
Liburan telah usai.... cinta telah kembali,hati sudah bahagia. Tersisa satu langkah lagi, yakni mewujudkan impian cinta yang pernah kandas.
Senyum berkembang merekah indah, tangan terpaut menjadi satu tiada lagi jarak yang akan mengikis cinta mereka.
Langkah mereka terayun memasuki ruang tunggu di Bandar udara Juanda Surabaya, hari ini Andita dan Bagas akan kembali ke kota K. Dan jangan lupakan di antara mereka ada Robert dan Erwin yang selalu setia mendampingi, begitu pula dengan Tono dan rekannya mereka akan sama-sama kembali ke kota K.
Wajah tampan Bagas mengalihkan pandangan kaum wanita yang berpapasan dengan mereka, siapa yang tidak mengenal Pria itu saat ini. Sebagai pengusaha muda yang sukses, kehidupan Bagas tak ubah seperti kehidupan selebritis yang selalu mendapat sorotan. Semuanya menatap kagum padanya, Andita melirik sekitar lalu melirik Bagas. Bagas semakin mengeratkan genggaman tangannya tanpa mengehentikan langkahnya, Bagas mengerti bahwa wanitanya itu tidak nyaman dengan tatapan wanita di sekitarnya.
Senyum tipis dan samar tercetak di bibir Bagas, ketika menyadari perubahan wajah Andita.
Saat ini Bagas dan Andita sudah berada di ruang tunggu Executive Lounge kelas bintang lima, sejak beberapa menit berlalu tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Andita. Sesekali Bagas melirik sang kekasih, wajahnya terlihat di tekuk sedemikian rupa.
"Hey...ada yang salah ?". Tanya Bagas seraya menggawil pipi Andita. Andita hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Bagas.
"Sayang...mas salah apa ? Kok tiba-tiba cemberut gitu.?" Tanya Bagas lagi.
"Mas kayaknya sangat menikmati di liatin cewek-cewek tadi." Dengus Andita membuang muka.
Bagas menggaruk alisnya sambil tersenyum, hatinya semakin berbunga-bunga ketika Melihat perubahan sikap sang kekasih. Andita nya dulu, sudah benar-benar kembali tapi sedikit posesif dari yang Bagas kenal dulu.
"Kamu cemburu ?." Tanya Bagas, senyum-senyum.
"Ih...siapa yang cemburu. Dita kan cuma bilang, mas sangat menikmati jadi pusat perhatian mereka." Tukas Andita menolak pernyataan Bagas.
Bagas berjongkok di hadapan Andita, memutar wajah Andita agar berhadapan dengan nya.
"Ya, mas sangat menikmatinya." Sahut Bagas tersenyum menatap manik mata di hadapannya itu.
Wajah Andita memerah, matanya berkaca-kaca saat mendengar jawaban Bagas barusan. Hatinya terasa sakit mendengar hal itu... sekelebat pengkhianatan yang lalu kembali terbayang di pelupuk matanya. Marah, emosi, kecewa menjadi satu.
"Oh,begitu." Sahut Andita dengan bibir bergetar.
"Hm... Sangat menikmati saat calon istri mas ini cemburu. Bahkan dia sempat memperhatikan sekitar yang justru tidak sempat mas perhatikan." Ujar Bagas sambil mengusap cairan bening yang mengalir di pipi mulus sang kekasih.
"Terima kasih sayang, mas sangat mencintai mu. Percayalah tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun posisimu di hati mas." Sambung Bagas.
Cie... Babang Bagas lebay atau apa ya ???
Wajah Andita tertunduk merona bak tomat, ia malu. Malu sekali !! Bagaimana bisa dirinya berubah seperti itu. Bagas menyentuh wajah Andita yang memerah.
"Maaf." Cicit Andita masih berurai air mata, bukan air mata kesakitan tapi air mata bahagia.
"Mas yang harus minta maaf karena sudah membuat perasaan kamu gak nyaman. Maafin mas ya..." Bagas tersenyum dan mengecup lembut puncak kepala Andita.
Bagas membawa Andita kedalam pelukannya, menyalurkan kekuatan hati dan cintanya. Meredam getaran amarah di dalam jiwa Andita, amarah karena cemburu.
"Mas sudah bilang akan memperkenalkan kamu pada dunia, hanya kamu pemilik hati mas. Persiapkan diri, kalau kamu gak mau menjawab cukup diam biar mas yang akan menjawab pertanyaan mereka nantinya." Andita menatap Bagas dan tersenyum, lalu mengangguk.
"Sebegitu besarnya cintamu untukku mas, sepenting itu kah aku bagimu? Apa aku pantas untuk bersanding dengan mu mas." Bisik hati Andita, ia mendesah menarik nafas dalam-dalam. Bagas mengusap kepala Andita.
"Jangan mikir aneh-aneh, ayo sekarang waktu penerbangan kita." Bagas menyentuh tangan Andita dan membawanya keluar dari sana.
__ADS_1
Erwin dan Robert saling pandang sejenak, lalu ikut melangkah menyusul Bagas dan Andita.
...----------------...
2 jam kemudian pesawat yang membawa Andita dan Bagas telah mendarat sempurna di kota K, sang asisten sudah menunggu untuk menjemput sang Bos.
Erwin dan Robert pun berpamitan kembali ke rumah masing-masing.
"Bro gue sama Erwin duluan ya, si Alga nyari terus." Robert menjelaskan alasannya untuk tidak ikut serta dengan Bagas.
"Gak ikut kerumah papa dan Mama dulu ?". Tanya Bagas
"Kak Robert. Salam sama Lauren dan Alga, kalau ada waktu nanti Dita akan berkunjung khusus untuk mereka." Ujar Andita menyela percakapan mereka.
"Oh...dengan senang hati Andita. Kabarin ya kalo mau kerumah." Balas Robert
Bagas menatap wajah Andita, ingin memastikan apakah ucapannya barusan sungguh-sungguh atau tidak. Tiada kebohongan disana, itu artinya Andita sudah menerima kenyataan itu. Ya, memang sudah sepantasnya begitu Lauren dan Alga tidak ada kaitannya dengan masalahnya bersama sang mantan.
"Kita sayang. Kita akan mengunjungi Al dan Lauren." Sahut Bagas setelah yakin Andita akan baik-baik saja ketika bertemu Alga nanti. Tentu Bagas khawatir, khawatir Andita kembali mengingat masalah itu. karena wajah Alga sangat mirip sekali dengan wajah Yoga.
"Oke. Kita tunggu kedatangan kalian, terutama Andita. Salam buat Om dan tante." Sahut Robert
"Gak. Andita gak akan kerumah lu kalo gak sama gue." Tukas Bagas seraya mendelik tajam kearah Robert.
"Hahaha... ayo kita jalan, penyakit nya udah kambuh tu." Goda Erwin yang jelas sangat mengenali watak sahabat nya yang cemburunya setengah mampus itu. Yang di ketawain buang muka acuh tak acuh atas canda dan goda kedua sahabatnya.
"Hahaha...ya lu bener. Oke bro, kita duluan." Sambung Robert.
Bagas mengamit lengan Andita dan membawa nya masuk ke dalam mobil, Andre sebagai juru kemudi segera meluncur membela jalan membawa kedua insan yang tengah berbahagia itu ke kediaman Brata dan Ayuningtyas.
40 menit kemudian mobil yang Andre kendarai sudah memasuki parkiran kediaman Brata.
Brata dan Ayuningtyas melihat mobil Bagas datang segera keluar menyambut nya, mata Ayu melotot mulutnya terbuka terkejut ketika melihat pemandangan nyata di depan matanya. Bagas membuka pintu dan mengulurkan tangannya menuntun Andita untuk turun.
"Mas...kok bisa mereka datang bersama ?." Desis Ayu, Brata diam. Sesungguhnya Brata sama terkejutnya, pertanyaan demi pertanyaan tentu bersarang di kepalanya saat ini. Bagaimana bisa ? Apa yang tidak mereka ketahui ? Atau dan atau ? Kira-kira begitu lah isi kepala Brata dan Ayuningtyas.
"Assalamualaikum pa,ma." Bagas dan Andita memberi salam secara bersamaan.
Bukan menjawab, pasangan suami-istri itu justru fokus pada genggaman tangan Bagas yang terpaut erat di tangan Andita.
Bagas mengernyit heran, melihat tingkah kedua orang tuanya itu.
"Pa ! Ma ! Kalian kenapa sih ?." Bagas mengibas kan tangannya di hadapan Ayu dan Brata.
"Eh...anu, itu nak." Sahut Ayu bingung dan gelagapan, sambil menunjuk ke arah tangan kedua anaknya.
"Masuk. Masuklah nak, ayo nak." Ajak Brata
Dalam keadaan seperti itu, tetap saja membuat Brata dan Ayu terkejut meskipun mereka sadar bagaimana hubungan anak-anaknya sebelumnya. Berbanding terbalik dengan kedua anak itu, mereka santai-santai saja tidak ada kecanggungan sedikitpun.
Andita memeluk Brata, seperti biasa meringkuk manja dalam dekapan sang papa.
__ADS_1
"Dita kangen banget sama papa." Cicit Andita
Brata mengusap lembut rambut putrinya, melabuhkan kecupan hangat seorang ayah di pucuk kepala Andita sembari menetralkan suasana hati nya yang tadi sempat terkejut.
"Papa juga kangen sayang. Bagaimana kegiatan sosialnya, lancar ?". Tanya Brata
"Berkat papa semuanya berjalan dengan baik." Sahut Andita
"Hm...selain karena papa, semuanya berjalan berkat konsistensi kamu bersama Tim juga. Ohya Tono sama yang lainnya mana ?." Tanya Brata akhirnya sambil celingukan mencari sosok Tono.
"Tadi mereka pamit pulang dulu pa, nanti mereka kesini." Sahut Bagas setelah terdiam saja sejak tadi, tanpa sadar memberikan akses bagi Brata untuk menerka semuanya.
Brata memicing menatap Bagas.
"Hah...jangan bilang kalo kamu nyusul Andita ?." Selidik Brata
Ayu keluar dari dapur membawa nampan berisi makanan dan minuman, wajahnya sudah kembali seperti semula tiada keterkejutan lagi disana.
"Ini di minum dulu. Kalian kok bisa datang bersama ?." Tanya Ayu tanpa basa-basi.
Bagas menyambar minuman yang di bawah Ayu dan segera menyeruputnya, untuk melegakan tenggorokan nya yang terasa kering secara tiba-tiba.
"Papa benar. Tapi sebelum menjelaskan semuanya, Bagas mau mandi dulu. Pertanyaan kalian bikin Bagas gerah." Bagas bangkit dan berlalu menuju lantai atas di mana kamarnya yang biasa digunakan nya saat berada di rumah orang tuanya itu.
Kini tatapan Ayu dan Brata beralih pada Andita, tatapan mereka tentu saja menuntut penjelasan. Apa lagi selain itu !
"Jelasin !." Tukas Ayu langsung menukik tajam pada inti pertanyaan.
Andita tersenyum menatap kedua orang tuanya itu.
"Ini. Silakan kalian simpulkan sendiri, Dita mau mandi dan istirahat dulu." Andita mengangkat tangannya, menunjukkan cincin berlian yang melingkar di jari manisnya. Andita mengecup pipi Brata dan Ayu bergantian, lalu melenggang pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang berpikir keras.
Kedua suami istri itu saling menatap.
"Benarkah ?." Desis Ayu
"Bagas sudah melamar Andita tanpa kita ?." Ujar Brata
"Tepat." Sahut Ayu
Brata melirik ke arah lantai dua, menarik tangan Ayu untuk berdiri.
"Anak kurang aj*r ! Bisa-bisanya mereka melakukan hal itu tanpa kita." Geram Brata sambil menaiki tangga menuju kamar Bagas.
...----------------...
bersambung...
dukung terus karya Mentari Impian dengan like dan vote, dukungan kalian semangat bagi Author dalam menumbuhkan ide.
maaf ya baru bisa update, karena Author sibuk beberapa hari yang lalu di dunia nyata. hari ini baru sempat menghayal lagi untuk kalian😜
__ADS_1