
Brata meminta seseorang untuk mengawasi gadis yang sangat mirip dengan Ayuningtyas, dan sementara waktu dia akan menunda rencananya untuk mencari wanita masa lalunya. Siapa gadis itu lebih penting baginya saat ini, karena gadis itu sepertinya ada kaitannya dengan Bagas putranya.
Brata kembali pada rencana awalnya, yakni mencari bukti-bukti kejahatan Anjani dimasa lalu terhadap keluarga Ayuningtyas.sedangkan rencana keduanya sudah berjalan sesuai keinginannya, menceraikan Anjani seperti caranya memisahkan dirinya dengan Ayuningtyas di masalalu.
Brata tersenyum pahit,kala mengingat harus terpisah dari istri yang sangat di cintainya karena kelicikan perempuan Iblis itu. Kehadiran Bagas di dalam rahimnya bukan semata-mata kehendak Anjani,melainkan sebagai senjatanya untuk merampas semuanya.
Itulah kenapa Brata mempertahan pernikahan konyol mereka, karena melindungi putranya dari serangan Iblis betina itu. Andaikan Brata menceritakan bahwa Anjani tidak benar-benar menyayangi nya, melainkan hanya senjata pelumpuh Brata agar tidak meninggakannya.bagaimana reaksinya Bagas ?
Tapi Brata tidak ingin menghancurkan hubungan antara anak dan Ibu itu, sejahat apapun dia, Anjani tetaplah Ibu dari putranya.
...----------------...
Chang lie Prayoga, Indira Kamania, Febry Prayoga dan Andita mereka sedang menikmati makan siang bersama di kediaman orang tua Yoga.
Setelah selesai makan siang, mereka duduk bersantai di ruang keluarga di temani canda gurau penuh keharmonisan dan kehangatan.
"Jadi Shinee udah dua tahun di Singapura pa ?" Tanya Yoga lagi.
"Iya dia ingin mendalami Ilmu bisnis,dia tidak tertarik ikut berkecimpung di dunia medis seperti kita." Sahut Indira.
Andita melirik ke arah Yoga yang duduk di sebelah Chang Lie saat mendengar dunia medis dari Indira, tatapan nya penuh tanya.
Yoga tau makna tatapan itu,lalu ia tersenyum.
"Maaf, mas tidak perna menceritakan profesi mama dan papa selama ini sama kamu." Ujar Yoga seraya duduk di Sofa yang sama dengan Andita dan Indira.
"Mama Dokter spesialis kandungan, papa Dokter spesialis anak, kakek dulu juga seorang Dokter spesialis jantung." Ucap Yoga menjelaskan pada Andita.
Andita terdiam hanya eksperi kagum saja yang tampil di permukaan wajahnya.
"Kamu bisa belajar banyak dari Mama kalo mau" lanjut Yoga.
Indira dan Chang Lie tersenyum menatap kedua nya,terlebih mereka kagum dengan sikap putranya yang tidak sama sekali menggembar-gemborkan profesi keluarga nya pada siapa pun termasuk pada orang spesial nya saat ini.
"Nanti kalo kalian sudah menikah dan memiliki anak, terjadi sesuatu pada anak kalian biar papa yang tangani." Sahut Chang Lie memecah kebisuan
"Kalo kamu melahirkan,biar Mama yang tangani." Indira menimpali seraya tertawa,dan di sambut gelak tawa oleh suaminya dan Yoga.
Sedangkan Andita hanya tertawa kecil,dengan muka merah padam menahan malu.
Bayangkan saja, jika melahirkan mertuanya melihat area sensitifnya betapa malunya.
Andita mengusap wajahnya, membayangkan hal itu.
"Sudah cukup,jangan membuat calon menantu papa malu." Ujar Chang lie Senyum-senyum.
"Lalu apa rencana kalian ?" Tanya Indira pada kedua sejoli itu.
"Yoga maunya segera menikah ma dalam waktu dekat ini." Tukas Yoga mantap,sambil melirik Andita.
"Bagaimana denganmu nak ?" Tanya Chang Lie pada Andita.
"Iya pa,ma... Rencana Dita sama mas Yoga memang begitu." Sahut Andita
"Setelah dari sini,biar Andita bicara sama Ibunya dulu pa.sejauh ini hubungan kami, Andita belum bercerita tentang rencana pernikahan ini sama orang tuanya." Yoga menimpali ucapan Andita.
"Kok Andita, kalian berdua lah ! bicara sama orang tua nya." Protes Indira tidak setuju atas ungkapan putranya itu.
Andita dan Yoga saling pandang sejenak,lalu menatap kedua orang tua di hadapan mereka.
__ADS_1
"Iya pa,ma.Yoga akan kesana bersama Andita,besok." Ujar Yoga.
Kedua orang tuanya mengangguk setuju,atas kesepakatan kedua Insan berlainan jenis itu.
Wajah kedua orang tua Yoga berbinar bahagia,setelah kegagalan yang sempat mengoyak hati putranya.akhirnya, hari ini ia sudah memutuskan untuk kembali membina bahtera rumah tangga yang baru.melupakan masalalu yang pahit, menyambut kedatangan masa depan yang cerah penuh cinta.
'Semoga yang Kuasa menghendaki pernikahan mereka, melancarkan segala niat baik di antara mereka, Batin Indira Kamania.
...----------------...
Andita tersenyum bahagia saat menatap wajahnya di pantulan kaca hias di kamar tidurnya saat ini.
10 bulan kebersamaan nya dengan Yoga, ia sudah di bawa pada kedua orang tuanya, bahkan di waktu sesingkat itu mereka memutuskan untuk menikah.
Sementara hubungan nya yang lalu, hingga detik ini Andita tidak tau sama sekali siapa orang tua Bagas. Jangankan mengajaknya untuk menikah, keluarganya saja ia tak mengenalnya.
'Apapun yang terjadi aku sudah siap menerima mas Yoga sepenuhnya' lirih Andita.
Senyum terus tersungging menghias wajah cantiknya,satu hal yang membuat Andita takjub bahkan cepat beradaptasi terhadap kedua orang tua Yoga yakni kehangatan mereka. Menyambut kedatangan nya bagai bukan orang asing, Andita benar-benar nyaman atas perlakuan mereka.
Mereka pun tidak menanyakan prihal profesi kedua orang tuanya sama sekali, seperti layaknya orang tua pada umumnya.mengukur seseorang dari bibit dan bobot,namun hal itu tidak lah terjadi pada mereka.
Takjub dan kagum Andita pada keluarga Prayoga berlipat-lipat ganda, itulah kesan pertama yang Andita temui pada kedua calon mertuanya.
...----------------...
Hari ini Andita pulang ke kota kelahirannya
Koper Andita sudah siap,ia pun sudah bersiap-siap untuk berangkat beberapa jam lagi.ada bahagia dan cemas menggelayuti pikiran gadis itu,bahagia akan bertemu Ibunya cemas bagaimana cara menghadapi Bagas saat ia memutuskan untuk menikah dengan Pria lain.
Chang lie memperhatikan Andita saat mereka sedang sarapan pagi ini,lalu tatapannya beralih kepada anaknya.
Yoga mengerti makna tatapan papanya.
Andita tersenyum canggung, "Maaf mas" sahut gadis itu.
"Apa mau Mama buatin sarapan yang kamu suka ?" Sambung Indira
"Ah...tidak.maksudku yang ini aja ma,Dita akan makan ini kelihatannya enak sekali." Tukas Andita seraya menyuap makanan di piring nya.
Chang lie kembali menatap Yoga,dan bergantian menatap Andita.
"Nak apa kamu ada masalah ?" Tanya Chang Lie kemudian,karena melihat gadis itu seperti sedang memikirkan sesuatu hal.
Andita tersenyum menatap Chang Lie, " Maaf pa, Dita baik-baik saja.maksudnya tidak ada masalah sama sekali,hanya saja..."Ucapannya terjeda lalu tatapannya beralih kepada Yoga.
Chang lie dan Indira menatap bingung pada keduanya, "Hanya apa sayang ?" Tanya Indira penasaran.
Yoga menatap gadis itu dan menggenggam tangan nya, menyalurkan kehangatan dan ketenangan melalui sentuhan lembut nya.
"Maksud Dita,gimana cara menyampaikan niat kami sama Mama nanti.karena ini mendadak baginya, kesalahan nya Dita belum pernah bercerita sama sekali sama Mama disana." Ujar Andita memberi alasan yang cukup masuk akal.
Chang lie tertawa menanggapi ucapan Andita,di sambung kekehan Indira.
"Astaga sayang, papa kira Yoga buat masalah sama kamu. Kalau soal itu tidak perlu khawatir, calon suamimu sudah papa ajarkan jurus-jurus melumpuhkan penolakan calon mertua." Ujar Chang lie sambil tertawa.
"Hahaha..." Yoga dan Indira tertawa di sambung kekehan kecil dari Andita.
"Papa bisa aja." Sahut Andita kemudian.
__ADS_1
Setelah sarapan mereka duduk di ruang tamu, sedangkan Indira masuk ke kamarnya tak lama kemudian ia kembali dan duduk di samping Andita.
Ia meletakkan kotak perhiasan di atas meja, lalu menatap lembut pada gadis disampingnya itu.
"Sayang... Mama sangat bahagia saat kamu mau menerima Yoga sepenuhnya. Mama juga sangat berharap kamu segera menjadi bagian dari kami, menjadi anak,menantu,sekaligus menjadi ibu untuk cucu kami nanti." Ucap Indira sembari mengelus lembut rambut gadis itu.
"Mama, terima kasih.Andita juga mau secepatnya menjadi bagian dari keluarga kalian, Dita juga bahagia bisa di terima dengan baik dirumah ini." Ucap Andita dalam pelukan Indira.
Indira mengurai pelukannya dan menatap wajah Andita, dengan penuh binar bahagia ia menghapus air mata gadis itu.
Tangan Indira membuka kotak perhiasan yang di bawahnya dari kamar tadi.
"Sayang ini cincin turun temurun dari keluarga Lie Prayogo, sebagai calon menantu dalam keluarga Lie kamu berhak memakainya, cincin ini adalah simbol menantu keluarga Lie." Indira melepaskan cincin bertahtakan berlian indah itu dari kotaknya.
Andita terpukau menatap keindahan berlian indah di depan matanya itu,lalu ia mengangguk pertanda menerima cincin tersebut sebagai bukti bahwa dirinya adalah menantu keluarga Lie.
Chang Lie bangkit dan memeluk Andita tanpa ada kecanggungan sama sekali, air matanya mengalir begitu saja.
Tangannya mengambil cincin di tangan istrinya, lalu memasangnya di jari manis Andita.
"Selamat datang di keluarga Lie, sayang" tukas Chang lie tersenyum bersama linangan air mata bahagia nya.
Mereka berpelukan berbagi tangis kebahagiaan, Yoga pun memeluk Andita begitu erat.
"Menangis lah,sambutlah bahagiamu mulai hari ini." Ucap Yoga lembut berbisik di telinga Andita.
Andita mengangguk dalam dekapan Yoga.
'Benar kata mas Yoga waktu itu,jangan buang-buang air mataku untuk hal yang tak perlu aku tangisi.karena masih banyak hal yang memerlukan tangis dan air mataku untuk menyambut kebahagiaan. ya, inilah salah satu kebahagiaan ku saat ini, diterima dengan baik di keluarga Lie Prayogo.'
"Ehmmmm... penerbangan kalian jam berapa ?" Tukas Chang Lie menyadarkan kedua Insan yang sedang berpelukan erat itu.
Yoga melirik jam tangannya, "Satu jam lagi." Sahutnya
Mereka mengurai pelukannya, dan Andita tertunduk malu karena terlalu lama berpelukan di hadapan kedua calon mertuanya.
Yoga bergegas memanggil sopir untuk menghantarkan mereka ke bandara, waktu satu jam sangat mepet sekali. Syukur-syukur kalau tidak macet, kalau macet bisa-bisa di mundur jadwal penerbangan mereka.
Setelah siap,mereka berpamitan pada Chang Lie dan Indira.karena terburu-buru, mereka segera berangkat tanpa banyak bicara lagi.
...----------------...
Sementara itu orang-orang yang di bayar Brata mengikuti arah tujuan mobil yang keluar dari rumah keluarga Lie, melihat arah tujuan mobil ke bandara mereka segera melaporkan pada Brata.
"Tuan mobilnya arah Bandara." Lapor mereka pada Brata
"Ikuti terus kemanapun mereka pergi, laporkan padaku kota mana tujuannya ." Tukas Brata
"Baik tuan." Sahut orang-orang Brata.
Brata pun bergegas menuju Bandara,kali ini ia tidak akan melepaskan gadis itu.menurut informasi yang ia terima, gadis itu bukan bagian dari keluarga Dokter itu.
Keyakinannya Brata bahwa gadis itu buah cintanya bersama Ayuningtyas, semakin kuat. Jika itu benar, maka keberadaan Ayuningtias akan segera ia temukan.
...----------------...
"To Be Continued"
hayo kasih semangat author dong....π
__ADS_1
dengan like dan voteππ
salam manis dari Mentari Impian π