Pacarku Suami Temanku

Pacarku Suami Temanku
BAB~102


__ADS_3

Menjalani proses sidang perceraian tidak bisa dibilang mudah. Banyak tahapan yang harus dilalui sebelum akta cerai sebagai bukti cerai diterbitkan. Mulai dari bagaimana memperoleh akses ke pengadilan yang berwenang, prosedur pendaftaran, hingga prsoses persidangan.


Proses sidang inilah yang menjadi tahapan penting dari proses panjang perceraian yang legal menurut hukum. Seribu tanya berkerumum di benak orang yang sedang menjalani proses ini. Tak jarang, kecemasan menghantui siang dan malam. Belum lagi jika tekanan psikologis akan anggapan orang-orang menjadi momok tersendiri.Nasib masa depan nanti akan seperti apa ?, Pertanyaan demi pertanyaan dan kecemasan silih berganti memenuhi relung jiwa.


Itulah mengapa, perceraian kendati halal menurut agama, namun bukan merupakan tindakan yang disukai siapa pun. Mengedapankan sikap sabar, perdamaian, dan musyawarah keluarga menjadi cara bijak yang semestinya dilakukan lebih dulu.


Namun, jika perceraian harus ditempuh maka pastikan langkah itu sudah dibarengi dengan pemahaman yang cukup.


Dalam sidang perceraian, banyak hal yang sering ditanyakan majelis hakim kepada pihak beperkara. Mulai dari latar belakang gugatan cerai, proses perkawinan, alasan-alasan mengapa mengajukan cerai, hingga kesiapan bukti-bukti yang akan diajukan, kira-kira begitu proses yang di lalui Andita untuk memperoleh AKTA CERAI YANG SAH ( legal secara hukum).


3 bulan kemudian...


Dengan langkah gontai Andita memasuki ruang sidang bersama Bagas dan 2 saksi yakni Angelina dan Lauren juga di dampingi keluarganya Brata dan Ayuningtyas. Andita sengaja tidak memakai jasa pengacara dalam perkara perceraian nya, karena prosesnya ia yakini tidak akan di persulit mengingat alasan terkuat gugatannya dari para saksi.


Hanya saja pada sidang perdana sang tergugat tidak hadir, oleh karena itu pihak majelis hakim menunda jalannya persidangan hingga tiga bulan kedepan. Dan tibalah hari ini, Hari yang Andita tunggu. ya, hari ini sidang keputusan atas gugatan perceraian nya terhadap Febry Lie Prayoga.


Surat panggilan pun telah di layangkan oleh pihak pengadilan kepada Febry Lie Prayoga, namun tampaknya di sidang kedua ini pun sang tergugat juga tidak berkenan hadir. Karena hampir 20 menit di tunggu, tergugat tidak tampak hadir di ruang sidang.


"Sidang di buka!." Pak hakim mengetuk tiga kali benda di hadapannya yang menjadi ikonik di setiap pengadilan, pertanda sidang telah di buka. Palu ! Tak hanya palu, ruang sidang begitu identik dengan kata "meja hijau".


"Saudari Andita ! apakah saudari tidak sedang dalam keadaan menstruasi ?" Tanya pak hakim.


"Tidak.yang mulia." Jawab Andita


Proses persidangan telah berlangsung, kedua saksi telah di sumpah menurut kepercayaan nya masing-masing sebelum mereka bersaksi dan akan menjadi bahan bukti dan pertimbangan atas perkara perceraian pemohon.


Tampak Ayuningtyas menangis terus-menerus, hatinya sakit dan sedih saat menyaksikan putri semata wayangnya yang sedang menjalani proses sidang perceraiannya. Dan itu artinya Andita akan menyandang gelar baru, Janda!.


Bagas fokus pada berjalannya proses sidang perceraian Andita, sementara Robert hanya melirik sesekali saja pada sahabatnya itu, lalu kembali melihat proses acara sidang putusan perkara perceraian Andita.


"Saya Lauren Moreno, bersumpah dan bersaksi bahwa apa yang saya katakan adalah yang sebenarnya, bukan sebuah kebohongan dan atau rekayasa belaka." Ucap Lauren bersumpah


"Saya Angelina Amaria, bersumpah dan bersaksi atas nama kitab tuhan dan kepercayaan saya, bahwa apa yang saya katakan adalah sebuah kebenaran, bukan kebohongan dan atau sebuah rekayasa belaka !." Sumpah Angelina berapi-api, saat sang rohaniawan sedang menyumpahinya.


Angelina pun menyerahkan benda kecil berbentuk pipih pada pihak majelis hakim, sebagai bukti terkuat yang akan memutus perkara Andita.


Sementara itu di luar gedung pengadilan agama itu, seorang Pria tampan tengah duduk di dalam mobilnya menatap lurus pada ruang sidang yang tertutup rapat, di mana ia melihat Andita di giring Bagas masuk kesana tadi.hatinya panas ? Jelas saja. Jauh di lubuk hatinya ia sangat tidak menerima keputusan Andita. Tapi, di satu sisi ia tidak mampu untuk membela diri lagi. Semuanya sudah terbukti !ya, terbukti dengan jelas! Dua wanita yang menjadi saksi Andita merupakan korban keganasan kelaminnya. Yoga menggeram menahan amarahnya, marah, pada siapa ?! Marahlah pada dirimu sendiri Yoga.


Tidak ada yang patut ia salahkan, keputusan Andita buah dari perbuatannya sendiri. Buah pahit dari nafsunya sendiri, nafsu setan yang tidak terkendali.


Setelah melakukan musyawarah, yang mulia majelis hakim membacakan keputusannya.


"Setelah mempelajari dan mempertimbangkan atas pengaduan pemohon yakni saudari Andita Rosmanilla Sakapraja,berdasarkan bukti dan saksi maka pengaduan pemohon saudari Andita Rosmanilla Sakapraja kami terima dan telah kami putuskan bahwa pengajuan perkara perceraian saudari Andita Rosmanilla Sakapraja terhadap termohon saudara Febry Lie Prayoga sah secara Agama islam dan sah secara hukum !". Ketua majelis hakim mengetuk palu sebanyak tiga kali pertanda sidang telah di tutup, setelah membacakan keputusannya. Kira-kira begitu lah ya, keputusan yang di bacakan oleh majelis hakim.


Andita tergugu menangis di kursi yang ia duduki di ruang sidang setelah mendengar keputusan majelis hakim, tidak ia pungkiri kesedihan melanda dirinya. Hari ini dirinya resmi bergelarkan "Janda", hanya AKTA CERAI saja yang belum menjadi pelengkap statusnya mulai detik ini.


Ayuningtias menghampiri putrinya dan memeluknya memberikan dukungan dan kekuatan bagi Andita melalui pelukannya, sementara Brata dan Bagas hanya menatap dari kursinya masing-masing. Ayu membimbing Andita untuk berdiri dan mulai menyusuri jalan menuju pintu keluar. Setelah menyeka air matanya, Andita kembali masuk guna mengurus penyelesaian tahap akhir dari perceraiannya.


Setelah selesai Andita kembali bergabung dengan yang lainnya. Angelina ingin memeluk Andita, tapi dengan tegas Andita menolak.dia hanya mengulurkan tangannya.


"Maaf, Aku menolak pelukanmu Angel, kita bukan teman atau pun kerabat.tapi semoga kamu menerima uluran tanganku, sebagai tanda terima kasih ku...karena kamu telah berhasil menjadi saksi atas perceraian ku dan....." ucapan Andita mengambang.


"Dan apa ?". Tanya Angelina sambil menatap uluran tangan Andita.


" Dan...menghancurkan pernikahanku !". Andita tersenyum kecut seraya tetap mengulurkan tangannya.


"Maafkan aku Andita." Angelina menangis sambil menerima uluran tangan Andita.


"Tidak apa, aku tidak dendam. Tapi percayalah aku tidak akan pernah melupakan pengalaman pahit yang telah kalian ciptakan untukku. Meskipun dalihnya kamu di perkosa." Jawab Andita dingin.


Bagas menghampiri Andita dan Angelina yang sedang bercakap-cakap, sedangkan Lauren berada dalam pelukan Robert menuju mobil mereka di iringi Brata dan Ayu. Ia ikut merasakan kesedihan Andita, sakit yang wanita itu tengah rasakan Lauren turut merasakannya.


"Kalau tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, ayo kita pulang." Ajak Bagas pada Andita


"Hm..." Sahut Andita sambil mengangguk.


Semua itu tidak lepas dari tatapan mata seseorang dari dalam mobil, semuanya ia lihat dengan jelas. Cemburu ? Ya. Marah ? Ya. Kedua tangan Yoga menggenggam erat kemudinya, sehingga otot-otot tangannya menonjol dan jari-jarinya memutih. Yoga menatap geram pada Andita dan Bagas yang sedang berjalan beriringan.


"Maafin mas sayang, mas harus melakukan ini. Setidaknya jika cacat, kita cacat bersama. Dan kalau mati, kita harus mati bersama. Tak ada yang bisa memiliki mu, kecuali aku." Yoga menginjak pedal gasnya dalam-dalam, dan mengarahkan mobilnya tepat di belakang tubuh Andita.

__ADS_1


"Ohya Angelina aku lupa sesuatu. Sekali lagi, selamat ya atas kehamilan kamu." Andita menoleh pada angelina setelah berjalan beberapa langkah di hadapan Angel, kata-kata Andita barusan sangat menampar Angelina. Kata-kata lembut, tapi menusuk.


Buliran bening mengalir di pipi Angelina tanpa permisi.


"Maafkan aku Andita. Andai kamu tau, aku juga sakit dengan semua ini." Lirihnya dalam hati.


Angelina terdiam di tempatnya menatap kepergian Andita dengan berurai air mata. Andita harus berjalan cukup jauh menuju mobil mereka. Sementara Lauren, Robert, Brata, dan Ayuningtyas sudah masuk ke mobil mereka lebih dulu.


Sekitar 3 meter di hadapan Angelina, tiba-tiba sebuah mobil asing muncul dari arah sisi kanan Angel dengan kecepatan tinggi dan tepat mengarah pada belakang tubuh Andita.


"Andita...awas....!!" Teriakan Angelina menggema memenuhi parkiran.


Sekuat tenaga Angel berlari mengejar dan mendorong tubuh Andita, sedangkan Bagas sudah berjalan sedikit lebih di depan.


Bagas menoleh kala mendengar teriakan Angelina dan melihat Andita sudah terkapar di semen keras parkiran, sedangkan Angelina tubuhnya sudah bersimbah darah.


Brata dan Robert dengan sigap turun ketika mendengar suara dentuman keras, di ikuti Ayu. "Andita....!!" Raung Ayu membela langit dan bumi, saat melihat tubuh putrinya terkulai lemah tak berdaya di pangkuan Bagas. Tubuh Andita tidak apa-apa, hanya sedikit lecet ringat karena tergerus semen yang kasar.


"Suara tabrakan loh tadi ? Kalau nabrak tubuh manusia suaranya tidak akan sekencang itu." Robert berbicara pada Brata


"Tidak usah hiraukan dulu pendengaran mu itu, kita urus dulu yang kita lihat sekarang." Tukas Brata tidak ingin menanggapi ucapan Robert yang sedang mempelajari situasi yang terjadi barusan.


Lauren melihat tubuh Angelina yang bersimbah darah dan sudah tak bergerak sedikitpun lagi, ia gerak cepat memanggil bantuan. Tak lama kemudian sebuah ambulance datang.


"Bagas bawah Andita ke mobil. Robert, ikutlah denganku kita kerumah sakit. Ayu, Lauren naik sama Bagas." Tukas Brata, lalu mereka keluar dari kerumunan orang-orang yang sedang menonton mereka.


Saat melewati gerbang keluar Bagas berhenti karena terhalang oleh kerumunan manusia yang sedang mengevakuasi korban kecelakaan, mobilnya hancur parah. Sementara pengemudinya dalam keadaan terjepit bagian stir mobil. Kondisi pengemudi itu sangat mengkhawatirkan.


Bagas turun dan berbicara dengan pihak p*lisi yang sudah hadir di lokasi kejadian, mata Bagas sedang berusaha melihat si pengemudi maut itu, namun sayangnya wajahnya tidak bisa ia kenali dari jarak jauh terlebih lagi pengelihatan nya terhalang oleh keramaian.


"Maaf pak. tolong beri saya jalan, saya harus kerumah sakit. Kami pihak korban yang mengalami tabrak lari barusan. Dan kalau boleh tahu apakah mobil itu ada hubungannya dengan kejadian di parkiran pengadilan barusan pak ?" Tanya Bagas akhirnya. Karena Bagas yakin mobil itu ada kaitannya dengan kejadian Angelina barusan.


"Selamat siang pak. Mohon maaf, kami sedang menjalankan tugas. Jadi mohon menunggu. untuk keterkaitan mobil itu dengan korban di parkiran tadi, kita masih harus melakukan olah TKP". Pak p*lisi itu tidak berusaha memberi Bagas jalan


"Kalau begitu, saya akan menerobos kerumunan manusia ini. Di mobil saya juga ada salah satu korban dari tabrak lari tadi, dan salah satunya sudah di bawah ambulan". Tukas Bagas kesal dengan pihak tersebut.


Pak p*lisi melihat ke dalam mobil Bagas, ia menatap wajah pucat Andita yang sedang di tangisi Ayuningtyas.


"Hubungi saya, kalau mobil itu ada kaitannya dengan korban barusan." Pak p*lisi membaca kartu nama Bagas, ia menangkup kedua tangannya dan mohon maaf.


"Maaf pak Bagas, andaikan saya tidak sedang bertugas saya ingin sekali berfoto-foto bersama bapak. Saya sangat kagum sama bapak." Ujar pak p*lisi itu melemah dan menunduk.


"Berikan saya jalan. Maka bapak akan mendapatkan kesempatan itu!." Tegas Bagas


Dengan segera p*lisi itu menyibak kerumunan guna memberi jalan bagi mobil Bagas.


"Silakan pak." Ucap pak P*lisi itu sopan


"Jangan lupa hubungi saya." Tukas Bagas, lalu segera menginjak pedal gasnya meninggalkan kerumunan yang sempat menyita waktu nya.


Bagas memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tidak perduli apapun lagi. Kecemasan sedang meliputi dirinya saat ini, Andita.Andita belum sadar juga!.


"Nak ! Tolong pelankan laju mobilnya. Apa kamu ingin kita mati bersama ?!". Teriak Ayu, otomatis teriakan Ayu menyadarkan Bagas. Ia segera mengendurkan tarikan gasnya.


Tanpa menjawab, Bagas tetap fokus pada jalanan, sesekali ia melirik wanita yang ada di sampingnya saat ini.


"Sabar sayang. Mas akan selalu melindungi mu setelah ini, yang kuat ya." Batin Bagas


Sementara Ayu, tak henti-hentinya menangis dan sesekali mengoleskan minyak kayu putih pada saluran penciuman Andita. Sedikit lagi mencapai rumah sakit Andita siuman, ia membuka matanya dan lamat-lamat menatap sekitarnya.


Yang pertam kali di tangkap matanya sosok tampan yang sedang tampak fokus menyetir, wajahnya kaku dan tegas. Terlihat dengan jelas khawatir menggelayut di wajah tampannya itu.


"Mas..." Panggil Andita lirih. Ciiit mobil mendadak berhenti


"Sayang. Akhirnya kamu sadar, syukurlah kamu tidak apa-apa. Sempat kamu kenapa-napa mas bersumpah akan membunuh pelaku tabrak lari itu." Dengus Bagas tanpa sadar sudah memeluk Andita dengan erat sekali.


Andita mangap-mangap, sudahlah sabuk pengaman di pasang se-eratnya, di tambah pula dekapan Bagas yang menambah sesak nafas nya.


"Mas ! Dita gak bisa nafas." Sentak Andita mendorong kuat tubuh Bagas.

__ADS_1


"Maaf. Mas terlampau senang lihat kamu baik-baik aja." Ujar Bagas sambil melirik Lauren dan Ayu yang tengah menatapnya dalam diam. Andita mengikuti arah ekor mata Bagas, ia menoleh ke kursi belakang.


"Mama,Alen." Panggil Andita sambil tersenyum, menepis bayang-bayang cemas di wajah kedua wanita itu.


" Dit, bilang di bagian mana sakit." Lauren mengelus lengan Andita


"Dita gakpapa Len, tapi..." Andita seketika sadar dan teringat Angelina.


"Angelina..." Lirihnya. " Gimana keadaan Angelina ?" Tanya Andita yang ia tujukan pada ketiga orang yang berada bersamanya.


"Keadaannya mengkhawatirkan nak, ayo kita kerumah sakit sekarang." Ajak Ayu


Andita menangis. menangis karena di satu sisi ia membenci wanita itu, karena Wanita yang sudah menghancurkan rumah tangganya. Di sisi lain Angelina juga sudah mengorbankan dirinya dengan ikhlas untuk menyelamatkan hidupnya Andita dari seseorang yang akan menabraknya tadi. Perasaan Andita berkecamuk tak menentu, dilema.


"Apakah aku harus memaafkan dia ?" Lirih Andita dalam tangis.


"Akan lebih bijak, tanyakan pada hatimu sendiri. Dia juga korban oknum itu, walau Angel menikmati kemaksiatan itu." Jawab Bagas yang mendengar lirihan Andita


Mobil Bagas telah tiba dirumah sakit di mana Angelina berada, yaitu rumah sakit X. Bagas membawa tiga wanita itu memasuki UGD, tampak di sana Brata dan Robert sedang berpangku tangan menunggu hasil pemeriksaan medis atas Angelina.


"Papa..." Panggil Andita, dan Brata bangkit segera memeluk Andita penuh kasih sayang.


"Syukur Alhamdulillah. Anak papa gak apa-apa kan, gak ada yang sakit kan nak." Tanya Brata lembut sambil mengelus rambut Andita.


"Gak pa, cuma lecet dikit. Gimana Angelina pa ?, apa kata Dokter ?." Tanya Andita beruntun


"Kalau yang kuasa memberikan keberuntungan pada nya, maka dia akan selamat. Tapi kalau di lihat dari kondisinya, kemungkinan sulit untuk bertahan. Kita doakan saja yang terbaik untuk nya, ya." Jawab Brata, Andita mengangguk. Rasa bersalah kembali meliputi dirinya, Andita tak kuasa menahan diri.


Setelah menanyakannya bangsal Angel, Andita memaksa masuk untuk melihat wanita itu. Wanita yang sudah memporak-porandakan rumah tangga nya, hingga berakhir dengan perceraian.


Andita menutup mulutnya, berkali-kali Ia menghapus aliran air matanya.keadaan Angelina sangat memprihatinkan, Benar kata Brata, kalau di lihat dari kondisi fisiknya sangat sulit untuk bertahan. Kakinya remuk sebelah kanan, tulang tangan sebelah kanannya ada yang keluar, aliran darah dari kewanitaan nya terus mengalir. Sepertinya tubuhnya bagian kanan tergilas mobil, tapi wajahnya masih utuh. Tapi entah bagian kepala kena atau tidak, tim Dokter masih sibuk memberikan pertolongan pada Angelina.


"Angel...maafkan aku.apapun alasannya di mataku, kau salah. Tapi sekarang aku sadar, tidak pantas aku membencimu. Andai kamu tidak menyelamatkan ku tadi, maka aku yang akan berada di kondisimu saat ini. Tolong maafkan aku." Lirih Andita di telinga Angel.


"Maaf mbak, silakan keluar. Pasien sudah tiada beberapa detik barusan, dan kami akan menyelesaikan tugas kami." Ujar Dokter yang sedang menangani Angelina


Seakan nafas Angelina hanya menanti kedatangan Andita, seakan kematiannya hanya menanti maaf dari Andita. Setelah Andita memaafkannya, beberapa detik kemudian Angelina menghembuskan nafas terakhirnya.


"Selamat jalan Angelina, semoga tuhan memberikan tempat terbaik untukmu." Lirih Andita, lalu meninggalkan Angelina yang sudah terbaring kaku.


Bagas meraih tubuh Andita, tiba-tiba saja tubuh Andita lemas. Tulang-tulang nya seakan ikut remuk, tak mampu menopang tubuhnya.


"Dita..." Tangkap Bagas.


"Angel mas. Angel udah gak ada, Angel udah pergi. Dia pergi karena nyelamatin Dita." Tangis penuh sesal Andita, pecah di dada Bagas.


Brata segera mengkonfirmasi apa yang di dengarnya barusan dari Andita, setelah mendapat informasi yang akurat Brata segera bertindak dan bertanggung jawab atas biaya penanganan.


Lauren memeluk Ayu, Brata dan Robert segera mengurus semuanya terkait dengan penangan Angelina. Brata bagian penyelesaian administrasi, Robert kebagian menghubungi pihak keluarganya dan akan segera mengurus sampai pemakaman.


Sementara itu....


Di sebuah rumah sakit Prayogo, seorang Pria tampan yang tak nampak tampan lagi terkapar tak berdaya di ruangan ICU VVIP. Kondisinya juga sangat buruk dan kritis, kedua kakinya patah. Wajahnya memar, dan benjol sana-sini. Kerasnya benturan di bagian dadanya membuat nafasnya hilang dan timbul, dan dada bidang itu terlihat mengalami luka dalam.


Indira tak henti-hentinya menangis dan mengecup jemari Yoga, dendam keluarga Prayoga kian membara, kala mereka tau kejadian kecelakaan mobil Yoga berada di depan pengadilan di mana Andita melalui proses perceraiannya hari ini.


Sedangkan Indira tidak tahu bahkan belum tau sama sekali kronologis kejadian yang sebenarnya seperti apa, namun di hatinya sudah ia tanam kebencian dan dendam yang berkobar.


Chang Lie sangat terpukul atas kejadian tersebut, ia hanya diam dengan gemuruh ombak amarah di dalam jiwanya. Jiwa seorang Chang Lie tengah bergejolak, melawan dan mengendalikan diri dari emosi yang membakar hati dan pikirannya !


...----------------...


Bersambung...


JANGAN LUPA !!! tap ❤️, vote dan like nya ya.


apapun alasannya Author usaha banget ni ya, tetap bisa update buat kalian.


JANGAN LUPA SUPPORT TERUS KARYA MENTARI IMPIAN YA🥰**😘

__ADS_1


MAAF JIKA Typo berkeliaran, maklumi aja ya.🙏**


__ADS_2