Pacarku Suami Temanku

Pacarku Suami Temanku
BAB~104


__ADS_3

Satu bulan berlalu...


Pagi ini di kediaman Chang Lie.


Jeratan hukum terhadap Yoga Di nyatakan bebas. Bebas ! Ya, benar sekali Yoga terbebas dari jeratan hukum yang akan mengubur dirinya dalam terali besi. Kendati semua bukti mengarah padanya namun pihak korban tidak menuntut secara hukum atas tewasnya Angelina. Kenapa ?!. Semua itu tak lepas dari kekuasaan seorang Chang lie.


Chang Lie telah membungkam pihak korban dengan uangnya, bahkan telah mengintimidasi pihak korban yang lemah dengan kekuasaannya.


Kasus kematian Angelina akhirnya di tutup dan Yoga di nyatakan hanya korban kecelakaan tunggal. Meskipun demikian kecelakaan yang terjadi tidak merubah keadaan Yoga, pria itu harus menerima kenyataan mau tidak mau harus duduk di atas kursi roda.


Indira menatap Yoga dari kejauhan, hatinya pilu menyaksikan keadaan putranya itu, Yoga terlihat sangat putus asa.bahkan ada beberapa kali dia berusaha mengakhiri hidupnya dengan menyayat pergelangan tangannya, Yoga marah dengan kondisinya saat ini. Tubuh yang semula kuat dan gagah saat ini hanya menyisakan tulang-tulang terbalut kulit ari, bagaimana tidak kurus kering pria itu nyaris tidak pernah menyentuh makanannya sama sekali selama satu bulan ini. Hari-harinya berteman kan kursi roda bersama kehancuran hati yang terus menggerus jiwanya yang tersisa.


Indira meletakkan nampan berisi makanan di meja samping kursi Yoga, dengan gerakan anggun Indira menyentuh kedua bahu Yoga.


"Kamu harus makan Yo, kalau kamu seperti ini terus tubuh kamu semakin lemah. Mama dan papa akan membawamu keluar negeri, mama ingin kamu kembali seperti semula." Indira selalu berusaha membangkitkan semangat untuk putranya itu.


"Tidak ada yang tidak mungkin kalau kita mau berusaha, beberapa rumah sakit kita akan di lelang untuk pengobatan mu, termasuk rumah kamu di batam beserta rumah sakitnya." Cerita Indira


Yoga hanya diam tanpa menanggapi ucapan Indira hanya deru nafasnya yang terdengar menyesakkan dada bagi wanita itu, Indira memutar tubuhnya menghadap Yoga.


"Apa kamu setuju nak?." Tanya Indira


Yoga membuang tatapan nya jauh, jauh sekali.


"Rumahku jangan di jual, disana banyak kenangan ku bersama Andita. Pengobatan untuk apa di lakukan, biarlah aku seperti ini. Tak ada gunanya juga aku bisa berdiri dan berjalan, belahan jiwa ku sudah pergi dari kehidupan ku." Jawab Yoga tenang, namun menyiratkan kepedihan dan penyesalan yang begitu mendalam.


"Yo, kamu masih ada harapan nak. Kau ingat Alga, Alga membutuhkan mu. Kasihan dia nak, sampai detik ini tidak pernah merasakan kasih sayang darimu." Indira kembali mencoba membangkitkan semangat untuk lelaki ringkih itu.


Yoga menoleh Indira, tatapan matanya semula redup kini sedikit bersinar. Sedikit ada harapan disana, sedikit ada kebahagiaan dalam manik mata itu.


Yoga kembali menatap lurus kedepan, ada segaris senyum tipis di bibirnya saat Indira menyebutkan nama Alga.


"Alga. Apa dia akan menerima ku sebagai ayahnya ? Apa aku pantas dia sebut ayah ? Aku hanya manusia brengsek yang sudah menyia-nyiakan nya. Aku merasa tidak pantas menyebut diriku sendiri dengan kata 'Ayah". Batin Yoga


"Apa dia bisa menerima ku setelah apa yang aku lakukan terhadap ibunya. Apa dia bisa menerima maaf ku ?." Cicit Yoga


Indira tersenyum bahagia melihat reaksi Yoga saat dirinya menyebut nama cucunya. ya, jauh di lubuk hati Indira dia sungguh sangat menginginkan kehadiran buah hati Yoga di tengah-tengah mereka. Setelah cukup lama menanti kehadiran cucu dari buah pernikahan Yoga dan Andita, dan ternyata tuhan berkehendak lain. Di Tengah kehancuran putranya,Ada sosok Yoga kecil hadir dari sisi lain, Alga. Lauren sudah membawa kehidupan Alga untuk mereka dan Yoga.


Setidaknya meskipun Yoga telah hancur secara fisik dan jiwa, masih ada harapan untuk nya hidup dan menata kembali masa depannya untuk hari tuanya nanti. Sebagai orang tua, Indira tidak ada kata menyerah untuk selalu memberikan dukungan dan yang terbaik bagi putra nya itu, tanpa terkecuali pengobatan untuk nya.


Menguras seluruh harta pun akan mereka lakukan demi Yoga bisa kembali bangkit dan bisa kembali seperti sedia kala.


"Tidak ada yang tidak mungkin nak, selama kita berusaha. Kita bahkan belum berusaha berbuat untuk Alga. Buatlah dirimu pantas bagi cucu mama, sebelum itu mama ingin kamu mau melakukan pengobatan ke luar negeri." Ujar Indira lembut, membangun harapan demi harapan untuk Yoga.


Yoga tersenyum dan mengangguk, ia membayangkan dirinya bermain bersama anaknya. Antar jemput sekolah, berceritakan tentang sekolahnya, makan bersama bahkan hal-hal yang menyenangkan lainnya bersama putranya


Seketika wajah yang berbinar berubah mendung, ada ketakutan di sana. Takut Lauren dan Robert menolak nya, takut Robert tidak memberinya kesempatan untuk menjadi ayah bagi Alga setelah apa yang di lakukan nya.


"Apa Robert dan Lauren bisa memberikan Alga untuk Yoga ?". Lirih Yoga


Indira tersenyum menatap wajah Yoga, lalu kembali menyalurkan kekuatan melalui sentuhan kasih sayangnya.


"Tidak. Robert, terlebih Lauren dia tidak akan memberikan Alga untukmu, tapi kamu harus menikahi ibunya agar kamu bisa memiliki Alga." Ucap Indira


"Menikah. Aku bahkan takut untuk kembali menikah, aku takut dengan semua itu. Aku takut melakukan kesalahan yang sama." Desisnya putus asa


"Tidak ada yang perlu kamu takuti nak. Selama kamu mau menerima mereka dalam kehidupan mu, terima mereka berdasarkan hati yang luas dan tulus. Jangan pernah sentuh mereka jika kamu hanya terobsesi dengan Alga." Jawab Indira tegas. Indira sudah berjanji dalam hatinya, untuk mengakhiri seluruh kebusukan yang selama ini telah dia lakukan, tidak ingin lagi menjadi manusia brengsek, tidak ingin lagi menjadi pembunuh jiwa-jiwa mungil yang hadir dalam rahim seorang perempuan.


"Kita harus keluar dari kehidupan kita sebelumnya. Menjauh sejauh-jauhnya, agar kita bisa hidup tenang dan damai. Begitupun dengan mu, tinggal kan dunia dulu. Kita bersama-sama membangun kehidupan yang baru, agar kita layak untuk orang-orang yang kita cintai. Papa dan mama sudah sepakat akan mundur dari dunia medis, kami ingin menikmati masa tua dengan kehidupan yang baru, yang tenang dan damai." Ujar Indira mantap


"Ohya, Mama dan papa juga sudah sepakat untuk memindahkan rumah sakit di kota K atas nama Andita, biarkan dia yang mengelolanya karena dia sudah kembali menetap di sana bersama keluarganya. Dia pantas untuk itu, kita tidak perlu melakukan serah terima pemindahan atas nama kepemilikan biar itu jadi urusan pengacara dan pihak-pihak yang berkaitan saja." Yoga mengangguk menanggapi ucapan Indira, jauh di dasar lubuk hatinya nama Andita tetap terukir indah memenuhi kalbunya.


"Baiklah. Kalau begitu persiapkanlah keberangkatan Yoga, Yoga harus sembuh dan menjadi pribadi yang baru." Akhirnya Yoga luluh kali ini, ia menerima keputusan Indira dan Chang lie. Apa yang sudah ia lalui sudah cukup menjadi pelajaran berharga baginya, saat ini Yoga sudah siap menata kembali hidupnya. Hidup sebagai Yoga yang baru. Semoga saja.


"Makan makananmu, mama akan bicara sama papa." Indira mengelus lembut pundak putranya itu.


Yoga meraih nampan berisi makanan yang di bawah Indira tadi dan memakannya dengan lahap.

__ADS_1


...----------------...


Di kota K...


Bagas menatap sedih gundukan tanah yang masih basah, terlepas dari kejam dan jahat nya perbuatan perempuan itu dia tetaplah surga bagi Bagas. Anjani telah meninggal dunia seminggu yang lalu, Anjani meninggal karena mengidap penyakit kanker paru-paru stadium akhir. Upaya pengobatan telah di lakukan oleh Bagas, tapi ajal tidak dapat di hindari.


"Seandainya mama mau menerima pengobatan dari Bagas selama ini, mungkin mama masih ada untuk Bagas. Maafin Bagas ma, maafin Bagas." Lirih Bagas sendu


"Semoga yang kuasa memberikan tempat terbaik untukmu, mengampuni segala dosa yang telah terjadi dalam hidup mama selama ini. Bagas akan selalu mendoakan mama. Bagas pulang dulu, besok Bagas akan ke sini lagi. Tenanglah di sana ma." Lirih Bagas lalu berdiri melangkah meninggalkan makam Anjani.


Senja telah hadir di langit cahaya keemasan menyapu wajah tampan seorang Bagas, wajahnya sendu penuh kesedihan. Kehilangan orang yang telah melahirkan dirinya ke dunia ini, membuat sosok Bagas menjadi lelaki rapuh dan cengeng. Banyak penyesalan, banyak hal yang belum sempat ia lakukan untuk Anjani. Banyak kekeliruan yang selama ini ia pendam dan belum sempat ia luruskan, namun takdir telah mendahului keinginannya.


Sejak kepergian Anjani Bagas mengurung dirinya, menutup akses bagi siapapun untuk bertemu dengannya. Tidak ke kantor, tidak melakukan apapun. Hari-harinya selama dua minggu ini hanya berteman foto Anjani dan air mata.


Seluruh pekerjaan nya ia serahkan pada Andre yang merupakan asisten pribadinya sekaligus mencakup semua yang berkaitan dengan perusahaan nya. Andai pekerjaan itu makanan, Andre mungkin sudah memuntahkan nya untuk mengurangi beban yang ia pikul.


Bagas memasuki kamarnya dengan langkah gontai, melepas pakaiannya dan segera membersihkan dirinya.


...----------------...


Brata dan Ayuningtyas menatap Andita, wanita itu hanya mengaduk-aduk makan malam nya tanpa memasukkan sedikitpun nasi itu kedalam mulutnya.


Dua hari yang lalu Andita sudah menerima sertifikat atas status jandanya alias AKTA CERAI. Gelar janda telah di terimanya dan sudah di akui oleh negara dan hukum, namun Andita merasa kehilangan atas semua itu. Hidupnya terasa hampa, seakan tiada sandaran yang kuat baginya saat ini.


Perceraian berdasarkan pengkhianatan, Sungguh menyakitkan. Menghapus jejak Yoga dalam hatinya bukan prihal gampang, butuh waktu untuk mengikhlaskan kepahitan itu. Butuh waktu untuk beradaptasi dengan keadaan dan statusnya saat ini, bukan tidak mungkin sedikit saja salah melangkah ia akan kembali tergelincir dan terperosok pada pilihan yang salah.


Mencintai adalah obsesi yang kuat untuk memiliki, sedangkan menyayangi apapun alasannya, apapun keadaannya rasa itu tidak akan pernah berubah. Cinta dan sayang hanya beda tipis, namun banyak makna berbeda yang terkandung dalam dua kata itu. Dan dua kata itu, kita kembalikan kepada pribadi masing-masing seperti apa cara mereka memaknai arti kata tersebut dalam artian yang sebenarnya.


"Kenapa nak, apa kamu tidak suka makanan nya ?." Tanya Ayu, dan Andita hanya diam.


"Papa suapin mau ?." Ucap Brata menggoda Andita.


"Ih papa, Dita bisa kok makan sendiri." Tukasnya sambil memasukkan sedikit makanan kedalam mulutnya dan mengunyah pelan.


"Nah gitu dong, harus makan." Brata menimpali dengan senyum lebar.


"Pa,ma. Dita boleh ngomong sesuatu ?." Tanya Andita ragu-ragu. Ya, Andita yakin keinginannya pasti akan di tolak oleh kedua orang tuanya itu.


"Apa sayang, sampaikan aja." Sahut Brata yang sudah menyelesaikan makan malamnya, dan Ayu memberikan segelas air putih untuk sang suami.


Andita menelan makanannya dan minum air di gelasnya.


"Dita mau pergi..." "Tidak." Sahut Brata cepat memotong ucapan Andita


"Papa. Andita belum selesai ngomong, main potong aja." Delik Andita.


Sementara Brata tidak merespon sedikit pun delikan Andita. Jika putrinya itu ingin pergi, maka selangkah saja Brata tidak akan mengizinkan nya. Bukan karena Bagas atau kepentingan pribadi lainnya. Andita sudah dia anggap seperti putrinya sendiri, dan Brata tidak ingin terjadi sesuatu apapun. Andita merupakan amanah bagi Brata, amanah dari tuhan juga amanah secara tidak langsung dari Bernando. Dan Brata akan melaksanakan amanahnya sebagai seorang ayah yang melindungi putrinya dari hal-hal yang akan merugikan putrinya dari segi apapun.


"Tidak. Tidak akan kemana-mana, titik." Sahut Brata, lalu pergi meninggalkan meja makan.


Andita mendengus kesal, padahal bukan pergi gak jelas tujuannya. Tapi malah tidak di beri kesempatan untuk bicara lagi.


"Sudahlah nak, papa benar. Semua itu demi kebaikan kamu juga, bukan karena apapun." Ayu memberi pengertian pada Andita.


Andita mengerucut kan bibirnya, lalu mendesah kesal lagi.


"Ck...papa sama mama sama aja! Dita udah dewasa, bukan anak ABG lagi, bahkan sekarang status Dita apa coba. Kalian gak perlu khawatir berlebihan begitu." Sungut Andita


Brata yang mendengar suara Andita, kembali menimpali dari ruang TV.


"Justru status kamu sekarang, makanya papa melarang. Itu artinya kamu sama aja kembali lajang, Nak." Sahut Brata


"Kamu tidak ubahnya anak gadis bagi papa, anak dara bagi papa. Pokoknya tidak, Dita." Sambung Brata


"Hehehe... Gadis bukan perawan,janda lagi." Desis Andita


Ayu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Andita, sebentar marah, sebentar sedih, sebentar cengengesan. Andita pergi dari meja makan, dan duduk di samping Brata.

__ADS_1


"Papa sayang Dita gak ?." Tanya Dita sambil tersenyum dan memencet hidung mancung Brata dengan jahil. bukan apa-apa tujuannya hanya merayu agar Brata, meloloskan keinginan nya.


"Menurutmu ?." Tanya Brata dengan suara yang sengau karena hidungnya di gencet jari Andita yang usil.


"Bicara yang jelas pa." Tukas Andita


Brata menyingkirkan tangan Andita dari hidungnya. "Dasar anak nakal." Brata membalas Andita dengan memeluk sayang putri nya.


"Dita cuma mau pergi liburan, masa gak boleh." Ujar Andita setelah melihat wajah Brata kembali bersahabat


"Kenapa gak bilang dari tadi kalau cuma mau liburan, Hm." Brata ikut memencet hidung Andita


"Ih papa. Tadi kan Dita belum selesai ngomong, papa udah nyelonong aja nyalip omongan Dita." Sungutnya


Brata tersenyum lembut dan mengacak-acak rambut Andita.


"Ya, maafin papa Nak. Papa gak mau kamu kemana-mana dengan tujuan tidak jelas, papa khawatir. Papa sangat menyayangi mu. Baiklah, Dita silakan pilih mau liburan ke mana saja selama masih di Indonesia. Setelah cukup, maka segeralah kembali." Jawab Brata


Andita menatap wajah Brata tidak percaya, setelah semula lelaki itu menolak keras keinginannya untuk pergi.


"Papa serius ?!." Seru Andita antusias, dan Brata mengangguk tanda mengiyakan.


"Hm... Dita mau datang ke pelosok desa yang terpencil, membantu mereka yang membutuhkan jasa Dita. Dan semua itu ingin Dita lakukan secara gratis." Sahutnya


"Itu bukan liburan, tapi bekerja. Tapi selama itu bersifat positif dan bisa membuat perasaan mu nyaman dan bahagia papa dukung. Apalagi tujuanmu untuk orang banyak, papa setuju." Jawab Brata mantap


"Amunisinya papa yang siapin ya." Mata Andita berkedip-kedip manja


"Siap nona cantik. Semuanya akan papa urus, dan kamu tinggal berangkat aja. Siapa yang akan mendampingi kamu nak." Tanya Brata lagi


"Nanti urus aja kerja samanya dengan pihak-pihak terkait, di bidang bakti sosial pa. Dita tinggal jalani aja." Ujarnya


"Oke. Setelah cukup, kembali segera. Kalau tidak papa akan menjemput mu secara paksa." Tegas Brata


"Gak lama kok pa, paling 3-6 bulan." Sahut Andita santai


"Hah...gak! Cukup 1 bulan aja." Sahut Ayuningtyas yang sudah duduk sejak tadi dan mendengarkan percakapan dua orang di hadapannya saat ini.


Andita menatap Ayuningtyas dengan tatapan memohon. "3 bulan" Andita menawar.


"1 bulan. Itu cukup, tidak bisa di tawar lagi." Tegas Ayu, gimanapun juga dia tidak bisa melepaskan Andita lagi dengan bebas seperti sediakala.


"Rumah lama kita dirombak jadikan klinik, jadikan tempat mu melakukan tugas-tugas sebagai tenaga Medis." Sambung Ayu


"Tapi ma, rumah itu banyak kenangan nya." Lirih Andita sedih


"Itu akan lebih baik nak, Bahkan sangat baik. terlebih lagi buat almarhum papa. Dia pasti akan sangat bahagia melihatmu memanfaatkan rumah itu untuk membantu banyak orang." Sambung Ayu


Andita diam tanpa menjawab kata-kata Ayu. Rumah penuh kenangan itu, sulit bagi Andita meruntuhkan setiap kenangan di setiap sudut dan ruangan rumah itu. Mata Andita berkaca-kaca, lalu menggeleng pelan.


"Gak. Dita gak mau menghilangkan jejak kenangan bersama papa Bernando di sana, biar Andita merawat dan menempati rumah itu." Tegasnya, lalu pergi dari hadapan Ayu dan Brata.


Ayu menyesali perkataan nya barusan, ia tidak menyangka Andita akan sesedih itu.


"Kalau Andita tidak memperbolehkan jangan di paksa, biarkan dia fokus dengan keinginannya saat ini dulu. Kita hanya perlu mendukung, bukan berarti memberikan dia kebebasan. Biarkan dia mengembangkan kemampuan nya dahulu, setelah itu nanti dia akan kembali sebagai Andita yang baru." Ujar Brata, dan Ayuningtyas mengangguk.


"Mas, apa kabar Bagas. Sejak ibunya meninggal Bagas tidak bisa di hubungi bahkan masuk kerumahnya saja tidak bisa." Keluh Ayu terlihat khawatir.


"Tidak perlu khawatir, Bagas akan baik-baik saja. Mas sangat mengenalnya, dia tidak akan melakukan hal yang merugikan dirinya. Saat ini dia hanya butuh waktu, waktu untuk dirinya sendiri. Dan kita cukup menunggu kedatangan nya." Sahut Brata.


Ayu pamit pada Brata untuk menyusul Andita. Dan Brata menyalahkan televisi setelah kepergian istrinya, ia menonton berita-berita dunia terkini.


...----------------...


TBC


tetap tekan ❤️ vote dan like

__ADS_1


__ADS_2