Pacarku Suami Temanku

Pacarku Suami Temanku
BAB 31


__ADS_3

Enam bulan kemudian....


Andita tengah menikmati indahnya taman yang di penuhi bunga-bunga indah bermekaran, ia menari-nari kegirangan di antara bunga mawar dan bunga lily. "Sayang hati-hati" Yoga mengingat kan Andita.mengingat rumput-rumput halus yang di tanam disana belum tumbuh sempurna,tanahnya sedikit becek sisa air penyiraman.


Taman yang cukup luas berada di sudut kolam renangnya, taman bunga tersebut di beri nama tak kalah indah dengan bunga yang sedang bersemi di pagi hari ini. "Lieros" yang merupakan gabungan nama mereka berdua, Ya jika menurut data pribadi Yoga, di antara nama Yoga tersemat nama cina nya yaitu "Lie", sedangkan Andita menyandang nama Sakapraja di ujung namanya, tapi nama Sakapraja hanya ia pakai di dalam data resmi nya saja.


Andita tertawa riang menyaksikan bunga-bunga indah bermekaran, sedangkan Yoga justru menikmati kebahagiaan gadis itu. Kebahagiaan Andita lebih menarik daripada bunga-bunga itu, bagi Yoga. tampaknya gadis itu sudah sedikit melupakan peristiwa patah hatinya 8 bulan yang lalu, selama bersama Yoga tak pernah sekalipun ia menangis ataupun bersedih.


"Mas sini" panggil Andita.


Yoga mengangguk sambil melangkah menghampiri pujaan hatinya, "kenapa sayang?" Tanyanya.


Andita Sepertinya sudah nyaman dengan panggilan sayang dari mas Dokternya itu, "Hm...,aku boleh petik bunganya tidak ?" Tanya Andita manja.


"Tentu saja boleh,karena taman cantik ini khusus untuk perempuan cantik dan manja ini.selain kamu tidak ada yang boleh memetiknya" ujar Yoga sembari memeluk Andita.


"Kenapa begitu?" Tanya Andita.


"Karena taman ini lambang cintanya mas untukmu dan simbol kepribadian gadis yang saat ini mengisi hati mas" ujar Yoga,lalu membawa kedua tangan andita ke bibirnya dan mengecupnya secara bergantian.sikap Yoga dilihat sekaligus bagai ayah,yang tengah menciumi telapak tangan putrinya.


Hati wanita mana tak luluh jika di perlakukan manis dan selalu romantis seperti itu, serta lemah lembut dan penuh kasih sayang.


"Lalu...,kalau aku tak cantik berarti mas gak mau dong sama aku!" Tukas Andita.


"Ya,karena kamu cantik makanya mas mau.dan tentunya ada point plusnya,cantik saja tidak cukup" ujar Yoga sambil menatap Andita penuh cinta.


"Mau yang mana bunganya,tuan putri ?" Tanya Yoga sambil mengecup puncak kepala gadis itu.


"Hm...,aku mau bunga lily dan mawar putih. Pangeran" goda Andita.


"Baiklah,tunggu sebentar" ujar Yoga sambil tertawa kecil.


Setelah memetiknya dan membersihkan tangkai bunga itu, Yoga membawanya pada Andita.


"Ayo kita taruh di kamarmu" ajaknya.


Udara pagi masih terasa sejuk membuat Andita betah berlama-lama berada di sana, rumput-rumput halus dan bunga-bunga indah itu masih menyisakan kristal-kristal embun di kelopaknya,sungguh pemandangan yang sangat indah.Andita terus-menerus memandangi taman itu, ia menoleh melihat Yoga yang sudah berjalan jauh di depannya.


"Mas tunggu" panggil Andita.


Andita mengejar langkah kaki panjang Yoga, karena tidak memperhatikan jalan kakinya terpeleset membuat tubuhnya terjengkang kebelakang sedangkan pergelangan kakinya menekuk kebelakang. "Awww..."teriak Andita.


Yoga yang berdiri menunggu nya segera berlari menolongnya.


"Astaga !" Seru Yoga panik.


Segera ia meluruskan kaki Andita,lalu menggendongnya masuk buru-buru.


"Bik.Bi Ima !" Teriak Yoga menggema.


"Iya tuan" sahut Bi Ima yang datang dari dapur.


"Ya ampun, Non Andita kenapa tuan ?" Tanya Bi Ima ikutan panik.


"Terpeleset di kebun bunga Bi,kakinya Sepertinya terkilir" sahut Yoga.


Bi Ima mendekati Andita yang berada dalam gendongan Yoga, "Jangan menangis,Bibi akan suru Mang Amin mencari tukung urut buat Non" ujarnya lembut sambil menghapus air mata Andita.


Andita mengangguk,sambil meringis.


"Cepat Bi" perintah Yoga.

__ADS_1


"Iya tuan" sahut Bi Ima dengan langkah tergopoh-gopoh mencari keberadaan suaminya.


Yoga membawa Andita ke kamarnya, sedangkan Andita tanpa bersuara lagi.hanya deraian air matanya saja yang mewakili rasa sakit yang tengah ia rasakan kini.


Setelah merebahkan tubuh Andita, Yoga keluar mengambil obat khusus untuk terkilir.tak lama kemudian ia kembali ke kamar Andita,lalu mengoleskan salep berbentuk Gel ke pergelangan kaki gadisnya itu.salep itu di dunia medis,di percaya dapat mencegah pembekuan darah selain untuk pengobatan terkilir,salep Gel itu juga di pakai pada lebam dan memar.


"Sakit sekali,ya ?" Tanya Yoga dengan wajah kasihan melihat Andita.


tangannya menghapus air mata gadis itu, "Jangan menangis lagi, setelah di kasih salep akan lebih baik" ujarnya.


Andita mengangguk, "Mas bunganya mana ?" Tanya Andita.


Yoga menatap wajah gadis cantik itu, "gak usah pikirkan bunga itu" ujarnya lembut,sambil mengelus kepala Andita.


Andita menangkap tangan Yoga, "Kalau di biarkan begitu saja, nanti lambang cinta dan ketulusannya layu" seloroh Andita,menggoda mas Dokternya itu.


"Hahaha,di saat kakimu sakit kamu masih bisa bercanda?" Tanya Yoga sambil tertawa.


"Dengarkan mas ! ketulusan yang sesungguhnya itu ada disini" ujar Yoga sambil menunjuk dadanya.


"Dan bunga itu hanya lambang saja ! lalu apa salahnya ? jika simbol ketulusan itu, ada bersamaan dengan ketulusan yang sesungguhnya di kamar ini.! Kalau yang sesungguhnya tak dapat aku lihat,maka biarkan aku melihat lambangnya saja!" Sewot Andita.


"okay, calm down baby" jawab Yoga.


Yoga tersenyum sangat manis mendengar kata-kata Andita barusan, "Ada untung nya juga dia terpeleset pagi ini,sekalian aja terpeleset setiap pagi biar dia teriak mengakui perasaannya" kekeh Yoga Sambil turun untuk mengambil bunga yang di buangnya tadi.


Tak lama kemudian Yoga kembali naik,membawa bunga yang di inginkan gadis penghuni lantai tiga di rumahnya itu.


Yoga meletakkan bunga itu di nakas sebelah kiri tempat tidur Andita,lalu tersenyum menatap gadis itu.


"Bagaimana ?" Tanya Yoga.


Yoga melirik kaki Andita yang membengkak, "kita kerumah sakit aja ya" ajaknya.


"Aku gak mau mas" jawab Andita.


"Kenapa ?" Tanya Yoga bingung.


"Bosan suasana rumah sakit ! kerja dirumah sakit,kaki sakit pun harus kerumah sakit.aku mau dirumah aja,Dokter pribadiku ada disini" ujar Andita tersenyum melirik Yoga.


"Kalau begitu gak usah kerja di rumah sakit lagi" sahut Yoga.


Andita melirik Yoga, "terus aku kerja dimana ?" Tanya Andita.


Yoga berdiri, membantu Andita yang ingin duduk.lalu meletakkan bantal guling sebagai ganjalan kakinya yang membesar itu.


Yoga kembali duduk di sisi Andita yang sudah bersandar di kepala ranjang, "Mas,kalau aku gak kerja di rumah sakit, lalu kerja dimana ?" Tanya Andita lagi.


Yoga membawa Andita kedalam pelukannya, "Bekerja dirumah aja" jawab Yoga pelan.


"Hah !" Andita mendongak menatap Yoga.


"Ya.sebagai istri dan ibu untuk anak-anak kita nanti" ucap Yoga tulus sambil menatap Andita.


Gadis itu tersipu malu,ia menyembunyikan wajahnya di dada Prayoga.


"Apa kamu sudah siap ?" Tanya Yoga.


"Aku...." Ucapan Andita terhenti,saat pintu kamarnya di ketuk.


yoga berdiri membukakan pintu, " Masuklah Bi" suruhnya pada Bik Ima.

__ADS_1


"Anu tuan,apa Non jadi di urut ? Kalau jadi gimana,tukang urutnya di bawah kesini apa kita kebawah saja?"


"Kita ke bawah saja Bi" ujar Yoga.karena Yoga tidak mengizinkan sembarang orang bisa masuk ke lantai tiga, terkecuali orang-orang yang di percayanya.


"Siapkan kamar tamu Bi" perintahnya.


"Baik tuan"sahut Bi Ima sambil keluar dan menutup pintu kamar Andita.


"Sayang,baju kamu kotor.apa mau di ganti dulu ?" Tanya Yoga.


"Nanti aja mas" sahut Andita.


"Iya sudah, sekarang kita ke bawah dulu" ujarnya sambil menggendong tubuh Andita menghadap ke wajahnya.


"Aku seperti bayi besar aja mas" ujar Andita sambil Terkikik menatap wajah Yoga.lalu dengan seringai jahil ia memajukan wajahnya "Cup" ia mengecup kilas bibir Yoga yang merah nan lembut di depan matanya itu.


Wajah yoga memerah, "Sayang,apa kamu mau terjatuh lagi ?" Tanya Yoga.


"Hahaha..." Andita tertawa puas,karena bisa menggoda Yoga.


"Kamu beruntung harini,kalau saja kakimu tidak sakit" ujar Yoga sambil memasuki kamar ruang tamu.


"Wah...wah pengantin baru ya Nduk ?" Tanya tukang urut tersebut,saat melihat kedatangan pasangan yang sangat serasi bagi siapapun yang melihatnya.


"Iya mbah" jawab Yoga santai,sambil merebahkan tubuh Andita. Tapi tiba-tiba, "Awww..."teriak Yoga. Ternyata diam-diam Andita mencubit lengannya, "Sayang kenapa mencubit" lirihnya.


"Ah,itu tadi ya, kakiku tersentuh tangan mas" jawab Andita gugup.


Kedua alis Yoga terangkat, "benarkah ? Atau karena mas menjawab pertanyaan Mbah barusan ?" Tanya Yoga tersenyum smirk.


Andita tidak mau memperpanjang tanya jawabnya dengan Yoga, "Silakan mbah" perintah Andita.


"Ini tulangnya geser Non" ujar si mbah tukang urut.


"Pelan aja mbah" ujar Yoga.


Bi Ima menatap Tuannya,lalu ia tersenyum.Non Andita yang sakit Tuannya yang meringis, Non yang di urut tuan yang minta pelan-pelan, pasangan yang cocok. satunya sakit,satunya ikut merasakan" batin Bi Ima.


Semua penghuni rumah sangat bahagia saat ini,sejak kedatangan Andita kerumah itu suasana dingin mencekam kini kembali hangat dan penuh warna-warni.


"Semoga mereka selalu bersama" doa Bi Ima dalam hatinya.


...----------------...


*To Be Continued*


love love buat pembaca...😘


jangan lupa vote dan like ya guys.🙏


jika ada kesalahan dalam mengetik mohon di maafkan 🙏😁


adakah yang rindu episode Andita dan Yoga ??


jika iya,silakan di baca ya😁.


nantikan episode selanjutnya.


salam hangat untuk pembaca 😘


semoga bahagia selalu 🙂

__ADS_1


__ADS_2