
Lauren berjalan tertatih melewati lorong rumah sakit dimana dirinya mendonorkan darah untuk adik sahabat sang kakak,kondisi Lauren belum sepenuhnya pulih setelah selesai di ambil darahnya.seharusnya wanita itu masih harus menunggu kondisinya membaik baru di perbolehkan meninggalkan rumah sakit,tapi ada sesuatu hal yang mengharuskan wanita itu harus,ya harus dan segera meninggalkan tempat tersebut.
Mata Lauren sangat awas menatap sekitarnya, ia tidak mau sampai bertemu dengan sosok brengsek yang sangat dihindari dan bencinya.
Sesampainya di depan rumah sakit wanita itu segera melambaikan tangannya guna menyetop taksi, sebuah taksi berhenti tepat di hadapannya. Tanpa menunggu lama Lauren bergegas masuk seraya tetap awas melihat sekitarnya.
"Jalan pak !" Perintah Lauren pada supir taksi.
"Baik neng." Jawab sang supir sembari menjalankan mobilnya
Lauren menatap keluar jendela tiba-tiba ingatannya kembali pada kejadian beberapa tahun silam, yang mengharuskan dirinya pergi meninggalkan Indonesia.
Bulir-bulir bening jatuh membasahi pipinya yang putih bersih, lukanya yang hampir mengering kini kembali berdarah.
"Kenapa aku harus melihatnya lagi tuhan ?" Batin Lauren
Kenyataan pahit kembali merasuki hati dan jiwa Lauren setelah bertahun-tahun ia berusaha melupakan kejadian yang menghancurkan masa depannya,bahkan ia nyaris kehilangan kewarasan nya saat itu.
Tubuh Lauren menggigil hebat, sekuat tenaga wanita itu menahan amarah dalam dirinya,yang akan memicu traumanya kembali merasuki jiwa.
Hampir satu jam Taxi yang Lauren tumpangi berkeliaran di jalanan,namun belum sepatah katapun yang perempuan itu keluarkan guna mengatakan kemana tujuannya. Sang supir hanya sesekali melirik kearah kursi penumpang, batinnya berasumsi sendiri bahwa penumpang nya kali ini bukan perempuan yang waras
"Neng,maaf sebelumnya.kemana tujuannya ? Kita sudah satu jam berkeliling tanpa ada tujuan ?" Ujarnya sembari menatap Lauren melalui kaca spion.
Namun Lauren masih larut dalam memori masalalunya supir taxi itu hanya mampu menggelengkan kepalanya,Tanpa mau bertanya banyak ia memutuskan membawa kembali penumpangnya kerumah sakit sebelumnya.
...****************...
Di rumah sakit
Robert juga Bagas kelimpungan mencari keberadaan Lauren, Bagas mencoba bicara dengan Chang lie untuk memeriksa beberapa titik CCTV rumah sakit.
Bagas bergegas menuju mobilnya untuk menemukan keberadaan Lauren tanpa perduli panggilan Robert dan Brata,setelah dia tahu perempuan itu meninggalkan rumah sakit dan menyetop taxi melalui CCTV yang di lihatnya tadi.
"Gas...!! Lu mau kemana ?!" Seru Robert. Namun teriakan Robert di acuhkan oleh Bagas.
Bagas termangu menatap seorang perempuan yang ditarik paksa keluar dari sebuah Taxi, sang supir terlihat sangat marah namun anehnya si penumpang tak terlihat membalas kemarahan sang supir.
"Dasar perempuan gila !! Buang-buang waktu saya aja !!" Marah sang supir.
Bagas turun dan mendekati taxi di depannya, pria itu cukup shock melihat ternyata penumpang itu adalah Lauren.ya, ternyata perempuan itu Lauren, adik sahabatnya yang sudah mendonorkan darahnya untuk Andita.
"Lauren ?!" Panggil Bagas.
"Perempuan gila ini keluarga anda mas ?! Di jaga baik-baik mas,jangan sampe bikin orang lain susah !! Satu jam lebih saya bawah dia muter-muter tanpa tujuan, wajarlah kalau gila !!" Omel sang supir langsung nyerocos saat melihat Bagas menghampiri penumpang nya.
"Maaf pak, dia tidak gila tolong jaga bicara anda !!" Sahut Bagas, kalau gak banyak pertimbangan ingin rasanya Bagas menghancurkan mulut sang supir.
Bagas memberikan banyak lembaran ratusan ribu ke tangan sang supir. " Apa cukup menebus kerugian anda ?!" Tanya Bagas menahan amarahnya.
Sang supir tersenyum sumringah,saat melihat segepok uang di tangannya.
__ADS_1
Bagas berbalik menatap Lauren yang tadi terduduk di bahu jalan. "Lauren ?!" Panggil Bagas
"Lauren ?!" Panggil Bagas lagi, saat melihat perempuan itu tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri.
Bagas merogoh ponselnya dan segera menelepon Robert.
...----------------...
Bagas sedikit aneh melihat kondisi Lauren penampilan nya berubah kusut, sekilas persis seperti orang yang jauh dari kata waras. Saat ini perempuan itu sudah mendapat perawatan, setelah perempuan itu siuman nanti Bagas berniat meminta pihak rumah sakit untuk melakukan tindakan lebih mengingat kondisinya tadi.
"Lu harus jelasin ke gue sekarang !" Ujar Bagas seraya menatap manik mata Robert.
Robert mengangguk dan berjalan keluar kamar perawatan Lauren di ikuti oleh Bagas.
Disinilah saat ini Bagas dan Robert di sebuah coffee shop yang berada tak jauh dari rumah sakit, Bagas sesekali melirik kearah sahabat nya itu. Ia berinisiatif untuk bertanya lebih duluan ketimbang menunggu sahabat nya itu bercerita.
"Jadi apa yang terjadi sama Lauren ?" Tanya Bagas akhirnya.
Robert menghela nafas beratnya menghalau rasa yang menghimpit di dadanya.
Robert mulai bercerita tentang adiknya yang tak lain adalah Lauren.
" 5 tahun yang lalu Lauren bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit di kota ini,dia menjadi asisten pribadi seorang Dokter. Tidak lama setelah itu Lauren menjadi depresi, dan di nyatakan tengah hamil. Gue udah mencari jejak Dokter itu namun tidak menemukan nya sama sekali, si brengsek itu sangat pandai memanipulasi data-datanya. Karena gue lebih prihatin terhadap kondisi Alen gue memutuskan membawanya keluar negeri, hingga akhirnya dia di nyatakan sembuh dan Alen memutuskan menetap disana dan melahirkan ponakan gue." Ujar Robert dengan wajah sedih,marah,bahagia namun yang paling jelas terlihat yakni kemarahan.
Bagas menatap sahabatnya itu dengan prihatin. "Jadi ini alasan kenapa Robert sering bolak balik keluar negeri selama ini, yang katanya ngurus bisnis." Batin Bagas
"Lalu dimana anaknya Lauren ?" Tanya Bagas kemudian setelah terdiam cukup lama.
Bagas terdiam kembali,sangat banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan tapi ia menahannya terlebih dahulu.karena saat ini belum tepat waktunya, mengingat ada hal lain yang menggelayuti perasaannya kini.
"Kenapa lu gak pernah cerita sama gue dan Erwin ? Apa lu gak anggep kita sahabat lu ?" Marah Bagas.
Robert justru balas menatap tajam sang sahabat, matanya sedikit memicing menatap Bagas.
"Dan kenapa lu gak cerita sama gue,kalau ternyata Andita nikah sama lelaki itu bukan sama lu !! Dan lu gak cerita sama gue mengenai kejadian yang menimpa pak Brata dan ibu Anjani !!" Sarkas Robert.
Bagas tercekat....kala mendapat pertanyaan dari Robert mengenai hubungannya dan Andita dan keluarga nya.Kedua sahabat itu saling menatap satu sama lain,lalu menghepaskan pandangan mereka berlainan arah.
"Soal Lauren,gue rasa itu terlalu pribadi untuk di ceritakan." Lirih Robert
"Soal keluarga gue, rasanya malu banget buat cerita sama kalian mengingat kelakuan perempuan yang sudah melahirkan gue." Sahut Bagas sedih.
"Kita sahabat susah senang katanya,tapi nyatanya di saat kita benar-benar terpuruk justru kita lari dari sahabat. sahabat macam apa kita ini !!" Tukas Robert menyalahkan keadaan persahabatan mereka.
"Apa arti persahabatan kita ini ?!" Dengus Robert lagi
Bagas diam dan menatap wajah sahabat nya. "Berjanjilah untuk persahabatan kita,bahwa kita tidak akan menyembunyikan fakta dan kenyataan apapun lagi setelah ini." Jawab Bagas akhirnya dan Robert mengangguk setuju.
"Bagaimana dengan Erwin ? Apa dia juga sama seperti kita terlihat baik-baik saja tapi ternyata menyimpan sebuah fakta yang pahit." Ujar Robert lagi
"Urusan Erwin nanti, sekarang kita kembali ke rumah sakit ada Lauren yang butuh lu dan gue,juga ada Andita di sana." Sahut Bagas seraya berdiri
__ADS_1
Bagas dan Robert meninggalkan tempat tersebut dan kembali kerumah sakit.
Kalau boleh jujur Bagas saat ini sangat kacau, pikiran dan hatinya berkecamuk tak karuan.di satu sisi dirinya sangat khawatir dengan kondisi Andita, bagaimana operasinya, bagaimana kondisinya setelah operasi, apakah berhasil atau tidak,di tambah lagi kondisi Alen adik sahabat nya apa akan membaik atau justru kembali depresi. Semuanya masih buram, penjelasan Robert pun belum sepenuhnya melegakan Bagas, siapa lelaki yang tega menghamili Lauren dan kenapa Alen sampai depresi. Apa lelaki itu tidak mau bertanggung jawab ? Bagas menggeleng-gelengkan kepalanya,dan semua itu tak lepas dari pandangan Robert.
"Lu kenapa,mikir apa ?" Tanya Robert saat kaki mereka sudah menapaki lorong rumah sakit menuju Lift.
"Gue khawatir soal Andita,apa operasi nya berjalan lancar atau gimana.soalnya gue gak sanggup berada disana." elak Bagas seraya memasuki pintu Lift.
"Berpikir positif aja,semoga semuanya baik-baik aja." Robert menepuk pundak sahabatnya itu.
Saat kedua pria itu sudah berada di lantai tujuannya mereka saling tatap sejenak saat melihat para perawat berlari ke ruangan Lauren, tak ada kata kedua Pria itu sontak ikut lari masuk keruang perawatan Alen.
Hati Robert bagai teriris sembilu kala melihat kondisi Alen yang berontak seperti beberapa tahun yang lalu, adiknya menangis dan teriak-teriak histeris bahkan berusaha untuk lari dari tempatnya saat ini.
"Alen,sayang tenang ya. Disini ada Abang dik." Ujar Robert seraya memeluk tubuh adik perempuan satu-satunya itu.
"Alen mau pulang,tidak mau disini bang." Sahut perempuan itu ketika sadar ada malaikat pelindungnya disisinya.
"Baiklah,kita pulang.abang juga kangen sama keponakan abang." Robert berusaha menenangkan Lauren dan mengingatkan perempuan itu akan anaknya agar kondisinya tidak berlarut dan alhasil Alen mengangguk.
Bagas memanggil dokter yang menangani pasien, dan menanyakan kondisinya apa bisa di bawah pulang atau harus melalui perawatan.
"Maaf Dok,apa pasien bisa kita bawah pulang ?" Tanya Bagas.
Dokter itu melirik sebentar ke arah Lauren, lalu mengamit Bagas untuk ikut keruangannya.
"Bapak keluarga ibu Lauren ?" Tanya Dokter setelah Bagas duduk di hadapannya.
"Iya." Jawab Bagas singkat
"Jadi begini, ibu Lauren pernah depresi berat. Tapi sudah di nyatakan sembuh 99%, kondisinya seperti itu hanya shock karena mungkin ada pemicu yang membangkitkan kembali trauma masalalunya. Membawanya jauh dari sini adalah keputusan yang tepat, berdekatan dengan orang-orang yang menyayangi dan membuatnya bahagia adalah solusinya." Jelas dokter
"Baik dok,kalau begitu permisi.dan Terimakasih." Sahut Bagas seraya berdiri dan bergegas kembali kepada Robert dan Lauren.
Robert dan Alen sudah bersiap, kondisi Lauren seketika kembali normal saat di nyatakan akan segera pergi dari rumah sakit. Dengan riasan tipis, rambut panjang bergelombang terurai indah,mata bulat dengan manik hitam pekat senyum nya terkembang manis. Alen manis dan cantik.
"Bro pulanglah, jemput anaknya Lauren bawah kerumah gue. Nanti gue nyusul ya, gue mau liat keadaan Andita dulu." Ucap Bagas
"Oke,terima kasih gas." Robert menggandeng tangan sang adik, meninggalkan Bagas.
Bagas melenggang menuju lantai tempat dimana Andita berada, menurut informasi Brata tindakan operasi Andita sudah selesai setelah melewati waktu empat jam. Proses operasinya berjalan lancar,dan pasien pun tidak sampai mengalami hal-hal yang tidak di inginkan. Umumnya pasca operasi waktu pemulihan cukup lama, dan menunggu pasien siuman pun menunggu beberapa waktu lagi. Hati Bagas sedikit lega, harapan nya untuk tetap melihat senyum Andita sepertinya di kabulkan tuhan. Ya, itulah secercah harapan Bagas, meskipun harapan untuk hidup bersama Andita telah kandas setidaknya perempuan yang di cintainya itu masih bernafas dan hidup untuk orang-orang yang menyayangi dan mencintai nya.
...----------------...
TBC
jangan lupa dukungannya ya.
bingung 😕 bingung ya ??
maaf buat pembaca karena lama gak update, namanya hidup pasti banyak hal.jadi,saya harap kalian memaklumi keterlambatan soal update.
__ADS_1
ohya cerita ini mungkin hanya beberapa bab lagi tamat kok😁