
"Sayang, mas keluar sebentar ya nyari udara segar." Pamit Yoga sama Andita dan di susul anggukan olehnya.
Yoga mencium kening dan pipi Andita sebentar lalu melangkah menuju pintu dan menutupnya secara perlahan, senyumnya tersungging manis saat menoleh Andita yang masih mengikuti langkahnya dengan tatapan matanya.
Andita melempar pandangan nya ke setiap penjuru kamarnya, mencari sosok perawat yang menjaganya. "Kemana dia, apa belum kembali ?" Cicitnya.
Perlahan Andita bangun menegakkan tubuhnya dan bersandar pada bantalan ranjang, tak lama kemudian perawat yang di tunggu-tunggu nya datang dengan beberapa berkas di tangannya.
"Mbak..." Panggil Andita sambil memegangi kepalanya. Perawat itu segera menghampiri nya dan meletakkan berkas yang di pinta Yoga di atas nakas samping tempat tidur Andita.
"Nyonya, apa kepalanya sakit ? Biar saya panggil kan Dokter." Panik sang perawat
"Hm...tidak perlu, Hanya sakit biasa. Mbak saya mau makan, tapi pakai sup panas." Ujar Andita.
"Baiklah, tunggu sebentar." Jawab perawat lalu buru-buru keluar tanpa memperdulikannya berkas yang di bawahnya tadi.
Andita tersenyum, dia tidaklah benar-benar lapar atau sakit bagian kepalanya. Hal itu di lakukan nya hanya ingin mengetahui hasil diagnosa Dokter selama ia di rawat. Karena Andita tidak pernah mendapat penjelasan apapun mengenai apa saja yang terjadi dengan dirinya, dari suaminya ataupun dari orang tuanya.
Tangannya mulai membuka lembaran kertas itu dan membaca beberapa berkas yang di bawah oleh perawat nya tadi, di catatan terakhir Andita menutup mulutnya, bahwa Andita di nyatakan keguguran dan telah di lakukan tindakan kuret. Terakhir data-data si pendonor darah, Andita mengembalikan berkas tersebut ke tempat semula. Air matanya mengalir membasahi pipinya, ternyata selama ini ada calon bayinya di dalam rahimnya yang tanpa dia sadari.
Andita meraba perutnya yang rata, sambil terisak sedih. " Maaf sayang, maafin mama tidak bisa menjagamu dengan baik." Lirihnya
Andita kembali merebahkan tubuhnya ketika merasa denyutan hebat di kepalanya, wanita itu berusaha membuat tubuh dan otaknya kembali rileks. Perlahan-lahan dengkuran halus berhembus melalui pernafasan nya.
...----------------...
Sang surya telah kembali ke singgasananya, membalut semesta dengan kegelapan malam. Angin malam berhembus menusuk kulit merasuk hingga ke tulang, namun hal itu tidak di rasakan sama sekali oleh sosok lelaki yang sedang meninju-ninju samsak muaythai. Tubuhnya berkilau mengkilap oleh cairan keringat yang membanjiri tubuh atletisnya, menambah kesan seksi tubuhnya.
Setelah merasa cukup dan lelah, ia berbaring di lantai tanpa alas apapun selain karpet lantai yang di desain khusus untuk ruang olahraga pribadinya itu.
Bagas. Ya, sosok pria itu Bagas, bukan tanpa alasan lelaki itu melakukan kegiatan olahraga nya hingga larut, selain ingin membuat lelah tubuhnya agar kantuk cepat menguasainya. Agar pikiran dan konsentrasi nya tidak terpecah belah oleh laporan yang di terimanya dari Robert tadi siang.
Dalam otaknya bersarang khawatir dan cemas, lebih tepat sangat cemas. Bagas bangun dan menegakkan tubuhnya.
__ADS_1
"Aku sangat tidak menyangka, ternyata kamu sangatlah kejam Yoga. Semua orang tertipu dengan sosok kepolosan mu itu." Cicit Bagas, lalu berdiri dan meninggalkan ruangan gym pribadinya itu.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Bagas berdiri di balkon kamar nya. Dengan segelas Wine di tangannya, sorot tajamnya menembus kegelapan malam. Bagas seketika itu juga teringat akan berkas catatan yang di bawah sahabatnya tadi siang di kantor, Bagas berbalik arah menuju ruang kerja pribadinya.
Jari-jari panjang nya meraih amplop coklat yang berada di atas mejanya, lalu kembali membacanya dengan seksama.
"Sindikat perdagangan organ tubuh manusia, elegal, menyediakan berbagai obat-obatan yang dapat melumpuhkan organ syaraf, yang di jual bebas, juga menyediakan obat dan suntikan yang mematikan. Apa yang harus aku lakukan ? Haruskah aku mencampuri urusan serigala itu ?" Desah Bagas.
"Tidak. Itu bukan wewenang ku. hak ku adalah menjauhkan orang-orang terkasih ku dari cengkraman tangan keluarga bajingan itu. Chang lie, Yoga. Kalian cukup pintar bersembunyi dibalik kebaikan kalian." Cicit Bagas setelah berpikir cukup lama.
"Hal yang wajar terjadi jika aset kalian berada dimana-mana, bisnis kalian bukan hasil dari jerih payah yang sesungguhnya melainkan semua yang kalian nikmati itu dari bisnis gelap, Rumah sakit yang kalian dirikan hanya untuk memperlancar bisnis busuk itu. Aghhh..." Bagas memandang foto Brata dan Ayuningtyas juga Andita, membayangkan mereka yang akan menjadi santapan serigala itu selanjutnya.
Bagas menyimpan sebuah fakta yang berada dalam amplop itu di dalam brankasnya, agar tiada siapapun yang dapat melihat dan membacanya. Ia kembali menyesap cairan di dalam gelasnya, Bagas menumpukan kedua tangannya menjadi saling bertautan di atas meja. Matanya sama sekali tidak menjemput kantuknya.
"Papa. Ya, papa harus tau soal ini." Desis Bagas.
Bagas menyalakan laptopnya, memilih menyelesaikan pekerjaan nya yang sempat terbengkalai hari ini.
...----------------...
Setelah hampir satu bulan istrinya terbaring sakit lelaki itu hanya bisa menahan hasrat kelelakian nya. Namun malam ini hasratnya dapat tersalurkan.
Mata Andita mengerjap-ngerjap beberapa kali, menyesuaikan dengan kondisi sekitarnya. Gelap bahkan nyaris tidak dapat melihat apapun, ia terbangun karena merasa sangat haus. " Apa papa tidak membayar tagihan listrik sehingga lampu bisa mati begini, tidak ini bukan mati lampu ac-nya masih nyala.tapi sengaja di matikan." Batinnya
Samar-samar Andita mendengar desahan, ya desahan dan geraman seorang lelaki. Lamat-lamat Andita memasang telinganya, benar ! Desahan itu berada di ruangan kamarnya. Siapa pelakunya itu ? Siapa mereka ? Samar-samar Andita menolehkan kepalanya ke arah sofa yang berada di kamarnya, seketika wanita itu menutup mulutnya. Bulir bening mulai menetes begitu saja, tanpa permisi terlebih dahulu.
Bibirnya terkatup rapat tanpa dapat berbicara apapun, saat melihat siluet tubuh pria yang sangat di kenalnya itu.
Tangannya terkepal erat, menahan amarahnya. Namun apa dayanya saat ini, sekedar berbicara saja kepalanya sakit, lalu bagaimana jika dirinya berteriak ? Apa cangkang kepalanya akan pecah !!
...----------------...
Bagas sudah duduk manis di kursi kebesaran nya, kantung mata nya terlihat jelas menghitam akibat tidak tidur semalaman.
__ADS_1
tangannya menekan-nekan benda pipih di tangannya, lalu memasang earphone di telinganya. ia mulai melakukan panggilan.
"Assalamualaikum, pa. apa kabar kalian disana ?" salam sekaligus tanya yang di lontarkan Bagas saat telepon nya sudah tersambung ke pihak kedua.
"Walaikumsalam. Alhamdulillah sejauh ini semuanya baik-baik saja Nak, apa ada informasi penting ?" tanya Brata, mengingat saat ini jam kerja tidak biasanya Bagas melakukan panggilan di saat-saat seperti ini.
"Iya pa. apa papa sudah berbicara sama mama, soal permintaan Bagas. hm maksud Bagas, kalian kembali ke kota K." jawab Bagas
"Dan menyangkut informasi mengenai Yoga, kami sudah mendapatkan nya." sambung Bagas lagi. lalu Bagas mulai menyampaikan informasi yang mereka dapatkan secara detail dan singkat.
"Apa ?!! apa kalian yakin Nak ? rasanya tidak mungkin Chang Lie terlibat." tukas Brata
tapi tunggu, Brata teringat kehidupan mereka dahulu. keluarga Chang Lie memang keluarga Dokter, tapi kehidupan mereka waktu itu sederhana saja, dan setelah Prayogo meninggal kehidupan mereka berubah pesat. "Apa mungkin yang di sampaikan Bagas benar adanya ?" batin Brata.
"Halo pa ? pa... papa masih disana ?" panggil Bagas.
"Hm...ya nak. Papa mendengar mu, soal permintaan kamu kembali ke kota K tunggulah Andita sampai pulih benar. papa khawatir meninggalkan nya disini tanpa kami." sahut Brata.
"Baiklah pa. ohya nanti Bagas mau mengunjungi mama pa." pamit Bagas
"Ya. pergilah nak, walau bagaimanapun dia tetap ibumu yang sudah melahirkan kamu. lupakanlah kesalahannya, meskipun Anjani sangat membencimu."
"Iya pa, kalian waspada dan berhati-hati di sana. kalau begitu Bagas kerja dulu, Assalamualaikum." Bagas mengakhiri panggilan nya.
Brata mematung di tempatnya berdiri, pikirannya berkecamuk kusut. "Pantas saja kalau dia mengenal Jack." desis Brata
...----------------...
TBC
jangan lupa vote dan like sebanyak-banyaknya, biar Author semangat nulis nya.
maaf jika ada kalimat yang Typo
__ADS_1