Pacarku Suami Temanku

Pacarku Suami Temanku
BAB~109


__ADS_3

Suhu dingin menusuk hingga ke tulang saat menginjak kan kaki keluar room villa sekitar pukul 4.20 wib. Andita memeluk dirinya untuk menahan suhu dingin yang menusuk kulitnya, Bagas sudah berdiri di depan pintu Room Andita dengan pakaian hangat yang lengkap.


"Siap mengejar Sunrise ?". Tanya Bagas


Andita sedikit ragu untuk mengatakan "Ya". suhu dingin membuat Andita tetap ingin bergelung di bawah selimut tebal saja, tapi di satu sisi ia tak ingin mengecewakan Bagas. Pria itu bahkan rela bangun lebih awal hanya untuk membawanya melihat 'Sunrise'.


"Tunggu sebentar,Dita siap-siap dulu." Akhirnya Andita menyetujui pergi mengejar sunrise.


"Hm..." Bagas ikut masuk ke dalam Room Andita, dan memberikan baju hangat serta perlengkapan untuk menangkis suhu dingin yang akan membuat mereka membeku.


Tak lama kemudian Andita keluar dengan baju kaos dan celana joger, wajahnya terlihat lebih segar ketimbang tadi.


"Sini. Mas bantu pakaikan, supaya hangat." Bagas menepuk-nepuk sofa di sisinya. Tanpa menolak dan canggung Andita duduk di samping Bagas.


Bagas berjongkok memasang kaos kaki untuk Andita, serta sepatu boots khusus wanita. Memasang syal, lalu memasang mantel tebal di tubuh Andita. Bagas menyentuh tangan Andita, dingin bagai kan es. Dengan cekatan pria itu memasangkan sarung tangan pada Andita, terakhir memasang kupluk di kepalanya.


"Mas. Terima kasih." Ujar Andita saat Bagas sedang memasang kupluk di kepalanya, tepat di hadapan bibir Bagas. Bagas Menangkup wajah Andita dengan kedua tangannya, lalu mengecup lembut dahi wanitanya itu.


"Terima kasih untuk apa sayang ?". Tanya Bagas masih berjongkok di hadapan Andita.


"Untuk semuanya." Sahut Andita tersenyum manja. Senyum manja yang sangat di rindukan Bagas.


"Mas sudah bilang, akan melakukan semua hal yang akan membuat mu bahagia. Ayo kita berangkat." Bagas menarik tubuh Andita untuk berdiri, dan bergegas berjalan menuju parkiran mobil Jeep yang sudah di sewa sebelumnya.


Saat di parkiran Andita melongo kaget, di sana sudah ada tim-nya bersama Tono dan rekannya, Amira dan Robert juga Erwin.


" Selamat datang pangeran dan tuan putri. Siap mengejar Sunrise ?." Goda Amira yang berdiri di samping Robert.


Andita menatap Amira tersenyum, kalau tidak salah tebak sepertinya Robert dan Amira punya hubungan khusus. Andita maju kehadapan Amira dan berbisik.


"Apa kamu menyukai kak Robert ?." Tebak Andita langsung pada intinya.


Blush...wajah putih Amira berubah bak tomat. Amira melirik Robert sekilas, lalu tersenyum kikuk menatap Andita.


"M..em.. itu.."

__ADS_1


"Ayo berangkat." Ajak Robert menyela ucapan Amira. Robert tidak bodoh untuk sekedar mengetahui reaksi kedua wanita di dekatnya itu, apa lagi kalau bukan mengorek informasi tentang dirinya dan Amira. Apapun status hubungan nya dan Amira, sebelum melamarnya Robert tak ingin mempublish hubungan mereka. Semoga jadian ya Uncle Obet.... Dan nyusul Uncle Bagas ( hehehe).


Andita masih senyum-senyum menatap Robert yang Sudah duduk di belakang kemudi.


"Sayang...ayo." ajak Bagas menyadarkan wanita itu, Andita menolehkan kepalanya dan menyusul langkah Bagas.


"Tono ! Kalian duluan." Perintah Robert. " Siap bos!." Seru Tono.Bak anak panah terlepas dari busurnya, Jeep yang di kendarai Tono melesat di kegelapan.


Rute yang mereka lalui tidak begitu sulit, saat ini ke empat Jeep sudah terparkir elok di penanjakan menantikan Sunrise yang masih malu-malu menampakkan dirinya. Gelak tawa terkadang terdengar di antara mereka, canda dan gurau terus berlangsung hingga Sunrise menampilkan sosok khas dirinya di pagi hari.


Sebagai pasangan kekasih Bagas Dan Andita tak terlalu menghiraukan sekitarnya, ataupun godaan demi godaan yang teman-temannya lontarkan.


Dunia bagai milik mereka berdua yang lainnya sewa !!. Nyicil pula hahaha...


Mereka tetap berdiam diri di Jeep masing-masing menikmati keindahan Sunrise yang tersaji di hadapan mereka. Bagas memeluk erat tubuh Andita, tak lupa mereka mengabadikan momen kebersamaan yang paling indah itu, setelah keindahan lalu pernah hilang. Hari ini mereka kembali mengukir sejarah tentang cinta mereka di GUNUNG BROMO.


Setelah cukup lama menikmati keindahan Sunrise, mereka melanjutkan perjalanan ke padang Savana.


Hamparanan rumput yang menghijau menyejukkan mata dan hati, lelah dan penat seketika menghilang.


"Waw...!! indah sekali mas." Seru Andita antusias.Andita berdiri di atas Jeep, memotret bentangan hijau yang memenuhi pandangan nya saat ini.


Bagas tersenyum menatap Andita yang begitu menikmati keindahan padang Savana, Bagas memarkir Jeep nya tak jauh dari tenda.


"Savana ini memang indah, tapi kamu lebih indah di mataku." Bisik Bagas. Yang sudah ikut berdiri di belakang Andita, memotret diri mereka dengan latar belakang padang Savana.


Andita menoleh dan melihat wajah tampan itu, rona pink memenuhi wajahnya.


"Benarkah begitu mas." Tanya Andita masih memandangi wajah tampan Bagas.


"Tiada yang lebih indah,selain kamu bagi mas. Kamu adalah keindahan seutuhnya bagi mas, kamu segalanya. Berjanjilah untuk selalu sama-sama menciptakan keindahan dalam hidup kita kini dan seterusnya, hingga keindahan lain sirna dan tergantikan oleh keindahan cinta kita yang sesungguhnya." Ungkap Bagas tepat di depan wajah Andita.


Bagas mengecup lembut dahi Andita. Tanpa mereka sadari sebuah tangan jahil tengah merekam aksi mereka, senyum kebahagiaan terukir di bibirnya kala melihat sang sahabat kembali mendapatkan kebahagiaan nya. Erwin, diam-diam iseng merekam sahabatnya itu. Mau juga si begitu, tapi tidak punya pasangan. Perempuan yang bersamanya saat ini tak ia kenal sama sekali, berbicara pun hanya sekedarnya saja. Bertiga pula mereka, sementara Erwin sendirian tak lebih hanya sebagai juru kemudi bagi mereka.


"Ohya mas akan memperkenalkan kamu di hadapan publik, setelah kita pulang dari sini. Apa kamu sudah siap ?." Tanya Bagas lembut.

__ADS_1


"Maksud mas ?." Tanya Andita bingung.


"Mas ingin seluruh dunia tahu siapa pemilik hati mas selama ini, hingga nanti. dan, hanya kematian yang dapat memisahkan kita. Ini bukan rayuan, tapi kenyataannya. Mas tidak pandai merayu, percayalah." Bagas tersenyum geli ketika melihat Andita menahan tawanya.


"Boleh ketawa ?." Goda Andita


"Kalau menurutmu itu lucu silakan ketawa." Jawab Bagas apa adanya. Tanpa senyum dan reaksi apapun.


Andita masuk dalam dekapan Bagas, menikmati setiap sentuhan kasih sayang pria itu. Bagas bersamanya sekarang jauh berbeda dari Bagas yang di kenalnya dulu, lebih dewasa dan sedikit romantis. Tapi gaya bicaranya tetap aja begitu, kadang lembut terkadang sedikit ada penekanan dalam ucapannya.


Setiap manusia tiada yang sempurna. Kelebihan akan selalu bersanding dengan kekurangan, tergantung bagaimana kita menyikapinya saja. Menerima kekurangan nya atau menyempurnakan kekurangan pasangan kita, tinggal pilih saja.


Bagas turun dari Jeep setelah menerima kode dari Robert dan Amira. Bahas mengulurkan tangannya membantu Andita turun, sarapan pagi mereka sudah siap.


Mereka menikmati sarapan pagi penuh canda tawa, sarapan pagi terasa begitu nikmat sambil memandangi hamparan padang savana yang hijau berkilauan karena sisa-sisa embun belum kering sempurna.


"Sepertinya, menu sarapan di sini kalah nikmat sama kenikmatan cinta sejati." Celetuk Erwin secara tiba-tiba, sambil melirik Bagas dan Andita yang sibuk dengan diri mereka sendiri.


"Hahaha...iri ! Cari sana." Balas Robert, sementara Bagas tidak menanggapi ucapan sahabatnya itu. Sedikitpun Bagas tak mau lengah, ia tak ingin momentum ini terlewatkan begitu saja.


"Hahaha...kayak elu punya pasangan aja.!" Dengus Erwin, lalu beranjak bergabung bersama Tono dan rekannya. Meskipun ada tiga perempuan nganggur di dekatnya, tapi Erwin tak seberani itu untuk menggoda mereka. Ia tak mau di cap pria playboy, atau mungkin vonis yang lebih sadis lagi akan di terimanya dari kaum wanita jika ia tak menjaga sikapnya.


Matahari sudah bergeser lebih tinggi dari sebelumnya, terik sinar nya semakin menyengat. Keempat Jeep itu sudah meninggalkan Padang savana sebelum sang mentari kian membakar , meninggalkan pahatan kenangan, meninggalkan penggalan cerita, membawa pulang kedamaian hati yang di penuhi janji dan cinta dalam jiwa.


Untuk meraih apa yang kita impikan memang bukan hal yang mudah, adakalanya kita harus tergerus dan terluka oleh terjal dan tajamnya jalan yang kita lalui. Bahkan berlumur dosa dan darah pun kita lewati demi sebuah IMPIAN. Ketika mimpi dan tujuan telah kita genggam, maka nikmatilah hasil dari lukamu. hapus dosa, hapus dendam, hapus kecewa. Rentangkan kedua tangan, sambut bahagia milikmu. Bukan karena materi atau kekuasaan, tapi bahagia karena berdasarkan cinta yang bersemayam tulus di dalam hati.


Cinta adalah sebuah anugerah terindah yang di ciptakan oleh sang maha pencipta. untuk saling mengasihi, saling mencintai, saling menghargai, saling mendukung, tempat berbagi keluh kesah, mencakup kesetiaan, kejujuran dan kepercayaan. Selebihnya terserah kalian, mau melihat dari sudut pandang yang mana, seperti apa gambaran cinta di dalam kehidupan kalian masing-masing.


...----------------...


bersambung...


jangan lupa tap ❤️ like dan vote ya, sebagai bentuk dukungan kalian terhadap karya ini.


ohya segitu dulu aja ya, selamat beraktifitas.

__ADS_1


salam hangat dari Mentari Impian.


__ADS_2