert memberitahu Lauren, tentang siapa lelaki tadi.


Lauren menatap Andita yang bersandar di samping pintu, wajah wanita itu tampak datar saja. Lauren merasa bersalah akan sikapnya barusan, mungkin Andita tersinggung karena tadi dirinya telah lancang melakukan tindakan kekerasan terhadap suaminya. Nanti aku akan minta maaf.' pikir Lauren


Lauren duduk di sisi Ayu, berseberangan dengan Brata. Ia mengelus lembut rambut Al. "Maafkan mommy Al, tidak dapat menjagamu dengan baik." Lirih Lauren, air mata wanita itu mengalir begitu saja saat menatap wajah damai Al yang tengah terlelap.


"Sudahlah, Al tidak apa-apa. Dia anak yang kuat, dia yang terluka sedikitpun tidak menangis. Kamu harus bangga memiliki lelaki kuat dan hebat seperti dia." Brata membujuk Lauren, agar tidak menyalah dirinya atas kecelakaan Alga.


"Jika kau ingin marah, maka yang pantas kamu marahi adalah Opanya ini. Karena Opa nya yang sudah memberikan mobil mainan celaka itu." Tambah Brata lagi.


"Sudah-sudah. Kita semuanya salah di sini, kita semuanya teledor. Al akan baik-baik saja, dan berhenti saling menyalahkan." Tukas Ayu

__ADS_1


"Ayo beri waktu Al istirahat, jangan berisik di sini." Ajak Ayu pada Brata, Brata juga Robert keluar dari kamar Al. Sedangkan Andita sudah menghilang dari sana, entah kemana wanita itu pergi.


Lauren membaringkan tubuhnya di sisi Al, ia menatap sedih melihat wajah putra semata wayangnya itu terluka. Lauren menengadah menatap langit-langit kamar, suara seseorang tadi masih terngiang di telinganya.


"Apa mungkin dia ada sekitar kita nak ? Mustahil. Tidak mungkin kebetulan yang sangat tepat, mungkin hanya perasaan ku saja." Batin Lauren, lalu ia mengecup lembut pipi Al sebelum ia ikut terlelap menyambut mimpi di siang hari.


...----------------...


Waktu bergulir, sore hari telah menyapa.


Andita duduk di taman seorang diri, matanya menatap kosong pada setangkai mawar putih yang berada dalam genggaman nya. duri-duri menancap tajam di telapak tangan nya, namun....rasa sakit tertusuk duri mawar itu jauh lebih sakit dari pengkhianatan yang ia terima. Andita tidak sedikitpun memperdulikan darah yang mengalir melalui celah-celah jarinya, ia justru tersenyum pahit menyaksikan apa yang terjadi pada nya.


"Cinta suci ! Omong kosong !!" Desis Andita sembari menyeringai penuh kepedihan.


Selesai mandi dan berganti pakaian santai Yoga bermaksud melihat kondisi Alga, dan berbicara kepada orang tua bocah laki-laki itu. Tapi tunggu ! ketika Yoga memalingkan wajahnya ke arah jendela matanya menangkap sosok Andita. dari ketinggian rumah itu, ia bisa menatap bebas sosok wanita yang sudah menjadi istrinya selama satu tahun ini. Yoga melihat Andita dari kejauhan dengan tatapan penuh sesal. Ya, menyesal. Sangat menyesal ! nafsu sudah menghancurkan rumah tangganya.


"Maafin mas sayang, mas yang salah. Mas telah menyakitimu, mas pengkhianat. Yoga mencengkeram erat terali jendela, jangan siksa mas seperti ini sayang. Mas bisa gila kalau kamu berubah dingin seperti itu." Lirih Yoga penuh penyesalan, Yoga yang kuat akhirnya menangis jua. Menangisi perbuatannya, menangisi kesalahannya.


Yoga ingin sekali merengkuh tubuh rapuh yang sedang pura-pura kuat di sana kedalam pelukannya, mendengar keluh kesahnya, mendengar protesnya, menghapus air matanya, dan menghapus kesedihan nya. Namun sayang, Yoga tak bisa melakukan semua itu, jarak di antara mereka membentang luas karena pengkhianatan nya.


"Aku bodoh ! Bodoh !" Teriak Yoga tertahan sambil kepalan tangannya meninju-ninju kepalanya sendiri.


Seseorang melangkah gagah menghampiri Andita, sedangkan kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celana kainnya. Kemeja putih slim fit membentuk menonjolkan bentuk tubuhnya yang proporsional, lengannya ia gulung hingga siku. Waw !! Siapa yang tidak terpesona !! Dia sangat tampan dan menarik. Bahkan penampilan nya kian hari semakin tampan dan berkarisma saja. Langkah nya pasti bak seorang model Top.


Bagas! Tepat sekali, dia Bagas.


Bagas menghentikan langkahnya tepat di belakang Andita, ia menatap tangan Andita yang berdarah acuh meskipun sebenarnya ia sangat khawatir. Namun, ia harus lebih berhati-hati dalam bersikap mengingat Andita sudah menjadi milik orang lain. Lebih-lebih mereka sudah lama tidak bertemu, apa mungkin Andita akan menerima dirinya yang masih sangat memperdulikan nya, bisa-bisa justru di katain sok perhatian lagi.


"Apa itu sakit ?" Suara bariton Bagas memecah keheningan taman.


Tubuh Andita membeku kala mendengar suara seseorang itu. "Apa mungkin ? Jika iya, bicara sekali lagi. Tuhan jika memang benar, ku mohon agar dia berbicara sekali lagi." batin Andita. Tubuhnya bergetar hebat, membayangkan bisa bertatap kembali dengan mantan kekasih sekaligus kakaknya.


"Apa sejak menikah kamu menjadi bisu ?" Suara Bagas kembali menggelar, menghancurkan keraguan Andita akan kehadiran Bagas, kerinduan seketika menyerang relung hati wanita itu.


"Mas, mas Bagas.!!" Andita berdiri dan menoleh, wajahnya berbinar-binar, matanya memancarkan kerinduan yang teramat mendalam. Sedangkan Bagas hanya berdiri acuh, masih dengan mengantongi kedua tangannya.


Andita berjalan mendekati Bagas, tatapan mata mereka terpaut satu sama lain tak terlepas sedetikpun. Sedangkan di atas sana ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka, giginya gemeletuk menahan cemburu yang memburu di hatinya.


"Ini tidak sakit, tapi...." Kata-kata Andita menggantung. "tapi, Hatiku yang lebih sakit mas." Bisik batin Andita. Kedua alis Bagas tertarik ke satu arah, mendengar ucapan Andita yang menggantung bebas.


Air mata Andita menggenangi pelupuk matanya, sedangkan tatapan nya masih terpaku dan tenggelam hingga kedasar manik mata Bagas. Air mata itu seakan mengisyaratkan peluk aku, biarkan diri ini melepaskan beban penderitaan yang menghantam dasar hati ini, yang menjadikan nya berkeping-keping. Sakit !


"Kemarilah. peluk mas sayang. pelukan mas sebagai kekasih, lepaskan rindu yang terpancar di matamu itu.dekap mas sebagai kekasih,bukan sebagai kakak." Lirih Bagas. tatap matanya sendu merayu, Penuh cinta dan kerinduan.


Andita menghambur berlari kedalam pelukan Bagas, tubuh kecilnya seketika lenyap tertelan dalam dekapan Bagas.


Bagas membalas pelukan Andita lebih erat lagi, tangannya mengelus lembut rambut wanita yang selalu mengisi penuh hatinya hingga detik ini. Andita menangis dalam pelukan hangat sang mantan, tangisannya seakan menceritakan segala beban hatinya.


"Kenapa kamu menyakiti tangan cantikmu itu, hm...?" Tanya Bagas lembut di sela-sela sedu sedan Andita. Hanya gelengan kepala yang Andita lakukan.


"Ayo kita masuk dan obati tanganmu. Lagian ini sudah mau senja, sebentar lagi akan gelap." Bagas sedikit mengurai pelukan erat Andita, Bagas sadar jika ada yang melihat terlebih Yoga bukan tidak mungkin perang dunia akan terjadi kembali. Terlepas status mereka sebagai adik kakak, ada kisah lain yang akan memicu kemarahan Yoga.


Andita mengangguk dan Bagas meraih tangan Andita ingin melihat lukanya, dahi Bagas mengernyit menatap mawar putih ditangan Andita. Bagas tau Andita sangat menyukai mawar putih, tapi kenapa bunga indah yang selalu menjadi favorit nya itu ia biarkan melukai tangannya.


Ada apa. Ada apa dengan Andita ?! Apa hatinya terluka ? Ya, tebakan Bagas tidak meleset. Andita tengah terluka, luka di tangannya tidaklah seberapa di banding luka hatinya.


Baru saja kedua insan itu akan melangkah suara tepukan tangan menghentikan langkahnya, tubuh Bagas membeku mematung di tempat namun hal itu tidak terjadi dengan tubuh Andita. Wanita itu hanya menatap dingin sang suami, matanya berkilat menyuratkan kemarahan dan kebencian.


"Sudah melepas rindunya sebagai kekasih?". Sindir Yoga


"Tutup mulut kamu !!". Ketus Andita, dan Bagas cukup kaget mendengar perkataan Andita barusan. Bagas berjalan meninggalkan Andita, bukan karena lari dari masalah justru tidak ingin memperpanjang masalah.


"Hei pengecut, kenapa kamu tinggalkan kekasih mu itu." Geram Yoga ketika melihat Bagas pergi meninggalkan taman.


"Kamu yang pengecut, cabul !!". Balas Andita


Bagas berhenti dan berbalik arah menghampiri Yoga, Bagas berdiri tepat di hadapan Yoga mengikis jarak di antara mereka. kedua lelaki tampan itu bersitatap satu sama lain, seolah sedang berbicara melalui tatapan lalu Bagas tersenyum.


"Jika aku mau, aku bisa mengambil nya darimu. Apa kau melupakan hal itu ? Adik ipar !!". Bagas tersenyum miring mengejek Yoga. Tentu saja Bagas tidak kagum akan sosok Yoga. bagi Bagas, Yoga hanya Dokter abal-abal yang mencari keuntungan lebih melalui bisnis gelapnya itu.


"Coba saja. Aku tidak akan segan-segan menghancurkan mu, meskipun kau Raja bisnis tersohor dunia !!". Tunjuk Yoga tepat di wajah Bagas.


"Kalau begitu, aku akan lebih dulu menghancurkan bisnis gelapmu itu sebelum kamu menghancurkan ku !". Bisik Bagas,dan berlalu meninggalkan Yoga yang terpaku menatap kepergiannya. kedua tangan Yoga tergenggam erat, Andita pun menyusul langkah Bagas, tapi cekalan kuat menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Lepaskan tangan mu !! Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotor mu itu, cabul !!" Dengus Andita menghentakkan cekalan Yoga. Tapi, sekuat apapun Andita masih kalah kuat oleh kekuatan Yoga.


"Ohya, lalu apa yang kamu lakukan tadi hah ?!." Yoga menatap nyalang pada Andita, seakan ingin menelan hidup-hidup tubuh mungil istrinya itu.


"Bukan urusanmu ! Setidaknya, aku tidak melakukan hal hina seperti yang kau lakukan. Aku tidak membuka kedua pahaku di hadapan lelaki lain ! Sampai di sini kau paham Dokter Febry Lie Prayoga yang suci ?". Sentak Andita pada cekalan Yoga, setelah terlepas ia meninggalkan lelaki itu.


Di tangan Andita masih terselip setangkai bunga mawar putih, tanpa sadar dengan penuh kemarahan Andita terus meremas kuat-kuat genggamannya, tetes-tetes darah mengalir dari cela genggaman tangannya, tapi tak di hiraukan nya sama sekali.


"Andita! Andita tunggu !!" Yoga mengejar langkah Andita.


Lauren turun membimbing Alga menuruni tangga, saat kakinya menapak lantai dari anak tangga terakhir tubuh seseorang menabrak mereka.


"Apa kau buta ?!". Sarkas Yoga, sedang wanita yang ia tabrak sedang melindungi tubuh mungil dalam dekapannya saat ini.


Lauren mendongak menatap wajah orang itu, matanya melebar serta mulutnya ikut terbuka.


"Dokter Febry ?" Lirih Lauren


"Lauren ? Kenapa kamu bisa ada disini ?" Desis Yoga, sembari lirik kiri dan kanan. Lauren masih larut akan sosok yang berdiri menjulang tinggi di depannya sekarang, melupakan sosok mungil yang terhimpit tubuhnya disudut tangga.


"Mommy..." Ringis Alga menyadarkan Lauren.


"Temui aku nanti, kita harus bicara.!" Tegas Lauren, setelah berdiri dan mencengkeram erat tangan Alga.


"Tidak. Tidak ada yang perlu aku bicarakan sama kamu ! Urusan kita telah lama selesai Lauren." Elak Yoga, namun batinnya kembali bergejolak saat menatap mata anak laki-laki di samping Lauren.


"Urusan kita belum selesai ! Dokter Febry !". Jawab Lauren


"Jadi siapa namamu ? Febry atau Yoga ? Aku kok jadi bingung ?." Bagas tiba-tiba muncul dari atas, dengan tampang santai dan acuh.


"Lauren kau mengenalnya ?". Tanya Bagas menyelidik. Lauren diam, ketika tatapan tajam Yoga berbenturan dengan manik matanya.


"Uncel Bagas !, gendong." Rengek Al ketika melihat Bagas, seraya membuka kedua tangannya.


"Baiklah, apa Al merindukan uncle. Bagaimana lukanya apa masih sakit ? Tadi saat uncle datang, Al masih bobok." Bagas meraih tubuh kecil Al, lalu menggendong nya.


"Dokter Febry, silakan selesaikan urusan kalian. Jika kalian tidak bisa menyelesaikan nya, biar aku dan Robert yang menyelsaikannya." Tukas Bagas, kata-kata penuh makna.kata ejekan dan intimidasi.


Niatnya ingin mengejar langkah Andita ia urungkan, kepalanya tiba-tiba berdenyut sakit. Yoga mengarahkan langkah kakinya menaiki tangga, meninggalkan Lauren yang terdiam sepi.


Yoga menutup pintu kamar dan menguncinya, ia menjambak-jambak rambutnya frustasi. Situasi nya semakin menyudutkan keadaan nya. Masalahnya dengan Andita belum terjamah sama sekali, di tambah lagi kehadiran Lauren, lalu apa mungkin perawat itu juga akan datang kembali ?


"Aghhh..." Teriak Yoga frustasi


"Alga ? Apa mungkin ? Aghhh !!!". Yoga membenturkan kepalanya yang berdenyut ke tembok.


"Bagaimana ini ?" Desisnya "bagaiman kalau Lauren membuka kisah masalalu nya di hadapan semuanya ?. Tidak. Hal itu tidak boleh terjadi, aku harus bicara dengannya. Ya, harus bicara." Yoga berusaha membuat keadaan tetap terlihat baik-baik saja.


Harapan Yoga dengan berbicara dengan Lauren, keadaannya tidak semakin kacau. Setidaknya begitulah harapannya.


***


Bagas menatap lekat wajah Alga yang tengah memainkan game di ponsel Bagas, pikiran Bagas melayang pada fakta bahwa Lauren mengenal Yoga.


Bagas seakan sedang bermain puzzle, menyatukan potongan-potongan kecil yang telah terjadi membentuk sebuah bangunan atau seekor rubah yang lucu. Demi memecah sebuah teka-teki, Bagas memutar otak nya.


"Ya, rumah sakit!. Dirumah sakit waktu itu Lauren sempat kabur. apa mungkin, orang yang di lihatnya itu, Yoga.? Yoga ...Rubah berwajah kelinci imut dan lucu, aku akan cari tau." Bagas memejamkan matanya, lalu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.


Brata dan Robert bergabung bersama Bagas.


"Gue kira besok lu nyusul." Sapa Robert saat sudah duduk di sisi Bagas.


"Maunya besok, papa telepon bilang si Al kecelakaan. Ya udah gue kesini, khawatir juga gue sama dia." Sahut Bagas masih dengan mata terpejam.


Sedangkan Brata memilih duduk di sisi Alga, tangannya aktif membelai kepala anak kecil itu. Ia seakan tengah mengelus Bagas kecilnya dulu, Bagas kecil hanya mendapat kasih sayang sepenuhnya dari Brata, sedangkan Anjani sama sekali tidak perduli. Dan Alga hanya mendapatkan kasih sayang sepenuhnya dari Lauren sebagai orang tuanya. Dari orang tua ya, disini yang di bahas kasih sayang orang tua bukan orang sekitarnya.


...----------------...


Kalau membahas kasih sayang orang sekitar, Alga justru di sukai dan sayangi semua orang yang ada di sekitarnya. Lebih-lebih Brata dan Ayuningtyas, sangat menyayangi Alga layaknya cucu pribadi (alias cucu kandung😁).


...----------------...


To Be Continued

__ADS_1


jangan lupa berikan vote dan like


maaf kalau Typo🙏


__ADS_2