Pacarku Suami Temanku

Pacarku Suami Temanku
BAB~96


__ADS_3

Setelah sampai di kamarnya Andita membawah barang-barangnya menuju kamar kosong lainnya, setelah itu ia meminta pembantu di rumah itu membersihkan kamar tersebut.


“Sayang...ada apa denganmu nak ? kenapa pindah kamar, kalau mau pindah ke lantai atas aja ya.” Ayu tiba-tiba datang menghampiri Andita.


“Gak ma, Dita di lantai bawah aja. Gak ada apa-apa hanya mau suasana nyaman aja, makanya pindah.” Jawab Andita berusaha sesantai mungkin.


Ayu menatap Iba pada anak nya itu. mata Ayu berkaca-kaca lolos ia tak sanggup lagi menahannya, hingga Ayu keluar meninggalkan an6dita sendirian yang menatap heran pada ibunya itu. Andita mengacuhkan hal itu, ia mengunci pintu dan mengeluarkan amplop coklat dari balik bajunya dan menatap benda tersebut sejenak, lalu menyimpannya rapat-rapat.


Setelah di rasa aman dan tak terjangkau siapapun, Andita pergi membersihkan dirinya.


Setelah mengganti baju dengan pakaian rumahan, Andita keluar mencari beberapa pekerja yang laki-laki.


“Pa. Siapa nama mereka ?” tunjuk Andita pada penjaga rumah di depan gerbang dan yang berada di pos, kebetulan Brata sedang menikmati udara malam dan bersantai di teras rumah nya.


Brata menoleh pada Andita yang datang tiba-tiba, dan Brata menatap putrinya itu dengan sedikit aneh, kenapa pakaian Andita seperti itu. Hotpant dan kaus crop top. Aneh !


“Papa kok liatin Dita kayak gitu ?” Andita protes pada Brata.


“Maaf nak, papa tidak ada maksud apa-apa. Cuman kenapa kamu berpakaian seperti ini, disini banyak laki-laki sayang.dan ada perlu apa sama mereka ?” tanya Brata.


Andita hanya diam tanpa berniat menjawab Brata.


“Namanya Bambang dan Ijal, tunggu disini biar papa panggilkan.” Sambung Brata tanpa menunggu penjelasan Andita, karena putrinya itu hanya diam saja.


Brata datang bersama kedua pekerja di rumahnya itu kehadapan Andita. “ ini mereka nak. Emang Dita mau apa sama mereka ?” tanya Brata lagi.


“Pak tolong angkat sofa di kamar tempat Dita di rawat kemarin ya, tolong bawah ke taman belakang.” Pinta Andita pada kedua lelaki yang bernama Ijal dan Bambang itu.


Kedua alis Brata saling bertautan, mendengar permintaan aneh Andita itu.


“kenapa di bawah ke taman nak ?” tanya Brata mengikuti langkah Andita menuju kamar terkutuk tersebut.


“ Sofanya kotor pa.” Jawabnya singkat.


Apapun alasannya Brata membiarkan saja kemauan Andita itu, tanpa mencegahnya sedikitpun.


Setelah di taman belakang, Andita tersenyum miring membayangkan pergulatan dua anak manusia di sana. Hatinya jelas saja sakit, sakit sekali.


“Pak tolong bensin dan sekaligus korek api ya.” Titah Andita, lalu ia beranjak ke lantai atas untuk memanggil suaminya.


Andita mengetuk kamar Yoga, tak lama kemudian sosok jangkung itu berdiri di hadapannya dengan wajah memelas.


“Sayang...jelasin sama mas ya, ada apa ini.” Ujar Yoga dengan raut sedih, saat bertatap dengan mata Andita


“Ayo ikut, ada kejutan untukmu mas.” Andita tersenyum manis pada suaminya itu.


Yoga mengikuti langkah Andita, dan berusaha menggapai tangannya saat di undakan tangga.


“Sayang...tunggu mas dong.” Yoga meraih tangan Andita. Dengan sigap Andita menepis tangan Yoga.


“ Apa kamu tidak mendengar ku tadi ! jauhkan tangan kotor mu itu dari tubuhku !!” bentak Andita berang.


“Ada apa sayang, kenapa sikap kamu berubah seperti ini ? apa karena seseorang, apa ada seseorang mempengaruhi mu ?” Tanya Yoga. Tanpa menyadari kesalahannya dan bahkan seakan menyalahkan Andita dan seseorang, siapa seseorang yang di maksud Yoga. Bagas atau siapa ?


Andita hanya tersenyum sinis tanpa menanggapi Yoga,ia terus saja berjalan menuruni tangga dan berbelok ke arah pintu menuju taman belakang.


Yoga menatap Andita yang berdiri di sampingnya juga Ayu dan Brata sekaligus pak Ijal dan pak Bambang ada disana, Yoga seolah meminta penjelasan dari mereka. Lah... Mereka aja bingung. tidak mengerti sama sekali dengan apa yang sedang terjadi saat ini.


“Sayang, apa maksudnya ini ?” tanya Yoga gugup saat menatap sofa yang menjadi tempat aksi bejatnya mengkhianati Andita.


Andita tidak mengindahkan pertanyaan Yoga, ia hanya menatap lurus sofa tersebut. Mata dan wajahnya menyiratkan kepedihan yang tiada tara. Sementara Ayu ingin bertanya, namun di cegah oleh Brata.


“ Kita lihat aja, apa yang akan terjadi dan masalahnya apa dengan sofa itu.” Bisik Brata pada Istrinya.


“Pak bambang, bakar sofa itu !!” perintah Andita sarkas.


Yoga menatap Andita, ia merasa tidak enak dengan Brata atas sikap Andita yang lancang membakar barang milik orang tuanya tanpa penjelasan apapun di sana, karena Yoga bisa memastikan bahwa mereka juga tidak mengerti dengan tujuan Andita.


“Jangan pak !.” cegah Yoga.


“waw...luar biasa sekali sayang, kamu bahkan sangat menjaga sofa itu. Ada apa dengan mu Tuan Yoga ? atau jangan-jangan sofa itu menyimpan kenangan manis untukmu ?” tukas Andita sambil tersenyum pahit menatap Yoga secara bergantian dengan sofa itu.


Yoga terdiam sejenak mencerna kata-kata Andita,detik berikutnya.


Deg...deg... jantung nya berdetak kencang, seakan-akan mau meloncat keluar.


“jangan-jangan Andita mengetahui semuanya.” Batin Yoga, wajahnya memucat.


“Kenapa diam ! apa kamu ada alasan yang bisa kamu jelaskan hm.. ?, kenapa kamu melarang membakar sofa itu ?!” tuntut Andita.


Yoga hanya diam membisu tanpa dapat menjawab pertanyaan dan kata-kata Andita yang sangat mengena di hatinya.


“Bakar pak, bakar sampai menjadi abu. Hilangkan semua noda-noda pengkhianatan di sofa itu.” Seru Andita pada pak bambang dan pak Ijal, lalu Andita meninggalkan taman belakang.


“Bukan sekarang, tapi tunggu waktu yang tepat. Aku akan membongkar semua nya di depan semua orang termasuk di hadapan orang tua mu.” Batin Andita.


Brata bergerak menghampiri Yoga yang mematung, wajahnya teduh dan berwibawa.


"Apa yang telah kamu lakukan pada putriku ? Siapa yang berkhianat ? Apa maksud Andita tadi ?" Tanya Brata beruntun, Brata sudah sedikit mencium ada yang tidak beres di antara Andita dan Yoga, namun sejauh ini belum jelas titik permasalahannya.


"Yoga tidak mengerti pa. Tadi pagi juga Andita memintaku mengusir perawatnya. dan Andita juga tidak menjelaskan alasannya." Sahut Yoga, yang tanpa sadar sedikit membuka akar masalah mereka.


Brata memicingkan matanya, mencari sesuatu kebenaran atau sebuah kebohongan di wajah dan pergerakan Yoga.


"Hm... sepertinya disini, kamu pelakunya. Ada hubungan apa kamu dengan perawat itu ? Sudah sewajarnya dia pergi dari sini, karena Andita sudah sembuh, bukan ?" Brata langsung menembak Yoga dengan kata-kata yang tepat mengena di jantung Yoga.


"Pengobatan Andita belum tuntas benar pa." Sahut Yoga berusaha membela diri.


"Omong kosong apa itu. Kamu Dokter Yoga, apa harus perawat itu melanjutkan pengobatan untuk Andita, jika belum tuntas ? Dan yang lebih berwenang atas pengobatan Andita, Dokternya. bukan perawat itu, dia hanya melakukan titah dari Dokter yang menangani Andita." Tegas Brata lalu meninggalkan Yoga disana, sedangkan Ayu sudah pergi sejak tadi menyusul putrinya.


Yoga menjambak rambutnya frustasi, ia bingung harus bersikap seperti apa sekarang. Bagaiman caranya menyakinkan Andita dan orang tuanya, atas tuduhan pengkhianatan itu.


Brata menyusul Andita dan Ayuningtyas, setelah sampai di kamar Andita, Brata duduk di sisi Andita.


"Sini peluk papa, menangis lah kalau kamu ingin menangis.tumpahkan semua beban mu, berbagilah dengan kami orang tua mu nak." Brata merentangkan kedua tangannya, siap mendekap erat tubuh putrinya itu.

__ADS_1


"Papa...." Isak tangis Andita pecah di pelukan Brata.


"Menangis lah, sampai kamu tenang. Jangan pura-pura kuat jika tidak mampu memikul beban mu sendiri, papa menyayangi mu, sangat menyayangi mu." Brata mengelus puncak kepala Andita lembut.


Ayu menangis menyaksikan kasih sayang Brata terhadap Andita tiada yang berubah, sama seperti awal Brata menduga bahwa Andita Putri kandungnya. hingga detik ini sudah jelas bahwa Andita bukan putrinya, tapi sikapnya tetap seperti ayah biologis bagi Andita.


Isak tangis Andita sudah mereda, lalu ia mendongak menatap Brata dan tersenyum.


"Maafin Dita ya pa, kalau Andita membuat kalian bingung dengan sikap Andita." Ucap Andita manja pada Brata.


"Tidak apa-apa sayang. kami orang tua mu kapan pun kamu mau cerita apa alasan di balik sikapmu itu, kami siap mendengarkan." Sahut Brata membalas senyum Andita.


"Hm..." Andita mengangguk, ia merasa ini bukan waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya.


Brata mengurai pelukannya. "Istirahatlah. Kamu pasti lelah kan seharian jalan-jalan." Ucap Brata, tanpa mau menanyakan kemana Andita seharian ini. Yang dia tau, Andita pulang membawa bunga.


"Tidurlah yang nyenyak sayang, mama sama papa mau istirahat ya." Andita mengangguk dan mencium Ayu sejenak.


Brata dan Ayu beranjak dari kamar baru Andita, bahkan mereka juga tidak mau bertanya, maksudnya belum mau bertanya kenapa Andita memilih tidur sendiri tidak berbagi kamar dengan suaminya. Sebagai orang tua, mereka mau menunggu penjelasan terlebih dahulu. Tujuannya tidak mau mencampuri terlalu jauh urusan rumah tangga anak mereka.


Prinsipnya Brata dan Ayu bagus juga ya, ketimbang orang tua yang nyerocos banyak nanya dan terlalu ikut campur. ngoceh gak jelas yang ujung-ujungnya ngasih saran yang tidak-tidak pula, Padahal gak tau masalah anaknya apa ! Atau bahkan orang tuanya yang justru heboh sendiri.


"Pa...?" Panggil Andita saat Ayu dan Brata sudah di ambang pintu.


"Kenapa nak ?" Tanya Brata menoleh pada Andita.


"Orang yang donor sama Andita jadi datang akhir pekan ini ? Soalnya Dita mau ke makam papa Bernando." Tanya Andita


"Nanti coba papa konfirmasi ya." Jawab Brata, lalu menutup pintu kamar Andita.


Andita mengunci pintu kamar nya, dan melompat ke atas tempat tidur. Ia cukup lelah hari ini. bukan ! Bukan lelah karena perjalanannya hari ini tapi, hati dan pikirannya yang lelah.


...----------------...


Sementara itu, Yoga sedang memandangi buket bunga pemberian Andita tadi sore. Yoga merenungi setiap kalimat yang meluncur bebas dari mulut istrinya itu.


"Tidak mungkin Andita melihat apa yang terjadi selama ini, diakan selalu di beri obat tidur dengan dosis lebih. Lalu kenapa dia bisa bilang pengkhianat begitu ?" Yoga sedang mempelajari setiap kata yang terucap dari bibir Andita.


"Bunga itu dia ambil di tempat yang jauh, sejauh apa sih ?" Yoga bangkit dan meneliti buket bunga segar tersebut. Buket bunga itu terlepas dari genggaman tangannya, kala matanya menangkap kata yang tertulis disana.


"LieRos, taman bunga yang indah. Namun terselip pengkhianatan disana.


Apa kamu melupakan makna dari mawar putih ?


Kau melupakan simbol dari anggrek putih ?


Itu bukan taman Lieros, tapi taman Lie pengkhianat !!!"


Yoga segera membuka layar ponselnya, dan membuka aplikasi yang menghubungkan dengan CCTV di rumah nya.


"Gerbang utama CCTV tidak berfungsi ? Sekitar jam 11 siang. Sekarang berfungsi dengan baik. Dan taman..." Yoga tercekat menatap sosok Andita yang sedang duduk di ayunan.


"Sayang. kenapa tidak bilang sama mas kalau kamu merindukan rumah kita." Lirih Yoga, tanpa tau apa tujuan Andita kesana.


"Kalau Andita merindukan rumah, lalu apa maksudnya dengan kata-kata di buket bunga itu." Pertanyaan demi pertanyaan berlomba-lomba menuntut penjelasan di otak dan benak Yoga.


...----------------...


Di kota K


Bagas duduk berdiam diri di antara gelapnya malam, ia khawatir akan kondisi Anjani perempuan yang sudah melahirkan dirinya di atas bumi ini.


Kondisi Anjani sangat memprihatinkan, tubuhnya kurus dan wajahnya pucat matanya cekung, di tambah lagi batuk berdarah yang menyerangnya.


Bagas sudah meminta Anjani untuk melakukan perawatan Dokter, namun perempuan itu menolak dengan keras.


Flashback on #


Saat Bagas tiba di rumah tahanan, di mana tempat ibunya tertawan karena akibat dari perbuatannya sendiri.


Bagas duduk di ruang tunggu menanti Anjani keluar, cukup lama Bagas menunggu penjaga dan kepala rutan datang membawah Anjani bertemu dengan nya.


"Maaf pak Bagas, ibu Anjani menolak bertemu dengan bapak." Jelas kepala rutan.


"Apa alasannya ?" Tanya Bagas.


"Maaf pak, soal alasannya kami tidak tahu pasti." Sahut penjaga itu.


"Baiklah, kalau begitu antar kan saya ke dalam sana." Tukas Bagas, yang terdengar seperti perintah.


"Baik pak, lewat sini." Kepala rutan itu membawa Bagas menuju ruang tahanan Anjani. Jelas saja mereka akan menuruti permintaan Bagas, karena siapa yang tidak tahu kekuatan dan kuasa sosok Bagas di kota K saat ini. Bahkan semua dunia mengenal Bagas Adiwiyata Subroto, raja bisnis terhebat dan tersohor di dunia bisnis.


Namun Bagas tetaplah Bagas, sebesar dan sehebat apapun pencapaian nya saat ini tidak menjadikan nya sombong terhadap siapapun.


Sorak sorai bergemuruh saat Bagas menginjakkan kakinya di ruang tahanan khusus wanita, tangan-tangan perempuan di sana menjulur di antara terali ingin menyentuh nya.


Hai tampan, hi sexy, hi macho... Masih banyak lagi kata-kata yang terlontar dari mulut perempuan di ruangan pengap itu, namun Bagas hanya berjalan lurus dan sesekali menyunggingkan senyum manis nya kepada penghuni penjara ruangan itu.


Ya, maklumlah namanya juga terkurung jarang-jarang melihat lelaki, liat pria tampan dan macho pasti mereka heboh.


Bagas terkejut saat melihat ruangan yang paling sudut dan sempit, ruangan itu terlihat sangat kotor dan gelap.


"Silakan pak Bagas." Ucap kepala rutan


"Apa kau yakin, meletakkan ibuku di ruangan ini !" Geram Bagas.


"Maaf pak, kita hanya menjalankan perintah." Sahut orang itu


Bagas sedikit menunduk kan tubuhnya saat memasuki ruangan sempit dan bau itu, air mata Bagas mulai mengalir tak terbendung lagi. Perempuan yang dulu kuat dan cantik, kini meringkuk di sudut ruangan itu.


"Mama ?" Panggil Bagas.


Anjani mendongak menatap wajah yang memanggil nya Mama.


"Ini Bagas ma, anak mama." Ucapnya lirih

__ADS_1


"Pergi !! Pergi !! Aku tidak mempunyai anak !!" Seru Anjani.


Uhuk...uhuk...Anjani batuk-batuk. Bagas menatap iba pada Anjani, sudah bisa di tebak nya pasti Anjani sedang sakit.


"Mama sakit ?" Tanya Bagas lembut, namun tiada jawaban dari Anjani.


"Mama jangan menolak Bagas terus ma, kenyataan nya Bagas tetap anak mama." Bagas berjongkok di hadapan Anjani


"Apa Bagas boleh peluk mama ?" Tanya Bagas terisak, hatinya sakit menatap penderitaan Anjani.


Sedangkan mereka di luar sana bebas mengepakkan sayap. namun tiada perbuatan kejahatan yang tidak ada hukumnya.semua tindakan kejahatan berbentuk apapun pasti ada hukum yang berlaku, entah hukum negara, entah hukum karma, bahkan sampai matipun hukum tetap berlaku.


"Pergi !! Uhuk...uhuk..." Anjani terbatuk-batuk dan mendorong tubuh Bagas , hingga Bagas terjungkal karena posisinya sedang berjongkok.


"Mama, apa salah Bagas ma. Bagas anak mama, sadarlah ma." Bagas menatap wajah Anjani pilu, Bagas mengulurkan tangannya ingin menghapus titik air mata di wajah Anjani yang terlihat seperti tengkorak.


"Setiap Bagas datang, mama selalu menolak bertemu. Sebenci itukah mama terhadap Bagas ?" Anjani menepis tangan Bagas yang ingin menghapus air matanya.


Egois ! Ego Anjani terlalu tinggi, di kondisi seperti itu saja keangkuhan nya masih saja terpelihara dengan baik di dalam jiwanya.


Tapi lihatlah ! Ada air mata mengalir di pipinya yang tirus hanya terbungkus kulit ari itu. sejujurnya Anjani sedih melihat putranya itu, namun rasa gengsinya lebih tinggi dari apapun. air mata itu Membuktikan bahwa dirinya malu, malu mengakui atas perbuatan dan kesalahan di masalalu. Sedikitpun tak ada rendahnya diri dan jiwa Anjani, keangkuhan nya terbentuk begitu erat di dalam dirinya.


"Pergilah, lupakan bahwa aku ibu mu. Jangan pernah menemui ku lagi." Anjani kembali ke atas kasur tipis yang menjadi alasnya tidur selama ini.


" Ma, mama jangan bicara seperti itu.Bagas tidak akan pernah melupakan mama. Sampai mati pun tidak akan pernah melupakan mama.!" Tegas Bagas


"Baiklah kalau mama tidak mau memeluk Bagas, atau bahkan tidak mau mengakui Bagas, tapi tolong jangan menolak kedatangan Bagas. Bagas permisi ma." Bagas bangkit dari sana, lalu keluar tanpa menoleh lagi.


Anjani tergugu menangis dalam diam.


"Maafkan mama nak, mama tidak pantas Bagas sebut sebagai Mama." Cicit Anjani setelah kepergian Bagas.


Bagas melangkah cepat meninggalkan ruangan tersebut, di iringi penjaga dan kepala rutan. Kedua tangan Bagas berada di saku celananya, pandangannya lurus kedepan. Kedua rahangnya mengeras, menampilkan otot-otot kaku disana.


"Jelaskan padaku, apa yang terjadi dengan ibuku. Kenapa dia bisa berada di ruangan yang jauh dari kata layak itu, dan di mana barang-barang nya ?!" Tanya Bagas dingin tanpa melihat wajah kedua orang itu.


Kedua orang itu saling menatap, lalu kepala rutan memberanikan diri untuk menjawab.


"Maafkan kami pak Bagas. Ibu Anjani mengalami batuk darah, kami tidak mau ambil resiko penyakitnya menular pada tahanan yang lainnya. Makanya kami berinisiatif memindahkan beliau keruangan itu. Untuk barang-barang nya di kuasai oleh tahanan yang sekamar dengan ibu Anjani sebelumnya." Jelas pria itu.


"Berikan kamar dan tempat tidur yang layak untuknya, besok saya akan mendatangkan Dokter yang akan merawatnya." Ucap Bagas datar dan pergi meninggalkan kedua orang itu. Bagas marah pun kepada kedua orang itu percuma, alasan mereka cukup logis. Kehidupan di penjara keras dan kejam, siapa yang kuat dialah yang berkuasa.


Flashback off #


Dering ponsel Bagas menggema di kesunyian malam, ia segera bangkit menuju arah ponselnya.


"Halo, Assalamualaikum pa. Ada apa telpon malam-malam begini ?" Tanya Bagas cemas.


"Walaikumsalam. Tidak perlu cemas begitu, kita semua baik-baik saja. Andita bertanya tadi, Lauren jadi datang ke Jakarta tidak. Kalau belum dia mau ke kota K, mengunjungi makam papa nya." Jelas Brata.


"Ah... syukurlah kalau semua disana baik-baik saja pa. Sejak dari Jakarta belum ketemu Lauren lagi, menurut informasi dari Robert adiknya itu sedang menjalani terapi." Jawab Bagas


"Terapi apa nak ?" Tanya Brata


"Lauren itu mentalnya sempat terganggu pa, tapi sudah di nyatakan sembuh. Hanya saja, Lauren masih sering mengalami trauma, contohnya waktu di rumah sakit." Jelas Bagas


"Tapi, nanti Bagas coba tanya Robert ya pa." Sambung Bagas


"Bagaimana keadaan A..." Bagas menggantung pertnyaan nya.


Brata mengeryit mendengar pertanyaan Bagas yang tidak jelas ujungnya.


"Keadaan siapa ? Keadaan dia maksudmu ?" Tanya Brata menebak.


"Gak jadi pa." Sahut Bagas di seberang sana. Rasanya tidak pantas baginya selalu menanyakan keadaan Andita, sedangkan Andita selalu di jaga suaminya.


Lalu apa yang harus dia khawatir kan ?! Ya gak, ya gak, gak tau ah.


Brata terkekeh mendengar jawaban Bagas.


"Dia baik,sangat baik nak. Ya sudah papa mau istirahat ya. Assalamualaikum." Brata mengerti siapa yang di maksud bagas ,lalu Brata menutup panggilan nya.


Bagas tersenyum. " Walaikumsalam. Hehehe, papa tau aja." Desis Bagas


Keesokan harinya telepon seluler Ayuningtyas berdering saat dirinya dan Brata selesai melaksanakan tugas sebagai umat muslim, yakni melaksanakan sholat Subuh berjamaah.


"Siapa telpon sepagi ini ?" Tanya Brata.


"Lauren pa." Jawab Ayu, setelah melihat ID pemanggil, lalu segera menggeser tombol hijau.


"Halo, lauren." Sapa Ayu


"Halo, selamat pagi ma. Maaf Alen baru bisa menghubungi mama. Alen rindu pelukan mama loh, Al juga rindu masakan Oma katanya. Ohya hari ini kita datang ya ma." Lauren bicara antusias di seberang sana.


"Ohya, kalau begitu segera datang. Mama tunggu, dan mama akan masak spesial untuk Al." Jawab Ayu senang


"Kok hanya Al si ma, Alen juga dong." Rajuk Alen


"Hahaha, tentu saja untuk Alen juga sayang." Jawab Ayu tertawa mendengar rengek manja seorang Alen. Ya, maklum namanya juga yatim piatu saat menemukan sosok yang tepat dan menganggapnya sebagai anak tentu saja Lauren sangat bahagia sekali.


"Oke mama, sampai bertemu nanti siang ya. Alen pastikan kita makan siang bersama, kalau pesawat nya gak delay hehehe." Sahutnya.


"Mama doakan lancar ya nak. Oke, sampai ketemu nanti siang." Sahut Ayu mengakhiri panggilan nya.


...----------------...


To Be Continued


berhubung hari ini Author ada acara, jadi updatenya lebih cepat. supaya kalian gak nanya-nanya terus, kok belum up thor, author kemana ya ? hehehe.


tu kurang baik apa coba, rela begadang demi bisa update, tapi sama like aja pelit🤭. dukungan kalian dari like dan vote merupakan mood booster bagi penulis loh.


ohya karya Mentari Impian ini di ciptakan berbeda dari yang lain nya memang ya, karena banyak gambaran hidup di dalamnya. Author juga berusaha semaksimal mungkin, memberikan pelajaran bagi kita semua yang di tuangkan di cerita ini.


ambil makna yang bermanfaat saja, yang tidak berguna buang jauh-jauh ya...😁.

__ADS_1


jangan lupa !! like dan vote ya ❤️❤️


__ADS_2