
Andita dan Yoga sudah duduk di hadapan Ayuningtyas, Mereka saling pandang sejenak lalu menatap bersamaan ke arah Ayuningtyas.
"Ma, sebelumnya Dita minta maaf. Karena tidak memberi tahu dimana Dita selama ini, tapi percayalah putrimu baik-baik saja." Ujar Andita sambil Tersenyum.
Andita bangkit dan duduk di Sofa yang sama dengan Ayuningtyas.
"Lalu ada hal lain ?" Tanya Ayu menatap Andita lalu bergantian menatap Yoga.
Andita melihat Yoga, Pria itu terdiam beberapa saat lalu mulai berbicara.
"Maaf kalau semua ini mendadak bagi tante, Yoga dan Andita memutuskan untuk menikah dalam waktu dekat ini." Ujar Yoga tanpa basa-basi.
"Yoga harap tante memberi restu atas niat kami." Lanjut Yoga lagi.
Ayu memandangi jari manis putrinya, Yoga mengikuti arah pandangan Ayuningtyas.
"Cincin di jari Andita merupakan warisan turun-temurun dari keluarga kami,Jadi cincin itu di berikan Mama saat Andita ke Jakarta kemarin. kata Mama sebagai simbol menantu yang di hormati dan di hargai, dalam tradisi keluarga besar kami." Jelas Yoga panjang lebar.
"Untuk acara lamaran resminya, keluarga Yoga akan datang langsung kemari." Lanjutnya.
Air mata Ayuningtias sudah mengintip di pelupuk matanya, bahagia, sedih dan haru menjadi satu. Andita memeluknya dan tangan gadis itu, menghapus buliran air mata yang meleleh di wajah Ayuningtyas.
"Mama setuju ?" Tanya Andita lembut, dengan tersenyum manis menghapus jejak air mata Ayuningtias.
"Jika nak Yoga adalah pilihanmu, Mama Ikhlas, Redho dunia akhirat nak." Sahut Ayu
Mendengar ucapan Ayuningtyas barusan, Yoga bertanya kembali untuk memastikan dia tidak salah pendengaran. "Apa lamaran Yoga di terima tan ?" Tanya Yoga harap-harap cemas.
Ayuningtias mengangguk dan tersenyum.
"Sampaikan pada orang tuamu, Mama juga menerima mu menjadi menantu Mama." Sahut Ayuningtyas.
Tanpa aba-aba Yoga segera berdiri dan menghubungi kedua orang tuanya.
Setelah panggilan nya terhubung, dengan semangat Yoga menyampaikan berita terkait lamarannya.
"Halo Assalamualaikum." Jawab Indira diseberang sana.
"Halo 'ma, lamaran Yoga di terima.!" Seru Yoga
"Alhamdulillah." Sahut Indira.
"Baiklah. Sampaikan pada orang tua Andita,seminggu dari sekarang sebelum lamaran Papa dan Mama akan kesana membicarakan soal peresmian lamaran dan penentuan hari pernikahan kalian." Ujar Chang lie tak kalah antusias dari putra sulungnya itu.
"Iya pa,jangan lama-lama." Sahut Yoga.
"Hahaha...,sabar dong !!" sahut Indira sambil tertawa di ujung sana.
"Ya sudah, sampaikan salam Mama dan Papa sama calon besan.maaf belum bisa bicara saat ini, rasanya kurang sopan kalau melalui telpon.sampaikan Maaf kami ya Nak." Ujar Indira.
__ADS_1
"Iya ma,pa." Sahut Yoga.
Setelah panggilan berakhir Yoga kembali duduk bergabung bersama Andita dan Ayuningtyas.
"Tante dapat salam dari papa dan mama, satu Minggu dari sekarang mereka akan kesini untuk membicarakan prihal lamaran." Ujar Yoga menyampaikan amanat kedua orang tuanya.
Ayuningtias mengangguk, menanggapi ucapan Yoga. "Kalian lanjut aja ngobrolnya, mama ke kamar dulu." Ujar Ayuningtyas.
"Ma, nanti Dita tidur sama Mama ya." Ucap Dita sambil tersenyum menatap Ayu.
Ayu mengelus lembut rambut putrinya, Menangkup kedua pipinya lalu mengangguk.
Yoga dan Andita larut dalam obrolan perihal rencana pernikahan mereka, dari desain undangan, tema pernikahan, gaun pengantin, bulan madu hingga keinginan memiliki anak.
Binar bahagia tersurat melalui kata terucap, harap dan doa tertanam dalam hati dan jiwa.
Ya, tentu saja mereka memiliki harapan dan cita-cita untuk meraih rumah tangga yang Sakinah Mawadah Warahmah. Rumah tangga yang penuh cinta dan doa, setia dan sekata hingga ke Janna nya.
...----------------...
Di apartemen Bagas...
Laki-laki itu menatap seluruh penjuru ruangan apartemen Bagas, lalu duduk di Sofa berhadapan dengan putranya.
Brata melihat putranya sedang di rudung marah dan kecewa, lalu laki-laki itu mencoba menyentuh anaknya melalui pertanyaan.
"Ada apa kamu ingin bertemu papa nak ?" Tanya Brata lembut.
"Bagas ? Kamu ada masalah apa ?!" Tanya Brata lagi dengan intonasi tinggi karena Bagas hanya diam saja.
Kembali terdengar deru nafas Bagas, lalu ia menatap pada Brata.
"Mama sudah menyita semua nya pa." Lirih Bagas.
"Hanya apartemen ini yang tersisa,karena tidak masuk dalam daftar aset mama." ucapnya menyiratkan kecewa dan terluka.
Brata mengepalkan tangannya, nafasnya naik turun. gejolak amarahnya tengah berperang di rongga dadanya saat ini, Laki-laki itu berusaha mengontrol emosi dan amarahnya Brata berusaha tetap tenang.
Lalu Bagas menceritakan semuanya apapun yang terjadi padanya hari ini, hingga bagaimana Anjani memperlakukan nya. Wanita itu sama sekali tidak menghargai perasaan darah dagingnya, mentah-mentah ia membuang seluruh kehormatan Bagas di hadapan seluruh karyawannya yang selama ini sangat menghormati nya.
Harga diri Bagas di telanjangi di muka bawahan nya, hingga terkoyak dan tercabik-cabik tanpa tersisa setitik pun.
"Wanita Iblis, Anjani benar-benar Iblis.!" Geram Brata.
"Maafkan papa nak, semua ini karena papa." Ujar Brata parau.
Hatinya sakit, sakit sekali.saat putranya yang juga darah daging Anjani, di perlakukan seperti itu oleh ibunya sendiri. Brata tidak terima, sama sekali tidak bisa menerima perbuatan Anjani kali ini.
"Semua yang dia lakukan padamu, adalah siasatnya agar papa tidak menceraikannya." Ujar Brata
__ADS_1
"Aku sudah tidak tahan lagi,sejak masih dikandungnya hingga harini kamu selalu jadi senjata Anjani. Anjani tidak pernah benar-benar mencintai mu sebagai anaknya, maafkan papa nak." Ujar Brata terisak,
Ia terlanjur mengucapkan kata-kata itu.
"Bagas tidak sudi mempunyai ibu seperti Anjani, Bagas benci Anjani pa. !!!" tukas Bagas berapi-api.
Bagas pada akhirnya mengerti kenapa perempuan itu bersikap seperti itu, dan ia pun akhirnya paham makna ucapan Brata selama ini.
"Jadi ini alasan papa bertahan hidup bersama mama selama ini, ternyata hanya untuk melindungiku dari serangannya. Astaga, ibu macam apa dia." Batin Bagas
"Kamu tenanglah, sebentar lagi apa yang menjadi hakmu akan kembali.semuanya sudah papa urus, tidak ada secuil pun Harta Anjani baik disini maupun yang di Jakarta." Ujar Brata.
"Lakukanlah apa yang menurut papa terbaik." Ujar Bagas pasrah.
Bagas memang tidak bisa ikut campur banyak masalah harta kekayaan mendiang kakeknya, semua itu memang Brata yang berkuasa dan berhak atas semuanya. Hanya saja saat ini, hak Brata masih di jajah oleh Anjani.
Hati Bagas perih,ia sedih, ia menangis kala mengetahui ternyata perempuan yang telah melahirkannya ke dunia ini tidaklah menghendaki kehadirannya.melainkan hanya untuk alatnya untuk mendapatkan keinginannya semata
...----------------...
Brata dan Bagas larut dalam lamunan masing-masing, Brata teringat kembali perihal keberadaan Ayuningtias.
Sedangkan Bagas ingatannya terbang jauh pada Andita, " Apakah Andita masih bisa menerima ku yang miskin ini ? Aku yang sekarang bukanlah Bagas yang dulu, Batinnya.
"Pa, istirahat lah. besok kita pikirkan lagi solusinya." ujar Bagas
Brata menatap sedih pada putranya itu, lalu ia beranjak menuju kamar tidur untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya. setidaknya bisa melemaskan otot-otot nya, meskipun mata enggan terpejam.
...----------------...
jam 10 pagi ...
Bagas menerima pesan singkat dari sahabat nya Erwin...
"Bro Andita sudah pulang. informasi anak buah ku mereka ada di bandara saat ini, bersama ibunya dan seorang Pria." isi pesan WhatsApp Erwin.
"Suruh mereka terus mengawasi nya." jawab Bagas lalu segera melompat ke kamar mandi setelah membalas pesan Erwin.
...----------------...
"TBC"
dukung terus karya Mentari Impian dengan
vote✓
like✓
❤️✓
__ADS_1
salam bahagia selalu 😘