
SATU TAHUN KEMUDIAN
Sejak di tinggalkan Andita menikah dengan lelaki pilihan nya satu tahun lalu, Bagas fokus membangun dan mengembangkan sayapnya di dunia bisnis. Saat ini sayapnya kian lebar dan kuat, beberapa majalah bahkan surat kabar selalu memuat berita mengenai keberhasilannya sebagai pengusaha yang berjaya di usia mudanya.
Semakin berkembang bisnisnya semakin melenakan Bagas dalam bekerja, dalam sehari Bagas bahkan bisa bekerja hingga 8 dan 10 jam. Kesibukan Bagas Sungguh menyita banyak waktu nya untuk tidak selalu memikirkan sang mantan, tapi bukan berarti dia tidak ingat atau sudah melupakan justru dengan cara gila bekerja seperti itu membantu Bagas untuk melupakan Andita meskipun tidak berhasil sepenuhnya.
Kesuksesan yang diraih nya tidak luput dari sorotan kaum hawa yang haus akan materi, kehadiran perempuan-perempuan kalangan atas tak sedikitpun melunturkan rasa cintanya terhadap Andita Rosmanilla.
Bahkan beberapa investor menawarkan kerjasama yang sangat menjanjikan, bahkan ada salah satu investor yang menawarkan kerjasama berikut dengan menikahi anak gadisnya.
Saat ini Bagas bersama asisten pribadinya sedang berada di resto sebuah hotel ternama di kota K,mereka tengah meeting bersama kliennya yang menawarkan kerjasama pada Subrato group.
Seorang Pria paru baya sudah bergabung bersama Bagas dan juga Andre, kliennya itu di temani gadis cantik lebih tepatnya sangat cantik. Gadis cantik itu bukan asistennya tapi putrinya,matanya liar menatap kagum pada sosok tampan seorang Bagas.
Namun tidak demikian halnya dengan Bagas, ia justru merasa sangat tidak nyaman atas tatapan gadis itu.
"Maaf Nona, apa pandangan Anda bisa di kendalikan ?" Ujar Bagas dingin.
Sang gadis tersipu malu, sedangkan asisten Bagas hanya mengulum senyumnya saat bos-nya menegur secara langsung anak klien mereka.sementara Pria paru baya yang tak lain adalah ayah dari gadis tersebut justru terkekeh kecil menanggapi ucapan Bagas barusan.
"Maaf, sepertinya putri saya sangat tertarik kepada anda". Sang ayah gadis itu menimpali ucapan Bagas.
"Disini kita akan membahas soal kerjasama,bukan membahas soal ketertarikan !" Sarkas Bagas sambil melirik sang asisten sebagai kode untuk memulai meeting mereka.
Bagas sudah gerah di tatap seperti itu oleh putri kliennya itu,ia justru sudah tidak bernafsu lagi untuk memimpin meeting mereka setelah melihat tingkah gadis di hadapannya saat ini, meskipun ia sangat menginginkan sang investor tersebut bekerjasama dengan Subrato group.
Andre mulai membuka pembicaraan menyangkut kerjasama mereka setelah menerima kode bos-nya, tanpa memberi kesempatan kepada sang investor untuk menawarkan anak gadisnya lagi kepada bosnya.
__ADS_1
Setelah menjelaskan beberapa point penting dan jumlah keuntungan yang akan di berikan pihak Subrato group kepada pihak investor, andre menutup pembicaraannya dan menyerahkan keputusan akhir pada sang Bos.
"Bagaimana bos ? Apa bos ingin menambahkan beberapa point penting lainnya ?" Tanya Andre.
Bagas hanya tersenyum menatap Andre.
"Tidak, semua yang kamu jelaskan sudah lebih dari cukup." Jawab Bagas
"Bagaimana Pak Hendro, ?" Tanya Bagas seraya menatap manik mata Pak Hendro kliennya tersebut.
Ya, pak Hendro yakni nama klien Bagas kali ini yang ingin bekerjasama dengan Subrato group.
Pak Hendro tersenyum simpul penuh arti menatap ke arah Bagas,sesekali matanya melirik anak gadisnya yang juga selalu mencuri pandang pada Bagas.
"Hm... keuntungan yang pak Bagas tawarkan sangat menguntungkan bagi saya, namun akan lebih menguntungkan lagi bagi kita jika pak Bagas bersedia menikah dengan jenny putri saya." Jawab Pak Hendro dengan senyum lebar.
Bagas tertawa mendengar ucapan kliennya itu, selama ini ia hanya mendengar berita burung mengenai pak Hendro yang selalu menawarkan kerjasama bersamaan menawarkan anaknya.
"Sudah berapa banyak lelaki yang anda tawari permen manis di samping anda itu, Pak Hendro ?" Tanya Bagas dengan cengiran mengejek.
Wajah putri Pak Hendro memerah entah marah atau justru tersanjung saat di katakan permen manis oleh Bagas.
"Maaf pak Bagas, saya tidak pernah menawarkan putri saya kepada siapapun. Putri saya seorang model Top, banyak sekaki lelaki yang ingin melamarnya. khusus untuk anda Pria muda yang pekerja keras saja yang saya tawarkan menikah dengan Jenny putri saya. Bukankah itu sebuah keberuntungan ?" Ujar pak Hendro membanggakan pekerjaan putrinya.
"Waw...sebuah kehormatan bagi saya, di beri kesempatan menikah dengan seorang model Top cantik dan anak pengusaha hebat." Ucap Bagas menggoda penuh arti pada sang Gadis.
Wajah pak Hendro berbinar bahagia kala mendengar ucapan Bagas yang juga menyanjung kecantikan putrinya, begitupun dengan jenny ia tidak kala bahagia dari sang ayah.
__ADS_1
"Tapi sayangnya, saya bekerja keras bukan untuk menikahi putri anda pak Hendro. Saya sama sekali tidak tertarik dengan putri anda, meeting nya cukup sekian. Dan kerjasama kita BATAL !!" Tegas Bagas seraya meninggalkan tempat duduknya dan berlalu pergi dari sana.
Andre mengumpulkan beberapa berkas di atas meja dan berdiri sambil Menangkup kedua tangannya kehadapan pak Hendro dan putrinya, lalu pergi menyusul bos-nya yang sudah keluar lebih dulu.
Pak Hendro mengepalkan tangannya kala mendapat dua penolakan sekaligus dari pengusaha muda itu, kecewa dan marah bercampur menjadi satu. Kesempatannya untuk meraup pundi-pundi keuntungan gagal total, apa lagi kesempatan menjadikan Bagas menantunya sepertinya hanyalah angan-angan belaka.
"Kemana bos ?" Tanya Andre, saat mereka sudah di dalam mobil.
"Antar saya pulang kerumah." Jawab Bagas, saat ini hatinya sangat merindukan seseorang yang sangat ia cintai, karena itu lah ia ingin pulang kerumah pribadinya.
Tanpa menunggu lama Andre mengemudikan mobilnya menuju rumah sang bos, sesekali ia melirik pria tampan yang duduk termenung menatap jalanan.
...----------------...
Setelah menyelesaikan ritual mandinya dan berganti pakaian santai Bagas duduk di Sofa kamarnya, tangan sedang menggulir gawai canggihnya melihat beberapa koleksi foto gadis cantik yang sangat ia rindukan.
Lalu ia membuka aplikasi WhatsApp membaca ulang setiap pesan dari Andita yang masih ia simpan, Sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman ketika membaca kata-kata manis Andita untuknya dulu.
"Satu tahun berlalu, apa kamu sudah melupakan mas sayang ?" Gumam Bagas saat menatap wajah cantik Andita yang terbingkai indah di samping tempat tidurnya, kakinya melangkah menghampiri nakas dan duduk di tepi ranjangnya.
"Tuhan...jika ada kesempatan kembalikan dia padaku." Lirih Bagas, tangannya meraih foto Andita dan memeluknya.
Setelah lama larut dalam memori masa lalunya, Bagas tertidur dengan memeluk bingkai foto Andita. ia jarang pulang dan tidur di rumah pribadinya dimana banyak foto-foto Andita yang ia pajang disana,Kali ini dan saat ini Bagas sangat merindukan perempuan itu, yang sudah menjadi milik orang lain.
...----------------...
TBC
__ADS_1
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN DARI MENTARI IMPIAN 🙏.
MOHON MAAF LAMA GAK UPDATE, DAN TERIMAKASIH UNTUK YANG MASIH MENANTI KELANJUTAN CERITANYA.