Pacarku Suami Temanku

Pacarku Suami Temanku
BAB~54


__ADS_3

Jam 8 malam waktu setempat....


Chang Lie family menanti dengan wajah cemas tak terkecuali Brata dan Bagas, Yoga masih belum datang membawa Dokter Jorge beserta penawar racun untuk Andita. Tubuh Andita semakin melemah kaki tangannya kian layu, Seorang pun tak ada yang bersuara di ruangan tersebut hanya suara monitor ICU yang terdengar sahut menyahut.


Chang lie memeluk Indira dan gadis cantik yang duduk bersama mereka pun mulai menangis, denyut jantung Andita terkadang naik turun menandakan pasien sedang tidak stabil.


"Pa lakukan sesuatu" Lirih Indira


"Tenang, Yoga tidak lama lagi sampai." Sahut Chang lie menenangkan Indira


Brata duduk di antara Andita dan Ayuningtyas tatapan sedih terlempar pada dua perempuan yang sedang terbaring lemah, Brata menghampiri tubuh Andita menatapnya lamat-lamat wajah pucat kebiruan itu.


"Maafin papa sayang, karena papa kalian harus menanggung semua ini." Ucap Brata terisak sambil membelai lembut rambut Andita.


Sementara Ayuningtyas meskipun sudah melalui masa kritisnya,ia sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan segera sadar dalam waktu dekat ini.


Bagas menyentuh bahu Brata "Ayo pa, biarkan yang ahli melakukan tugasnya." Ajak Bagas pada Brata untuk menjauh dari Andita dan Ayuningtyas saat beberapa tenaga medis ingin melakukan pengecekan pada Andita.


Tak lama kemudian Yoga datang bersama Dokter Jorge, Chang Lie dan Indira berdiri menyambut kedatangan Jorge begitupun dengan Brata juga Bagas.


"Silakan Jorge" perintah Yoga tanpa ingin menunda.


Chang lie meminta beberapa tenaga medis yang sedang mengecek kondisi Andita, untuk memindahkan Ayuningtyas keruangan lain.


Sebelum Andita sadar Brata dan Chang lie sudah sepakat memindahkan Ayuningtyas keruangan lain terlebih dulu, menghindari respon Negatif dari tubuh Andita ketika ia sadar.


Jorge sudah siap dengan snelli nya dan tangannya sudah terbungkus sarung tangan khusus tenaga medis, begitupun dengan Yoga.


"let's get started buddy" ujar Jorge pada Yoga


Yoga meminta semua yang ada di ruangan tersebut untuk menunggu di luar, kecuali beberapa perawat yang di suruh tinggal.


Setelah selesai menyuntikkan penawar racun di tubuh Andita ke-dua Dokter muda itu menunggu reaksinya, Indira tidak sabar ingin melihat reaksi tubuh Andita namun di larang oleh Yoga.


Karena menurut keterangan Jorge 30 menit setelah penawar itu bekerja pasien akan memuntahkan darah kehitaman, itulah sebabnya Yoga melarang Indira masuk yang ada nanti mamanya akan menangis histeris melihat kondisi gadis itu.


Jorge memerintah pada perawat untuk menyiapkan alat khusus untuk menampung cairan, karena ia yakin sebentar lagi Andita akan memuntahkan cairan darah dari tubuhnya.


25 menit kemudian tubuh Andita mulai merespon Yoga segera berlari menggenggam tangannya, Pelan-pelan mata gadis itu mulai terbuka Yoga menatap lembut wajah calon istrinya lalu mencium pipi dan dahinya.


"Sayang, mas disini.kamu akan baik-baik saja, bertahanlah." Ucap Yoga


Andita menatap wajah Yoga ia berusaha mengingat semuanya tapi kondisinya sedang tidak nyaman, tangan Andita terulur dengan sigap Yoga membawa Andita duduk dan mendekapnya erat.


Tubuhnya masih sangat lemah, wajahnya terkulai lemas di dada bidang si Dokter tampan itu. Tiba-tiba...


Bur....huek...huek...huek


Alhasil snelli Prayoga berubah warna menjadi merah darah tanpa melepaskan dekapannya Yoga membiarkan Andita mengeluarkan racun jahat dari tubuhnya,


Jorge hanya tertawa melihat sahabatnya mandi darah. Setelah melihat obatnya bekerja dengan baik, Jorge kembali duduk dengan tenang karena tugas nya sudah selesai.

__ADS_1


"Masih mau muntah ?" Tanya Yoga lembut sambil merapikan rambut Andita yang menjuntai di wajahnya.


Yoga membersihkan mulut Andita dan menyeka keringat dingin di wajahnya, ia tersenyum bahagia kecemasan yang sempat mengoyak hati nya berlalu begitu saja.


Andita masih meringkuk dalam dekapan Prayoga sementara tubuh mereka berdua bersimbah darah, Alat yang disiapkan oleh Jorge tidak sempat ia gunakan karena gadis itu tanpa aba-aba langsung menyembur kan seluruh cairan darah dari mulutnya.


"Mau minum ?" Tanya Yoga


Andita hanya menggeleng, Yoga mendaratkan kembali beberapa kecupan di puncak kepala Andita.


"Astaga,ada apa ini !" Seru Indira panik saat melihat Yoga dan Andita berdarah. seruan dan kepanikan Indira mengundang yang lainnya berlarian masuk tanpa terkecuali Brata dan Bagas.


Hati Bagas berdenyut perih menyaksikan gadis yang di cintai nya meringkuk Manja dalam dekapan pria lain, tangannya meremas dadanya yang sakit, sakit sekali.


Egonya berbisik "Rebut dia Bagas, dia milikmu ! Disisi lain, jangan Bagas gadis itu mungkin saja sudah membencimu karena kau sudah menyakiti perasaan nya."


Bagas melangkah mundur menjauhi keberadaan Andita kakinya lemas bagai tak mampu untuk berdiri, ia menghempas duduk diluar ruangan.


"Ya Tuhan beginikah rasanya sakit hati." Lirih Bagas sembari meraba dadanya yang sakit dan sesak.


Brata juga ikut menjauh dari Andita, ia belum siap menyatakan dirinya sebagai ayahnya secara langsung pada gadis itu.


Lelaki itu duduk dan mengelus lembut pundak putranya. "Ingat nak, dia adikmu." Ucap Brata


Bagas tersenyum pahit, ia mengangguk dan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya pelan.


...----------------...


"Sayang, apa masih lemas ? Kalau sudah baik, ayo bersihkan dirimu." Ajak Indira pada Andita


"Yo, angkat Andita ke kamar mandi biar Mama membersihkan tubuhnya." Ujar Indira lagi


Yoga menggendong Andita ke kamar mandi, sedangkan perawat yang berjaga bertugas membersihkan ranjang dan semua peralatan yang terkena darah.


Tubuh Andita sudah terlihat lebih segar dan bercahaya setelah mandi dan berganti pakaian, Yoga membawanya kembali ke ranjang. Indira menyiapkan makan untuk gadis itu, agar ia segera pulih seperti sedia kala.


"Mas mandi dan ganti baju dulu ya, ohya ada seorang gadis ingin bertemu dengan mu." Ungkap Yoga


"Siapa mas ?" Tanya Andita, tiba-tiba Shinee muncul.


"Hai kakak ipar, aku Shinee. senang melihat mu sudah sembuh." Sapa Shinee seraya mengulurkan tangannya.


Andita tersenyum dan menyambut uluran tangan Shinee, "Kau cantik sekali" puji Andita pada Shinee


"Terima kasih kak." Sahut Shinee


"Hala... Cantik apanya, masih cantikan kakak ipar mu." Goda Yoga pada Shinee lalu pergi menuju kamar mandi.


"Kakak jahat !!" Sungut Shinee


Yoga tertawa di ujung sana, Andita juga ikut tertawa.

__ADS_1


"Tunggu sebentar kak" Shinee pergi keluar meninggalkan Andita.


Shinee kembali masuk bersama seorang pria yang sangat Andita kenal, tubuh gadis itu seketika menegang memandang Bagas yang berjalan kearahnya.


Tatapan Bagas masih seperti dulu, tatapan sayang dan cinta. Andita memalingkan wajahnya ke arah kamar mandi, melihat kalau Yoga tiba-tiba keluar.


"Mas sudah tau semuanya,tidak perlu cemas." Ucap Bagas sambil tersenyum dan duduk disisi ranjang Andita


"Maafin Dita mas, Dita..." Ucapan Andita terjeda karena langsung di potong oleh Bagas.


"Sstt... Tidak perlu minta maaf dan menjelaskan apapun.mas yang harus minta maaf, apapun yang terjadi pada mu semua itu adalah kesalahan mas." Ucap Bagas serak


Bagas meraih tangan Andita lalu mengecupnya lembut "Bagas tersenyum getir, mas rela kamu memilih dia.karena memang dia pantas untukmu, semoga kalian bahagia dalam hal apapun."


Bagas berdiri mengelus lembut rambut Andita, lalu mengecup kening gadis yang di cintai nya itu. "Mas harus pergi sekarang, maafin mas tidak bisa lama-lama disini." Bagas bergegas pergi meninggalkan Andita


"Mas Bagas...!!" Andita memanggil Bagas


"Mas Bagas..." Andita menangis, ia menangis sejadi-jadinya.


Yoga sebenarnya sudah melihat semuanya, saat ia akan keluar melihat Bagas bersama Andita pelan-pelan pria itu kembali masuk ke kamar mandi.


"Sayang kamu kenapa menangis ? apa ada yang sakit ?" Tanya Yoga pura-pura tidak tahu.


Andita menggeleng dan memeluk Yoga tubuhnya bergetar menandakan ia masih menangis, perasaannya berkecamuk tak menentu.


"Aku kenapa bisa ada di rumah sakit mas ? Mama mana ? Kita pulang aja ya." Pinta Andita


"Sayang kamu masih perlu di rawat, besok mungkin kamu sudah bisa pulang. Mama ada kok." Jawab Yoga singkat namun penuh keraguan


Andita menatap tajam kearah mata Yoga


"Aku sakit apa ?" Tanya Andita


"Sayang kamu tidak sakit, kamu hanya keracunan." Sahut Yoga lembut dan meraih tangan gadis itu lalu menghadiahkan beberapa kecupan di sana.


"Keracunan ? Tante, tante Anjani mana ? Kepala Andita berdenyut sakit, saat mengingat perjalanan nya 2 hari yang lalu.


"Makan dulu sayang." Indira datang dengan berbagai menu di nampannya.


"Yo, antarkan Dokter Jorge ke hotel. Kasian dia capek, Shinee juga usah lelah menemani nya ngobrol.jangan lupa ajak dia makan, Andita biar mama dan papa yang jaga." Perintah Indira


"Iya ma.sayang mas pergi sebentar ya,makan yang banyak biar kembali pulih." Ucap Yoga sambil mengecup puncak kepala Andita.


Yoga beringsut meninggalkan ruangan perawatan Andita dan menemui Jorge dan Shinee, Shinee pun ikut kembali ke hotel setelah berpamitan pada Chang lie dan Indira juga sama Andita.


...----------------...


TBC


jangan lupa dukungannya

__ADS_1


vote,like dan tap ❤️


terima kasih 🙏


__ADS_2