
Setelah satu tahun berlalu suaminya tidak memberinya izin untuk bertemu ibunya di Jakarta, dengan berbagai macam alasan. Berbincang secara virtual pun dengan Ayuningtyas harus di batasi oleh Yoga, Andita sampai bingung dengan sikap Yoga seperti itu.
Andita tengah malas-malasan di sofa ruang tamu, tangannya menggenggam remote tv seraya terus mengganti channel TV lokal tanpa di tonton nya. Wajahnya di tekuk sedemikian rupa, sedangkan Hatinya dongkol luar biasa.
Pada akhirnya Andita merebahkan tubuhnya dan menutupi sebagian wajahnya dengan bantal, kalau boleh jujur dirinya sangat jenuh. Setiap hari hanya selonjoran tanpa banyak kegiatan, belajar masak sudah di larang sama suaminya sejak insiden tangannya melepuh tersiram air panas.
Akhir pekan kali ini kembali Andita harus menelan kecewanya atas penolakan suaminya, seperti waktu-waktu sebelumnya Andita meminta Yoga untuk membawanya pada kedua orang tuanya di Jakarta sekaligus silaturahmi pada mertuanya, tapi lagi-lagi suaminya itu membuat alasan yang tidak masuk akal bagi Andita.
Sedangkan Yoga duduk di sebuah meja kerja yang berada tak jauh dari sofa yang Andita duduki, ia hanya melirik sebentar pada kegiatan istrinya itu dan kembali fokus pada tabletnya.
"Pak Bagas Prawijaya Subroto tunggu sebentar, apa kami bisa meminta sedikit waktu anda ?" mohon beberapa Reporter televisi swasta yang sedang menghadang langkah lelaki tampan tersebut guna untuk meliput tentang sosok Bagas.
Wajah Andita yang semula tertutupi bantal sedikit melirik ke arah televisi kala mendengar nama seseorang yang sangat ia kenal,ia memperhatikan dengan seksama siapa lelaki yang sedang di kerubungi oleh beberapa Reporter tersebut.
Karena wajah lelaki itu tidak terlihat jelas olehnya, Andita kembali menutupi wajahnya dan mengabaikan siaran TV yang tengah berlangsung.
Saat Bagas akan memasuki mobilnya seorang Reporter berhasil mencegahnya.
"Pak beri sedikit waktunya." Mohon sang Reporter
"Baiklah, silakan ajukan pertanyaan kalian." Jawab Bagas akhirnya.
"Suara itu..." Desis Andita, sontak ia bangkit dan menatap langsung ke arah televisi.
Dengan setelan jas lengkap, kacamata hitam Bagas berdiri dan bersandar di pintu mobilnya. salah satu tangannya di masukkan kedalam saku celananya, Ia sangat gagah dan tampan. wajar saja jika banyak anak gadis dari kalangan pengusaha kaya rebutan ingin menjadi istrinya dengan dalih kerja sama.
"Tolong bagikan sedikit tips untuk kaula muda di luar sana agar bisa mengikuti jejak kesuksesan anda di dunia bisnis." Pinta sang Reporter tersebut dengan cepat.
"Fokus, konsentrasi,dan tekun." Jawab Bagas lugas.
Sang Reporter mengangguk dan tersenyum menatap kagum pada sosok Bagas, selain kagum akan keberhasilan nya tentu saja sangat kagum akan ketampanan nya.
"Lalu kapan anda akan mengakhiri masa lajang anda ?" Tanya Reporter itu lagi.
Bagas tersenyum...
"Tunggu saja, jika dia sudah kembali akan saya siarkan secara live." Tukas Bagas, lalu ia Menangkup kedua tangannya dan masuk paksa kedalam mobilnya.
"Pak Bagas, berikan sedikit info tentang profil wanita anda itu." Sang Reporter tetap kekeuh mengorek informasi tentang dunia pribadi sang pengusaha sukses yang tengah populer tersebut.
"Dia sangat cantik dan dia adalah cinta pertama dan terakhir saya." Jawab Bagas lalu menutup kaca mobilnya.
Klik... tiba-tiba televisi yang menayangkan sosok Bagas mati,Yoga menatap tajam pada Andita. Ia tidak suka Andita tersenyum menatap lelaki masalalunya itu, meskipun hanya melalui televisi.
"Kenapa di matiin mas ?" Tanya Andita.
Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, Yoga berlalu begitu saja.
Andita berdiri dan mengejar langkah Yoga. " Kenapa tv nya di matiin mas,jawab aku ?!" Tanya Andita kesal.
Yoga kembali menatap tabletnya dan fokus pada pekerjaannya, mengabaikan kehadiran Andita di hadapannya.
"Kamu keterlaluan mas. Komunikasi sama mama kamu batasi, mau berkunjung sama mama kamu batasi. Nonton berita tentang kakakku kamu batasi, maksud kamu apa mas ?!" Tukas Andita dengan suara tinggi.
"Kamu bukan Yoga yang aku kenal dulu,kamu egois mas.mana janji kamu mau bawah mama kesini, mana ?!" Tukas Andita parau.
Yoga mendongak menatap wajah Andita, wajahnya dingin tanpa ekspresi apapun.
"Sekarang keadaan mama sudah berbeda, ada papa yang selalu menjaganya." Jawab Yoga santai.
__ADS_1
"Kenapa kamu marah seperti ini, apa karena mendengar ucapan mantan mu tadi." Ujar Yoga menatap tajam pada istrinya itu.
"Dia memang mantanku mas,tapi kata mantan itu saat kita masih pacaran dan sebelum tau tentang hubungan kami yang sebenarnya. Sekarang dia bukan mantanku,tapi kakakku !!" Tegas Andita, lalu ia berlari meninggalkan meja kerja Yoga.
Andita berlari memasuki kamarnya dan membanting kuat daun pintu, dirinya tentu saja tidak bisa menerima keputusan suaminya itu meskipun ia mau tidak mau harus menuruti perintah nya.
Perempuan itu mengurung dirinya di dalam kamar mandi,ia menangis sejadi-jadinya di sana. Setelah lelah menangis Andita mengisi bathtub dengan air hangat, untuk merilekskan tubuh serta pikiran nya yang sedikit kacau atas sikap suaminya.
Andita merendam tubuhnya di antara busa-busa sabun, ia memejamkan matanya kepalanya terasa pusing dan perutnya tiba-tiba terasa mules sekali.
"Kenapa perutku tiba-tiba mules begini, biasanya kalau mau datang bulan tidak begini." Gumam Andita. ia berusaha bangkit dan berdiri,tapi penglihatan nya seketika gelap dan Bruk....Andita terjatuh dan terduduk kembali ke dalam bathtub.
Sedangkan Yoga hanya membiarkan sang istri meluapkan emosi dan amarahnya dengan menangis, tanpa beranjak mengejar nya Ia kembali fokus pada pekerjaannya, memeriksa beberapa Dokumen terkait rumah sakit yang di kelolanya.
Selesai dengan pekerjaannya Yoga memikirkan kata-kata Bagas di televisi tadi, tangannya tergenggam erat.
"Apapun alasannya aku tidak akan membiarkan Andita kembali sama kamu.dia istriku selamanya akan tetap begitu,seagung apapun kamu saat ini, kamu akan tetap kalah dengan jurus licikku" Desis Yoga sembari menyeringai, lalu bangkit menyusul Andita ke kamar.
"Sayang...?" Panggil Yoga menggedor pintu kamar mandi, saat tidak mendapati Andita di tempat tidur mereka.
"Sayang...maafin mas ya.udah dong marahnya, ayo kita selesaikan masalahnya !" Seru Yoga.
Yoga merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, menunggu kedatangan sang istri dari kamar mandi. Setelah hampir setengah jam Andita tidak kunjung keluar dari kamar mandi, bukannya panik justru Yoga meradang.
Pikiran buruk seketika bersarang di benaknya. "Jangan-jangan Andita sedang komunikasi dengan Bagas." Batinnya.
Lelaki itu bangkit dan menggedor kasar pintu kamar mandi, namun tidak ada jawaban dari dalam.
"Andita ! Buka pintunya !!" Seru Yoga berapi-api.
Hasilnya tetap sama yaitu tidak mendapatkan jawaban dari Andita, Yoga menerjang daun pintu yang terbuat dari kayu jati tersebut tapi bukan nya terbuka justru kakinya yang sakit.
ia menelpon pembantu rumahnya untuk membawakan kunci cadangan kamar mandinya segera, hanya beberapa detik kemudian Bi Ima membawa kunci yang di pintanya.
"Ada apa Tuan ? Non Dita kenapa ?" Tanya Bi Ima khawatir seraya menyerahkan kunci pada Yoga.
Yoga menyambar kunci dari tangan Bi Ima dan tanpa menjawab pertanyaan nya ia segera membuka pintu kamar mandi.
Betapa terkejutnya Yoga saat mendapati tubuh sang istri tidak bergerak sedikitpun, sementara tubuhnya masih terendam air. Dan air bathub sudah berubah warna darah, sama sekali tidak berwarna air sabun pada umumnya.
"Sayang...!" Seru Yoga, Bi Ima ikut masuk.
"Ya ampun Non,ada apa ini." Ujar Bi Ima menangis dan memberikan baju kimono untuk menutup tubuh majikannya itu.
Yoga menyambar kimono yang di berikan Bi Ima, lalu menutupi tubuh sang istri dan membawanya keluar.
"Bi, tolong ambilkan Alkes saya." Ucap Yoga bergetar. Ia menidurkan tubuh Andita dan meraba bagian kepalanya, lalu melihat tangannya yang tadi ia sentuhkan kebelakang kepala Andita.
"Bengkak tapi tidak berdarah, lalu darah itu dari mana ?" Desis Yoga,saat mengetahui kalau kepala Andita tidak terluka.
"Ini Nak, sebaiknya Non Dita di bawah kerumah sakit aja.lihat lah dia pucat sekali." Isak Bi ima sambil memberikan Alkes pada Yoga.
Yoga terdiam mematung menatap kondisi Andita, meskipun ia Dokter yang biasanya cekatan dalam membantu pasiennya tapi saat ini justru dirinya linglung dan bingung harus memulai dari mana.
"Apa kamu akan membiarkan nya sekarat !" Seru Bi Ima, saat melihat Yoga bengong menatap wajah pucat Andita.
"I--iy--iya itu, anu Bi." Yoga gelagapan menjawab terbata dan tidak jelas.
Bi Ima tanpa menunggu perintah segera menghubungi suaminya guna menyiapkan mobil,Setelah itu dengan sigap ia mengambil baju dan kerudung Andita.
__ADS_1
"Minggir kamu, istri ngene kok malah bengong !". Marah Bi Ima pada Yoga. Tanpa sungkan ia memakaikan baju dan kerudung Andita, tapi saat mau memakaikan celananya Bi Ima nyaris histeris kala melihat darah mengalir dari ************ Andita.
"Ya allah non Dita, suamimu Dokter tapi kok gobloknya kebangetan. Hei istrimu ini pendarahan, apa kamu masih mau bengong sampe nyawanya habis ?!" Seru Bi Ima histeris dan menangis.
"Apa !!" Seru Yoga kaget.
Tanpa banyak bicara Yoga akhirnya mengambil sarungnya dan melilitkannya di tubuh Andita dan membawanya berlari turun.
Mang Amin segera membuka pintu mobil saat melihat majikannya berlari ke arahnya, dengan di iringi Bi Ima yang terus menangis.
"Ayo Pak cepat !" Suruh Bi Ima.
Yoga memeluk erat tubuh istrinya itu, ia menangis menyesali perbuatannya. Ia tak menyangka kalau sikapnya akan berdampak negatif terhadap kondisi Andita, ia tak henti-hentinya mengecup lembut tangan dingin Andita.
"Bi, apa istriku hamil ?" Tanya Yoga sambil terisak.
"Bibi gak tau, kamu yang lebih tahu tentang hal itu." Ujar Bi Ima kesal
"Tapi Andita belum cerita apapun Bi." Lirih Yoga
"Ya sudah jangan cengeng, kita sudah sampai.nanti kita akan tau hasilnya." Ujar Bi Ima layaknya seorang ibu memarahi anaknya sendiri.
Yoga membawa Andita memasuki rumah sakit Prayogo miliknya, beberapa perawat yang sedang bertugas dengan sigap membantu dan membawa Andita memasuki ruangan VIP atas perintah Yoga.
Dan...
Yoga segera menghubungi pihak SpOG spesialis kebidanan dan kandungan, ia ingin memastikan pendarahan Andita apa penyebabnya.
Setelah menunggu beberapa saat, tim Dokter yang Yoga hubungi tadi sudah memeriksa kondisi dan penyebab pendarahan pada Andita.
"Maaf sebelumnya Pak, Bu Andita keguguran dan pendarahan.dan beliau sudah kehilangan banyak darah, kami membutuhkan transfusi darah." Ucap asisten Dokter kandungan yang sedang memeriksa Andita.
"Untuk golongan darah ibu Andita saat ini tidak tersedia di rumah sakit kita, saya permisi." Ucap asisten Dokter kandungan itu undur diri setelah memberikan informasi pada Yoga dan kembali masuk keruangan Andita.
Yoga terduduk lemas baru kali ini ia merasa buntu dalam berpikir, bahkan ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.
"Apa golongan darah Non Dita, biar Mang Amin carikan." Ucap Mang Amin seraya mengelus lembut pundak Yoga.
"AB+, jika ada yang bersedia membantu berapa pun akan saya bayar Mang, karena golongan darah ini sangat langkah." Lirih Yoga yang nyaris putus asa.
Yoga sangat tau golongan darah tersebut sangat sulit di dapatkan,karena itulah ia bersedia membayar berapapun asal nyawa Andita bisa di selamatkan.
"Baiklah,mamang permisi dulu." Pamit Mang Amin
"Bi tolong hubungi Mama dan mertuaku." Pinta Yoga Lirih, air matanya meleleh begitu saja.ia menyodorkan ponselnya pada Bi Ima.
Bi Ima mengangguk dan menerima ponsel tuannya itu, meskipun dirinya sendiri sebenarnya bingung bagaimana cara menggunakan ponsel canggih tersebut.
...----------------...
To Be Continued
meskipun lama gak update jangan lupa untuk selalu mendukung karya Mentari Impian ya, dengan vote dan like sebanyak-banyaknya.
jangan baca diem-diem Bae, jempolna di mainkan๐๐๐.
like,vote dan komentar positif dari kalian merupakan (my mood booster) bagi saya sebagai penulis untuk menumbuhkan ide-ide yang akan tertuang dalam cerita ini.
ayo berikan semangat bagi Author, setelah lemas selama satu bulan๐๐๐.
__ADS_1