
Hampir setiap malam Andita menyaksikan suaminya menggagahi perawatnya di dalam kamar yang sama dengannya, sekarang Andita memahami kondisinya yang selalu tertidur pulas menjelang malam.
"Pasti obat tidurku di tambah dosisnya oleh perawat jalang itu." Dengus Andita, ketika sekilas menatap wajah tak bersalah perawat yang sedang tertidur pulas di sofa kamarnya.
Terlihat sekali wanita itu kelelahan, karena harus melayani nafsu bejat Yoga yang hampir mereka lakukan setiap malam. Andita bertekad untuk tidak menangis lagi, untuk apa menangisi si brengsek itu !! Dialah pengkhianat sejati yang pernah di temui nya.
Bisa-bisa suaminya itu melakukan kegiatan terkutuk itu di dalam kamar yang sama dengannya. " Cukup Andita. Jangan menangis lagi !! Kamu harus fokus pada kesehatan saat ini, itu yang lebih penting. Bagaimana kamu bisa bertindak kalau bersuara saja kepalamu sakit." Batinnya, memberikan dorongan semangat untuk dirinya sendiri.
Hari-hari Andita lalui dengan baik, seakan-akan tidak terjadi sesuatu pada hati dan pikirannya. Cukup menolak apapun yang berbentuk obat dan makanan dari perawat itu, termasuk air infus. Cairan infus, ketika perawat itu lengah Andita akan mengganti nya dengan infus yang steril dari semacam obat yang akan membawanya ke alam tidak sadar atau justru tertidur sepanjang hari.
Dan Andita akan mencabut jarum yang menancap di kulitnya, lalu menutupinya dengan plaster. Agar cairan infus yang di pasang jalang itu tidak merusak kesehatan nya dan akan mengganti infus tersebut dengan caranya sendiri, Andita tidak ingin terbaring lemah seperti ini terus. Dirinya harus bangkit agar bisa terlepas dari neraka jahanam yang terkutuk itu.
Kali ini Andita meminta Ayuningtyas untuk selalu bersamanya, bahkan menemaninya tidur baik siang atau pun malam. Andita tidak ingin selalu mendengar desahan keparat itu di kamarnya setiap malam, setidaknya kalau ada Ayu kedua manusia terkutuk itu mencari tempat lain untuk menggali lubang dosa bagi mereka.
Dokter pun akhir-akhir ini jarang memeriksa kondisi Andita saat malam, kemana Dokter itu. Hanya perawat jalang itu yang selalu berkeliaran di sekitarnya, dan semakin membuat cangkang kepala Andita mau pecah saat melihatnya.
Sedangkan Yoga tidak menyadari sedikitpun bahwa kebejatannya sudah di ketahui oleh Andita, awalnya suaminya itu menolak Ayu untuk menemani Andita, karena kalau mereka melakukan kegiatan panas mereka di salah satu ruangan rumah tersebut, bukan tidak mungkin semuanya akan dengan cepat terendus sang empunya rumah.
Yap tepat sekali, tak akan ada yang mencurigai keberadaan Yoga dan perawat itu saat berada satu kamar dengan Andita. Bahkan tak akan yang mengetahui kegiatan tusuk menusuk mereka, secara Andita sudah mereka beri obat tidur.
Licik apa pintar ya si Yoga ini....semua dramanya di perankan dengan begitu apik. Tapi satu hal yang Yoga lupakan, sepandai-pandai nya tupai melompat akan jatuh juga.
...----------------...
Satu bulan berlalu....
Keluarga Brata tengah melakukan aktivitas di meja makan, yakni sarapan pagi.
Kondisi Andita sudah sangat baik, hanya hatinya saja yang hancur remuk saat ini. Secara fisik tak ada kendala apapun lagi, namun secara batin Andita sangat menderita.
Andita menatap kosong pada piring di hadapannya,ia teringat akan sosok pendonor darah untuknya di bulan lalu dan meminta keluarganya untuk mempertemukan mereka, mendengar sekilas cerita Ayu mengenai wanita itu Andita turut prihatin. Yang paling membuat Andita prihatin mendengar bahwa wanita itu memiliki seorang anak, tanpa suami.
__ADS_1
"Akhir pekan Robert akan kesini bersama adiknya.papa sudah sampaikan bahwa kamu ingin bertemu dengan mereka." Ujar Brata saat sarapan
"Makanlah, kamu harus sehat dan kuat." Senyum Brata terkembang tulus. Brata tidak tau apa saja yang akan di hadapi Andita kedepannya setelah ini, yang pastinya putrinya itu harus kuat secara fisik terlebih dulu.
"Hm." Sahut Andita, lalu mulai menyendok makanan di piringnya.
Yoga hanya diam saja tanpa berniat ikut berbicara di sana, ia hanya fokus memasukkan makanan tersebut kedalam mulut nya.
"Ini minumnya mas, makan yang banyak biar staminanya selalu kuat." Bisik Andita. ' Biar kuat menggagahi si jalang itu.' bisik hatinya kemudian
Yoga menatap Andita dan tersenyum. " Terimakasih sayang." Jawab Yoga
"Hm...ohya hari ini, Andita mau jalan-jalan. Sudah lelah rasanya harus melihat bantal dan kasur setiap hari." Tukasnya sambil tersenyum penuh arti menatap Yoga.
"Iya sayang, mas akan temani kamu." Sahut Yoga
"Tidak perlu. aku mau jalan-jalan sendiri aja, mas istirahat aja. Bukannya selama ini mas selalu begadang setiap malam." Sindir Andita dalam senyuman
"Maksud Dita, suamiku yang baik hati ini, selalu begadang menjaga Andita selama ini. Dan tentu saja semua itu, menguras tenaganya, ya kan mas." Ucap Andita lembut, namun entah kenapa kata-kata itu seperti bukan menusuk hati Yoga.
"Itu sudah kewajiban mas, sayang. Baiklah kalau kamu menolak di antar mas jalan-jalan nya, silakan nikmati waktu sendiri mu dengan baik." Ucap Yoga
"Ohya, aku minta uang cash ya mas." Ucap Andita lalu beranjak meninggalkan meja makan tanpa permisi.
Semuanya menatap aneh pada Andita, ada apa dengan perubahan sikap anak itu. Apa karena syarafnya sudah kena ? Atau ada faktor lain. Ayu hanya geleng-geleng kepala saja, sedangkan Yoga merasa ada yang beda. Andita tidak biasanya meminta uang, apa lagi itu cash.
Andita menyeringai penuh luka dan benci dari balik pintu kamar nya. Meminta uang cash memudahkan Andita untuk pergi kemana saja, tanpa harus terlacak melalui akses kartu kredit.
Andita menyelipkan kartu tanda pengenal kedalam saku celananya paling dalam, hari ini ia akan pergi tanpa ponsel dan tanpa kartu-kartu yang lainnya selain KTP. Andita menatap sekilas pada kerudung dan kemeja oversize warna putih di lemarinya saat ini.
"Oke,memakai baju ini tidak buruk juga." Ucapnya dengan senyum manis.
__ADS_1
Andita terlihat sangat cantik dalam balutan kemeja oversize yang di padukan dengan ripped jeans sedikit sobek namun tetap membuatnya tetap fashionable, untuk menunjang penampilan nya ia tambahkan high heels warna senada dan kerudung berwarna pastel. Tidak ia lupakan kacamata hitam bertengger apik di hidungnya, setelah selesai ia keluar mencari suaminya.
"Mas ?" Teriak Andita. "Mas Yoga, kemana si cabul itu ya." Cicitnya
"Sayang, kenapa teriak begitu. Yoga sedang keluar, katanya dia gak pegang uang cash. Mungkin dia ambil uang, sabar sebentar. Ohya kamu yakin pergi sendiri ?" Ayu memastikan sekali lagi keyakinan putrinya itu.
"Iya ma, Dita mau sendiri. Gak usah khawatir, Dita akan baik-baik aja kok." Jawabnya santai, lalu duduk di sofa ruang tamu dengan menyilang kan kedua kakinya.
Ayu menatap perubahan sikap putrinya itu, segudang pertanyaan mengaduk-aduk otak Ayuningtyas. Apa yang membuat Andita bersikap acuh dan cuek begitu. Tatapan matanya kosong, senyuman nya terkesan di buat-buat. Dimana putrinya yang tersenyum tulus dengan tatapan hangat seperti dahulu.
Tak lama kemudian Yoga datang di tangannya tergenggam amplop coklat, dan sudah bisa di tebak isinya itu adalah uang cash untuk Andita. Andita menadahkan tangan nya, meminta yang di butuhkan nya tadi. "Belilah apa yang kamu mau, semua yang kamu inginkan." Ucap Yoga lembut sambil menyerahkan uang itu ke tangan istrinya, tanpa mereka sadari ada sepasang mata dari lantai atas menyaksikan mereka dengan tangan terkepal, hatinya merasa terkoyak dan sakit.
Andita membuka amplop coklat tersebut dan membukanya, ia hanya mengambil seperlunya saja. " Aku tidak butuh uang sebanyak ini, 100 juta aku genggam akan memancing perampok aja, aku masih ingin hidup lebih lama lagi agar bisa menikmati keindahan perjalanan cinta kita. Aku minta 20 juta aja, cukup muat dikedua saku celanaku" Ujarnya sembari mengembalikan kembali sisa uang yang di ambilnya dari amplop tadi.
Yoga menautkan kedua alisnya, lalu menatap wajah Andita dengan ragu. " Sisanya berikan kepada perawat itu, setelah aku kembali aku tidak ingin melihat mukanya lagi." Cicit Andita sambil berlalu pergi dari sana, tanpa ada ekspresi apapun datar dan dingin. dan lebih buruknya lagi, Andita tidak memberikan kesempatan Yoga bertanya atau pun menjawab.
Deg...deg...deg....
Jantung Yoga berpacu hebat, gendang telinga nya seakan mau pecah mendengar ucapan istrinya barusan.kata-katanya bagai guntur yang siap menghancurkan bahkan menghanguskan seluruh jiwa raga nya, Pria itu membeku dengan bibir terkatup rapat.
Saat di pintu Andita menoleh, lalu memberi kode pada suaminya itu dengan gerakan dagunya kalau Yoga harus melihat ke atas. Yoga melihat ke atas benar saja, perawat itu melihat mereka dari sana.
...----------------...
TBC
Andita mau kemana ya ? dan apa yang akan terjadi selanjutnya ?
support author dengan vote dan like nya ya, biar semangat menulis.
cerita yang Author tulis murni karya sendiri, tidak plagiat dan murni atas ide-ide sendiri.jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat, itu hanya kebetulan semata.
__ADS_1