
"Mas jahat !" Ucap Andita sambil memukul pelan dada bidang Yoga dengan satu tangannya.
Sedangkan Yoga, hanya diam dan tersenyum tanpa menanggapi ucapan Andita. Yoga mendekap erat tubuh Andita,melepas rindunya yang membelenggu selama berada jauh dari gadis itu.
Gadis cantik dalam dekapan nya masih sesenggukan sementara tangannya, masih betah melingkari tubuh besar Prayoga.
Dan bunga tadi yang sempat menjadi momok, masih tergenggam erat di tangannya.
Melalui cela ketiak Yoga matanya meneliti Buket bunga yang masih di tangan nya,
Dahi gadis itu mengernyit saat melihat ada empat macam bunga dalam satu buket.
Tak ada obrolan di antara mereka, hanya sepi dan deru nafas yang berirama.
Andita mendongak menatap Yoga,lalu kembali menyembunyikan wajahnya di antara lengan dan dada Pria itu.
Tiba-tiba tubuhnya melayang di udara, "Mas! Seru Andita manja. seketika wajahnya bersemu merah saat Yoga membopongnya ke Sofa ruang tamu,
Tanpa melepaskan dekapannya Yoga mendudukkan Andita di pangkuan nya. dan gadis itu tampaknya cukup nyaman berada di pangkuan si Dokter tampan,karena tak terdengar ada protes darinya.
Yoga menatap wajah Andita yang bersemu malu,tangannya menyibak Surai gadis itu yang sedikit berantakan.Yoga tersenyum lalu bertanya, "Kenapa bilang mas jahat,hm ?" Tanya Yoga membuka obrolan.
Andita hanya menggeleng,dan menggerakkan bahunya sedikit.
"Tadi tidur di mana, sebelum pindah ke kamar ?" Tanya Yoga lagi, sambil tangannya merebahkan kepala Andita di bawah dagunya.
Andita tampak berpikir sejenak, "Balkon" jawab Andita lirih dan Manja.
"Lain kali jangan lakukan lagi,di balkon dingin.kalau masuk angin terus sakit, gimana ?" Ujar Yoga.
Jari Andita menyentuh wajah Yoga serta menelusuri garis rahang tegasnya,sambil bermain dengan wajah Prayoga gadis itu kembali membuka suara...
"Kalau aku sakit,kan ada pak Dokter" jawabnya dengan tersenyum.
Yoga terkekeh kecil,membawa tangan Andita yang nakal ke bibirnya lalu mengecup telapak tangan gadis itu penuh cinta.
"Kalau mas jauh gimana ?" Tanya Yoga lagi,sambil menatap dalam ke mata Andita.
Dada Andita berdenyut dan berdebar cepat ketika tatapan Yoga menghujam dan menusuk jantungnya, secepat kilat Andita memutus kontak matanya lalu membuang tatapannya pada bunga di atas meja.
Dengan suara gugup tak tersembunyi,Andita menjawab sekenanya saja pertnyaan mas Dokter itu.
"Menetap disini saja, biar gak jauh" jawab Andita cuek-cuek ngarep.
Hati Yoga bersorak riang, manakala mendapatkan pertanda bahwa langkahnya tidak terhenti alias mendapatkan lampu hijau !
"Apa kamu mau tinggal disini bersama mas ?" Tanya Yoga serius.
Gadis itu hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah nya, matanya tetap fokus menatap buket bunga itu.
Senyum Yoga menyiratkan kebahagiaan hatinya saat ini,ingin sekali rasanya ia melompat dan berteriak menyebut nama gadis di pangkuannya saat ini.meskipun Andita masih terlihat ragu, setidaknya ada cela harapan bagi Yoga.
__ADS_1
"Mas" panggil Andita.
"Iya sayang" jawab Yoga, sembari menaruh dagunya di pundak Andita,guna melihat bunga di tangan gadis itu.
"Kenapa bunganya beda-beda ?" Tanyanya sama Yoga, memecah penasaran nya yang sejak tadi bersarang di benaknya.
Yoga menghela nafas sejenak,lalu menjawab pertanyaan Andita.
"Setiap bunga menyimpan makna tersendiri" jawabnya.
Andita menoleh mengernyit menatap Yoga, selama ini ia mendapat bunga dari Bagas hanya satu macam saja, berarti maknanya hanya satu ! Batinnya.
Jari yoga menyentuh bunga di tangan Andita, dan memberi tahu satu per satu makna dari bunga tersebut.
"Bunga matahari lambang kesetiaan dan
kehangatan, mawar putih bermakna cinta sejati dan ketulusan, dan Bunga lili melambangkan kecantikan.Anggrek putih
Bermakna kerendahan hati, kehormatan, kemurnian, kepolosan, keanggunan dan keindahan" jelas Yoga menyebutkan makna bunga-bunga itu secara rinci.
"Sekaligus...." Yoga menjeda ucapan nya.
Andita menoleh dan mengangkat alisnya, sembari memicing menatap Yoga penuh tanya. Yoga mengulum senyumnya, lalu melanjutkan ucapannya.
"Sekaligus untuk sesajen tumbal !" lanjut Yoga di iringi gelak tawa terbahak-bahak.
Andita tersipu malu,lalu mencubit gemas perut berotot Yoga. "Mas jahat !" Serunya lalu ikut tertawa kala mengingat pikiran konyolnya tadi.
Andita memandangi Pria yang awalnya ia benci dan di hindari nya, tapi kini Pria kaku yang di kenalnya dulu menjelma menjadi malaikat penolong dan pelindung nya.ketika dia pergi hatinya merasa kehilangan,tak mendapat kabarnya khawatir dalam hatinya, Apa aku jatuh cinta ? Tapi itu tidak mungkin tepisnya, aku masih mencintai mas Bagas, Batin Andita.
Berpindah ke lain hati memang bukan prihal mudah meskipun hati merasa perih karena terluka dan kecewa, Menerima hati yang lain kala hati masih terpaut dengan cinta yang lalu memang sulit, semua butuh proses mungkin begitu juga dengan Andita.
"Mas,jangan pergi lagi.di sini aja,ya" ujar Andita setelah terdiam cukup lama.
Mas Dokter hanya mengangguk saja.tapi, diam-diam kegirangan bukan main.
Kata-kata Andita barusan,bermakna kuat bagi mas Dokter tampan itu.
"Kenapa mas selama di Desa tidak pernah menghubungi ku ?" Tanya Andita tiba-tiba, dengan wajah cemberut dan bibir mengerucut.
"Agar kamu mengerti artinya rindu" jawab Yoga sambil mengelus wajah Andita dengan ujung jari nya.
Andita kembali terdiam,tak berniat menanggapi ucapan Yoga barusan.
Sejauh ini Yoga tidak pernah meminta Andita mengakui perasaan hatinya,tapi dia akan membuat Andita mengakui perasaannya dengan sendirinya.
Di bibir Andita memang tidak terucap kata cinta,sayang dan rindu namun bahasa tubuhnya menyiratkan perasaannya tanpa ia sadari. Dan, tentu saja semua itu cukup membuat seorang Febri Prayoga berada di atas angin.
...----------------...
"Kata Bibi kamu gak makan sejak pulang kerja, kenapa?" Yoga mengubah topik pembicaraan.
__ADS_1
"Capek mas,terus ketiduran" jawab Andita.
"Harus makan,nanti tubuh kamu makin ramping" goda Yoga mencairkan suasana.
"Hehehe,kalo aku ramping mas gendong aku gak kesusahan" jawab Andita dengan tertawa.
"Sekarang kita makan dulu,nanti kita cerita lagi sampai kamu bosan" ujar Yoga menyeret lembut tangan Andita menuju ruang makan.
"Justru gak ada mas aku bosan di sini,sepi rasanya" Andita berucap tanpa sadar alias sudah mengakui ketergantungannya terhadap Yoga.
"Ohya,kalau begitu mas akan menemanimu selamanya." Jawab Yoga sungguh-sungguh.
Masih setengah pingsan Andita berseru girang "Serius mas !"
Yoga menarik kursi untuk Andita, "Ya. Mas serius, akan selalu menemanimu setelah kita menikah nanti" Bisiknya tepat di telinga Andita, setelah gadis itu duduk menghadap meja makan.
Andita tercekat ! Seketika tenggorokannya kesulitan menghantar udara ke paru-paru nya, beberapa kali ia menelan salivanya agar membasahi rongga mulutnya yang mengering.
Ya,Andita sangat terkejut dengan apa yang di bisikkan Yoga barusan, tiga tahun lebih bersama Bagas sekalipun belum pernah ia mendengar kata pernikahan terucap dari Pria yang sudah merebut hatinya sekaligus menyakitinya.
Andita Tergugu diam membisu, tanpa ada pergerakan apapun.
Yoga menatap bingung pada Andita yang melamun sedari tadi,ia mengetuk-ngetukan jari telunjuknya di atas meja.
Menunggu dia selesai ngelamun, bisa-bisa gak jadi makan batin Yoga.
"Sayang ?" Panggil Yoga
"Iya mas,aku mau !" Jawab Andita spontan.
"Hah...???" Dahi Yoga mengernyit membentuk beberapa lipatan.
...----------------...
To Be Continued
penasaran ??
wait for the next episode !
jangan lupa dukung karya Mentari Impian
dengan like dan komentar.
hayo siapa yang setuju Andita sama Dokter yoga ?
atau setuju Andita balikan sama Bagas ?
silakan sisipkan komentar kalian di kolom komentar ya😁
maafkan Mentari Impian kalo kalimatnya banyak terpeleset Or Typo.
__ADS_1
salam hangat dan salam bahagia selalu untuk pembaca 😘🙏